Jelasnggak

Bisakah DIA membuat segitiga dengan empat sisi ?

Posted on: February 20, 2010

Selamat malam, selamat pagi dan selamat siang. Topik kali ini adalah mengenai Tuh@n dan natureNYA. Peserta diskusi / debat boleh siapa saja. Tetapi peserta utama cuma 2 orang saja setiap pihak. Yang lain juga boleh ikutan, tapi mohon jangan asal-asalan.

Tambahan berikut ini berasal dari komentar mas Dewo tertanggal 21-feb-2010, lihat di sini.

Karena pernyataan itu, maka topiknya saya ganti. (judul masih sama, tetapi pokok pertanyaan berbeda)

Ok. Topiknya adalah sebagai berikut :

Ada orang yang bertanya begini

**Jika Tuh@n Maha Kuasa, Bisakah Dia membuat segitiga dengan empat sisi ?**

Pertanyaannya :

Apakah pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan yang benar secara logika.. ?

Biar diskusi tidak nyamber kemana-mana (seperti lagunya mbah surip “tak gendong kemana-mana”), sehingga diskusi/debat menjadi asik, gurih, renyah dan kocak, maka diskusi ini di batasi :

1. Jawabannya hanya satu di antara dua : BENAR, atau SALAH.
Tentunya semuanya bisa menjawab dengan bebas. Yang paling penting, alasannya bisa diterima akal.
Jadi, setelah di jawab, harus di kemukakan alasannya. Semua ini dilakukan agar kita semua bisa lebih pintar.

2. Mohon tidak ad hominem, jangan menyentuh pribadi orang. Sindiran dan ledekan diperbolehkan, ASALKAN sanggahan atas pertanyaan lawan bicara tetap di jawab.

3. Jawab pertanyaan lawan bicara dengan lugas, tegas, dan cerdas.

4. The Horse laugh tidak di perbolehkan. Horse laugh adalah tidak menjawab tapi nyengir kuda keras-keras.

5. Jangan membawa-bawa nama orang penting, terkenal, cendekia. Bawa saja IDE orang tersebut. Dan pertahankan sendiri. Pendapat

Untuk itu saya mengundang dua orang peserta dari setiap pihak. 2 orang yang menjawab dengan  BISA, dan dua orang yang menjawab TIDAK BISA.

Dan saya juga mengundang 1 orang HAKIBAT (HAKIBAT = HAKIM DEBAT – trade mark by jelasnggak) untuk mengawasi jalannya debat ini.

Persyaratan menjadi Hakibat di Thread ini:
1. Boleh dari mana saja : islam kristen budha hindu ateis (karena ini bukan debat agama)
2. Tidak memihak. Karena ini bukan diskusi agama.
3. Memiliki logika yang tinggi (pendidikan tidak di utamakan)
Ada masukan dari teman-teman, silahkan tulis di komentar. nanti, saya akan masukkan ke dalam tulisan ini.

Terima kasih.

About these ads

230 Responses to "Bisakah DIA membuat segitiga dengan empat sisi ?"

Pertanyaannya salah. Jawabannya pasti salah semua.

@mas Dewo,

saya akan tambahkan ini ke dalam topik.

Boleh ya…?

@Mas JelasNggak,

Hihihi walau pun tambah ruwet, tapi bolehlah dibuat begitu.

@jelasnggak : Jelas kamu yang salah posting. Hi Hi Hi. Logikaku dan logika mas Dewo kemarin-kemarin nggak gitu2 amat. Kalo yang kamu pertanyakan gitu : jawabannya ya jelas bener : Pertanyaannya yang salah. :)

Bagi yang barusan hadir, sekedar info diskusi ini adalah lanjutan dari :

http://jelasnggak.wordpress.com/2010/02/06/apa-itu-trinitas-menurut-muslim/#comment-3777

DST

Saya rasa jell, Kamu pertanyakan saja apa adanya :

1> Apakah Tuhan yang Maha Kuasa berarti Tuhan bisa tidak setia, bisa tidak bener, bisa tidak baik karena KemahaKuasaanNya

Atau Tuhan dalam KemahaKuasaanNya tetap setia , tetap selalu baik, tetap selalu benar

2> Konsekuensi yang mungkin timbul : Karena Tuhan selalu setia bisa saja disikapi dengan anggapan tidak Maha Kuasa karena mengharuskan Tuhan selalu setia atau membatasi Tuhan. Atau Tuhan dianggap tidak harus setia , tidak harus benar tetapi Tuhan memilih benar, memilih baik, walaupun kadangkala ada preseden yang menunjukkan (menurut Mas Dewo) bahwa Tuhan bisa jahat, bisa tidak setia.

Atau Tuhan Maha Kuasa berarti Tuhan tetap tidak bisa tidak setia, tidak bisa tidak baik, dsb. karena baik, setia dsb adalah sifatNya. Tuhan tidak bisa bertentangan dengan diriNya sendiri

Ada baiknya sebagian bahan yang didiskusikan yang kami tulis kemarin2 dicopy paste di sini setidaknya yang mewakili substansi pikiran masing2. Hi Hi Hi

Kalo pertanyaannya seperti yang kamu tulis di atas , nggak ada diskusi jell : Aku juga sepakat kalo pertanyaannya yang salah :)

Mau dijawab bisa ya salah, mau dijawab tidak bisa ya salah :)

SALAM

Banyak yang menganggap bahwa perbedaan pendapat antara aku dan Dewo itu aslinya tidak perlu , atau gampangannya sama-sama benar. :) :)

Karena ada asumsi gini : lovepassword melihat dari sudut pandang Allah , bahwa Allah tidak bisa berdosa, dsb

Sedangkan Dewo melihat dari sisi manusia, dimana dari perspektif manusia memang kadang2 ada peristiwa atau tindakan yang dinilai jahat atau merugikan manusia

Atau ada juga pendapat gini :

Mas dewo melihat dari cara Allah melakukan rencananya
Sedangkan Mas Love melihat dari sisi pada rencana dan tujuan Allah. Mungkin maksudnya ingin menunjukkan kepada mas love bahwa Allah MAMPU MELAKUKAN segala hal.

Saya katakan sekali lagi, saya sangat memahami maksud Dewo dan saya rasa diapun paham maksudku. Artinya ini memang bukan sekedar salah paham karena kami justru saling paham tetapi tetap tidak sependapat.

Dewo mengatakan : Allah yang Maha Kuasa, konsekuensinya berarti Allah bisa tidak setia, bisa tidak baik, dsb

Lha lovepassword mengatakan : Allah yang Maha Kuasa tetap selalu setia, selalu benar. Allah tidak akan bertentangan dengan diriNya sendiri

Alasan Dewo : Kalo Allah harus selalu sesuai dengan sifat atau Naturenya dianggap itu membatasi kehendak Allah atau rencana Allah. padahal Allah Maha Kuasa, maka Kehendak Allah tidak bisa dibatasi atau dalam bahasa yang lebih gurih seingatku kalo nggak salah inget Dewo pernah berkata : Rencana Allah melampaui sifatNya. ( ini kalo aku nggak salah inget karena diskusinya panjang)

Lha aku tidak sependapat dari sisi itu, tepat pada pendapat mas Dewo, nggak ada urusannya bahwa aku melihat dari sisi A, dia melihat dari sisi B. Tetapi intinya memang dia salah menurutku :) :D Hi Hi Hi

Rencana itu bagaimanapun terkait dengan Sifat.

Jika Paijo itu orang baik, sifatnya baik maka yang direncanakan ya yang baik-baik.

Jika Paijo itu jujur maka dia tidak akan merencakan hal2 yang tidak jujur.

Mengapa Allah merencanakan yang Baik ? yah karena sifatNya Maha Baik. Karena itulah Allah tidak bisa tidak baik.

Mengapa Allah tidak bisa menghancurkan diriNya sendiri, mengapa Allah selalu ada, kekal selamanya ? yah karena sifatNya Maha Kekal sehingga Allah tidak mungkin melakukan perbuatan yang membuat tidak kekal, karena sifatNya Maha Kekal.

jadi kita harus melihat bahwa apa yang kita lihat sebagai rencana Allah bagaimapun dipengaruhi oleh sifat2 tersebut.

Karena Sifat Allah Allah Maha Baik, maka RencanaNya juga pasti mengenai Kebaikan. Lha perbuatan atau implementasi yang dari rencana itu ya hasilnya pasti kebaikan.

Jadi kalo yang mau dibahas Dewo soal rencana , bagi saya rencana itu terkait erat dengan sifat. kalo sifatNya baik bahkan Maha Baik maka rencana dan implementasi dari rencana itu ya pasti hasilnya baik.

Salam

@Mas Lovepassword,

Hehehe… lagi-lagi salah berlogika & mengambil kesimpulan.

LP:
Alasan Dewo : Kalo Allah harus selalu sesuai dengan sifat atau Naturenya dianggap itu membatasi kehendak Allah atau rencana Allah. padahal Allah Maha Kuasa, maka Kehendak Allah tidak bisa dibatasi atau dalam bahasa yang lebih gurih seingatku kalo nggak salah inget Dewo pernah berkata : Rencana Allah melampaui sifatNya. ( ini kalo aku nggak salah inget karena diskusinya panjang)

Tolong ditunjukkan dimana saya menyatakan: “Kalo Allah harus selalu sesuai dengan sifat atau Naturenya dianggap itu membatasi kehendak Allah atau rencana Allah.”

Jangan ngambil kesimpulan ngga nyambung dong. Pernyataan orang jangan dibolak-balik ngga karuan ah. Anda sendiri sudah memberikan link permulaan diskusi kita. Coba ditelusuri lagi deh.

LP:
Lha aku tidak sependapat dari sisi itu, tepat pada pendapat mas Dewo, nggak ada urusannya bahwa aku melihat dari sisi A, dia melihat dari sisi B. Tetapi intinya memang dia salah menurutku :) :D Hi Hi Hi

Hihihi… temen-temen yang lain sudah pada ngeh loh! Coba deh Anda berguru pada Mas Ikutan. Mungkin beliau bisa menjelaskan kepada Anda dengan lebih baik lagi. Kebetulan beliau punya bekal AQ juga.

Lagi pula bukti-bukti dari AQ yang dikutip Mas Ikutan pun tidak dapat Anda bantah. Anda juga sudah mengakui belum menemukan bantahan atas bukti-bukti saya dari Alkitab. Hehehe…

Sisa komennya tidak usah saya bahas ya? Soalnya sudah bias dengan diskusi awal kita.

Salam.

Kamu sudah mulai nggak niat diskusi kayaknya ya ???

SALAM

Kalo memang salah tangkap ya silahkan dibahas yang kamu anggap salah tangkap di bagian mana. Pendapatmu sendiri secara utuh bagaimana.
Hi Hi Hi

SALAM

@Mas Lovepassword,

Bukan ngga niat diskusi. Tapi kecewa saja karena Anda pintar sekali membolak-balik pernyataan orang lain. Nih buktinya:

LP:
Alasan Dewo : Kalo Allah harus selalu sesuai dengan sifat atau Naturenya dianggap itu membatasi kehendak Allah atau rencana Allah.

Yang saya katakan adalah: Allah itu Mahakuasa. Allah itu tidak terbatas. Bahkan Allah MELAMPAUI sifat-sifat-Nya. Mengapa bisa begitu? Karena Allah mempunyai rencana.

Sudah jelas sekali pernyataan saya itu tidak sama dengan apa yang Anda tuliskan. Sedang menggiring opini publik ya?

Pernyataan saya itu tetap konsisten dari pertama sampai sekarang.

Salam.

@Mas Dewo : Ya amplop yang saya maksud itu juga gitu esensinya saya rasa ya samalah. kamu senengnya memang protes yang nggak penting. Plus kadang2 suka ngambek lagi ??? Hi Hi Hi

Okelah saya ikuti gayamu entar kamu ngedumel malahan :

Allah mempunyai rencana ? — bener gini maksudmu

Lha Rencana Allah itu melampaui sifat-sifatNya —> Bener nggak gini maksudmu.

Kalo saya salah tangkap disalahkan saja nggak papa tapi ini nggak ada urusannya sama memfitnah kamu. Nggak usah Gede Rasa.

Oke ya? Kalo memang maksudmu itu begitu ya memang aku tidak sependapat.

Yang namanya rencana itu justru dipengaruhi sifat. Selama ini yang kita lihat kan ya gitu :)

Misalnya Paijo itu baik. Paijo bersifat baik. Lha karena Paijo ini sifatNya baik maka yang direncanakannya ya otomatis yang baik-baik. Lha implementasi dari rencana Paijo juga diupayakan baik oleh Paijo.

Lha jika Allah itu kita katakan Baik bahkan Maha Baik, maka otomatis rencana Allah ya yang baik-baik, Allah tidak akan merencanakan yang tidak baik karena sesuai dengan sifatNya. Esensi bantahanku itu di sini jadi saya rasa aku nggak memelintir apapun karena kita memang berbeda pendapat dari sisi ini. Sekali lagi itu menurutku.

Kamu mengatakan bahwa Allah karena punya rencana dapat melampui sifatNya. Aku mengatakan yang namanya rencana itu tidak melampaui sifat. karena apa ? karena justru sifatlah yang mempengaruhi setiap rencana.

Jika kamu jujur maka kamu tidak akan merencanakan yang tidak jujur. Jika kamu baik maka kamu tidak akan merencanakan yang nggak baik. Jika Allah itu bersifat Maha Baik, Maha kekal dsb maka Allah juga tidak akan merencanakan serta melakukan tindakan apapun yang melanggar sifat2Nya tersebut.

Memang itu saya rasa esensi perbedaan pendapat di antara kita. Tapi kalo kamu merasa bahwa aku masih sedemikian geblek sehingga salah tangkep melulu ya kamu jelaskan saja sisi yang kamu protes.

Menurut kamu substansi perbedaan pendapat antara kamu dan aku ada di bagian mana? Kalo menurutku ya pada bagian yang aku bahas itu.

Allah Maha Kuasa tidak berarti Allah bisa tidak setia, bisa tidak baik, bisa tidak menepati janji, bisa menghancurkan diriNya sendiri. Karena sifat Allah terkait dengan rencana Allah. Jika Allah itu baik bahkan Maha Baik maka Allah juga tidak akan merencanakan yang tidak baik. karena itu Allah dalam KeMahaKuasaannya selalu baik, tidak bisa tidak baik. Karena sifatNya Maha Baik. Allah juga karena bersifat kekal bahkan Maha Kekal otomatis juga tidak akan merencanakan menghancurkan diriNya sendiri sehingga tidak kekal karena itu berlawanan dengan sifatNya

SALAM

Kata Kunci : Sifatlah yang mempengaruhi Rencana bukan Rencana melampui sifat.

Seorang yang baik tidak akan merencanakan yang jahat
Seorang yang benar tidak akan merencakan yang benar

Jika Allah Maha Benar maka Allah tidak merencanakan yang tidak benar.

SALAM

@Mas Lovepassword,

Hehehe… perkenankanlah aku mengutip bagian akhir komenmu:

LP:
Memang itu saya rasa esensi perbedaan pendapat di antara kita. Tapi kalo kamu merasa bahwa aku masih sedemikian geblek sehingga salah tangkep melulu ya kamu jelaskan saja sisi yang kamu protes.

Sebenarnya saya bisa saja menunjukkan kegeblekan Anda. Karena penjelasan Anda tentu saja bertentangan dengan komen Anda sebelumnya, yaitu:

LP:
Alasan Dewo : Kalo Allah harus selalu sesuai dengan sifat atau Naturenya dianggap itu membatasi kehendak Allah atau rencana Allah.

Ini sangat berbeda dengan usaha Anda dalam memahami pendapat saya di komen belakangan:

LP:
Allah mempunyai rencana ? — bener gini maksudmu

Lha Rencana Allah itu melampaui sifat-sifatNya —> Bener nggak gini maksudmu.

JelasNggak kegeblekan Anda? Sementara sejak awal sampai sekarang saya pun selalu menuliskan:

Dewo:
Allah itu Mahakuasa. Allah itu tidak terbatas. Bahkan Allah MELAMPAUI sifat-sifat-Nya. Mengapa bisa begitu? Karena Allah mempunyai rencana.

Sekarang begini saja deh, dari pada Anda ngedumel, membolak-balik kata orang, memfitnah, dll (tipikal), apa nggak lebih baik Anda mengikuti saran rekan Parhobass untuk FOKUS?

Jadi jika bukti yang saya & Mas Ikutan dianggap salah, silakan bantah. Membantahnya harus punya dasar. Syukur-syukur bisa mengambil ayat dari Alkitab atau AQ. Kalau Anda membantahnya tanpa dasar, ya mending Anda bilang “POKOKNYA pendapat saya begitu.”

Tidak usah pakai malu ngomong pakai kata “POKOKNYA”. Soalnya ini sudah stigma yang melekat kepada umat Anda yang ketika tidak bisa mempertahankan pendapat kemudian bilang “POKOKNYA.”

Silakan dibantah, atau bilang saja POKOKNYA.

@Saudara Dewo : Allah itu Mahakuasa. Allah itu tidak terbatas. Bahkan Allah MELAMPAUI sifat-sifat-Nya. Mengapa bisa begitu? Karena Allah mempunyai rencana.

===> Tak bilangi ya Mas yang namanya rencana itu dipengaruhi oleh sifat, bukan malah melampaui sifat . Hi Hi Hi aneh.aneh saja. Sudah kuberikan contohnya sedemikian gamblang.

Jika Paijo itu baik maka yang dia rencanakan ya yang baik, dia berusaha melakukan perbuatan yang baik.

Jika Allah itu Maha Kekal ya Allah tidak akan merencanakan dan melakukan perbuatan yang membuat Allah tidak kekal. Allah nggak mungkin- selamanya nggak mungkin menghancurkan diriNya karena itu berlawanan secara substansial dengan sifatNya

Jika Allah Maha Benar ya Allah tidak akan merencanakan perbuatan yang tidak benar, karena itu berlawanan dengan sifatNya.

Masalah segampang ini saja nggak mudeng-mudeng. Jan…Jan…

Memangnya kalo kamu pake kalimat lain yang kedengarannya memang lebih indah mendayu-dayu aku bisa terpengaruh gitu? Ya kamu salah ya tetap salah, mau kamu puter kayak apapun ya kuanggap salah.

Bahwa ada orang lain yang terpengaruh ketika kalimatnya kamu ganti enakan dikit ya mungkin saja ada, kan nggak setiap anak harus lulus kan ? :) Tapi bagiku substansi pernyataanmu itu salah sejak awal.

SALAM

@Mas Lovepassword,

Wakakaka…

LP:
Nggak tahu, dulu matematikaku ya pernah sih dapet sembilan kadang-kadang tapi rasanya aku agak lupa kalo pernah ada kata Maha di matematika. Mungkin saja aku salah jurusan kali. Masalahnya di jurusanku , setahuku nggak ada kata Maha dalam pelajaran Matematika. Kali-kali saja di jurusan agama atau teologi ada yang membahas definisi kata Maha secara matematis. Kalo memang ada yah kamu jelaskan saja. Biar aku belajar kepadamu. :)

Lha kan dalam usaha membantu Anda yang katanya bisa menentukan bahwa “Allah yang Mahakuasa itu tidak dapat melawan nature-Nya.” Kalau Anda bisa bilang begitu, berarti Anda tahu ukurannya Mahakuasa. Nah, saya mau membantu Anda mengukur kata “Mahakuasa” itu.

Menurut Anda, rentang arti kata “MAHA” itu di rentang yang mana? Seperti penggaris, kita akan coba buat penggaris yang tidak terhingga, yaitu:

~, …, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …, ~

Kalau Anda masih ngeles juga dengan ukuran ini, maka terbukti bahwa Anda tidak dapat mengukur “MAHA”. Dan jelas bahwa Anda tidak dapat membatasi Allah dengan sifat-sifat-Nya.

*mudheng nggak Mas?*

Yang jelas, ukuran-ukuran ini dipakai di semua jurusan. Ngga harus jurusan matematika. Di pasar juga digunakan ukuran kok, misalnya: timbangan, penggaris, dll. Bahkan di komputer yang Anda pakai sekarang ini pun banyak bertebaran ukuran-ukuran. Masih mau ngeles “salah jurusan”?

*mudheng nggak Mas?*

Yang aku nggak mudeng itu bukan masalah ukuran , timbangan, dsb tetapi korelasi contohmu dengan diskusi kita itu aslinya apaan ?

Jika saya ngomong Allah tidak bisa berbuat jahat, tidak bisa berdosa, dsb, terus kamu membicarakan matematika karena kamu kaitkan Maha Kuasa.

Korelasinya apa ? Apa korelasi pendapatmu bahwa Allah bisa tidak baik, bisa tidak setia, dsb dengan barisan bilangan yang kamu tunjukkan ?

SALAM

@Mas Lovepassword,

LP:
Yang aku nggak mudeng itu bukan masalah ukuran , timbangan, dsb tetapi korelasi contohmu dengan diskusi kita itu aslinya apaan ?

Hehehe… ngga mudhengan sih… Makanya fokus, Mas.

LP:
Jika saya ngomong Allah tidak bisa berbuat jahat, tidak bisa berdosa, dsb, terus kamu membicarakan matematika karena kamu kaitkan Maha Kuasa.

Begini Mas. Sejak dahulu Anda bilang bahwa Allah yang mahakuasa itu terbatas, yaitu dibatasi oleh sifat-sifat-Nya. Benar? Benar!

Dari pendapat Anda ini, jelas Anda mengenal Allah dengan baik. Mungkin bisa disebut kalau Anda ini sahabat karib Allah. Karena Anda bisa mengerti batasan-batasan kemahakuasaan Allah.

Dari sini saya mengajak Anda mengukur mahakuasa itu sebesar atau sepanjang atau setinggi apa. Lalu saya membuat sebuah garisan tak terhingga dengan ukuran:

~, …, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …, ~

Lalu saya tanya kepada Anda, ukuran mahakuasa itu sebesar apa? Atau sejauh apa? Atau setinggi apa? Anda kan sahabat karib Allah yang tahu batasan-batasan Allah. Jadi wajar dong kalau saya tanya demikian?

LP:
Korelasinya apa ? Apa korelasi pendapatmu bahwa Allah bisa tidak baik, bisa tidak setia, dsb dengan barisan bilangan yang kamu tunjukkan ?

Okelah, nampaknya Anda tidak mudhengan dengan penggaris yang saya buat. Jadi saya jelaskan saja secara ringkas. Karena terus terang capek juga ngobrol sama orang yang nggak mudhengan.

Poin yang saya ingin utarakan adalah bahwa kata “MAHA” itu cakupannya sejauh mana dalam suatu ukuran? Seperti kita tahu, ukuran itu bisa minus (-) mau pun plus (+). Kata “MAHA” itu terletak di penggaris (0, 1, 2, 3, …, ~) atau mencakup juga penggaris (~, …, -3, -2, -1)?

Sampai sini mudheng ngga Mas?

Kalau sudah rada mudheng, silakan dijawab penggarisnya.

So Menurutmu Mas Dewo :

Kata Maha itu jika dikaitkan dengan barisan bilangan mesti ditulis bagaimana ???

SALAM

@Mas Lovepassword,

Syukurlah Mas LP sudah rada mudheng. Mari kita bahas.

LP:
So Menurutmu Mas Dewo :

Kata Maha itu jika dikaitkan dengan barisan bilangan mesti ditulis bagaimana ???

Nah inilah yang saya ingin tanyakan kepada Anda. Anda kan tahu batasan-batasan Allah. Makanya saya tanya kepada Anda.

Atau sebenarnya Anda akan ngeles menjawabnya karena Anda tahu konsekuensi dari jawaban Anda?

Salam.

@Mas Lovepassword,

Hihihi… (horse laugh)

LP:
Kata Kunci : Sifatlah yang mempengaruhi Rencana bukan Rencana melampui sifat.

Menurut saya, yang mempengaruhi rencana itu pikiran dan kehendak (niat). Hehehe… ini menurut saya loh ya? Nanti malam saya carikan pendukungnya di Alkitab.

LP:
Seorang yang baik tidak akan merencanakan yang jahat
Seorang yang benar tidak akan merencakan yang benar

Hihihi… (horse laugh)
Asli kemekelen. Semoga hanya salah ketik ya mas? Semoga bukan karena otak Anda semrawut.

LP:
Jika Allah Maha Benar maka Allah tidak merencanakan yang tidak benar.

Sebagai seorang IT (yg tentu punya dasar matematis), tentu Anda harus mengakui bahwa sebuah bilangan memiliki rentang:

~, … ,-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …, ~

~ = tak terhingga

Menurut Anda, kata MAHA itu rentangnya dari mana? Apakah hanya dari (0, 1, 2, 3, … ~), atau termasuk juga (~, …, -3, -2, -1)?

Silakan dijawab secara matematis.

Seorang yang baik tidak akan merencanakan yang jahat
Seorang yang benar tidak akan merencakan yang benar ===>

Kalo itu mah memang jelas salah ketik. Hi Hi Hi. Aku jadi malu.

Tapi kamu jan aslinya ngurusi barang nggak penting, semacam aku salah ketik, dsb. :) Kalo otakku semrawut apa nggak? Ya mana kutahu aku kan nggak bisa lihat otakku sendiri lah wong otakmu juga aku nggak bisa lihat. Mungkin sama ruwetnya penuh pembuluh darah. Hi Hi Hi

===========================================
Sebagai seorang IT (yg tentu punya dasar matematis), tentu Anda harus mengakui bahwa sebuah bilangan memiliki rentang:

~, … ,-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …, ~

~ = tak terhingga

Menurut Anda, kata MAHA itu rentangnya dari mana? Apakah hanya dari (0, 1, 2, 3, … ~), atau termasuk juga (~, …, -3, -2, -1)?

Silakan dijawab secara matematis.

===> Nggak tahu, dulu matematikaku ya pernah sih dapet sembilan kadang-kadang tapi rasanya aku agak lupa kalo pernah ada kata Maha di matematika. Mungkin saja aku salah jurusan kali. Masalahnya di jurusanku , setahuku nggak ada kata Maha dalam pelajaran Matematika. Kali-kali saja di jurusan agama atau teologi ada yang membahas definisi kata Maha secara matematis. Kalo memang ada yah kamu jelaskan saja. Biar aku belajar kepadamu. :)

SALAM Mas Dewo

See You

@Mas Lovepassword,

Yaelah mas-mas… Anda hidup di dunia nyata kan? Atau di dunia idealis yang suci-sumuci? Mari kita bahas penjelasan Anda:

LP:
Jika Paijo itu baik maka yang dia rencanakan ya yang baik, dia berusaha melakukan perbuatan yang baik.

Anda yakin bahwa “Paijo yang baik” itu tidak pernah melakukan kesalahan? Anda yakin bahwa “Paijo yang baik” itu tidak pernah berbuat hal yang tidak baik? Bangun, Man. Anda hidup di dunia Man…

LP:
Jika Allah Maha Benar ya Allah tidak akan merencanakan perbuatan yang tidak benar, karena itu berlawanan dengan sifatNya.

Hehehe… Anda sedang menyangkal Alkitab ya? Jelas-jelas di Alkitab sudah dituliskan bahwa Allah pernah melakukan hal-hal yang tidak baik. Dan Allah pun MENYESAL.

Anda masih menyangkalnya?

LP:
Masalah segampang ini saja nggak mudeng-mudeng. Jan…Jan…

Yang ngga mudheng itu sampeyan. Hehehe… lha yang lain-lainnya saja sudah pada mudheng kok. Mereka bahkan sudah bilang case closed. Tinggal nunggu Anda saja yang masih ngeyel. Hihihi… (horse laugh).

Sisa komennya ngga saya bahas. Anda ngga fokus soalnya.

Mas Dewo

LP:
Jika Paijo itu baik maka yang dia rencanakan ya yang baik, dia berusaha melakukan perbuatan yang baik.

Anda yakin bahwa “Paijo yang baik” itu tidak pernah melakukan kesalahan? Anda yakin bahwa “Paijo yang baik” itu tidak pernah berbuat hal yang tidak baik? Bangun, Man. Anda hidup di dunia Man…

===> Hi Hi Hi, masih nggak paham juga ya ?

Yang saya lihat kan sifat baik paijo. Jika misalnya sifat baik Paijo itu anggap saja 80% baik jahatnya 20%, lha sifat itu nantinya juga teraktualisasi dalam rencana dan tindakannya.

Lha manusia kan bisa baik tapi nggak mungkin baiknya 100%, jadi ya otomatis rencana dan tindakan manusia ya nggak mungkin baiknya 100 persen.

Lha jika sifat Allah itu Maha Baik maka rencana Allah dan tindakan Allah ya pasti baik . 100 persen baik.

Jika sifat Allah itu Maha Benar maka rencana Allah dan tindakan Allah ya pasti benar.

Paham sekarang ? Hi Hi Hi

SALAM

@Mas Lovepassword,

Hehehe… (bukan horse laugh)

LP:
Hi Hi Hi, masih nggak paham juga ya ?

Yang saya lihat kan sifat baik paijo. Jika misalnya sifat baik Paijo itu anggap saja 80% baik jahatnya 20%, lha sifat itu nantinya juga teraktualisasi dalam rencana dan tindakannya.

Hehehe… kayaknya Anda yang ngga bisa njawab pertanyaan saya deh. Berikut fakta yang Anda contohkan:

1. Paijo orang baik
2. Sudah pasti rencana Paijo adalah baik

Kemudian saya punya komen:

1. Apakah Anda yakin Paijo yang baik itu tidak pernah berbuat kesalahan dan tidak pernah melakukan yang tidak baik?

2. (Tambahan) Apakah Anda yakin bahwa dalam melaksanakan rencananya itu Paijo tidak berbuat kesalahan dan tidak berbuat yang tidak baik?

Sama halnya ketika Anda membuat pernyataan:

1. Allah Mahakuasa
2. Allah yang Mahakuasa itu tidak dapat melawan nature-Nya

Dari sini saja Anda sudah membuat kesalahan logika yang fatal. Di satu sisi Anda mengamini kemahakuasaan Allah, namun di sisi berikutnya Anda membatasi Allah.

Sama seperti Paijo yang malang. Anda membatasi Paijo bahwa Anda yakin sekali kalau Paijo tidak pernah berbuat salah dan tidak pernah berbuat tidak benar. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai Nabi Paijo kali ya?

Salam Fokus.

Substansinya itu sederhana : Karena Allah bersifat Maha Baik maka Allah pasti merencanakan yang Baik-baik. Allah melakukan yang baik-baik.

Lha kalo Allah tidak merencanakan yang baik maka tentu saja kita tidak menyebutnya Maha Baik.

Dalam kasus Paijo, Paijo masih memiliki sifat jahat dalam dirinya karena Paijo manusia. Lha Allah tidak.

Sederhana saja Mas..

SALAM

Biar lebih jelas:

mas Dewo berdiri di posisi ini:

Tuh@n itu tidak terbatas dan bisa melampaui sifat2Nya, karena Tuh@n mempunyai rencana.
Kalau DIA sudah punya rencara, maka DIA bisa melampaui sifat2Nya.

Sifat2NYA yang DIA bisa lampaui itu

1. Tidak pernah membunuh manusia
2. Selalu setia kepada manusia
3. Selalu Baik kepada manusia

Apa KehendakNYA itu ?

KehendakNya itu adalah:
Menyelamatkan umat manusia (menjelma menjadi manusia Yesus)

Yang mas Dewo tidak setuju (yang adalah pendapat Lovepassword):

TuH@n itu terbatas dan tidak bisa melampaui sifat2Nya.

Bukankah begitu, mas Dewo…..?

Salam

@Mas JelasNggak,

JN:
mas Dewo berdiri di posisi ini:

Tuh@n itu tidak terbatas dan bisa melampaui sifat2Nya, karena Tuh@n mempunyai rencana.
Kalau DIA sudah punya rencara, maka DIA bisa melampaui sifat2Nya.

SETUJU !!!
Di setiap komen saya seringkali menyatakan hal itu, yaitu: “Tuhan itu Mahakuasa. Tuhan itu tidak terbatas. Tuhan dapat melampaui sifat-sifat-Nya karena Tuhan punya rencana.”

Puji Tuhan, Mas JelasNggak dapat menangkap maksud saya ini tanpa perlu membolak-balikkannya seperti yang dilakukan Mas LP.

JN:
Yang mas Dewo tidak setuju (yang adalah pendapat Lovepassword):

TuH@n itu terbatas dan tidak bisa melampaui sifat2Nya.

Mungkin yang saya tangkap dari pendapat Mas LP adalah: “Allah itu mahakuasa tetapi terbatasi oleh sifat-sifat-Nya.”

Inilah yang saya bantah sejak semula, karena saya punya bukti bahwa Allah melakukan beberapa perbuatan yang melawan sifat-Nya.

Kurang lebih begitu Mas. Paling tidak Mas JelasNggak sudah mengerti apa yang saya utarakan.

Terima kasih Mas.

@jelasnggak dan Dewo : Aku sejak awal kan sudah ngomong kalo substansi kalimat yang sama jika dinyatakan dengan cara berbeda di kuping kesannya berbeda.

Jika Mas Dewo ngomong Allah bisa tidak baik, bisa tidak setia – ini kedengaran nggak enak di kuping

Jika aku ngomong Allah selalu baik, selalu setia – ini kedengaran lebih enak di kuping.

Tapi kalo kalimatnya diganti : Allah itu mahakuasa sehingga tidak terbatasi oleh apapun , Allah selalu bisa melaksanakan rencanaNya. — pendapat Mas Dewo kesannya lebih enak dikuping kan

Lha kalo kalimatku diganti dengan cara lain : Allah yang Maha Kuasa terbatasi oleh sifatNya — mungkin ini lebih nggak enak di kuping ketimbang jika aku mengatakan Allah Maha Kuasa itu tidak berarti Allah bisa tidak baik, bisa tidak setia dsb.

Jadi kalimat , atau cara mengungkapkan ide memang mempengaruhi kesan :) Tetapi tentu tidak berarti bahwa kalimat2 itu memelintir omongan orang karena konsekuensi omongan masing2 ya kedua-duanya itu.

Saya jelas tidak setuju jika rencana bisa melampaui sifat. Sejak awal saya sudah menulis jika masalahnya memang di sini. Justru yang namanya sifat itu selalu mempengaruhi rencana.

Misalnya Paijo itu baik. Paijo bersifat baik. Lha karena Paijo ini sifatnya baik maka yang direncanakannya ya otomatis yang baik-baik. Lha implementasi dari rencana Paijo juga diupayakan baik oleh Paijo.

Lha jika Allah itu kita katakan Baik bahkan Maha Baik, maka otomatis rencana Allah ya yang baik-baik, Allah tidak akan merencanakan yang tidak baik karena sesuai dengan sifatNya. Esensi bantahanku itu di sini .

Mas Dewo mengatakan bahwa Allah karena punya rencana dapat melampui sifatNya. Aku mengatakan yang namanya rencana itu tidak melampaui sifat. karena apa ? karena justru sifatlah yang mempengaruhi setiap rencana.

Jika kamu jujur maka kamu tidak akan merencanakan yang tidak jujur. Jika kamu baik maka kamu tidak akan merencanakan yang nggak baik. Jika Allah itu bersifat Maha Baik, Maha kekal dsb maka Allah juga tidak akan merencanakan serta melakukan tindakan apapun yang melanggar sifat2Nya tersebut.

Allah yang Maha Baik tidak akan merencanakan dan melaksanakan yang tidak baik
Allah yang Maha Benar tidak akan melaksanakan yang tidak benar
Begitu juga Allah yang Maha Kekal tidak akan merencanakan atau melaksanakan perbuatan yang membuatNya tidak kekal.

Jadi konsep rencana melampui sifat , bagi saya nggak ada dasarnya. Justru sifatlah yang mempengaruhi segala macam rencana.

Jika kamu baik ya kamu tidak merencanakan yang jelek-jelek.

SALAM

@Lovepassword,

Hehehehe… (horse laugh lagi).

LP:
@jelasnggak dan Dewo : Aku sejak awal kan sudah ngomong kalo substansi kalimat yang sama jika dinyatakan dengan cara berbeda di kuping kesannya berbeda.

Jelas-jelas substansinya berbeda, namun Anda menyamakannya karena dianggap enak dikuping? Mari kita telaah 2 pernyataan yang katanya memiliki SUBSTANSI KALIMAT yang sama:

LP:
Jika Mas Dewo ngomong Allah bisa tidak baik, bisa tidak setia – ini kedengaran nggak enak di kuping

Jika aku ngomong Allah selalu baik, selalu setia – ini kedengaran lebih enak di kuping.

JelasNggak? Jelas-jelas ini dua hal yang berbeda makna & substansi, tapi dibilang substansinya sama? Betapa ruwetnya otak Anda!

LP:
Tapi kalo kalimatnya diganti : Allah itu mahakuasa sehingga tidak terbatasi oleh apapun , Allah selalu bisa melaksanakan rencanaNya. — pendapat Mas Dewo kesannya lebih enak dikuping kan

Dari dulu saya juga ngomongnya begitu. Kalau pertama kali saya menekankan pada pelanggaran sifat, itu karena saya menunjukkan bukti-buktinya kepada Anda. Mudheng ngga Mas?

LP:
Jadi kalimat , atau cara mengungkapkan ide memang mempengaruhi kesan :) Tetapi tentu tidak berarti bahwa kalimat2 itu memelintir omongan orang karena konsekuensi omongan masing2 ya kedua-duanya itu.

Hehehe… jelas-jelas Anda sudah memelintir omongan orang. Tidak hanya saya yang protes loh! Bahkan pelintiran Anda sudah saya kutip. Dan saya menunjukkan pelintiran Anda ini tidak hanya sekali loh! Kayaknya saya harus buat stempel stigma nih.

LP:
Saya jelas tidak setuju jika rencana bisa melampaui sifat. Sejak awal saya sudah menulis jika masalahnya memang di sini. Justru yang namanya sifat itu selalu mempengaruhi rencana.

Silakan ayat-ayat saya & Mas Ikutan dibantah. Fokus, man…

LP:
Mas Dewo mengatakan bahwa Allah karena punya rencana dapat melampui sifatNya. Aku mengatakan yang namanya rencana itu tidak melampaui sifat. karena apa ? karena justru sifatlah yang mempengaruhi setiap rencana.

[...]

Jadi konsep rencana melampui sifat , bagi saya nggak ada dasarnya. Justru sifatlah yang mempengaruhi segala macam rencana.

Yeeee… jelas bukti-buktinya (dasarnya) sudah saya berikan. Demikian pula bukti dari Mas Ikutan yang mengutip ayat2 dari AQ. Rekan-rekan yang lain pun sudah menerima perihal ini. Anda saja yg masih ngeyel.

Jika Anda masih ingin membantahnya, silakan berikan argumen:

1. Mengapa Allah bisa melanggar sifat-sifatNya? Bukti ayat2nya sudah saya berikan.

2. Tunjukkan ayat-ayat yang mendukung jawaban Anda. Pesan sponsor: ayat-nya dari Alkitab.

Silakan menjawab pertanyaan saya DENGAN JUJUR. Kalau Anda tidak bisa memberikan jawaban, ngaku saja. Atau Anda tetap pada platform umat Anda, yaitu: POKOKNYA? Please man, sudah jamannya internet gitu loh!

Anda sudah mengarang buku kan? Tunjukkan kualitas Anda! Lepaskan diri Anda dari stigma! Atau Anda ingin menjadikan stigma itu kutuk bagi hidup Anda? DAN TETAP FOKUS!

Salam.

Omonganmu tambah antik .

1. Mengapa Allah bisa melanggar sifat-sifatNya? Bukti ayat2nya sudah saya berikan.

2. Tunjukkan ayat-ayat yang mendukung jawaban Anda. Pesan sponsor: ayat-nya dari Alkitab.

Aku nggak merasa Allah melanggar sifatNya , yang ngomong itu kan kamu. Yang ngomong kan kamu Raden Mas…Hi Hi Hi …Mengapa malah kamu tanyakan alasannya ke aku. Jan memang manusia antik

Pendapatku jelas Allah tidak melanggar sifatNya. Jadi kalo tanya yang fokus dong Mas Dewo tercinta. Hi Hi Hi . Yang ngomong Allah bisa melanggar sifatNya itu kamu bukannya aku.

Lha wong yang berpendapat kamu, eh alasannya malah kamu mintakan ke aku. Yang bener saja Mister… ??? :) :D

Kayaknya emosi kamu membuat kamu semakin tidak fokus.

SALAM Iya
‘Yang sabar dikit nape… :)

Salam Lagi deh.

@Mas Lovepassword,

Yaelah men… itu kan jelas-jelas pertanyaan saya kepada Anda. Oke, saya ulangi pertanyaan saya dengan cara TK ya Mas:

1. Anda bilang kalau Allah tidak bisa melanggar sifat2Nya. Lalu kutunjukkan ayat-ayat bahwa Allah pernah melanggarnya. Karena Anda menolak bukti-bukti ini, maka jelaskan kepada kami semua yang ada di sini: bagaimana penjelasan Anda terhadap bukti-bukti tersebut yang membuktikan bahwa Allah pernah melanggar sifat-sifat-Nya? Mengapa Allah bisa melanggar sifat-sifat-Nya?

*mudheng ngga Men?*

2. Berkenaan dengan pertanyaan saya nomer 1, silakan tunjukkan ayat-ayat yang mendukung pendapat Anda. Sebagai catatan, saya sudah menunjukkan bahwa TIDAK ADA ayat yang menyatakan kalau “Allah itu tidak bisa melawan HAKEKAT-NYA sendiri” dan yang sejenisnya.

Mudheng ngga men? Makanya fokus men. Dalam hal ini Anda harus membuktikan kepada kami semua kebalikan dari pendapat saya. Begitu man. Otaknya dipakai yang fokus dong…

@Mas Dewo : Lha jelas kamu salah melempar pertanyaan. Kalo kamu minta aku menjawab Mengapa Allah bisa melanggar sifatNya ya aku tetap tidak merasa perlu memberikan alasan yang tidak kusetujui kan ?

Mestinya kalo tanya gini : LP, menurutku aku sudah memberikan sejumlah ayat yang menurutku membuktikan bahwa Allah bisa bertentangan dengan sifatNya sendiri. Lha bagaimana tanggapanmu ? Gitu lebih enak kayaknya ?

Lha pertanyaan itu seingatku sudah pernah kujawab : Jika misalnya pada contohmu Ayub menderita karena cobaan Iblis mengapa Allah yang disalahkan ? Substansi penderitaan Ayub karena Ayub itu orang baik, apakah membawa kebaikan atau keburukan bagi Ayub ???

2> Berkenaan dengan pertanyaan saya nomer 1, silakan tunjukkan ayat-ayat yang mendukung pendapat Anda. Sebagai catatan, saya sudah menunjukkan bahwa TIDAK ADA ayat yang menyatakan kalau “Allah itu tidak bisa melawan HAKEKAT-NYA sendiri” dan yang sejenisnya

===> Secara tersurat tidak ada, secara tersirat ya banyaklah. Hi Hi Hi.

@Mas Lovepassword,

LP:
@Mas Dewo : Lha jelas kamu salah melempar pertanyaan. Kalo kamu minta aku menjawab Mengapa Allah bisa melanggar sifatNya ya aku tetap tidak merasa perlu memberikan alasan yang tidak kusetujui kan ?

Sejatinya kalau Anda tetap ngotot bahwa Allah tidak bisa melanggar sifat-Nya, justru saya bertanya: mengapa di Alkitab terbukti kalau Allah melanggar sifat-Nya? Begitu loh.

Tapi karena belum mudheng juga, okelah pertanyaannya kuubah menjadi begini ya?

Mas LP, Anda kan membantah bukti-bukti saya yang menunjukkan bahwa Allah itu bisa bertentangan dengan nature-Nya. Silakan jabarkan sanggahan Anda beserta ayat2nya.

Bagaimana Mas? Pertanyaan ini lebih mudheng nggak?

Monggo dijawab.

@Mas Dewo : Jawabannya sederhana saja jika ada kejadian atau peristiwa yang disalahtafsirkan oleh manusia sebagai Allah tidak baik, Allah tidak benar, Allah tidak setia, dsb dalam suatu peristiwa tertentu.

Saya rasa Anda bisa melihat jawaban terhadap aneka peristiwa yang mungkin mengguncangkan hati manusia dengan sudut pandang ini :

Adakah Tanah Liat berkata kepada pembentuknya Apakah yang kau buat ?

Tanah liat tidak layak menilai Pembentuknya.

SALAM

Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

Tidak adilkah Allah–aku berkata sebagai manusia–jika Ia menampakkan murka-Nya?

Komentarku hilang satu jell

@Mas Lovepassword,

Hihihi lucu deh.

LP:
@Mas Dewo : Jawabannya sederhana saja jika ada kejadian atau peristiwa yang disalahtafsirkan oleh manusia sebagai Allah tidak baik, Allah tidak benar, Allah tidak setia, dsb dalam suatu peristiwa tertentu.

Jadi menurut Anda, tindakan Allah memusnahkan dan membunuh manusia itu lebih cenderung salah tafsir? Hihihi…

LP:
Adakah Tanah Liat berkata kepada pembentuknya Apakah yang kau buat ?

Tanah liat tidak layak menilai Pembentuknya.

Tambah lucu… Ngga nyambung babar-blas.

@Mas Lovepassword,

Hihihi… (horse laugh beneran)

LP:
Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

Ini kamsudnya apa tho?

@Mas Lovepassword,

Oh, lagi mbaca puwisi tho?

LP:
Tidak adilkah Allah–aku berkata sebagai manusia–jika Ia menampakkan murka-Nya?

Hihihi… beneran aku kemekelen.

@Mas Lovepassword,

Hmpf…

LP:
Komentarku hilang satu jell

Mbok ya ngomongnya sambil mbaca puwisi gitu lho mas.

Mas Jel…
Saat aku menulis komen…
Mengapa hilang satu?
Satu itu esa…
Tolong kembalikan komenku yang satu…

*diiringi rebana*

Maksudnya elo minta ayat gw kasih. Gitchuuuu…lho

Whaduh malah pake diiringi rebana, lagunya Perdamaian Perdamaian…atau gini manuke manuke cecak rowo……cecak rowo dowo buntute…

Hallo Pa Kabar

Tapi idemu menarik juga, kalo kusambungkan pake selotip bisa jadi lagu atau puisi beneran itu. :)

Segi tiga, segi empat, segi lima dan segi-segi yang lain, adalah istilah ciptaan manusia.

Manusia mendefinisikan segi empat = 4 sisi dengan 4 sudut. Segi tiga = 3 sisi dengan 3 sudut.

Jika Tuh@n membuat segi tiga empat sisi, apakah kita juga akan menyebutnya segi tiga empat sisi ?

NGgak kan..?

Siapa juga yang berkata TUh@n menyebut segi tiga itu segi tiga.

Siapa yang bilang Tuh@n menyebut segi empat itu sebagai segi empat.

Hanya manusia yang menyebut istilah2 itu.

Tergantung persepsi.

he he he

Jadi, Jawaban saya atas pertanyaan di atas adalah YA.

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang benar.

Jawaban saya atas pertanyaan “jika Tuh@n maha kuasa,apakah Tuh@n bisa menciptakan segi tiga sisi emapat” adalah BISA.

Karena ada klausa J”ika Tuh@N maha kuasa”

(nanya sendiri jawab sendiri.. biarin Weeek!! )

btw, piramid itu kan segitiga dengan sisi empat kan….?

Tentu saja, meskipun dalam dua dimensi, piramid itu masih segi tiga…

he he he

Wakakaka… (eh, ngga boleh horse laugh ya?)

Piramid itu 5 sisi, bukan 4 sisi.
Jadi tetap saja pertanyaannya salah dan jawabannya pasti salah.

Betul.

Piramid itu segitiga dengan 4 sisi di dasar, maksud saya.

@Mas JelasNggak,

Sebenarnya saya bisa kok menggambarkan segitiga dengan empat sisi.

Salam.

Saya menduga, munculnya pertanyaan diatas bermula dari adanya diskusi tentang penjelmaan Tuhan menjadi manusia. Dari diskusi itu muncul pertanyaan spt ini: Kalau Tuhan itu bisa menjadi manusia, berarti Tuhan itu, juga bisa menjadi…….. (disebutkanlah nama nama yang tidak pantas), bisakah Tuhan menciptakan batu yang tidak bisa diangkat? Dll. pertanyaan.

Apakah pertanyaan pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang salah? Kita tidak perlu menjawabnya, karena kita juga tidak perlu mempertanyakan pertanyaan pertanyaan diatas. Untuk Apa? Bukankah itu semua akan mengacaukan keimanan kita terhadapNya?

Kalau tetap kita coba pertanyakan dan mencari jawabannya, tidak akan ketemu juga jawaban yang pasti.

Contoh: Bisakah Tuhan menciptakan batu yang tidak bisa dia Angkat?

Kalau kita coba jawab Bisa, dilihat dari segi Kemahakuasaan Tuhan, memang Tuhan berkuasa menciptakan batu yang sangat berat sekali, sekalipun batu itu kecil sekali, Tuhan bisa buat berat jenisnya besar sekali. Berikutnya, karena Tuhan mahakuasa, Tuhan bisa membuat dirinya tidak mampu mengangkat batu itu.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: Apakah Tuhan mau mengurangi kemampuanNya sehingga diriNya tidak mampu mengangkat batu yang dibuatNya sendiri? Hal ini tidak bisa kita jawab.

Jadi, dari segi kemampuan Tuhan, segala sesuatu bisa dilakukan Tuhan. Tapi, apakah Tuhan mau melakukan hal itu? Adakah kepentinganNya?

Hal Tuhan menjadi manusia, ada dua kepentingan disana:
Kepentingan Tuhan dan kepentingan manusia. Tuhan berkepentingan menebus manusia ciptaanNya itu. Tuhan tidak hanya mau menciptakan saja, tetapi mau menyelamatkan ciptaanNya. Kepentingan manusia, agar manusia itu tidak binasa.

Sama halnya dengan menciptakan segitiga empat sisi. Kalau ada kepentingan didalamnya, Mengapa tidak? Dengan merobah total logika dalam pikiran manusia misalnya. Walau sebenarnya pertanyaan ini berbeda jauh dari pertanyaan mengangkat batu diatas. Dalam perkara batu diatas, ada kemungkinan Tuhan mengurangi kekuatannya, tetapi dalam hal segitiga ini, kalau dirobah jadi empat segi, itu berarti bukan segi tiga lagi. Mengapa harus dipertanyakan? Pertanyakanlah sesuatu yang bermanfaat.

Saya rasa masalah itu harus dihadapi Mas HH. Andai ada muridmu atau murid siapapun yang barusan membaca tulisan beginian atau pertanyaan di blog filsafat atau ateis. Atau dia mendengar pertanyaan model beginian dari siapa . Dan kamu menghindar tidak mau menjawab malahan melarang mereka membicarakannya , kesannya malah ateisme itu gagah.

Padahal yang nggak gagah-gagah amat.

kalo ada rekan2 ateis tercinta yang membaca ini sorry ya. Nyamber dikit lah :)

Kalo saya sih masih konsisten pertanyaannya salah .

Logiskah segitiga yang terdiri dari empat sisi ? Nggak logis
Benar nggak segitiga terdiri dari empat sisi ? Nggak benar
Lha pertanyaan yang secara substansial nggak benar ya nggak benar, mau diajukan kepada dedemit, mau diajukan kepada manusia mau diajukan kepada Allah, kalo sejak awal pertanyaannya salah ya tetap salah substansi pertanyaannya.

SALAM

Kalau kita perhtikan lebih teliti, pertanyaan itu sebenarnya tidak salah, yang salah adalah hal yang dipertanyakan. Karena hal yang dipertanyakan adalah salah, maka pertanyaan itu boleh disebut pertanyaan yang salah.

Karena bangun segitiga terbuat dari 3 buah sisi yang lurus dan 3 buah sudut/siku, dimana setiap sisi bertemu dengan sisi disamping kiri dan kanannya dalam bentuk siku dan membentuk sudut antara .1 higga kurang dari 180 derajat, bila ditambambahkan satu lagi sisi dan bertemu dengan sisi lainnya, tidak akan membentuk bangun segi tiga, tetapi bagun segi empat.

Karena dalam membentuk bangun itu bukan berdasarkan kemampuan dan atau kemahakuasaan, melainkan berdasarkan pola bangun ITU sendiri, maka pertanyaan seperti itu yang walaupun tidak salah, TIDAK PERLU DIPERTANYAKAN.

Pertanyaan itu memang bisa salah , misalnya : kapankah Diponegoro dibunuh oleh Einstein ? Ya jelas pertanyaannya salah :)

Atau contoh pertanyaan salah lainnya : Dapatkah Allah membuat rasa putih ? Lha putih itu nama warna bukan nama rasa jadi pertanyaan ini juga salah.

Sebenarnya pertanyaan yang salah itu tidak ada, yang ada ialah pertanyaan yang salah tempat, tidak sesuai dengan topik.

Seperti pertanyaan diatas tidaklah salah, karena nama orang di suku saya kebanyakan nama barat (kebarat-baratan) bisa saja ada yang bernama Einstein dan merantau/kuliah di UNDIP Semarang dan bertemu dengan seseorang yang bernama Diponegoro pula. Hehehe.

Tetapi bila sedang membicarakan kejeniusan Albert Einstein ahli fisika keturunan Yahudi itu dan bagaimana kepahlawanan Bung Tomo, eh, Diponegoro dengan keris di kiri dan pedang di kanan, tiba tiba muncul pertanyaan seperti diatas, maka pertanyaan itu adalah salah tempat.

Ha Ha Ha. Wah aku nggak nyangka kamu njawabnya malah gitu. Kalo gitu mah kayaknya kamu benar.. :) :D

Pak Jelasnggak,
tidak perlu dirobah robah lagi pak, sudah pas seperti ini. Bila suatu komentar direply, tidak terlalu makan banyak ruang lagi. Sudah enak dibaca dan perlu.

salam

Jadi pusing kurasa bah … diskusi alot yg beginian ….
.
.
Seandainya mas Dewo dan mister Lovepass ketemuan pd satu titik temu defenisi theologia masing-masing, memangnya maksud tujuan perdebatan anda berdua mau dibawa kemana ??

.
.
Selama tidak ada karunia Roh dalam mengenal dan menerima Allah dalam Kristus ya pendapat manapun ttg Allah itu tetap sama-sama benar.
Mister Lovepas … apakah kamu percaya bhw Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatmu.. ..
Kalau tidak percaya … ya sudah selesai… gitu aja koq repot.

@Mas Robinson A. Sihotang,

Hihihi…
Kayaknya sih Mas LP itu sudah mulai bisa menerima logika bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan & Juru Selamat. Tapi masih terus berusaha menyangkalnya.

Ini yang saya rasakan dari diskusi2nya.

Salam.

mas Robinson;
Selama tidak ada karunia Roh dalam mengenal dan menerima Allah dalam Kristus ya pendapat manapun ttg Allah itu tetap sama-sama benar.
Mister Lovepas … apakah kamu percaya bhw Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatmu.. ..??? (tanda tanya saya tambahi)

Nah pertanyaan inilah sebenarnya yang membuat saya penasaran, kok mas love demikian gigih nya membela pemahaman gereja dan paus sampai2 membuat pernyataan demikian;

mas love;
Masalah saya mau kamu anggap membela Paus, Gereja Katholik, dsb itu sederhana saja :

Pertama : Kalo saya lagi mau dan mampu ya siapapun bisa kubela sepanjang itu layak dibela. Sepanjang cukup beralasan untuk dibela.

Jauh2 hari saya sudah pernah ngedumel di blog2 ateis semacam Kemanusiaan, pemikirbebas, dsb meluruskan segala macam keantikan kesalahpahaman terkait agama termasuk kristen. Tanya saja sama jelasnggak.

padahal pembelaannya gigihnya ini agak unik jika kita melihat pada Asma-Ul-Husna, bagaimana allah dikatakan juga sebagai ;

- Al Afuww العفو Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf VS Al Muntaqim المنتقم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa
- As Salaam السلام Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan VS Ad Dhaar الضار Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita
- Al Mu`izz المعز Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya) VS Al Mudzil المذل Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya)

Apakah ini artinya mas love sudah mulai berpaling dan semakin bijak? wallahualam…..
Rasanya kristen akan sangat berbahagia menerima pemikir hebat seperti mas love.

ps;
- caranya membuat huruf tebal (bold) dan miring (italic) gmn ya?
- yang atas lupa ditutup blockquotenya (mas jelasnggak, yg 2 postingan sama di atas tolong dihapus saja).
- waduh maaf 2 kali salah, harap maklum, gaptek ini saya..

@mas Ikutan,

bold :

<b> kata yang ingin di tebalkan </b>

atau

<strong>kata yang ingin di tebalkan</strong>

Miring:

<em> kata yang ingin di miringkan</em>

@ikutan : Pendapatmu soal Asma’ul husna rada menarik juga. Tapi seperti yang sudah kubilang substansinya sama seperti Mas Dewo. Hanya saja sisi yang kalian protes berbeda. mas Dewo memprotes pernyataan dalam Alkitab, lha kamu memprotes nama-nama Allah dalam AL Quran yang kamu lihat isinya kok beberapa saling bertentangan. Misalnya ada memuliakan, ada menghinakan, dsb

Kalo masalah pasangan model begitu Di dalam Alkitab ya sama saja substansinya misalnya ditulis Allah membenci Esau, Allah mencintai yakub, dsb

Intinya ada juga semacam pasangan cinta-benci, Allah Maha Menghinakan Allah Maha Memuliakan, dsb

Memang ada tulisan seperti itu. Tapi substansinya itu apa ? Kapan Allah memuliakan siapa yang dimuliakan , serta kapan Allah menghinakan dan siapa yang dihinakan ? Kan ya mikirnya gitu.

Misalnya di Alkitab sendiri ada tulisan Allah membenci Esau, lha mengapa membenci ? Allah mencintai Yakub. Mengapa Allah mencintai ?

Dengan berpikir substansinya maka kita bisa masuk ke hal-hal yang lebih substansial. Allah geram pada siapa ? kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.

Apakah dengan begitu Allah dianggap bisa berbuat tidak baik, bisa berbuat tidak benar ? Tentu sudut pandangnya tidak seperti itu.

Jika kamu melihat hanya semata2 dari kata memuliakan dan kata menghinakan yang kamu lihat cuma kontradiksi . Itu kan salahmu sendiri. tetapi substansinya kan bukan begitu : Allah menghinakan yang jahat dan Allah memuliakan yang baik.

Jika dibaca secara lebih utuh ya nggak ada kontradiksi. Kontradiksi itu ada karena kamu menafsirkan sepotong -sepotong sehingga keluar dari substansinya.

SALAM

SALAM

@mas love
Maaf lho ya ini mas love, bukan saya menafsirkan sepotong2. Saya cuma mau tahu pandangan mas love saja.

Dengan jawaban di atas saya menjadi lebih yakin bahwa sebenarnya mas love sudah mengerti apa yang dimaksud oleh mas dewo. Lah kalian sepaham kok sebenarnya. Cuma saya gak mau eyel2an di sini…. gara2 masalah bahasa dan bagaimana menyusun kalimat yang indah.

Cukup tahu pandangan mas love saja.

@mas dewo
mungkin kata2nya harus dengan model jawaban mas love ini jadi mas love lebih mengerti. Jika mas dewo memberikan penjelasan yang lebih rinci malah kurang dipahami mas love.

ayo pada berpelukan…..

Btw, untuk jawaban thread ini;
Tidak perlu Tuhan secara langsung yang membuat segitiga empat sisi, manusia dengan akal yang diberikan Tuhan telah banyak membuat segitiga empat sisi. Kita menyebutnya sebagai LIMAS SEGITIGA.

Btw, untuk jawaban thread ini;
Tidak perlu Tuhan secara langsung yang membuat segitiga empat sisi, manusia dengan akal yang diberikan Tuhan telah banyak membuat segitiga empat sisi. Kita menyebutnya sebagai LIMAS SEGITIGA.
——————–

setuju.

itu kue apa tuh yang di buat dari beras
dan di isi daging..

itu bentuknya segitiga (dua dimensi segitiga. Yang memiliki 4 sisi)

weeeiiiiyyy..

Kalo menurutku jell itu jawabannya rada plesetan dan tidak menyentuh substansi masalahnya.:)

Definisi sisi mestinya diperjelas dulu. Apakah sisi itu garis atau bidang.. :)

Karena di thread ini tidak di cantumkan secara spesifik mengenai definisi sisi,

maka jawaban saya menjadi betul..

Kue BACANG itu bentuknya segitiga tapi sisi empat.

weeiyyyyyyyyyyyyyyy

@Mas Ikutan,

Iya, Mas.

Ikutan:
mungkin kata2nya harus dengan model jawaban mas love ini jadi mas love lebih mengerti. Jika mas dewo memberikan penjelasan yang lebih rinci malah kurang dipahami mas love.

Sejak awal saya sudah tahu bahwa dia memahami apa yang saya utarakan. Hanya saja beliau selalu menyangkal dan mengeraskan hati. Di suatu komen beliau bilang bahwa secara logika pendapat saya benar & dia masih berusaha mencoba membantahnya secara logika namun belum ketemu logikanya.

Dan seperti biasa, dalam penyangkalannya, dia lebih senang menggiring opini publik dan memutar balikkan pendapat orang. Sangat disayangkan sebenarnya.

Ikutan:
Btw, untuk jawaban thread ini;
Tidak perlu Tuhan secara langsung yang membuat segitiga empat sisi, manusia dengan akal yang diberikan Tuhan telah banyak membuat segitiga empat sisi. Kita menyebutnya sebagai LIMAS SEGITIGA.

Hihihi… iya. Saya juga sudah komen kalau saya bisa menggambarkan segitiga empat sisi. Tidak hanya LIMAS SEGITIGA, namun juga segitiga sama sisi dengan garis pembelah tengah juga sudah merupakan segitiga 4 sisi. Hehehe…

GBU

@Mas Lovepassword,

Hore…

LP:
Kalo masalah pasangan model begitu Di dalam Alkitab ya sama saja substansinya misalnya ditulis Allah membenci Esau, Allah mencintai yakub, dsb

Sekarang malah Mas LP yang membuktikan bahwa pendapat saya benar!

Dengan demikian Mas LP mengakui bahwa Allah punya sifat CINTA & BENCI. Kedua sifat ini ada dalam diri Allah. Di balik sebuah substansi/konteks, Anda mengakui bahwa Allah dapat merasakan kedua sifat yang saling bertentangan ini.

Mudheng ngga Mas? Ini yang sejak awal ingin saya beri tahu kepada Anda. Bahkan saya pun berusaha menjelaskannya dalam bentuk matematis, yang mengajak Anda mengukur sifat “MAHA” dari Allah. Masih ingat penggarisnya?

~, …, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …, ~

Kalo menurutku sih masih lain artinya dengan Allah bisa tidak baik, bisa tidak benar, dsb. Mengapa ? Karena dengan menghukum yang jahat ya Tuhan tetap baik kan? :)

SALAM

@Mas Lovepassword,

Hihihi… tetap menyangkal ya?

Itu kira2 pertanyaannya sama nggak ya dengan yang begini:

“Bisakah kentut KITA keluar dari pantat orang lain??” :mrgreen: :lol:

jangan ngeledek dong mas…

jika kita memiliki kemampuan yang maha…. maka… itu bisa-bisa saja… he he he

Hehehe… aku nggak mau ngeledek kok, tapi serius walaupun dengan konotasi becanda.

Begini, kalau dijawab dengan ‘ya’ dan ‘tidak’ tentu mudah saja kita menjawab. Tapi tentu ini masalahnya adalah ‘how’ bukan hanya ‘a matter of yes or no’. Begitu juga dengan masalah segitiga di atas, bisa saja dijawab ‘yes’, tapi tentu anda akan bertanya lagi: “mana logikanya??” Sekarang masalah kentut ini juga tentu harus di-follow-up juga dong “mana logikanya???” atau “bagaimana caranya??”

Nah… karena persoalan kentut atau mekanisme kentut ini sedikit abstrak maka anda kita semua ‘tertipu’ untuk tidak tertarik untuk bertanya “bagaimana caranya??”, sehingga dengan mudah dijawab “kalau mahakuasa ya bisa-bisa aja…” tanpa perlu memikirkan bagaimananya. Sedangkan persoalan segitiga di atas karena lebih mudah untuk divisualisasikan (karena segitiga jelas mempunyai tiga sisi) maka dengan mudah kita bertanya kelanjutannya “bagaimana caranya???…..” :)

Nah…. sekarang kenapa pertanyaannya “segitiga” di atas itu salah?? Itu karena KITA tidak maha kuasa!! Inilah kesalahan manusia, selalu ingin menarik pertanyaan tentang kemampuan yang maha kuasa sesuai dengan kemampuan logikanya! Padahal kalau pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan logika kita, ya tentu saja itu bukan persoalan yang maha kuasa lagi dong! Justru itulah keistimewaan “yang maha kuasa” selalu bisa mengerjakan sesuatu yang di luar logika manusia! Kalau yang maha kuasa hanya bisa mengerjakan sesuatu yang dapat dilogikakan oleh manusia, tentu itu bukan maha kuasa lagi dong namanya! Ya kan?? Huehehehe….. Jadi untuk mengetahui jawaban secara pasti tentang sesuatu yang maha kuasa yang di luar logika manusia, silahkan anda seseorang menjadi yang maha kuasa dulu! Nah… kalau udah jadi yang maha kuasa, nanti kasih tahu kita2 dong! Huehehe… :mrgreen:

KIRA-KIRA sama juga seperti begini: jika seorang anak TK ingin memecahkan masalah profesor, tentu tidak mungkin kan?? Si anak TK harus jadi profesor dulu untuk memecahkan persoalan tingkat profesoral…. Nah begicu….. :D

Ok… peace…. :)

Logika itu kan mengenai urutan pemikiran, mas Yari.

Jadi kita tidak perlu menjadi maha kuasa untuk dapat menjawab pertanyaan itu.

Menurut saya pertanyaan itu jelas pertanyaan yang benar.

Karena segitiga bersisi empat itu adalah bukan hal yang ditanyakan.

Ngga percaya, ganti saja dengan variable X.

Pertanyaannya akan menjadi begini:

Jika TUh@n maha kuasa, bisa kah Dia membuat X. Jadi di sini pertanyaan itu jelas keliatan benar.

Jika TuH@n maha kuasa, bisa kah dia membuat rumah ? –>ini kan pertanyaan yang valid.

Anak TK tidak sedang berusaha memecahkan masalah profesor, tetapi anak TK berusaha memahami kelakuan profesor.

Mungkin begitu kira2

salam

Huahahaha……

Sebelumnya perlu dicamkan dulu bahwa rumus2 segitiga, rumus2 geometri lainnya adalah ciptaan Tuhan. Manusia hanya menemukan saja, menciptakan simbol2 dan istilah2nya saja. Namun semuanya itu adalah hukum alam yang diciptakan Tuhan (bagi yang percaya Tuhan). Begitu juga dengan rumus Einstein, jikalau rumus Einstein itu sudah sempurna berarti rumus Einstein itu sudah sesuai dengan hukum alam yang diciptakan Tuhan!

Oke, anggaplah pertanyaan itu adalah pertanyaan yang benar. Toh sah2 saja orang juga bertanya:

“Jikalau tuhan maha kuasa, bisa nggak tuhan membuat 1+1=3??” atau:

“Jika tuhan maha kuasa, bisa nggak tuhan membuat a^{m} \times a^{n} = a^{\frac{m}{n}} ?? atau

“Jika tuhan maha kuasa bisa nggak tuhan merubah \pi (pi) bilangan rasional (pi adalah 3,14… sebuah bilangan irasional dan pi adalah rasio antara keliling lingkaran dan diameter lingkaran)??” atau

“Jika tuhan maha kuasa bisa nggak tuhan merubah rasio diagonal bujur sangkar dan sisinya \sqrt{2} : 1 menjadi 2:1 ??” dst…. (Itu baru bidang matematika saja!!) :mrgreen:

Ok lah anggaplah pertanyaan2 tersebut valid dan benar untuk anda! Namun begitu, saya tetap yakin jikalau anda bisa menjawab pertanyaan tersebut dan membuktikannya, saya yakin anda adalah seorang yang maha kuasa! Kalau saya sih terus terang emang nggak bisa! Untuk itu jika anda sudah tahu jawabannya, tolong kasih tahu saya jawabannya ya!! :lol:

@Yari NK

saya setuju dengan pemikiran Anda…

good example

@Yari NK

secara mendasar contoh yang Anda buat bisa dipakai untuk mensejajarkannya dengan pertanyaan di artikel ini,

**Jika Tuh@n Maha Kuasa, Bisakah Dia membuat segitiga dengan empat sisi ?**

tetapi dengan contoh perkalian exponensial yang Anda buat, sebenarnya arahnya itu bukan ke sana….

pertanyaan di artikel ini kalau dijabarkan adalah…

**Jika Tuh@n Maha Kuasa, Bisakah Dia membuat bangun tiga sisi yang empat sisi ?**

ini jelas inkonsisten, salah…
tiga sisi ya tiga sisi, empat sisi ya empat sisi…
aplikasi dari kesalahannya sangat cocok dengan pernyataan Anda.. bahwa TUHAN menciptakan dengan membuat ‘suatu konstanta’, hukum alam….

@mas Yari.

Thanks sudah setuju bahwa pertanyaan itu Valid.

Teman yang lain lihat tuh ya…

Ada yang setuju nih sama saya nih..

Ok…?

Week…!!

——–

Sekarang saya respon tulisan mas Yari :

**Namun begitu, saya tetap yakin jikalau anda bisa menjawab pertanyaan tersebut dan membuktikannya, saya yakin anda adalah seorang yang maha kuasa!**

mas, Yari.

Jawaban untuk pertanyaan2 mas kan ada dua :

1. YA (Bisa)
2. NO (Tidak bisa)

Kalau bisa, alasannya apa… dan kalau Tidak bisa, alasannya juga harus di sebutkan.

Nah, alasan inilah yang kemudian kita lihat. Apakah masuk akal, atau tidak.

kan begitu mas…

Seperti sudah saya katakan, berpikir logika itu kan berpikir mengenai urutan pemikiran.

Karena ada klausa “Jika TuH@n maha kuasa…”

Maka jawaban atas semua pertanyaan mas Yari di atas adalah, BISA.

Jika einstein ngga punya otak, bisa ngga dia menemukan rumus relativitas ?

Jawab: ngga bisa.
Alasannya: Karena darimana dia bisa mikir, jika dia tak punya otak.

Urutan pemikiran : 1. Einstein ngga punya otak, 2. menemukan rumus.

Nomor 1 dulu yang di lihat, baru ke nomor 2.
Nomor 2 melihat dasar yang ada di nomor satu.

Kan begitu mas Yari…?

“Jikalau tuhan maha kuasa, bisa nggak tuhan membuat 1+1=3?”

Saya jawab BISA, karena, definisi mahakuasa = bisa melakukan apa saja.

Logika kan bukan mengenai bukti,tapi mengenai urutan pemikiran.

Kan bisa di lihat tuh alasan saya masuk akal dan bisa di terima.

1. Maha kuasa = bisa membuat apa saja.
2. Tuh@n Maha kuasa,
3. Kesimpulannya, Tuh@n bisa membuat apa saja.

1. Maha kuasa = bisa membuat 1+1=3
2. TuH@n maha kuasa
3. Jadi, Tuh@n bisa membuat 1+1=3

Valid and sound.

Pembuktian itu irrelevant.

Begitu menurut saya mas…

Salam

@jelasnggak

Saya tidak bilang setuju dengan anda namun saya bisa saja setuju dengan anda TERGANTUNG dari sisi mana kita melihat… ;)

Ya kalau jawabannya seperti anda “Ya… karena ada klausa Jika tuhan maha kuasa…. ya berarti persoalan segitiga itu juga gampang saja…. kita jawab juga dengan jawaban klausa seperti itu! End of Game! :lol:

Peace…..! :D

@parhobass

Terima kasih. Anda benar sekali. Memang contoh saya yang perkalian eksponensial itu adalah the odd one out. Sayapun menyadarinya. Namun yang saya maksudkan di sini sebenarnya sederhana yaitu ingin mencontohkan “jika tuhan maha kuasa apakah ia mampu melakukan ini atau itu…”. Hanya itu saja. Saya sengaja tidak ‘membedakan’ perkalian eksponensial tersebut karena saya tidak mau terjebak dalam perdebatan matematika ataupun hal2 lainnya yang menyimpang dari topik ini. Sayapun menyadari bahwa ada loophole dari persamaan itu yaitu apabila \frac{m}{n} = m + n walaupun mungkin bilangannya adalah bilangan non-real atau imajiner. Jadi seharusnya pertanyaan saya tersebut (yang perkalian eksponensial) harus ditambah kata2 “secara universal” di belakangnya.

Sekali lagi terims ya atas komennya.

@mas Yari NK

masalah exponensial itu agak rancu, meskipun itu diembel2i kata universal hehehe

m/n = m + n

ini manusia saja bisa koq, ngga musti Yang Maha itu…

misalkan m sangat besar , dan n menuju 1, yang artinya jika m dijumlahkan dengan 1 seolah-olah tidak berarti. (ibaratnya setimba air ke laut, tidak ada artinya toh hehehe)

maka persamaan di atas bisa berlaku…

makanya saya tetap di:
bahwa pertanyaannya di artikel ini tidak konsisten,…
dan pernyataa2an Anda sangat bagus….

thx juga…

@parhobass

m sangat besar dan n menuju satu, sehingga dijumlahkan seolah-olah tidak berarti. Tetapi ‘tidak berarti’ bukan berarti sama dengan bukan?? Sebab menurut matematika 1,000000000000000000……..1 pun tidak akan pernah sama dengan 1 ;)

Ok deh ini jawaban terakhir saya mengenai masalah ini. Saya tidak akan merespons lagi masalah yang sudah di luar topik…. Ok? ;)

Wah analogimu mantap juga yah…? Aku sampai melongo takjub :)

@ Yari NK,

Itu kira2 pertanyaannya sama nggak ya dengan yang begini:

“Bisakah kentut KITA keluar dari pantat orang lain??

Itu mah manusia, yg tidak maha kuasa.

Kita kan ogomong Tuhan, yg sifat-Nya Maha Kuasa, Maha Bisa.

***PIKIR***

Hmmm…. respon anda tidak akan saya jawab, karena anda tidak mengerti maksud saya! Saya hanya ingin menunjukkan kenapa anda nggak nyambung. Yang saya maksudkan di sini adalah obyeknya bukan subyeknya. Kalau subyeknya silahkan anda ganti sendiri:

“Jikalau tuhan maha kuasa bisakah ia membuat kent*t anda keluar dari pant*t si jelasnggak?” misalnya……

**PIKIR**

Respons yang nggak nyambung yang nggak perlu, tidak akan saya respons lagi….

@ Yari NK,

Bisa…

Kenapa tidak?

Wong Allah juga nama-Nya.

Tidak ada yg tidak mungkin.

Semuanya gampang bagi-Nya, mudah banget.

Setuju?

Kalau begitu sama saja dong:

tuhan bisa juga membuat segitiga dari empat sisi, wong namanya juga tuhan yang maha kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya baginya gampang banget. Setuju juga??

*tidak perlu ada diskusi panjang* :lol:

Pak Yari,

Kalau Tuhan menjadi manusia bisa ngga?

Salam.

@Mas Dewo

Ini juga sudah di luar topik. Baiklah saya jawab sekali saja ya…. saya nggak berminat menjawab yang sudah di luar topik.

Bisa saja, kenapa nggak?? Tetapi jangan dibalik logikanya, setiap manusia yang dianggap Tuhan adalah Tuhan. Namun begitu, jikalau ada orang yang menganggapnya Tuhan, ya silahkan…. monggo mawon….

Seperti misalnya, warga Amerika bisa saja berkulit sawo matang, tetapi yang sawo matang itu belum tentu warga Amerika meski orang menganggapnya warga Amerika (karena dia lama tinggal di Amerika atau Bahasa Inggrisnya sempurna misalnya). Namun apakah seseorang mempercayai ia warga Amerika atau bukan ya tentu itu hak masing2 individu dong…. ;)

@Pak Yari,

Oke clear.
Trima kasih atas jawabannya.

Salam.

@ Yari NK,

Bisa saja, kenapa nggak??

Oke, sebenar pertanyaan2 saya itu menjurus ke arah pertanyaan seperti mas Dewo.

Nampaknya anda telah menjawab dengan baik.

Tuhan karena sifat-Nya Yang Maha Kuasa, Maha Bisa, bisa menjadi manusia.

Jadi, saya pikir case close.

Syalom.

Semoga mas Yari semakin mendapatkan hidayah dari Allah dan tidak lagi meragukan ke-Mahakuasaan Allah.

@Robinson Tercinta : Mengapa kalian pusing sih? Mungkin alasannya sederhana saja kalian tahu kalo aku benar tetapi kalian tidak ingin mengungkapkan hal itu. Hi Hi Hi

Allah tidak akan bertentangan dengan diriNya sendiri itu saya rasa lumayan dasar dan jelas karena aku dapet linknya juga banyak sekali. Dan itu juga mudah dipahami. Kalian membuatnya berputar-putar karena yang ngomong itu aku. :)

Ini bukan masalah teologia masing2. Dengan segala ke PD an ku, dan keterbatasan pengetahuanku aku berani memberikan kau silverqueen satu box jika pendapatku ini bahkan dianggap salah menurut tafsir Katholik dan Protestan.

Cari saja buku tafsir Katholik yang ada imprimaturnya yang mengatakan Allah bisa bertentangan dengan Naturenya. :) Lha kalo kamu tulis Allah bisa bertentangan dengan hakekatNya di google yang kamu temukan justru banyak sekali link yang menyatakan sebaliknya. Coba saja. Karena itulah aku seyakin yakinnya kalo aku bener. Hi Hi Hi.

Kamu bisa menengahi RAS , katakan saja pendapatmu jika berminat. :)

SALAM

@ lovepasword

Mengapa kalian pusing sih? Mungkin alasannya sederhana saja kalian tahu kalo aku benar tetapi kalian tidak ingin mengungkapkan hal itu. Hi Hi Hi

.
.

Lha… kamu ini dah mulai genit lho Lov
Takut akan Tuhan adalah Permulaan akan hikmat …, tetapi setiap orang yg ingin bermegah maka bermegahlah karena mengenal akan Tuhan yg sebenarnya…
Bedakan dong mengenal Dia secara Umum dan secara Pribadi
.
Setelah Israel dihajar Allah beberapa ribu tahun krn penyembahan berhala , barulah pd jaman Masehi mereka benar-benar menyembah kpd ALLAH yg sebenarnya. Jadi karena mereka trauma dan takut kpd Allah yg hidup itu, maka mereka percaya Allah tetapi secara umum. Tetapi harus kamu catat mereka belum mengenalNya secara Pribadi. Allah yg mereka kenal adalah seperti yg kamu baca dari berbagai Google dan dari tutur kata nenek moyang mereka menurut kitab yg mereka baca pd tulisan2 para nabi.
Nah Allah secara Pribadi itulah yg belum mereka kenal secara pribadi yakni Allah di dalam Yesus Kristus. Allah yg menciptakan langit dan bumi dan berbuat sekehendak hatiNya yg menciptakan waktu tetapi terikat waktu menuruh kehendak diriNya sendiri. Itu lah yg harus kamu pahamin ttg Dia yg datang sbg manusia. Kalau kamu Google akan banyak perbantahan ttg Allah tetapi secara khusus tidak salah kamu mengujiNya dgn Roh dan Kebenaran. Dari pada capek dan rumit akal dan budi pekertimu menyelidikiNya lebih baiklah kamu datang dgn penuh kesadaran penuh sbg mahluk penuh dosa kpd Dia yg menghendaki keselamatanmu pribadi.

@Robinson Agus Sihotang : Lha… kamu ini dah mulai genit lho Lov ===> Whaduh ike malahan digenit-genitkan.. :) Jan..Jan ??? :)

Namanya diskusi ya isinya nggak selalu sama dong RAS. Lagian yang protes duluan kan Mas Dewo bukannya aku.

Ketika kubilang bahwa Allah menurut Kristen juga tidak bisa tidak baik, tidak bisa tidak benar, dsb aku tiwas kuliah panjang lebar eh dia malahan nggak percaya. Sudah gitu mengklaim pendapatnya sesuai gereja Katholik lagi – yah aku ya mesti menjawab itu kan… Soalnya aku kan penasaran :)

Hak Mas Dewo mengatakan semua pendapatnya itu tapi tentu hakku juga tidak sepakat dengan pendapatnya. Sederhana saja Robinson tercinta … :)

Lha sudah jelas kami berbeda pendapat dan aku tidak merasa kalo aku nggak punya dasar argumentasi tapi yang kau samber mengapa aku teruuuss…

Jadi gimana yah sekali-kalilah kau samberlah dia biar adil. Hi Hi hi..

@Mas Dewo : Pa Kabar ? :)

SALAM Semuanya

@ Lovepasword

Lha sudah jelas kami berbeda pendapat dan aku tidak merasa kalo aku nggak punya dasar argumentasi tapi yang kau samber mengapa aku teruuuss…

Jadi gimana yah sekali-kalilah kau samberlah dia biar adil. Hi Hi hi..
.
.

Begini lovepasword, jujur saja
Mas Dewo itu smart dgn pengetahuan teologia dan dasar-dasar keKristenannya jauh di atas rata2 orang Kristen di kehidupan sehari2. Jangankan kamu, saya aja agak keder klo berdebat dgn Mas Dewo…
.
Saya sudah mengikutin uraiannya di setiap posting blog Jelasnggak. Jikalau kami saja yg seiman dgn beliau banyak yg kelimpungan membaca uraiannya .. lha bagaimana pula dgnmu yg belum menerima Roh Kudus.
.
Ya memang, kalo dari kacamata awam perdebatan kelian dua bikin suasana panas dunia maya. Sampai loadingnya lambat sekali di blog ini.. Tetapi kalau dari kacamata kami yg mengerti justru kamu yg PAKAR ( Panakko Kartu) .. artiannya hal-hal yg diberitahukan mas Dewo, Jelasnggak, hh dan sdr Parhobas adalah pengetahuan diluar pengetahuanmu ttg Allah yg kamu klaim Allah Kristen.
.
Perbedaan Teologia di Gereja manapun tidak menghalangin Dia Tuhan yg kami kenal secara Pribadi.
Begitu Lov..

.
Apakah jelas …

.
Belum pak Robinson ..

.
Ya udah tanya lageee…

@Pak Robinson A. Sihotang,

Ah Anda bisa saja.

RAS:
Begini lovepasword, jujur saja
Mas Dewo itu smart dgn pengetahuan teologia dan dasar-dasar keKristenannya jauh di atas rata2 orang Kristen di kehidupan sehari2. Jangankan kamu, saya aja agak keder klo berdebat dgn Mas Dewo…

Sejatinya saya biasa-biasa saja kok. Tidak pernah belajar teologia, demikian pula dengan dasar-dasar Kekristenan.

Justru saya sedang belajar banyak untuk mengejar ketinggalan. Saya yakin kalau waktu saya belajar masih kalah dibanding Anda, Mas ImanKristen, Mas Parhobas, Mas CosmicBoy, Mas hh, Lumba-lumba, dll, bahkan dengan Mas Lovepassword sekali pun.

Dan yang membuat saya kuat & bersemangat belajar adalah karena saya mengalami sendiri betapa besarnya kasih Allah kepada saya, dalam kehidupan saya dan keluarga. Sehingga saya pun tidak ragu untuk bersaksi di blog Agamaku Kesaksianku dan juga Tuhan Beserta Kita.

Loh, maafkan saya kalau malah jadi curhat. Hehehe…

GBU

@ ESD : Kamu memang pinter dan lebih jauh lagi kamu cukup kritis termasuk berani tampil beda. menurutku begitu.

Bahkan andaikata aku menganggap bahwa dalam satu topik kamu jelas salah, tentu saja ini pendapat subjektifku – aku tetap menghargaimu yang telah berusaha keras menelaah itu dari berbagai aspek termasuk aspek yang tidak umum , berani mengemukakan pendapat, berani memprotes , berpikir kritis, dsb bahkan termasuk andaikata pendapat kamu tidak umum sekalipun . Ini kesanku.

Banyak orang yang nggak pernah protes, nggak pernah mengemukakan pendapat yang berbeda, bukan karena paham tetapi karena sekedar membebek . Ngikut itu tentu bagus-bagus saja tetapi sebaiknya ditunjang dengan usaha memahami.

bagaimanapun Kitab Suci memang bukan ditujukan untuk keledai yang dibebani dengan beban berat di punggungnya tetapi tidak akan pernah mencoba memahami maknanya. Keledai cuma menerima beban itu doang dengan sepenuh hati atau rada terpaksa mungkin , tidak memprotes tetapi juga tanpa usaha memahami.

Lha terlepas apapun pendapatmu, terlepas apa pun ketidaksetujuanku kepadamu, saya menghargaimu : Kamu jelas bukan keledai yang sekedar memanggul Kitab Suci. Kamu berpikir dan mencoba menelaah isinya. Sekali lagi terlepas kita berbeda pendapat atau tidak.

SALAM

@LP,

Lagak-mu itu kayak mBah ku…

wakaka..

@Mas Lovepassword,

Hehehe… ini pujian atau pembelaan atau penjatuhan? Tapi saya berterima kasih atas pujian Anda. Semoga diskusi kita dapat saling mencerahkan & memberi berkat & hikmat.

Salam.

@Robinson Agus Sihotang tercinta : Kamu memang benar, Mas Dewo itu smart aslinya. Hi Hi Hi

Tetapi bukan berarti kita tidak boleh berdebat dengan orang yang kita anggap smart :)

Jangankan kamu, saya aja agak keder klo berdebat dgn Mas Dewo…===> Kamu itu kan baik hati RAS, jadi ya pastilah kamu rada sungkan. Bukan masalah keder saya rasa, kamu cuma serba nggak enak ati saja :)
============================================

Saya sudah mengikutin uraiannya di setiap posting blog Jelasnggak. Jikalau kami saja yg seiman dgn beliau banyak yg kelimpungan membaca uraiannya .. lha bagaimana pula dgnmu yg belum menerima Roh Kudus. ===> Sudut pandangmu nggak mesti terlalu merendahkan dirimu separah itu. Kamu toh juga belajar kamu juga punya kemampuan. Kamu juga merasa kalo kamu punya iman, nalarku demikian. Kecuali kalo kamu nggak sependapat.

Jika kamu merasa kelimpungan dan nggak paham membaca uraiannya bisa saja itu artinya memang ada yang sesuatu yang salah, bahkan menurut standard Kristen – karena itulah diskusinya terkesan aneh di matamu, dan dimata banyak orang.

Bahwa kamu lebih sungkan menyalahkan , memang itu saja pokok persoalannya. Karena kamu orang baik kan ??? Hi Hi Hi

Tetapi kalo kamu sendiri menganggap kamu nggak mudeng atau kelimpungan, masalahnya tidak selalu ada pada kamu, bisa saja karena memang pernyataan itu memang aslinya “tidak terpahami” bahkan menurut ajaran Kristen Katholik dan Protestan standard.

Allah bisa bertentangan dengan diriNya sendiri. Allah bisa tidak baik, bisa tidak setia dsb – saya rasa memang jelas tidak terpahami oleh banyak agama, termasuk Kristen bahkan . Jadi tidak perlu terlalu kau salahkan dirimu sendiri RAS. Minder itu bolehlah tapi nggak usah terlalu berlebihan

Saya memang juga lagi belajar, termasuk kepada anda, dan juga kepada Dewo. Lha mengatakan dia salah itu juga termasuk caraku belajar. Supaya kalo memang andaikata aku yang salah ( walaupun aku yakin aku bener sih :) , Mas Dewo bisa membetulkan. Saya kan nggak melarang dia mencoba membetulkan.

===========================================

Tetapi kalau dari kacamata kami yg mengerti justru kamu yg PAKAR ( Panakko Kartu) .. artiannya hal-hal yg diberitahukan mas Dewo, Jelasnggak, hh dan sdr Parhobas adalah pengetahuan diluar pengetahuanmu ttg Allah yg kamu klaim Allah Kristen.

===> Saya rasa kamu tidak perlu mengalihkan diskusi RAS tercinta ,.

Pendapat Dewo dalam omongannya Allah bisa tidak baik, bisa tidak setia, dsb jelas tidak disetujui oleh HH dan jelasnggak . Substansinya tidak seperti yang diomongkan Dewo . Karena Allah membenci kejahatan malah dianggap bisa jahat, tetapi justru sebaliknya.

Parhobass pun kemungkinan juga tidak setuju, tetapi dia sungkan atau rada males kalo dianggap membelaku.

Karena itulah dia memilih nyambit2 aku pada bagian yang asli nggak penting. Kalo dia menganggap Dewo benar, saya rasa dia sudah nyamber aku keras-keras. Lha berhubung yang disamber bagian yang nggak penting semacam fungsi waktu ala Parhobass itu ya analisaku sih Parhobass aslinya lebih setuju dengan pendapatku. Parhobass itu saya rasa samalah sama kamu, intinya dia itu kan kadang-kadang rada malu-malu kucing. Ini menurutku lho, karena nyatanya dia juga males menyatakan pendapat secara tegas.

Lha ikutan kan juga nggak bisa dikatakan mendukung pendapat Dewo. Yang dia lakukan cuma berusaha menengahi. Merasa nggak enak ati. Lha kayak gaya kamu inilah pada saat ini. Hi Hi Hi.

Pendapatku jelas :
Allah itu selalu baik, selalu benar, selalu setia, dsb karena Allah tidak akan bertentangan dengan diriNya sendiri.

Saya tahu kamu bingung : Pertama , kamu mungkin mikir pendapatku lebih masuk akal, tapi masak iya MAs Dewo salah ? Hi hi hi . Tetapi kalo Mas Dewo benar kok ya kamu merasa nggak sreg ya ? Masak iya lovepassword gemblung itu bisa benar ? Hi Hi Hi

Endingnya kamu membutakan pikiranmu sendiri , kamu membutakan keanehan yang ada dibenakmu kemudian kamu menutup mata dengan mengatakan :

Jikalau kami saja yg seiman dgn beliau banyak yg kelimpungan membaca uraiannya .. lha bagaimana pula dgnmu yg belum menerima Roh Kudus.

===> Apakah menurutmu Roh Kudus yang hinggap pada dirimu sedemikian sedikitnya atau Roh yang levelnya lebih rendah sehingga kamu kelimpungan tidak bisa memahami uraian Mas Dewo yang sedang dihinggapi Roh Kudus .

Atau Roh Kudus sedang berkelahi satu sama lain sehingga masing-masing bisa berbeda pendapat. Saya rasa kamu harus melihat masalah ini secara komprehensip tanpa selalu harus mengaitkan perbedaan pendapat dengan segala macam hal yang tidak ada nyambung2nya dengan diskusi kita.

Sekali lagi Mas Dewo memang pinter, sepinter kamulah. Tapi bahkan terhadap Einstein , toh aku masih berhak mendebat. Kalo dia mau lho. Hi Hi hi

SALAM RAS
Salam MAS Dewo.

Salam Semuanya.

ngikut ah hehehe…

**Jika Tuh@n Maha Kuasa, Bisakah Dia membuat segitiga dengan empat sisi ?**

kita pecah 3 kalimat ini,

a. Tuh@n Maha Kuasa <— Tulisan "Tuh@n"-nya ngikuti selera penulis saja

b. Sembuat segitia

c. segitiga dengan empat sisi.

Secara jelas a menjelaskan tentang ‘Sosok’ Yang serba bisa, apapun BISA IA lakukan, yang kadang di luar nalar dan logika. Contoh, mukjijat.

membuat segitiga, berarti membuat suatu bentuk atau dimensi yang dibangun oleh 3 sisi. Jadi kalau dihubungkan dengan pernyatan di c, jelas ada ketidakkonsistenan, mau membangun 3 sisi atau 4 sisi…

jadi pertanyaan di atas, jika dijabarkan menjadi,

**Jika Tuh@n Maha Kuasa, Bisakah Dia membuat suatu bentuk yang memiliki tiga sisi tetapi empat sisi ?**

perhatikanlah kesalahan pertanyaan ini…
tidak konsistennya adalah menciptakan tiga sisi atau empat sisi?

jadi secara logika, pertanyaan ini salah.

Timbul pertanyaan, kan TUHAN bisa melampaui logika, apa yang kita katakan tidak bisa, TUHAN bisa.

Masalahnya bukan di MAHA KUASA atau kita membatasi TUHAN… tetapi kita yang tidak konsisten dan mau mengajak TUHAN untuk tidak konsisten…

@Parhobas.

kita pecah 3 kalimat ini,

a. Tuh@n Maha Kuasa <— Tulisan "Tuh@n"-nya ngikuti selera penulis saja

b. Sembuat segitia

c. segitiga dengan empat sisi.

———

Kalau menurut saya,

kalimatnya bisa juga di bagi 2 saja :

a. Jika TuH@ maha kuasa,
b. bisakah Dia membuat X ( Dimana X = segitiga empat sisi)

Jadi jelas kan..?

Pointnya disini adalah BISA atau TIDAK BISA Dia mencipta sesuatu……..

Segitiga empat sisi di sini bukan lah pertanyaan pokok.

kan gitu…

@jelasnggak,

Pertanyaan yang salah memang bukan percaya YA dan TIDAK, by Parhobass

Saya pecah tiga supaya lebih jelas saja tentang ketidakonsistenan,

jika kita ikuti saran Anda:

a. Jika TuH@ maha kuasa,
b. bisakah Dia membuat X ( Dimana X = segitiga empat sisi)

nah, di b ada variable X…
yang berupa varible perlu dijabarkan toh..sbb:
X adalah segitita,
segitiga adalah bangun tiga sisi,
dan menjadi tidak konsisten jika disebut X adalah bangun tiga sisi empat sisi…

masih tidak benar juga toh?…
3 sisi atau 4 sisi?
Inkonsisten….
3 sisi adalah satu hal,kita sebut X, 4 sisi adalah hal lain, kita sebut Y…

apakah TUHAN bisa menciptakan X, BISA,
apakah TUHAN bisa menciptakan Y, BISA,
apakah TUHAN bisa menciptakan X dan Y?, BISA
apakah TUHAN bisa menciptakan X yang Y?…??????
ini identik dengan Apakah TUHAN bisa menciptakan mulut yang kuping?
mulut ya mulut, kuping ya kuping…itu sudah 2 hal yang berbeda…
Apakah TUHAN bisa menciptakan mulut sekaligus kuping? BISA,
tetapi, ketika TUHAN pada saat penciptan berkata “Ciptaan itu BAIK”,.. maka Mulut kita itu baik jika menjadi mulut, Kuping kita itu baik jika menjadi kuping,… artinya kita bisa terima, bahwa mulut yang kuping atau kuping yang mulut itu tidak baik, bertentangan dengan ALLAH…

seperti kata saya di atas,…

kita tahu ada Mukjiat, TINDAKAN Tuhan yang berlawanan dengan logika manusia, dan tidak bisa dijelaskan oleh ilmu alam….atau mungkin tepatnya Tindakan TUHAN yang tidak dapat dijelaskan secara nalar…

Timbul pertanyaan, kan TUHAN bisa melampaui logika, apa yang kita katakan tidak bisa, TUHAN bisa.

Masalahnya bukan di MAHA KUASA atau kita sedang membatasi TUHAN… tetapi pertanyaan di atas tidak konsisten, tidak benar, dan bertentangan dengan ALLAH itu sendiri…

@parhobass

apakah TUHAN bisa menciptakan X yang Y?…??????

————–

Ok.

Sekarang saya mau tanya,

Ada pertanyaan :

apakah TUHAN bisa menciptakan Manusia Yang sekaligus DiriNYA….?

Apakah ini pertanyaan yang salah juga…?

salam

@mas jelasnggak

kalimat Anda:

apakah TUHAN bisa menciptakan Manusia Yang sekaligus DiriNYA….?

saya pecah;

a. TUHAN menciptakan
b. manusia
c. DiriNya

Jika kita berkata ‘TUHAN’, dan kita percaya pada penciptaan, maka kita juga harus percaya bahwa TUHAN tidak diciptakan dan segala yang lain adalah ciptaan TUHAN..

nah jika merujuk kepada b, maka tepat TUHAN menciptakan manusia…

a dan c dua hal yang terbalik…inkonsisten
kita sudah percaya a, maka otomatis c adalah pernyataan yang inkonsisten. Sebab jika kita percaya TUHAN adalah pencipta otomatis TUHAN bukanlah ciptaan…

Note:
kata menciptakan/cipta di atas bersifat burativ…

kecuali dibuat kalimat berikut:
Apakah TUHAN bisa menjadi Manusia yang sekaligus DiriNYA…?

SANGAT BISA..caranya?
Cara ini tidak akan menjadi inkonsisten, jika TUHAN dari kekal ke kekal ada Pribadi Insan, inilah yang saya percayai sebagai YESUS yang adalah Allah dan Insan..Tritunggal Yang Suci.

pertanyaannya kembali ke.. Apakah kita membatasi TUHAN?
TIDAK…
alasan?
contoh,
TUHAN menciptakan posisi-posisi mulut dan kuping, dengan tepat dan baik. Tidak akan pernah ada mulut yang kuping atau kuping yang mulut. TUHAN menetapkan mulut sebagai mulut dan kuping sebagai kuping, lebih dari itu berarti melawan Baiknya TUHAN.

@mas Parhobass.

Bukankah tadinya, mas berkata :

kita pecah 3 kalimat ini,

a. Tuh@n Maha Kuasa <— Tulisan "Tuh@n"-nya ngikuti selera penulis saja

b. Sembuat segitia

c. segitiga dengan empat sisi.

Tetapi kok ketika menjawab pertanyaan saya, mas memecah menjadi :

apakah TUH@N bisa menciptakan Manusia Yang sekaligus DiriNYA….?

saya pecah;

a. TUHAN menciptakan
b. manusia
c. DiriNya

Bukankah seharusnya :

a. TUH@N menciptakan
b. manusia
c. manusia + DiriNya

yang adalah pertanyaan yang salah (menurut mas Parhobas sendiri)

salam

@mas Dewo,

saya mengikuti diskusi Anda dengan lovepassword di sebelah,

salah satu pernyataan Anda yang menggelitik saya adalah..

“TUHAN menyesal”

menurut mas Dewo, apa arti menyesal di situ?

@Mas Parhobass,

Salah satu konteks yang saya ambil ketika menjelaskan “Tuhan menyesal” adalah karena Tuhan telah memusnahkan & membunuh manusia dengan malapetaka. Namun Tuhan menyesal pada beberapa hal.

Dasar ayat yang saya pakai:

Kej. 6:7
Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

1 Sa. 15:11
“Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

Mzm. 106:45
Ia ingat akan perjanjian-Nya karena mereka, dan menyesal sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar.

Yer. 26:3
Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuatan mereka yang jahat.

Yer. 26:13
Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu.

Yer. 26:19
Apakah Hizkia, raja Yehuda, beserta segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia memohon belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang begitu besar atas diri kita sendiri?”

Yer. 42:10
Jika kamu tinggal tetap di negeri ini, maka Aku akan membangun dan tidak akan meruntuhkan kamu, akan membuat kamu tumbuh dan tidak akan mencabut kamu; sebab Aku menyesal telah mendatangkan malapetaka kepadamu.

Yl. 2:13
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.

Yl. 2:14
Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.

Yun. 3:9
Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

Yun. 4:2
Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

~~~

Wah, kutipan ayatnya banyak sekali ya? Ini sekaligus bukti buat Mas LP. Eh, Mas LP sudah tidak menyanggah lagi kok ya?

Salam.

ok, thx atas kutipannya,
yang saya minta adalah… apakah artinya
“TUHAN menyesal” bagi Anda…

@Mas Parhobass,

Oh…

Parhobass:
ok, thx atas kutipannya,
yang saya minta adalah… apakah artinya
“TUHAN menyesal” bagi Anda…

Kalau artinya bagi saya: bahwa Tuhan telah melakukan sesuatu dan kemudian menyesal telah melakukannya.

Apakah jawaban ini yang diharapkan oleh Mas Parhobass? Atau ada hal lain?

@Mas Dewo
sepertinya belum lengkap seh, karena kata menyesal itu masih ada di penjabaran Anda…padahal itu yang mau kita cari maknanya..

menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
me·nye·sali v
1 merasa kecewa (tidak senang) akan; merasa menyesal: ia – perbuatannya yg terlalu gegabah itu;
2 mempersalahkan: hampir semua keluarganya – dia mengirimkan anaknya ke Eropa; ia – dirinya sendiri;
3 merasa tidak senang kpd: aku -nya, mengapa dia berbuat begitu;

Nah anda di nomor yang mana?

@Mas Parhobass,

Apakah sama antara kata “menyesal” dengan “menyesali”? Anda mengutip terjemahan KBBI untuk kata “menyesali.”

Salam.

@Mas Dewo

ya beda….

makanya untuk kata ‘menyesali’ mana yang Anda pilih?

tolong dijawab yang itu…. atau

sekalian saja kalau gitu,

me·nye·sal
merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb): jangan – kelak kalau engkau tidak lulus ujian tahun ini;

pertanyaannya:
1. Apakah TUHAN pernah melakukan sesuatu yang kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)?
2. apakah “TUHAN menyesal” sama dengan “manusia menyesal”
3. berkaitan dengan ‘menyesali’ di atas, jika TUHAN melihat pelanggaran dari manusia, TUHAN menyesal atau menyesali?

@Mas Parhobass

Parhobass:
makanya untuk kata ‘menyesali’ mana yang Anda pilih?

Jika Anda dapat “membaca” apa yang saya tulis sebelumnya, seharusnya Anda tahu kata apa yang saya pilih. Jika Anda dapat “memahami” apa yang sudah saya tulis, seharusnya Anda tahu makna yang saya maksudkan.

Parhobass:
pertanyaannya:
1. Apakah TUHAN pernah melakukan sesuatu yang kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)?
2. apakah “TUHAN menyesal” sama dengan “manusia menyesal”
3. berkaitan dengan ‘menyesali’ di atas, jika TUHAN melihat pelanggaran dari manusia, TUHAN menyesal atau menyesali?

Jawaban saya:

1. Saya sudah menjawabnya di komentar terdahulu. Banyak & disertai ayat. Lihat ayat2 yang saya kutipkan untuk Anda. Masih ada yang kurang jelas?

2. Tentu beda.

3. Mengapa Anda menggunakan kata “menyesali”? Saya tidak pernah menggunakan kata “menyesali.” Jadi pertanyaan ini tidak relevan dan tidak perlu saya jawab.

Salam.

@mas Dewo
Ok, jika Anda tidak mau menjawab…

Note:
1. Karena terkadang saya melihat, makna ‘menyesali’ lebih tepat diartikan dari sebagian kutipan Anda, walaupun kata ‘menyesal’ digunakan disetiap kutipan itu.

2. supaya kita tahu, kata ‘menyesal’ di alkitab memiliki 5 makna, saya takut kita hanya menggunakan 1 makna, pukul rata kepada semua kutipan Anda di atas..

Terimakasih sebelumnya,
TUHAN Yang Mulia, YESUS KRISTUS, memberkati

@Mas Parhobass

Oke mas. Sama-sama.

Tuhan memberkati Anda.

@mas Dewo,

kali ini saya bertanya tentang ‘Cemburu’ (masih dari beberapa kata yang Anda gunakan di sebelah)

apa artinya bagi Anda?

@Mas Parhobas,

Adakah arti lain dari “cemburu” selain dari yang sudah kita pahami selama ini?

Baiklah, mungkin saya kutipkan saja arti katanya dari KBBI:

cem·bu·ru a 1 merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik: ia — melihat madunya berjalan berduaan dng suaminya; 2 kurang percaya; curiga (krn iri hati): istrinya selalu — kalau suaminya pulang terlambat;
– buta sangat cemburu;
ber·cem·bu·ru v merasa cemburu;
ber·cem·bu·ru·an v saling bercemburu; saling mencemburui;
men·cem·bu·rui v cemburu kpd;
men·cem·bu·ru·kan v 1 cemburu kpd atau tt sesuatu; 2 menimbulkan rasa cemburu (curiga);
cem·bu·ru·an v 1 saling cemburu; 2 mudah cemburu;
ke·cem·bu·ru·an n 1 keirihatian; kesirikan; 2 kecurigaan; kekurangpercayaan

jelas ada, makanya saya tanya kepada Anda…

Contoh kalimat saja:
1. si A cemburu kepada si B, karena si B memiliki mobil ferarry

2. TUHAN namaNya adalah Cemburu

Apakah Anda bisa melihat perbedaannya?

@Mas Parhobass,

Ya, tentu saja ke-2 kalimat tersebut bermakna berbeda. Demikian juga dengan kalimat berikut:

Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, [...]

Demikian juga dengan kalimat ini:

Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan umat, dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal.

Lalu apa point-nya Bro? Bolehkah saya bertanya kepada Anda: “Apakah arti kaki bagi Anda?”

Tahukah Anda bedanya:

1. Kaki meja?
2. Sop kaki kambing?
3. Pedagang kaki lima?

Silakan dijawab. Saya enggan berpolemik lebih lanjut.

@mas Dewo

baiklah saya juga tidak mau berdebat panjang2…

harapan saya cuman satu, semoga Anda bisa menjelaskan dengan baik pernyataan Anda ini (saya quote dari diskusi Anda ketika berdiskusi dengan lovepassword):

Justru saya sudah menunjukkan kepada Anda bahwa Allah menjadi manusia, bahwa Allah berubah hakekat-Nya, yaitu menjadi manusia. Bahkan Allah pun mempunyai sifat benci, murka, cemburu dan lain-lain yang bertentangan dengan Sifat-Nya. Namun itu semua tidak bisa menjadi landasan untuk meruntuhkan trinitas.

saya khusus sedang menyoroti cemburu itu saja, karena bisa saja yang membaca mengidentikkan itu dengan ‘cemburu’ jenis ‘iri’ dan ‘dengki’, karena penjelasan Anda tidak begitu jelas membuat perbedaan..

@Mas Parhobass,

Oke, mungkin lebih afdol jika Anda menanyakannya sejak awal tentang konteks mengapa saya bilang seperti itu. Tapi kalau diambil kata per kata, ya tentu saja ngga nyambung.

Okelah, saya akan bertanya kepada Anda: menurut Anda, saya sedang membicarakan arti yang mana? Cemburu itu iri atau dengki atau yang lain?

Maaf jika saya bertanya balik karena sejatinya pemahaman saya akan kata “cemburu” adalah jelas, namun Anda mungkin pemikiran yang tidak jelas, sehingga perkenankanlah saya bertanya balik.

@Mas Dewo : Tapi kalau diambil kata per kata, ya tentu saja ngga nyambung.

===> Anda benar Mas Dewo, justru itulah yang sering anda lakukan :)

Anda mengatakan Allah bisa tidak baik atas dasar Allah menghukum kejahatan , Allah bisa tidak baik atas dasar Allah membenci dosa dan ketidakbenaran. Tentu saja memang nggak nyambung itu. Karena Jika Allah membenci ketidakbenaran itu artinya Allah mencintai kebenaran. Dan ini justru sesuai dengan sifatNya yang Maha Benar.

SALAM

@Mas Lovepassword,

LP:
Anda benar Mas Dewo, justru itulah yang sering anda lakukan :)

Ah engga juga kok. Saya selalu memberikan contoh dalam bentuk konteks. Iya tho? Dalam diskusi malah Anda yang menolak saya ketika saya menggunakan konteks. Ingat ngga Mas?

Jangan membolak-balik kenyataan loh! Tipikal. Hehehe…

LP:
Anda mengatakan Allah bisa tidak baik atas dasar Allah menghukum kejahatan , Allah bisa tidak baik atas dasar Allah membenci dosa dan ketidakbenaran. Tentu saja memang nggak nyambung itu. Karena Jika Allah membenci ketidakbenaran itu artinya Allah mencintai kebenaran. Dan ini justru sesuai dengan sifatNya yang Maha Benar.

Hehehe… Memang demikianlah adanya. Yang saya utarakan benar kan? Dan bukankah saya menjawabnya lengkap dengan KONTEKS? Kayaknya sampai sekarang Anda pun tidak bisa menyanggahnya dengan elegan. Hehehe…

Artinya apa? Saya ingin menunjukkan kepada Anda bahwa Allah itu bisa memiliki perasaan yang bertentangan dengan sifat-Nya yang kita kenal. Bukankah tadinya Anda menyangkal bahwa itu TIDAK BISA? Bukankah sampai sekarang Anda TETAP berpendapat: “Allah tidak bisa melawan sifat-Nya?”

Bukankah saya sudah tunjukkan bahwa Allah memiliki perasaan yang lengkap? Lengkap dengan ayat2 loh! Ingat penggaris yang saya tunjukkan kepada Anda?

-~, …, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …, ~

Salam penggaris…

@mas dewo,

satu kesimpulan yang dapat saya tarik dari kata2 Anda dari diskusi dengan lovepassword adalah…
(maaf kalau tidak mengena ke Anda mohon dikoreksi)..

TUHAN saja menyesal,…
TUHAN saja cemburu…

berikut beberapa kutipan:

Ada tertulis juga bahwa Allah MENYESAL atas apa yang diperbuat-Nya. Coba baca Kejadian 6:7, Mazmur 106:45, Yer 26:3, Yer 26:13, dan masih banyak lagi. Tapi supaya saya tidak dibilang tanpa dasar/bukti, maka saya kutipkan saja yang penting:

kalau saya perhatikan kata ini lebih ke kata menyesali, atau TUHAN kecewa atas perbuatan TUHAN sendiri…??

dan

Allah pun dapat murka. Ini bertentangan dengan sifat-Nya yang sabar. Oh iya, ada juga ayat yang menyatakan bahwa Allah itu pun cemburu. Ini tentu bias dengan sifat-Nya yang Maha Pengasih & Penyayang.

Cemburu-NYA ALLAH justru menjelaskan akan KASIH dan SAYANG-NYA, di sini malah Anda mempertentangkannya,… maka pembaca akan sangat terombang-ambing dengan kalimat penyataan dan penjelasan Anda…

memang penjelasan Anda sangat jelas dan padat…
dengan menarik kesimpulan…

Kesimpulannya adalah bahwa kita tidak bisa memahami batasan Kemaha-Kuasaan Allah. Sekaligus tidak dapat memahami hakekat Allah..

dengan dasar penyelesaian :”Untuk apa”…

@mas Dewo,
pernyataan Anda:

TUHAN bisa menyesal, …
TUHAN bisa cemburu, …

Ok, setuju, dengan catatan, bahwa menyesal dan cemburu tersebut tidak sama dengan menyesal dan cemburu manusia

pernyataan:

Iya benar, yaitu bahwa Allah kecewa atas apa yang telah diperbuat-Nya.

inilah yang saya maksud membuat terombang-ambing, di sini seolah menyesal dan cemburu TUHAN sama dengan menyesal dan cemburu manusia,…(walaupun penjelsan berikutnya tidak seperti itu, terbukti kesimpulan2 berikutnya padat dan jelas..saya tidak ngeyek koq mas, saya sedang memuji Anda)

menyesal pada TUHAN, itu lebih menekankan akan ADIL dan KUDUS dan SUCI dan KASIH TUHAN…
begini,…
pernyataan 1:
TUHAN tidak memandang bulu, dan semua manusia sudah berdosa..
pernyataan 2:
TUHAN mempunyai rencana, dan memilih umatNYA…

nah ketika IA memilih umatNYA, dan karena umatNYA adalah manusia yang berdosa yang bisa memilih Ya dan Tidak, maka ketika manusia itu memilih Tidak kepada BaikNya TUHAN, maka ADIL-NYA TUHAN akan berjalan… manusia ini harus dihukum… Tetapi…. TUHAN bisa menghentikan hukuman itu, TUHAN bisa membalikkan arah kepada KASIH-Nya… itulah yang kita sebut pertobatan, yaitu kita yang berdosa berbalik arah kepada TUHAN… tat kala kita berbalik arah dan memohon maka kiranya TUHAN juga berbalik arah dari ADIL/HUKUMANNYA, IA BISA karena IA MAHA KASIH…

Nama Allah adalah Cemburu,…(baca Keluaran 34:14, sebagai pondasi kita)
identik dengan Allah adalah Kasih…

penjelasan:
pernyataan1 .
Allah adalah Kasih, dan IA memilih umatNYA
pernyataan 2.
umatNYA adalah manusia yang berdosa…

seperti penjelasan di atas,…
karena manusia adalah berdosa dan ada kecenderungan untuk melawan ALLAH, maka TUHAN sangat menyayangkan jika manusia itu tidak bisa melihat KASIH TUHAN, hal inilah yang disebut cemburu itu, ingat, kesalahan selalu berimplikasi kepada hukuman… Karena KASIH-NYA yang begitu besar, maka IA sangat cemburu jika manusia yang IA sebut umatNYA tidak bisa melihat dan menyaksikannya….

nah pernyataan Anda, Kasih tidak cemburu, maka cemburu di sini sudah menjurus ke sesuatu yang disebut di atas, yaitu keinginan supaya manusia bisa mengenal Kasih Allah, tetapi keadaan yang iri dan dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..

TUHAN cemburu kepada patung/dewa, sebab manusia, dalam contoh sebut saja Israel memiliki kecenderungan untuk menyembah patung dan dewa. Cemburu di sini buka iri dan dengki karena patung dan dewa memiliki pengikut, melainkan TUHAN sudah memilih ISRAEL, dan berulang kali membuktikan IA adalah KASIH, padahal dewa/patung tidak dapat melakukan apapun yang setara untuk layak disembah oleh Israel, maka TUHAN menyayangkan, cemburu, dan karena itu hukuman ada… tetapi jika israel bertobat dan menyadari kesalahannya, maka TUHAN juga bisa membalikkan arah hukuman itu…

@Mas Parhobass,

Kebanyakan dari pendapat Anda sebenarnya sepaham dengan maksud saya. Jadi saya rasa diskusi kita ini sekedar memperjelas saja.

Namun ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan yang mungkin bisa kita nilai tidak prinsip namun cukup mengganjal, yaitu:

1. Cemburu

Pondasi yang Anda ambil, yaitu “Nama Allah adalah Cemburu” hanyalah salah satu dari sekian pernyataan cemburu Allah. Saya sendiri sudah mengutip banyak ayat cemburu yang bisa juga kita jadikan pondasi.

Saya memahaminya begini: bahwa Allah tidak senang jika manusia menduakan Allah. Allah tidak suka jika manusia menyembah ilah-ilah yang lain.

Jadi ini adalah makna harafiah dari CEMBURU seperti yang sudah saya lontarkan sebelumnya. Dan saya mempercayainya jika Allah memang benar-benar CEMBURU jika manusia menyembah ilah yang lain. Penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi bisa dibaca di poin 2.

Oh iya, harap kata “dengki” dihilangkan dari pembahasan cemburu ini. Karena saya pikir tidaklah terlalu relevan.

2. Kasih

Sebenarnya ada 2 pengertian yang mungkin seringkali diaduk sehingga membingungkan, yaitu antara kata CINTA & KASIH. Saya rasa kita semua sudah mengerti arti kata CINTA & KASIH ini.

Tentu saja cemburu adalah sifat yang berbenturan dengan kasih. Karena cemburu adalah manifestasi dari rasa cinta yang diduakan. Sedangkan kasih sifatnya tidak menuntut apa pun. Kasih tidak mendatangkan sifat cemburu.

Jadi kalau Allah itu cemburu, bisa dipastikan bahwa Allah MENCINTAI manusia. Karena cinta itu sifatnya timbal balik. Sedangkan KASIH adalah 1 arah. Dan kita tidak memungkiri bahwa Allah memang mengasihi & mencintai manusia juga.

Namun titik temu antara KASIH dengan CEMBURU ini menurut saya adalah karena Allah itu sangat mengasihi manusia dan tidak ingin manusia jatuh ke ilah yang salah. Dan Allah menyatakan diri sebagai Allah yang CEMBURU justru supaya manusia mentaati hukum-Nya demi kebaikan manusia itu sendiri, yaitu supaya tidak salah dalam menyembah ilah yang salah.

~~~

Sejatinya kita sepaham. Namun titik tolak pengambilan pendapat kita agak berbeda walau pun tujuannya sama, yaitu untuk memahami Allah yang Mahakasih.

Salam.

@mas dewo,

seep

@Mas Parhobass,

Iya, saya perlu koreksi atas kata2 Anda:

P:
TUHAN saja menyesal,…
TUHAN saja cemburu…

Saya akan tuliskan ulang sebagai:

TUHAN bisa menyesal, …
TUHAN bisa cemburu, …

Oke?

P:
kalau saya perhatikan kata ini lebih ke kata menyesali, atau TUHAN kecewa atas perbuatan TUHAN sendiri…??

Sebenarnya saya bisa memahami arah perbincangan Anda yang bisa saja menunjuk arti yang bukan saya maksud dalam pernyataan di atas. Tapi akan saya ikuti dulu alurnya supaya runut.

Iya benar, yaitu bahwa Allah kecewa atas apa yang telah diperbuat-Nya.

P:
Cemburu-NYA ALLAH justru menjelaskan akan KASIH dan SAYANG-NYA, di sini malah Anda mempertentangkannya,… maka pembaca akan sangat terombang-ambing dengan kalimat penyataan dan penjelasan Anda…

Menurut Anda, Allah itu CINTA atau KASIH/SAYANG? Bukankah kalau KASIH itu berarti tidak CEMBURU? Coba baca lagi ayat-ayat tentang KASIH.

P:
memang penjelasan Anda sangat jelas dan padat…

Hehehe… bukan sedang menyindir kan? Hehehe… just asking.

Salam

Salam Sejahtera semuanya…

Seru sekali disini. Saya mau numpang bicara saja sebentar. Mau ngomong panjang lebar juga, sepertinya tidak mungkin karena tidak bisa aktif terus (maklumlah…, kondisi yang tidak memungkinkan. Mohon maaf juga kalau saya tidak sempat membaca keseluruhan, jadi mungkin ada yang saya salah mengerti.)

Kalau diteruskan, nantinya akan bingung juga sampai dimana jawaban saya terakhir saya tulis.

Saya coba mengutarakan pendapat saya:

1. Dengan Mas Dewo saya setuju dalam konteks:
- Kehendak Allah, bukan rencana Allah. Rencana Allah ditentukan oleh kehendak Allah. Tidak ada yang lebih besar dari Kehendak Allah kecuali Allah itu sendiri. Sifat-sifat Allah-pun mengikuti Kehendak Allah.

2. Dengan mas Lovepassword saya setuju dalam hal: Sifat-sifat Allah tetap terjaga.

3. Bagaimana dengan konsep MahaKuasa?
Ada 2 pertanyaan utama?
A. Apakah mahakuasa berarti sifat-sifat itu boleh dilanggar?
B. Apakah Allah berkuasa/mahakuasa untuk menjaga sifat-sifat asali Allah?

Saya melihat ada sifat relatif antara Allah dan manusia.

Maksudnya?

Seperti ini:

Membunuh (menghilangkan nyawa) adalah dosa.

Pertanyaan:

Apakah Allah bisa berbuat dosa (membunuh)?

Jawaban diskusi:
1. Allah bisa membunuh (melanggar sifat asali Allah), karena Allah maha kuasa.
2. Allah tidak bisa melanggar sifat-sifat Allah (berbuat dosa).

Sebenarnya menurut saya, ada perbedaan “kuantitaif dan kualitatif” antara Allah dan manusia.

Seperti penggunaan kata menyesal.

Apakah kata menyesal bisa mewakili isi hati Allah?
Apakah ketika Allah menyesal, itu berarti Allah tidak mahakuasa (tidak maha tahu akan masa depan) sehingga bisa berbuat keliru?

Pertanyaan sesungguhnya:
Apakah Allah yang maha tidak terselami, bisa “diikat” dengan “ungkapan kata-kata manusia” untuk menyatakan siapa itu Allah?

Bahasa manusia terlalu sempit dan dangkal untuk bisa mengungkapkan ke “maha-an Allah”.

Ketika kita jatuh dalam dosa dan kesukaran manusia karena menggunakan bahsa yang “sangat terbatas” untuk menyatakan Allah yang tidak terbatas…, ini menjadi dilema.

3 unsur mengapa manusia terlalu sulit untuk “mengenal Allah” dengan baik:
1. Dosa manusia (polluted),
2. Manusia dicipta (created),
3. Manusia terbatas (limited).

Bagaimana dengan kasus membunuh diatas?

Jawaban saya:

Allah “membunuh” dan itu suci adanya.

Lanjutan yang lainnya:

Allah “berbohong” dan itu suci adanya.
Allah “menipu” dan itu suci adanya.

Salam.

Saya juga setuju dengan mas ImanKristen.

Semua yang dilakukan TuH@n (membunuh, tidak setia dll) adalah sah-sah saja. Karena, membunuh itu dosa hanya jika dilakukan oleh manusia.

Tuh@n tidak berdosa, dan tidak melanggar sifatNYA, jika Dia membunuh manusia.

semua hukum yang DIa buat adalah untuk manusia, Bukan untuk diriNya sendiri.

Salam

Tuhan membunuh manusia (membunuh disini berbeda dengan membunuh yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia dengan alasan apapun) adalah menunjukkan betapa kasihnya Tuhan terhadap manusia dan betapa bencinya tuhan terhadap perbuatan dosa.

Disebutkan karena kasih dengan alasan: agar menjadi pelajaran bagi manusia lainnya untuk tidak berbuat dosa, dengan demikian akan beroleh selamat.

Mengapa dibunuh? Mengapa tidak diberi kesempatan? Menjadi tumbal untuk kepentingan orang lain? Tentu tidak untuk menjadi tumbal. Tuhan itu maha adil dan maha tau. Dalam hal ini Tuhan pasti adil dan mengetahui bahwa tidak akan ada perobahan dalam diri orang tersebut.

@Mas ImanKristen,

Salam sejahtera juga. Senang bisa ngobrol lagi dengan Mas ImanKristen walau pun mungkin tidak bisa panjang lebar ya?

IK:
1. Dengan Mas Dewo saya setuju dalam konteks:
- Kehendak Allah, bukan rencana Allah. Rencana Allah ditentukan oleh kehendak Allah. Tidak ada yang lebih besar dari Kehendak Allah kecuali Allah itu sendiri. Sifat-sifat Allah-pun mengikuti Kehendak Allah.

Deal.

IK:
2. Dengan mas Lovepassword saya setuju dalam hal: Sifat-sifat Allah tetap terjaga.

Ada sedikit ganjalan di sini, yaitu:
a) Saya lebih suka menyebutnya sebagai “Allah MELAMPAUI sifat-sifat-Nya.”
b) Bagaimana kita bisa menjelaskan bahwa Allah MENYESAL? Bukankah MENYESAL itu adalah perasaan kecewa saat kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai rencana atau yang berakibat dan dinilai buruk?

IK:
3. Bagaimana dengan konsep MahaKuasa?
Ada 2 pertanyaan utama?
A. Apakah mahakuasa berarti sifat-sifat itu boleh dilanggar?
B. Apakah Allah berkuasa/mahakuasa untuk menjaga sifat-sifat asali Allah?

Dalam diskusi ini saya lebih cenderung menggunakan kata “MELAMPAUI”, yaitu bahwa Allah pun pernah melanggar sifat-sifat-Nya, namun dalam rangka KEBAIKAN manusia.

IK:
Allah “membunuh” dan itu suci adanya.

Setuju.

Sejatinya dalam diskusi ini saya ingin menunjukkan kepada Mas LP bahwa Allah pernah melakukan sesuatu yang buruk, yaitu seperti membunuh, memusnahkan, bohong, dll. Padahal Mas LP itu menyangkal bahwa Allah tidak bisa berbuat hal itu karena Allah DIBATASI oleh sifat-sifat-Nya.

Dan saya menunjukkan bahwa Allah pernah berbuat sesuatu yang buruk itu sejatinya demi kebaikan manusia. Bahwa Allah punya kehendak yang tidak mampu kita selami.

Namun saya setuju bahwa apa pun yang telah diperbuat Allah, Allah tetap Mahabaik. Karena semua yang diperbuat-Nya adalah demi kebaikan manusia.

Salam.

Ada sedikit ganjalan di sini, yaitu:
a) Saya lebih suka menyebutnya sebagai “Allah MELAMPAUI sifat-sifat-Nya.”
b) Bagaimana kita bisa menjelaskan bahwa Allah MENYESAL? Bukankah MENYESAL itu adalah perasaan kecewa saat kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai rencana atau yang berakibat dan dinilai buruk?

==> Kan aku sudah bilang Sifat itu mempengaruhi rencana. Hi Hi Hi. Kalo sifatNya baik ya yang direncanakan ya baik apalagi kalo Maha Baik.

Allah MELAMPAUI sifat-sifat-Nya. ? Allah di sini maksudnya Rencana Allah kah ? Itu justru terkesan kontradiksi dengan pernyataanmu berikutnya. :) Kayaknya sih

SaLAM

@Mas Lovepassword,

Mari kita tinjau dari beberapa sudut pandang.

LP:
Kan aku sudah bilang Sifat itu mempengaruhi rencana. Hi Hi Hi. Kalo sifatNya baik ya yang direncanakan ya baik apalagi kalo Maha Baik.

Anda benar. Sifat memang mempengaruhi rencana. Namun pelaksanaannya bisa MELAMPAUI sifat yang lain. Betul?

LP:
Allah MELAMPAUI sifat-sifat-Nya. ? Allah di sini maksudnya Rencana Allah kah ? Itu justru terkesan kontradiksi dengan pernyataanmu berikutnya. :) Kayaknya sih

Hem… kontradiksinya di mana ya?

OOT: kayaknya Mas LP sudah akur dengan Mas IK ya? Hihihi…

Salam.

@Mas JelasNggak & Mas hh & juga Mas ImanKristen,

Sejatinya saya tidak bisa membenarkan perbuatan Allah dengan menyebutnya sebagai “SAH-SAH” saja dalam membunuh, meninggalkan, memusnahkan, berbohong, dll kepada manusia. Secara Alkitab pun menyebutkan bahwa Allah MENYESAL telah memusnahkan manusia. Berarti apa yang diperbuat Allah bertentangan dengan hati nurani-Nya sendiri.

Bukankah Allah sendiri menyatakan bahwa manusia itu diciptakan menurut CITRA-NYA? Untuk itulah Allah tidak bisa membenarkan manusia membunuh manusia. Namun sejarah berbicara lain, yaitu karena Allah memerintahkan bangsa Israel untuk membantai bangsa lain. Juga karena Allah membunuh & memusnahkan manusia dengan tangan-Nya sendiri.

Inilah yang ingin saya tunjukkan kepada kita semua.

Jika secara dogmatis disebutkan bahwa Allah itu membunuh/memusnahkan manusia tapi tidak melanggar sifat-Nya dan dianggap sah-sah saja, maka ini akan berbenturan dengan pernyataan Alkitab yang menyebutkan:

1. Manusia diciptakan menurut CITRA Allah. Kenyataannya Allah memusnahkan & membunuh manusia dengan tangan-Nya sendiri.

2. Allah menurunkan hukum bagi manusia yaitu tidak boleh membunuh sesama manusia. Kenyataannya Allah memerintahkan bangsa Israel untuk membantai bangsa lain.

3. Allah disebutkan dalam Alkitab bahwa Allah “MENYESAL”. Ini berarti Allah kecewa telah berbuat sesuatu namun tidak sesuai rencana-Nya. Atau Allah berbuat sesuatu yang buruk. Atau Allah berbuat sesuatu yang dinilai diri-Nya sendiri sebagai hal yang buruk dan berakibat buruk.

Apakah kita tetap bisa membenarkannya dengan menyebutkannya “SAH-SAH” saja? Sedangkan Allah sendiri MENYESAL?

mas dewo,
sepertinya memang MENYESAL yang Anda maksud tidak sama dengan MENYESAL yang Alkitab jelaskan

@Mas Parhobass,

Sejatinya saya tahu kalau beberapa ayat MENYESAL bisa ditafsirkan berbeda. Tapi supaya clear, bisakah Mas Parhobass menjelaskan MENYESAL yang dijelaskan Alkitab?

Supaya pemahaman kita sama.

Salam.

mas Dewo,

sebenarnya saya sudah mengatakannya di atas banget….

ALLAH MENYESAL…
saya kira mas sudah setuju dengan mas imankristen di atas, mas IK sudah menjelaskan dengan baik. Bahwa kualitas ALLAH dengan manusia tidak sama, maka tidak sama pulalah setiap kata yang mengikuti…

contoh kata “MENYESAL”..
1. ALLAH menyesal ciptaanNYA berontak kepada DIA, maka di sini menjelaskan tentang TUHAN menyayangkan perilaku manusia yang berontak kepada DIA…

2. ALLAH menyesal dari hukumanNYA, maka di sini menjelaskan tentang Keadaan ALLAH yang berbalik arah dari HUKUMAN-NYA. Ketika kita berontak maka HUKUMAN pasti ada. Tetapi karena TUHAN ADALAH KASIH maka IA berbalik arah dari HUKUMAN itu. Buktinya YESUS datang, jika IA tidak menyayangi ADAM, maka hari itu juga alam semesta harus dihancurkan, tetapiTUHAN menyesal, IA berbalik arah. Mungkin mas dewo pernah mendengar kata :”Allah mengosongkan diriNYA” (baca Kitab Filipi).. ALLAH mengosongkan ADIL-NYA untuk datang sebagai PENEBUS… d.l.l

untuk kedua contoh ini, kita bisa pelajari:
1Sa 15:11 “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

TUHAN menyayangkan keadaan Saul yang semakin hari semakin tidak mengenal TUHAN, dan Samuel memohon supaya TUHAN berbalik arah dari HUKUMAN,…

3. Menyesal, di dalam makna literalnya adalah.. mendesah atau bernapas panjang,… yang sangat identik dengan keadaan kalau seseorang merasa kasihan, atau menyayangkan akan keadaan yang tidak sesuai dengan hatinya. Sedemikian juga bahwa ‘TUHAN menyesal’ dapat diartikan demikian. Ini menjelaskan bahwa TUHAN kecewa bukn atas sesuatu yang IA perbuat, tetapi yang ciptaanNYA perbuat.
Contohnya masih di kitab samuel di atas, TUHAN kecewa kepada SAUL..sayanghya Saul tidak menyesal, tidak berbalik arah kepada TUHAN…

4. Di dalam perjanjian Baru, kata “menyesal” ini ada memiliki arti lain yaitu merubah pikiran, dan bisa juga “to care”…, yang secara menyeluruh masih bisa diartikan sekonteks dengan 1,2,3, di atas…Contoh Mat 21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
di sini menjelaskan tentang orang yang sudah mengetahui kekebenaran, tetapi tidak mau mengubah pikirannya… TUHAN juga sering mengubah pikiranNYA jika ada seorang yang bertobat. Dan berbahagialah kita yang dapat menyebabkan TUHAN berbuah pikiran atas ‘kematian’ yang seharusnya menjadi milik kita.

Untuk lebih jelas, kita lihat di 9:35 Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.
artinya mereka menyesali perbuatan mereka, dan karena itu mereka merubah pikiran, bertobat,lalu mengikut TUHAN…

Jadi TUHAN tidak menyesal atas “perbuatan buruk”, seperti yang mas utarakan.
IA menyesal, karena TUHAN MAHA ADIL, sebab siapa saja yang melawan DIA, maka TUHAN tidak akan bertangguh2 menghukum, dan hukuman TUHAN itu sangat mengerikan, yang PL jelaskan sebagai “tidak bersama TUHAN”. Dan karena hukuman yang tersedia itulah TUHAN “menarik napas panjang”… sedemikian ADIL-nya sampai-sampai manusia yang adalah citraNYA juga harus dihukum jika tidak mau taat kepada DIA. Karena ADAM berdosa, yang adalah citra pertama, maka karena TUHAN ADIL, IA menghukum. Karena IA MENYESAL, maka IA datang di dalam Nama YESUS..

TUHAN membunuh, karena IA ADIL, setiap pelanggaran harus dihukum. IA tidak menghukum sembarangan, tetapi IA sabar menunggu. Kanaan habis di’bunuh’ oleh Israel. Alasan utamanya adalah karena Kanaan sudah sangat jauh dari TUHAN, dengan alur cerita seolah Israel menjajah, nyatanya ketika Israel melakukan dosa yang sama, mereka dihanguskan oleh Babel, Asyur d.l.l… ADIL…
Dan karena itu jugalah TUHAN adil mengadakan KIAMAT, karena setiap pelanggaran ada hukuman, dan hukuman kiamat sedang menunggu pelanggaran2 yang membawa maut. TUHAN SABAR menunggu, tetapi manusia cenderung melawan… karena itulah TUHAN menyesal

@Mas Parhobass,

Ya saya sudah paham maksud Anda. Dan memang inilah yang saya pelajari dari agama Kristen yang dogmatis. Seolah-olah tafsiran itu membela ke-MAHA-an Allah.

Di sisi lain, saya mengimani bahwa Allah itu MAHA, namun saya mengkritisi dogma-dogma yang bisa saja bias dari makna sebenarnya. Salah satu contoh adalah kata “MENYESAL” yang sedang kita bahas. Nampak bahwa di sini ada upaya untuk mengartikan menyesal sebagai arti yang berbeda. Sebelumnya kita sudah membahas “CEMBURU”.

Saya cuma ingin katakan, bahwa jika benar “MENYESAL” bisa ditafsirkan begitu, mengapa Alkitab tidak menggunakan kata yang benar/tepat seperti: “KECEWA”, “BERTOBAT”, “BERBALIK ARAH”, dsb?

Supaya lebih afdol, marilah kita bahas contoh2 yang diajukan Mas Parhobass.

P:
1. ALLAH menyesal ciptaanNYA berontak kepada DIA, maka di sini menjelaskan tentang TUHAN menyayangkan perilaku manusia yang berontak kepada DIA…

Jika ini dimaknai sebagai KECEWA, mengapa Alkitab tidak menggunakan kata KECEWA? Lagi pula bagaimana Anda bisa menjelaskan ayat MENYESAL berikut ini?

Kej. 6:7
Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.

Bukankah ayat di atas benar-benar menunjukkan konteks MENYESAL?

ALLAH MENJADIKAN > (Apa yg diakibatkan oleh ciptaan adalah buruk) > ALLAH MENYESAL > ALLAH MEMUSNAHKAN

P:
2. ALLAH menyesal dari hukumanNYA, maka di sini menjelaskan tentang Keadaan ALLAH yang berbalik arah dari HUKUMAN-NYA. Ketika kita berontak maka HUKUMAN pasti ada. Tetapi karena TUHAN ADALAH KASIH maka IA berbalik arah dari HUKUMAN itu. Buktinya YESUS datang, jika IA tidak menyayangi ADAM, maka hari itu juga alam semesta harus dihancurkan, tetapiTUHAN menyesal, IA berbalik arah. Mungkin mas dewo pernah mendengar kata :”Allah mengosongkan diriNYA” (baca Kitab Filipi).. ALLAH mengosongkan ADIL-NYA untuk datang sebagai PENEBUS… d.l.l

Jika memang konteksnya adalah BERBALIK ARAH, bukankah BERBALIK ARAH adalah akibat dari MENYESAL? Bukankah harus menyesal dulu baru balik arah?

Saya memahami “balik arah” ini adalah upaya Allah untuk memperbaiki hubungan-Nya dengan manusia. Bahwa Allah menyesal telah melakukan hal yang buruk dan kemudian membaharui perjanjian-Nya dengan manusia.

P:
1Sa 15:11 “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

Bukankah ini adalah arti harafiah dari “MENYESAL”? Bahwa Allah telah mengangkat Saul menjadi raja namun Saul ternyata berbalik dari Tuhan. Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, yaitu bahwa:

(ALLAH) BERBUAT > HASIL/AKIBATNYA BURUK > (ALLAH) MENYESAL

Bukankah sudah sesuai dengan alur harfiah menyesal? Tapi seandainya ditafsirkan seperti yang Mas Parhobas utarakan sebelumnya, yaitu dimaknai sebagai kecewa, maka alurnya menjadi:

(MANUSIA) BERBUAT > HASIL/AKIBATNYA BURUK/DOSA > (ALLAH) KECEWA

Mengapa tidak menggunakan kata KECEWA saja? Saya cuma ingin bilang bahwa kata MENYESAL itu memang benar-benar punya arti MENYESAL. Seperti yang diutarakan Mas Parhobass di contoh 4, perkenankanlah saya tuliskan alurnya:

(MANUSIA) BERDOSA > (YOHANES) MENUNJUKKAN JALAN KEBENARAN > (MANUSIA) MENYESAL > (MANUSIA) BERTOBAT

Bukankah ini benar-benar kata MENYESAL yang harafiah?

P:
3. Menyesal, di dalam makna literalnya adalah.. mendesah atau bernapas panjang,… yang sangat identik dengan keadaan kalau seseorang merasa kasihan, atau menyayangkan akan keadaan yang tidak sesuai dengan hatinya. Sedemikian juga bahwa ‘TUHAN menyesal’ dapat diartikan demikian. Ini menjelaskan bahwa TUHAN kecewa bukn atas sesuatu yang IA perbuat, tetapi yang ciptaanNYA perbuat.
Contohnya masih di kitab samuel di atas, TUHAN kecewa kepada SAUL..sayanghya Saul tidak menyesal, tidak berbalik arah kepada TUHAN…

Mungkinkah yang Anda maksudkan lebih tepat dituliskan sebagai “MENGELUH”? Lagi pula contoh Anda menggambarkan:

(MANUSIA) BERBUAT > HASIL/AKIBATNYA BURUK/DOSA > (ALLAH) KECEWA
*sudah saya tuliskan di atas*

Jika dimaknai sebagai KECEWA, mengapa Alkitab menuliskannya sebagai MENYESAL? Saya paham bahwa menyesal bisa dimaknai dari sudut pandang yang lain yang bukan dari sisi pelaku. Tapi jika sudut pandang yang lain itu terlibat, maka kata KECEWA lebih tepat dipakai.

Karena KECEWA itu adalah perasaan yang timbul setelah melihat hasil/akibat. Sedangkan MENYESAL adalah perasaan yang timbul atas suatu perbuatan atau keputusan setelah menimbang hasil/akibat yang timbul.

P:
4. Di dalam perjanjian Baru, kata “menyesal” ini ada memiliki arti lain yaitu merubah pikiran, dan bisa juga “to care”…, yang secara menyeluruh masih bisa diartikan sekonteks dengan 1,2,3, di atas… [...]

Sudah saya tuliskan di atas bahwa ini adalah kata MENYESAL yang harafiah bagi manusia. Bahwa para pemungut cukai & perempuan sundal menyesal dari dosanya setelah diberitakan jalan kebenaran. Ini sejalan dengan apa yang sudah saya tuliskan di atas, yaitu:

(MANUSIA) BERDOSA > (YOHANES) MENUNJUKKAN JALAN KEBENARAN > (MANUSIA) MENYESAL > (MANUSIA) BERTOBAT

Tetapi MENYESAL ini tidak bisa diartikan sebagai “MERUBAH PIKIRAN” atau pun “TO CARE.” Berubah pikiran adalah suatu tindakan koreksi. Tindakan koreksi itu dilakukan setelah MENYESAL. Jadi ada 2 hal yang berbeda yg sedang kita bicarakan di sini. Namun dua-duanya tidak bisa diartikan sama.

P:
Jadi TUHAN tidak menyesal atas “perbuatan buruk”, seperti yang mas utarakan.

Lalu bagaimana penjelasan Mas Parhobas atas ayat2 yang sudah saya nyatakan sebelumnya? Okelah, saya tuliskan acuannya:

Kej. 6:7
1 Sa. 15:11
Mzm. 106:45
Yer. 26:3
Yer. 26:13
Yer. 26:19
Yer. 42:10
Yl. 2:13
Yl. 2:14
Yun. 3:9
Yun. 4:2

Bahkan Allah menyesal telah merancang (belum dilaksanakan) malapetaka bagi manusia.

Oh iya, kita sudah sepakat mengenai kata “CEMBURU”, namun belum sepaham mengenai kata “MENYESAL.” Sebenarnya kita masih ada satu kata lagi yang belum kita bahas, yaitu “MURKA.” Seandainya kita berhasil berdiskusi masalah kata MENYESAL, mungkin kita bisa bahas kata MURKA di lain kesempatan.

Sekali lagi, saya membahas ini bukan berarti saya mengkritisi Kristen & Alkitab. Karena saya mengimaninya dengan segenap hidup saya. Yang saya lakukan adalah mengkritisi PENAFSIRAN2 yang ada dalam menghayati Kristen & Alkitab yang kadang kala malah menjadikannya bias. Saya hanya ingin jujur dalam memahami Alkitab & Kristianitas.

Salam.

@mas Dewo.

Mau ikutan dikit.

Kalau menurut saya, konteks keseluruhan dai alkitab, arti dari kata menyesal adalah :
Tuh@n tidak menghendaki siapa pun berbuat dosa, namun tatkala manusia berbuat dosa maka DIA menjadi menyesal.

Bukankah alkitab tidak boleh di baca sepotong-sepotong.

menyesal yang dimaksud di alkitab adalah berpadanan dengan kata Ibrani NÂKHAM.
dalam NIV kata NÂKHAM diterjemahkan dengan ‘I am grieved’.

Salam

@Mas JelasNggak,

Boleh kok ikutan.

JN:
Kalau menurut saya, konteks keseluruhan dai alkitab, arti dari kata menyesal adalah :
Allah tidak menghendaki siapa pun berbuat dosa, namun tatkala manusia berbuat dosa maka DIA menjadi menyesal.

Nah ini dia yang sedang saya diskusikan dengan Mas Parhobass. Dalam konteks di atas, berarti DIA bersedih hati & kecewa atas dosa-dosa manusia.

Namun bagaimana penjelasan Anda bahwa Allah menyesal telah merencanakan pemusnahan manusia? Dan juga bagaimana penjelasan Anda bahwa Allah menyesal telah memusnahkan manusia dengan air bah?

JN:
Bukankah alkitab tidak boleh di baca sepotong-sepotong.

Saya tidak memotong2 Alkitab kok. Hehehe…

JN:
menyesal yang dimaksud di alkitab adalah berpadanan dengan kata Ibrani נחם – NÂKHAM.
dalam NIV kata נחם – NÂKHAM diterjemahkan dengan ‘I am grieved’.

Dalam konteks yang Anda bawa, memang benar maksudnya adalah berduka cita, bersedih hati. Namun mengapa bisa diterjemahkan sebagai MENYESAL? Dan bagaimana penjelasan tentang MENYESAL dalam konteks setelah memusnahkan manusia?

Salam.

@mas Dewo

Saya cuma ingin katakan, bahwa jika benar “MENYESAL” bisa ditafsirkan begitu, mengapa Alkitab tidak menggunakan kata yang benar/tepat seperti: “KECEWA”, “BERTOBAT”, “BERBALIK ARAH”, dsb?
kita akan menjurus ke teknik penerjemahan, saya kira LAI yang layak menjawab itu,… dan untuk itulah kita sangat perlu mengetahui beberapa terjemahan, kecuali kita sudah mendapatkan maknanya, maka kita tidak akan menjadi terlalu susah untuk mengetahui beberapa bahasa, ya toh? hehehe, iman kita sederhana, sesederhana kita mempercayai apa yang kita dengar dari TUHAN, yang sekarang ini terkadang harus lewat Alkitab…

Jika ini dimaknai sebagai KECEWA, mengapa Alkitab tidak menggunakan kata KECEWA? Lagi pula bagaimana Anda bisa menjelaskan ayat MENYESAL berikut ini?
seperti kita ketahui ada makna konteks, ada makna literal dan makna2 yang lain, untuk itu kita harus berguru ke orang2 LAI

Kej. 6:7
Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.“

Bukankah ayat di atas benar-benar menunjukkan konteks MENYESAL?

ALLAH MENJADIKAN > (Apa yg diakibatkan oleh ciptaan adalah buruk) > ALLAH MENYESAL > ALLAH MEMUSNAHKAN
coba kita perhatikan secara seksama kutipan Anda, apakah Allah menyesali diriNYA atau sedang menjelaskan tentang KESAANNYA. TUHAN ESA, IA yang PENCIPTA juga ADIL, artinya ketika kita yang ciptaan lari dari ALLAH, maka ADIL-NYA TUHAN juga harus kita hadapi, jangan cuman senangnya dong, cuman dapat berkat, begitu diuji kabur dari TUHAN murtad d.l.l, bukan. TUHAN adalah ESA, jika kita berdosa, maka TUHAN YANG ADIL tidak segan2 memusnahkan, dan karena IA TIDAK SEGAN karena IA ADIL, maka TUHAN menyayangkan kalau sampai ciptaan itu musnah sama sekali, inilah yang disayangkan TUHAN…

Jika memang konteksnya adalah BERBALIK ARAH, bukankah BERBALIK ARAH adalah akibat dari MENYESAL? Bukankah harus menyesal dulu baru balik arah?

Saya memahami “balik arah” ini adalah upaya Allah untuk memperbaiki hubungan-Nya dengan manusia. Bahwa Allah menyesal telah melakukan hal yang buruk dan kemudian membaharui perjanjian-Nya dengan manusia.
bukan, menyesal itu adalah berbalik arah itu…itu bukan sebab akibat, melainkan MENYESAL=BERBALIK ARAH. Saya kira sudah jelas jika kita gunakan kata bertobat, seorang yang berbalik arah dari dosanya disebut bertobat. TUHAN mengasihani manusia maka IA berbalik arah dari ADILNYA, IA datang di dalam YESUS, itulah puncak dari segala BALIK ARAH TUHAN kita…
P:
1Sa 15:11 “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

Bukankah ini adalah arti harafiah dari “MENYESAL”? Bahwa Allah telah mengangkat Saul menjadi raja namun Saul ternyata berbalik dari Tuhan. Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, yaitu bahwa:

(ALLAH) BERBUAT > HASIL/AKIBATNYA BURUK > (ALLAH) MENYESAL

Bukankah sudah sesuai dengan alur harfiah menyesal? Tapi seandainya ditafsirkan seperti yang Mas Parhobas utarakan sebelumnya, yaitu dimaknai sebagai kecewa, maka alurnya menjadi:

(MANUSIA) BERBUAT > HASIL/AKIBATNYA BURUK/DOSA > (ALLAH) KECEWA

Mengapa tidak menggunakan kata KECEWA saja? Saya cuma ingin bilang bahwa kata MENYESAL itu memang benar-benar punya arti MENYESAL. Seperti yang diutarakan Mas Parhobass di contoh 4, perkenankanlah saya tuliskan alurnya:

(MANUSIA) BERDOSA > (YOHANES) MENUNJUKKAN JALAN KEBENARAN > (MANUSIA) MENYESAL > (MANUSIA) BERTOBAT

Bukankah ini benar-benar kata MENYESAL yang harafiah?
tidak selamanya kita mengerti mengenai terjemahan, dan kenapa konteks bisa dimasukkan kepada literal dan sebagainya dan sebaliknya… dan untuk bisa demikian maka kita harus percaya bahwa TUHAN berbeda dengan manusia, Ketika subjeknya TUHAN maka kita harus sadar MENYESAL mana yang dimaksud, jika subjectnya manusia MENYESAL mana yang dimaksud. Seperti penjelsan di atas, ketika TUHAN memilih Saul, IA benar2 mengurapinya, dan jika Saul menuruti TUHAN maka ADILNYA tidak akan Saul hadapi, tetapi ketika Saul berontak/melawan maka TUHAN menyayangkannya, sebab HUKUMAN ESA dengan KASIH.
Mungkinkah yang Anda maksudkan lebih tepat dituliskan sebagai “MENGELUH”? Lagi pula contoh Anda menggambarkan:

(MANUSIA) BERBUAT > HASIL/AKIBATNYA BURUK/DOSA > (ALLAH) KECEWA
*sudah saya tuliskan di atas*

Jika dimaknai sebagai KECEWA, mengapa Alkitab menuliskannya sebagai MENYESAL? Saya paham bahwa menyesal bisa dimaknai dari sudut pandang yang lain yang bukan dari sisi pelaku. Tapi jika sudut pandang yang lain itu terlibat, maka kata KECEWA lebih tepat dipakai.

Karena KECEWA itu adalah perasaan yang timbul setelah melihat hasil/akibat. Sedangkan MENYESAL adalah perasaan yang timbul atas suatu perbuatan atau keputusan setelah menimbang hasil/akibat yang timbul.
mas jelasnggak sudah membuat kata dasarnya, NAKHAM, bhs Ibrani…
Saya sadari tidak ada manusia yang sesederhana orang miskin tetapi sanggup percaya YESUS, dan tidak ada sekompleks para Profesor yang sanggup melampaui makna Alkitab, sugguh terlalu dalam untuk dijelaskan…sebab Alkitab terbuka dengan sederhana bagi yang percaya, kompleks bagi yang semakin jatuh kekedalamannya…Defenisi yang Anda buat juga tidak bisa disepelekan. Sebab bahasa Kita terkadang KECEWA=MENYESAL..Cuman kita harus memilah dengan benar dan tepat

Sudah saya tuliskan di atas bahwa ini adalah kata MENYESAL yang harafiah bagi manusia. Bahwa para pemungut cukai & perempuan sundal menyesal dari dosanya setelah diberitakan jalan kebenaran. Ini sejalan dengan apa yang sudah saya tuliskan di atas, yaitu:

(MANUSIA) BERDOSA > (YOHANES) MENUNJUKKAN JALAN KEBENARAN > (MANUSIA) MENYESAL > (MANUSIA) BERTOBAT

Tetapi MENYESAL ini tidak bisa diartikan sebagai “MERUBAH PIKIRAN” atau pun “TO CARE.” Berubah pikiran adalah suatu tindakan koreksi. Tindakan koreksi itu dilakukan setelah MENYESAL. Jadi ada 2 hal yang berbeda yg sedang kita bicarakan di sini. Namun dua-duanya tidak bisa diartikan sama.
mas dewo, makna harfiah dari menyesal sesuai Alkitab adalah berbalik arah, merubah pikiran d.l.l… jadi kalau kita mendengar atau membaca Allah menyesal maka secara harfiah artinya TUHAN berbalik arah atau TUHAN berubah pikiran, di PB semakin jelas arti harfiah itu… sebab manusia yang bertobat adalah manusia yang menyesal, manusia yang berbalik arah ke TUHAN, manusia yang mengubah pikriannya.. jadi menyesal di sini bukan menyesal manusia umum, yaitu kecewa kepada perbuatan buruk yang ia lakukan…

P:
Jadi TUHAN tidak menyesal atas “perbuatan buruk”, seperti yang mas utarakan.

Lalu bagaimana penjelasan Mas Parhobas atas ayat2 yang sudah saya nyatakan sebelumnya? Okelah, saya tuliskan acuannya:

Kej. 6:7
…harus dibaca dari ayat 5, baru maknanya jelas… TUHAN menciptakan demi kemuliaanNYA, tetapi ketika manusia mempunyai kecenderungan tidak memperlihatkan kemuliaan TUHAN, maka manusia harus dihukum… dan karena hukuman TUHAN itu sangat mengerikan TUHAN menyayangkan bahwa hukuman itu harus terjadi. Kemulian menjadi hukuman, itu tentu sangat menyesakkan..

1 Sa. 15:11
ayat ini masih sama dengan yang di atas, jika yang di atas general kepada manusia, maka di sini Saul sebagai objectnya…

Mzm. 106:45
Ia ingat akan perjanjian-Nya karena mereka, dan menyesal sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar
ayat ini justru semakin jelas memperlihatkan tentang makna berbalik arah. Karena TUHAN mempunyai janji, maka HUKUMAN kekal yang seharusnya diletakkan pada pundak manusia TUHAN balikkan arahnya menjadi KASIH. Akibat dosa adalah maut, YESUS ubahkan arahnya kepada DIA sendiri, itulah PENEBUSAN itu….

Yer. 26:3
Yer. 26:13
Yer. 26:19
Yer. 42:10
semakin jelas, karena TUHAN ESA,maka BERKAT bisa menjadi KUTUK kalau kita melawan DIA, tetapi KUTUK bisa berbalik arah menjadi BERKAT kalau kita mengikuti TUHAN…

Yl. 2:13
Yl. 2:14
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya
jelas, makanya masiih konsisten dengan yang di atas…
HUKUMAN yang ada dipundak manusia bisa TUHAN balikkan arahnya menjadi BERKAT…
dan sebaliknya

Yun. 3:9
Yun. 4:2
HUKUMAN bagi yang melawan TUHAN sudah ada… terpisah dari TUHAN di dalam bahasa Alkitabnya. Dan manusia harus terpisah jika TUHAN tidak berbalik arah, untuk itulah TUHAN senang kalau manusia berbalik arah dari dosa, dari keterpisahan….

Oh iya, kita sudah sepakat mengenai kata “CEMBURU”, namun belum sepaham mengenai kata “MENYESAL.” Sebenarnya kita masih ada satu kata lagi yang belum kita bahas, yaitu “MURKA.” Seandainya kita berhasil berdiskusi masalah kata MENYESAL, mungkin kita bisa bahas kata MURKA di lain kesempatan.

Sekali lagi, saya membahas ini bukan berarti saya mengkritisi Kristen & Alkitab. Karena saya mengimaninya dengan segenap hidup saya. Yang saya lakukan adalah mengkritisi PENAFSIRAN2 yang ada dalam menghayati Kristen & Alkitab yang kadang kala malah menjadikannya bias. Saya hanya ingin jujur dalam memahami Alkitab & Kristianitas.

Salam.
seep, Tuhan YESUS Yang Mulia memberkati kita semua…
TUHAN menyapa kita lewat ROHNYA, dan TUHAN tidak mau kita stagnan, dan TUHAN juga kita mengajari kita sesuatu “tentang ke-Allah-an”, melainkan sesuatu untuk mengenal hubungan pribadi kita dengan DIA…. sebab di situlah keterbatasan manusia itu dapat diterima ALLAH sebagai kelayakan menghampiri DIA…

@Dear Mas Parhobass,

Wah semakin menarik nih…

P:
kita akan menjurus ke teknik penerjemahan, saya kira LAI yang layak menjawab itu,… dan untuk itulah kita sangat perlu mengetahui beberapa terjemahan, kecuali kita sudah mendapatkan maknanya, maka kita tidak akan menjadi terlalu susah untuk mengetahui beberapa bahasa, ya toh? hehehe, iman kita sederhana, sesederhana kita mempercayai apa yang kita dengar dari TUHAN, yang sekarang ini terkadang harus lewat Alkitab…

Setuju. Kayaknya kita harus bertanya kepada para ahli LAI, apakah kata MENYESAL yang digunakan ini benar-benar berarti MENYESAL atau BERBALIK ARAH?

Berarti sampai saat ini diskusi kita masih menggantung ya? Kecuali jika ada ahli LAI yang bisa menjelaskannya di sini.

P:
seperti kita ketahui ada makna konteks, ada makna literal dan makna2 yang lain, untuk itu kita harus berguru ke orang2 LAI

Hem… berarti saat ini kita sama-sama tidak mengerti arti MENYESAL yang sebenarnya di Alkitab ya? Dan perlu orang-orang LAI untuk menjelaskannya? Lalu apakah kita harus selalu berguru kepada orang LAI setiap menemukan kata-kata SULIT semacam CEMBURU, MAHA, MENYESAL, MURKA, dll?

P:
coba kita perhatikan secara seksama kutipan Anda, apakah Allah menyesali diriNYA atau sedang menjelaskan tentang KESAANNYA. TUHAN ESA, IA yang PENCIPTA juga ADIL, artinya ketika kita yang ciptaan lari dari ALLAH, maka ADIL-NYA TUHAN juga harus kita hadapi, jangan cuman senangnya dong, cuman dapat berkat, begitu diuji kabur dari TUHAN murtad d.l.l, bukan. TUHAN adalah ESA, jika kita berdosa, maka TUHAN YANG ADIL tidak segan2 memusnahkan, dan karena IA TIDAK SEGAN karena IA ADIL, maka TUHAN menyayangkan kalau sampai ciptaan itu musnah sama sekali, inilah yang disayangkan TUHAN…

Jadi “MENYESAL” di sini artinya “MENYAYANGKAN/DISAYANGKAN” ya?

P:
bukan, menyesal itu adalah berbalik arah itu…itu bukan sebab akibat, melainkan MENYESAL=BERBALIK ARAH. Saya kira sudah jelas jika kita gunakan kata bertobat, seorang yang berbalik arah dari dosanya disebut bertobat. TUHAN mengasihani manusia maka IA berbalik arah dari ADILNYA, IA datang di dalam YESUS, itulah puncak dari segala BALIK ARAH TUHAN kita…

Oh, jadi menyesal itu bukan akibat ya? Dan menyesal di sini diartikan BERBALIK ARAH ya? Hem… mungkin seharusnya saya tidak lulus dalam pelajaran bahasa Indonesia ya?

P:
tidak selamanya kita mengerti mengenai terjemahan, dan kenapa konteks bisa dimasukkan kepada literal dan sebagainya dan sebaliknya… dan untuk bisa demikian maka kita harus percaya bahwa TUHAN berbeda dengan manusia, Ketika subjeknya TUHAN maka kita harus sadar MENYESAL mana yang dimaksud, jika subjectnya manusia MENYESAL mana yang dimaksud. [...]

Jadi bingung nih. Sebenarnya Alkitab itu ditulis oleh siapa dan untuk siapa? Saya sih percaya bahwa Alkitab ditulis oleh manusia (diilhami oleh Roh Kudus) dan untuk manusia. Untuk itulah bahasa yang digunakan adalah bahasa manusia biasa. Dan karena Alkitab untuk manusia, maka Alkitab boleh diterjemahkan ke dalam semua bahasa manusia.

Jadi saya berpikir bahwa kata “MENYESAL” itu memiliki arti yang sama ketika diucapkan oleh Allah dan oleh manusia. Karena bahasa yang kita gunakan adalah sama, yaitu yang dituliskan oleh manusia dan untuk manusia.

Atau saya yang salah ya?

P:
mas jelasnggak sudah membuat kata dasarnya, NAKHAM, bhs Ibrani…

Hem… saya sudah menjawab komen Mas JN. BTW, bukankah rasa sedih hati & kecewa atas dosa-dosa menusia itu merupakan hubungan sebab-akibat? Namun dalam memaknainya sebagai “BERBALIK ARAH”, Anda justru mengabaikan hubungan sebab-akibat ini.

Jadi MENYESAL di sini bisa memiliki beberapa arti yang berbeda konsep ya? Atau lebih cenderung tergantung tafsir?

P:
Saya sadari tidak ada manusia yang sesederhana orang miskin tetapi sanggup percaya YESUS, dan tidak ada sekompleks para Profesor yang sanggup melampaui makna Alkitab, sugguh terlalu dalam untuk dijelaskan…sebab Alkitab terbuka dengan sederhana bagi yang percaya, kompleks bagi yang semakin jatuh kekedalamannya…Defenisi yang Anda buat juga tidak bisa disepelekan. Sebab bahasa Kita terkadang KECEWA=MENYESAL..Cuman kita harus memilah dengan benar dan tepat

Saya justru yakin 100% bahwa banyak orang yang sesederhana orang miskin sanggup percaya Yesus. Dan lebih banyak lagi pendosa yang diselamatkan oleh Yesus, namun banyak para ahli (ahli Taurat) yang justru menolak Yesus. Bukankah di Alkitab memang benar-benar dituliskan demikian? Betapa banyak orang miskin & menderita yang mengikuti Yesus saat itu.

Jadi saya justru memahaminya sebagai kenyataan. Bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus adalah yang sebenar-benarnya, bukan sekedar kata-kata bias dengan makna yang bisa ditafsirkan berbeda.

Ketika Anda memahami bahwa “[..] tidak ada manusia yang sesederhana orang miskin tetapi sanggup percaya YESUS [..]” justru menampakkan kalau Anda tidak 100% percaya kata-kata Yesus sendiri. Dan Anda lebih suka mengingkarinya dengan pemahaman (tafsiran) Anda sendiri.

Mungkin mengenai hal ini bisa kita bicarakan lebih dalam lagi di lain kesempatan.

P:
mas dewo, makna harfiah dari menyesal sesuai Alkitab adalah berbalik arah, merubah pikiran d.l.l… jadi kalau kita mendengar atau membaca Allah menyesal maka secara harfiah artinya TUHAN berbalik arah atau TUHAN berubah pikiran, di PB semakin jelas arti harfiah itu… sebab manusia yang bertobat adalah manusia yang menyesal, manusia yang berbalik arah ke TUHAN, manusia yang mengubah pikriannya.. jadi menyesal di sini bukan menyesal manusia umum, yaitu kecewa kepada perbuatan buruk yang ia lakukan…

Ya, di sinilah letak perbedaan pendapat kita. Saya memaknai kata menyesal ini sebagai arti yang sesungguhnya karena saya percaya bahwa Alkitab adalah catatan yang jujur.

Sedangkan Anda lebih memahaminya sebagai arti yang berbeda. Jika demikian, maka Anda mengalami beberapa masalah, yaitu:

1. Dalam konteks yang Anda ajukan, sebenarnya ada kata lain yang lebih pas digunakan, yaitu: bertobat, kecewa, sedih, dll. Tetapi mengapa Alkitab tidak menggunakan kata-kata yang lebih pas tersebut namun lebih memilih menggunakan kata “MENYESAL”? Apakah Alkitab salah? Apakah penulisnya (yang diilhami Roh Kudus) salah dalam memilih kata?

2. Memaknai kata “MENYESAL” dengan kata-kata yang Anda sampaikan sebenarnya malah menjadikkannya tidak tepat dan menjadikannya bias serta mengakibatkan tafsiran yang beragam. Jika demikian, apakah kita meragukan kejujuran Alkitab? Bukankah Alkitab menuliskannya dengan kata “MENYESAL”?

3. Jika Anda dapat memahami kata “MENYESAL” dengan pemahaman yang berbeda dengan arti kata “MENYESAL”, apakah Anda dapat melakukan hal yang sama dengan kata-kata yang lain dalam Alkitab? Misalnya: CEMBURU, MURKA, SEDIH, SANG JURU SELAMAT, PENEBUSAN, MAHAKUASA, dll? Jika demikian, maka kita bisa mentafsirkan Alkitab sesuka pemahaman kita. Bukankah ini justru tidak disarankan?

Mengenai tafsiran Anda terhadap ayat-ayat yang saya ajukan, menampakkan upaya Anda dalam membenarkan tafsiran Anda. Anda bisa benar, namun Anda menafikan kata “MENYESAL” itu sendiri.

P:
seep, Tuhan YESUS Yang Mulia memberkati kita semua…
TUHAN menyapa kita lewat ROHNYA, dan TUHAN tidak mau kita stagnan, dan TUHAN juga kita mengajari kita sesuatu “tentang ke-Allah-an”, melainkan sesuatu untuk mengenal hubungan pribadi kita dengan DIA…. sebab di situlah keterbatasan manusia itu dapat diterima ALLAH sebagai kelayakan menghampiri DIA…

Setuju.

GBU.

@Mas Dewo

Setuju. Kayaknya kita harus bertanya kepada para ahli LAI, apakah kata MENYESAL yang digunakan ini benar-benar berarti MENYESAL atau BERBALIK ARAH?

Berarti sampai saat ini diskusi kita masih menggantung ya? Kecuali jika ada ahli LAI yang bisa menjelaskannya di sini.

sebenarnya tidak terlalu menggantung, mas tinggal cek ajah HEBREW STRONG untuk kata menyesal,cek nomor H5162, selamat mencari, Anda katolik toh, so KJV mungkin berotoritas, so carikah H5162

Hem… berarti saat ini kita sama-sama tidak mengerti arti MENYESAL yang sebenarnya di Alkitab ya? Dan perlu orang-orang LAI untuk menjelaskannya? Lalu apakah kita harus selalu berguru kepada orang LAI setiap menemukan kata-kata SULIT semacam CEMBURU, MAHA, MENYESAL, MURKA, dll?
saya berguru ke H5162 hehehe

Jadi “MENYESAL” di sini artinya “MENYAYANGKAN/DISAYANGKAN” ya?
konteks ini memang sering disembunyikan di kata MENYESAL

Oh, jadi menyesal itu bukan akibat ya? Dan menyesal di sini diartikan BERBALIK ARAH ya? Hem… mungkin seharusnya saya tidak lulus dalam pelajaran bahasa Indonesia ya?
???

Jadi bingung nih. Sebenarnya Alkitab itu ditulis oleh siapa dan untuk siapa? Saya sih percaya bahwa Alkitab ditulis oleh manusia (diilhami oleh Roh Kudus) dan untuk manusia. Untuk itulah bahasa yang digunakan adalah bahasa manusia biasa. Dan karena Alkitab untuk manusia, maka Alkitab boleh diterjemahkan ke dalam semua bahasa manusia.
TUHAN disebut Gunung Batu, bukan berarti TUHAN adalah gunung batu bukan? Bahasa manusia memang menulis Alkitab, tetapi definisi manusia tidak selamanya menjelaskan lengkap tentang TUHAN…

Jadi saya berpikir bahwa kata “MENYESAL” itu memiliki arti yang sama ketika diucapkan oleh Allah dan oleh manusia. Karena bahasa yang kita gunakan adalah sama, yaitu yang dituliskan oleh manusia dan untuk manusia.

Atau saya yang salah ya?
heheh koq susah yah… menyesal dipakai ke TUHAN dan manusia yang bertobat alia benar alias umat Allah artinya adalah berbalik arah…TUHAN yang menghukum bisa membalikkan arah hukuman menjadi berkat. Manusia yang berdosa bisa membalikkan arah menjadi tidak berdosa. TUHAN menyesal bukan berbalik arah dari berbuat dosa toh?? ini maksud saya harus melihat subjeknya…Jika TUHAN menyesal atas perbuatan buruknya maka ada 2 TUHAN, yaitu TUHAN yang PENGASIH dan TUHAN YANG ADIL, yang mana tidak mungkin kan? sebab TUHAN ESA, maka PENGASIH DAN ADIL adalah ESA…JIKA kita melawan TUHAN maka wajahNYA yang adil akan kita hadapi..

Hem… saya sudah menjawab komen Mas JN. BTW, bukankah rasa sedih hati & kecewa atas dosa-dosa menusia itu merupakan hubungan sebab-akibat? Namun dalam memaknainya sebagai “BERBALIK ARAH”, Anda justru mengabaikan hubungan sebab-akibat ini.
Karena manusia berdosa, otomatis hukuman datang. HUKUMAN digambarkan sebagai terpisah dari ALLAH. Jika kita bertobat maka keterpisahan itu bisa disambung oleh TUHAN….TUHAN membalikkan keterpisahan itu menjadi hubungan yang erat…

Jadi MENYESAL di sini bisa memiliki beberapa arti yang berbeda konsep ya? Atau lebih cenderung tergantung tafsir?
cek H5162

Saya justru yakin 100% bahwa banyak orang yang sesederhana orang miskin sanggup percaya Yesus. Dan lebih banyak lagi pendosa yang diselamatkan oleh Yesus, namun banyak para ahli (ahli Taurat) yang justru menolak Yesus. Bukankah di Alkitab memang benar-benar dituliskan demikian? Betapa banyak orang miskin & menderita yang mengikuti Yesus saat itu.
maksud kalimat saya adalah…Alkitab dipercayai bukan berdasar apa yang kita miliki sebab orang miskin sanggup menelaah sementara di pihak lain tak satu professorpun dapat merumuskan komplesitas Alkitab…. semuanya hanya perkara hubungan pribadi dengan TUHAN, bukan pengetahuan ke-Allah-an

Jadi saya justru memahaminya sebagai kenyataan. Bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus adalah yang sebenar-benarnya, bukan sekedar kata-kata bias dengan makna yang bisa ditafsirkan berbeda.
H5162

Ketika Anda memahami bahwa “[..] tidak ada manusia yang sesederhana orang miskin tetapi sanggup percaya YESUS [..]” justru menampakkan kalau Anda tidak 100% percaya kata-kata Yesus sendiri. Dan Anda lebih suka mengingkarinya dengan pemahaman (tafsiran) Anda sendiri.
????, tuduh menuduh tidak bagus itu ahhhh

Mungkin mengenai hal ini bisa kita bicarakan lebih dalam lagi di lain kesempatan.
seep

Ya, di sinilah letak perbedaan pendapat kita. Saya memaknai kata menyesal ini sebagai arti yang sesungguhnya karena saya percaya bahwa Alkitab adalah catatan yang jujur.
maaf mas Dewo, Alkitab yang Anda baca KJV atau terjemahan yang mana? saya sedang tidak menafsir, cobalah cek sekali lagi H5162, mas jelasnggak sudah menjelaskan sedikit. Contohnya coba Anda cari kata KELINCI, jika Anda paham maksud saya, maka Anda akan mengerti perbedaan MENYESAL sesuai H5162 dengan MENYESAL pengertian umum. Ibarat ALLAH di umum tidak sama dengan ALLA jika kita berbicara Kekristenan….

Sedangkan Anda lebih memahaminya sebagai arti yang berbeda. Jika demikian, maka Anda mengalami beberapa masalah, yaitu:

1. Dalam konteks yang Anda ajukan, sebenarnya ada kata lain yang lebih pas digunakan, yaitu: bertobat, kecewa, sedih, dll. Tetapi mengapa Alkitab tidak menggunakan kata-kata yang lebih pas tersebut namun lebih memilih menggunakan kata “MENYESAL”? Apakah Alkitab salah? Apakah penulisnya (yang diilhami Roh Kudus) salah dalam memilih kata?
cek KJV, KJV menggunakan kata “bertobat” ketimbang “menyesal”, lebih “repent” ketimbang “regret”… sekali lagi cek H5162

2. Memaknai kata “MENYESAL” dengan kata-kata yang Anda sampaikan sebenarnya malah menjadikkannya tidak tepat dan menjadikannya bias serta mengakibatkan tafsiran yang beragam. Jika demikian, apakah kita meragukan kejujuran Alkitab? Bukankah Alkitab menuliskannya dengan kata “MENYESAL”?
H5162
3. Jika Anda dapat memahami kata “MENYESAL” dengan pemahaman yang berbeda dengan arti kata “MENYESAL”, apakah Anda dapat melakukan hal yang sama dengan kata-kata yang lain dalam Alkitab? Misalnya: CEMBURU, MURKA, SEDIH, SANG JURU SELAMAT, PENEBUSAN, MAHAKUASA, dll? Jika demikian, maka kita bisa mentafsirkan Alkitab sesuka pemahaman kita. Bukankah ini justru tidak disarankan?
mari membiasakan diri mengecek beberapa terjemahan, itupun semisal kita tidak paham bahasa Ibrani

Mengenai tafsiran Anda terhadap ayat-ayat yang saya ajukan, menampakkan upaya Anda dalam membenarkan tafsiran Anda. Anda bisa benar, namun Anda menafikan kata “MENYESAL” itu sendiri.
sekali lagi cek H5162
P:
seep, Tuhan YESUS Yang Mulia memberkati kita semua…
TUHAN menyapa kita lewat ROHNYA, dan TUHAN tidak mau kita stagnan, dan TUHAN juga kita mengajari kita sesuatu “tentang ke-Allah-an”, melainkan sesuatu untuk mengenal hubungan pribadi kita dengan DIA…. sebab di situlah keterbatasan manusia itu dapat diterima ALLAH sebagai kelayakan menghampiri DIA…

Setuju.

GBU.
dengan demikian Andapun seharusnya tidak meragukan kekristenan saya…

@Dewo

Saya sudah membaca H5162. Dan nampaknya akan menambah kebingungan. Karena beberapa kata lain bisa digunakan untuk mendeskripsikan namun tidak dapat langsung menggantikannya. Lagi pula pemakaian kata-kata tersebut bergantung konteksnya.
coba dicek lagi kata2 saya di atas banget, saya ulangi, sebab beberapa ayat kutipan mas Dewo secara konteks jutru lebih ke menyesali walau kata menyesal digunakan….
LAI menggunakan MENYESAL, yang mana di Hebrewnya ada beberapa kata, yaitu נחם, nāḥam, שׁוּב, shūbh, cek lagi Root Word (Etymology) dari strong yang saya kasih mas…jgn langsung ke definisinya..

Kata “nacham” memang dipakai di ayat tersebut, tetapi apakah ayat “MENYESAL” yang lain menggunakan kata “nacham” juga?
tidak, di link yang Anda kasih dijelaskan beberapa ayat yang menggunakan nacham, yang beberapa diantaranya Anda kutip

Lagi pula penggunaan kata “nacham” dan pemahamannya yg diajukan Mas JelasNggak dalam ayat tersebut tidak saya bantah. Jadi pertanyaan saya berikutnya adalah: apakah kata “MENYESAL” yang digunakan Allah itu selalu dituliskan sebagai “nacham”?
TIDAK, lihat keterangan saya di atas… cuman di LAI lebih banyak dianggap sama, MENYESAL

Hehehe… Kayaknya H5162 tidak menyebutkan arti “berbalik arah.”

cek etimologynya.. jangan langsung ke defenisi ..

Kalau saya sih menganggap bahwa kata “menyayangkan” adalah bauran dari perasaan menyesal. Seperti kata SEDIH yang bisa karena kehilangan atau malah karena marah. Bauran perasaannya bisa beda-beda, namun disebut sebagai “SEDIH.”

Demikian juga dengan “MENANGIS”. Kita tahu bahwa menangis bisa karena sedih mau pun bahagia. Namun kita tahu (secara umum) bahwa menangis adalah menitikkan air mata.
Anda sedang menjelaskan secara psikology.. yang mana ada 3 point untuk menjelaskan itu:
1. The Intellectual Element
2. The Emotional Element
3. The Volitional Element
dan untuk lebih jelasnya silahkan cari ISBE (International Standard Bible Encyclopledia)
sepertinya kalau Anda baca lengkapnya di sana, maka akan akan semakin jelas..

P:
TUHAN disebut Gunung Batu, bukan berarti TUHAN adalah gunung batu bukan? Bahasa manusia memang menulis Alkitab, tetapi definisi manusia tidak selamanya menjelaskan lengkap tentang TUHAN…

Hehehe… kita sedang bicara kata sifat atau kata ganti nih? Beda loh cara pemahamannya.
saya menemukan pembauran di diskusi kita, yang mana membuat tidak seger…

Loh? Menyesal itu bukan selalu karena berdosa kemudian berbalik arah. Bukankah Anda sendiri bilang bahwa menyesal bisa berarti menyayangkan? Bukankah saya sudah menuliskan 2 pendekatan menyesal/menyesali?

1. Pihak pelaku:
BERBUAT > HASIL TIDAK BAIK/SESUAI HARAPAN > MENYESAL TELAH BERBUAT > MEMPERBAIKI

2. Pihak lain:
(ORG1) BERBUAT > HASIL TIDAK BAIK/SESUAI HARAPAN > (ORG2) MENYESALINYA > (ORG2) MEMBERI PERINGATAN

Kalau dalam ilmu manajemen, kita berbuat itu hendaknya:

PLAN > DO > CHECK > CORRECTIVE ACTION
rencanakan > lakukan > periksa > aksi perbaikan

Bahwa menyesal itu ada di tahap “CHECK”. Dan bertobat itu ada di “CORRECTIVE ACTION.” Allah MENYESAL bisa dalam 2 perspektif tersebut, yaitu saat DIA memusnahkan manusia dan kemudian MENYESAL, dan ada lagi yang MENYESAL karena melihat manusia berdosa dan terus berdosa.

Pada konteks Allah “nacham” karena melihat dosa manusia, saya tidak menggugatnya. Justru yang saya ingin tunjukkan adalah bahwa Allah juga menyesal karena memusnahkan dan merancangkan malapetaka bagi manusia. Apakah dalam konteks ini kata “nacham” juga yang digunakan?

Maaf, mengenai konteks PENGASIH dan ADIL untuk sementara saya abaikan dalam komen saya ini.
di sinilah letak masalahnya, MENYESALdi dalam bahasa indonesia adalah tindakan yang menjadikan ada rasa tidak bahagia atau tidak senang karena melakukan kesalahan atau dosa.. nah saya katakan apakah TUHAN berdosa? tentu tidak…lalu apa arti MENYESAL di Alkitab? saya katakan BERBALIK ARAH atau BERUBAH PIKIRAN…sebab banyak kata yang digunakan tetapi bukan berari sama dengan apa yang umum digunakan….

P:
Karena manusia berdosa, otomatis hukuman datang. HUKUMAN digambarkan sebagai terpisah dari ALLAH. Jika kita bertobat maka keterpisahan itu bisa disambung oleh TUHAN….TUHAN membalikkan keterpisahan itu menjadi hubungan yang erat…

Nacham?
ya nacham, cek etymology jangan langsung ke defenisi

Apakah MENYESAL selalu merupakan terjemahan dari NACHAM?
sepertinya YA.. Anda mungkin bisa cek sendiri dari semua kutipan Anda…yang di dalamnya ada NACHAM…

Oh gitu. Hem… kayaknya kok beda dengan komen terdahulu ya? Tapi mungkin juga saya yang salah tangkap. Atau Anda salah ketik di komen terdahulu?
Anda bisa cek kalimat saya itu… orang yang sederhana pemikirannya bisa memiliki pemahaman menjadi iman, sementara orang yang kompleks tidak sanggup menjabarkan kompleksitas Alkitab, semakin kita terjerambab dalam kompleksitas, maka semakin kita temui dalamnya kompleksitasnya, padahal orang sederhana yang umumnya orang miskin bisa dengan mudah membaca Alkitab…

Hihihi… kesannya memang begitu kok. Saya baca bagian orang miskin di komen Anda terdahulu tapi kesannya kok berbeda dengan yang Anda jelaskan sekarang. Kayaknya saya sedang korslet kali ya?
yah Anda kan bisa langsung bertanya daripada langsung menuduh… tidak sehat itu

Saya sih baca terjemahan baru LAI. Tidak punya KJV. Lagipula kalau tidak salah LAI tidak menerjemahkan dari KJV. Jadi terjemahan baru LAI salah ya? Apakah saya tidak layak mengacu kepada Alkitab Terjemahan Baru LAI?
saya tidak menyalahkan LAI, saya sedang menekankan makna yang diucapkan secara tersembunyi oleh penerjemah LAI… benar LAI tidak ada sangkut pautnya dengan KJV, karena LAI langsung menerjemahkan dari IBRANI dan YUNANI

P:
Contohnya coba Anda cari kata KELINCI, jika Anda paham maksud saya, maka Anda akan mengerti perbedaan MENYESAL sesuai H5162 dengan MENYESAL pengertian umum. Ibarat ALLAH di umum tidak sama dengan ALLA jika kita berbicara Kekristenan….

Ada apa dengan KELINCI?
Jadi kesimpulannya MENYESAL versi Allah berbeda dengan versi manusia ya?
hehehe saya simpulkan Anda tidak mengerti, coba cek mas antara Rabbit dan Hare, yang mana kedua2nya diterjemahkan KELINCI

Lha berarti harus mengerti bahasa lain saat membaca Alkitab ya? Apakah Alkitab Terjemahan Baru LAI tidak layak untuk dipercaya isinya sehingga harus membaca terjemahan lain?
karena ada kendala bahasa, maka kita harus membandingkan beberapa terjemahan…. bukan masalah layak atau tidak layak…

Sayangnya 3 masalah yang saya ajukan tidak dijawab tuntas. Malah menimbulkan pertanyaan ke-4, yaitu: “Apakah Alkitab Terjemahan Baru LAI tidak layak untuk dipercaya isinya 100% sehingga harus membaca terjemahan lain?”
karena masalah ini jugalah yang saya sebut perihal miskin dan rofesor di atas… begitu sederhanya Alkitab sampai begitu mudah dipahami oleh orang sederhana yang umumnya orang miskin, tetapi begitu kompleksnya sampai seorang profesor-pun tidak dapat merumuskan kekompleksan Alkitab.. dimana kita berdua sedang terjerambab di dalamnya, otomatis kita harus mengcek beberapa terjemahan…untuk mendapatkan arti yang lebih luas

@Mas Parhobass,

Semakin menarik…

P:
sebenarnya tidak terlalu menggantung, mas tinggal cek ajah HEBREW STRONG untuk kata menyesal,cek nomor H5162, selamat mencari, Anda katolik toh, so KJV mungkin berotoritas, so carikah H5162

Saya sudah membaca H5162. Dan nampaknya akan menambah kebingungan. Karena beberapa kata lain bisa digunakan untuk mendeskripsikan namun tidak dapat langsung menggantikannya. Lagi pula pemakaian kata-kata tersebut bergantung konteksnya.

Kata “nacham” memang dipakai di ayat tersebut, tetapi apakah ayat “MENYESAL” yang lain menggunakan kata “nacham” juga?

Lagi pula penggunaan kata “nacham” dan pemahamannya yg diajukan Mas JelasNggak dalam ayat tersebut tidak saya bantah. Jadi pertanyaan saya berikutnya adalah: apakah kata “MENYESAL” yang digunakan Allah itu selalu dituliskan sebagai “nacham”?

P:
saya berguru ke H5162 hehehe

Hehehe… Kayaknya H5162 tidak menyebutkan arti “berbalik arah.”

P:
konteks ini memang sering disembunyikan di kata MENYESAL

Kalau saya sih menganggap bahwa kata “menyayangkan” adalah bauran dari perasaan menyesal. Seperti kata SEDIH yang bisa karena kehilangan atau malah karena marah. Bauran perasaannya bisa beda-beda, namun disebut sebagai “SEDIH.”

Demikian juga dengan “MENANGIS”. Kita tahu bahwa menangis bisa karena sedih mau pun bahagia. Namun kita tahu (secara umum) bahwa menangis adalah menitikkan air mata.

P:
TUHAN disebut Gunung Batu, bukan berarti TUHAN adalah gunung batu bukan? Bahasa manusia memang menulis Alkitab, tetapi definisi manusia tidak selamanya menjelaskan lengkap tentang TUHAN…

Hehehe… kita sedang bicara kata sifat atau kata ganti nih? Beda loh cara pemahamannya.

P:
heheh koq susah yah… menyesal dipakai ke TUHAN dan manusia yang bertobat alia benar alias umat Allah artinya adalah berbalik arah…TUHAN yang menghukum bisa membalikkan arah hukuman menjadi berkat. Manusia yang berdosa bisa membalikkan arah menjadi tidak berdosa. TUHAN menyesal bukan berbalik arah dari berbuat dosa toh?? ini maksud saya harus melihat subjeknya…Jika TUHAN menyesal atas perbuatan buruknya maka ada 2 TUHAN, yaitu TUHAN yang PENGASIH dan TUHAN YANG ADIL, yang mana tidak mungkin kan? sebab TUHAN ESA, maka PENGASIH DAN ADIL adalah ESA…JIKA kita melawan TUHAN maka wajahNYA yang adil akan kita hadapi..

Loh? Menyesal itu bukan selalu karena berdosa kemudian berbalik arah. Bukankah Anda sendiri bilang bahwa menyesal bisa berarti menyayangkan? Bukankah saya sudah menuliskan 2 pendekatan menyesal/menyesali?

1. Pihak pelaku:
BERBUAT > HASIL TIDAK BAIK/SESUAI HARAPAN > MENYESAL TELAH BERBUAT > MEMPERBAIKI

2. Pihak lain:
(ORG1) BERBUAT > HASIL TIDAK BAIK/SESUAI HARAPAN > (ORG2) MENYESALINYA > (ORG2) MEMBERI PERINGATAN

Kalau dalam ilmu manajemen, kita berbuat itu hendaknya:

PLAN > DO > CHECK > CORRECTIVE ACTION
rencanakan > lakukan > periksa > aksi perbaikan

Bahwa menyesal itu ada di tahap “CHECK”. Dan bertobat itu ada di “CORRECTIVE ACTION.” Allah MENYESAL bisa dalam 2 perspektif tersebut, yaitu saat DIA memusnahkan manusia dan kemudian MENYESAL, dan ada lagi yang MENYESAL karena melihat manusia berdosa dan terus berdosa.

Pada konteks Allah “nacham” karena melihat dosa manusia, saya tidak menggugatnya. Justru yang saya ingin tunjukkan adalah bahwa Allah juga menyesal karena memusnahkan dan merancangkan malapetaka bagi manusia. Apakah dalam konteks ini kata “nacham” juga yang digunakan?

Maaf, mengenai konteks PENGASIH dan ADIL untuk sementara saya abaikan dalam komen saya ini.

P:
Karena manusia berdosa, otomatis hukuman datang. HUKUMAN digambarkan sebagai terpisah dari ALLAH. Jika kita bertobat maka keterpisahan itu bisa disambung oleh TUHAN….TUHAN membalikkan keterpisahan itu menjadi hubungan yang erat…

Nacham?

P:
cek H5162

Apakah MENYESAL selalu merupakan terjemahan dari NACHAM?

P:
maksud kalimat saya adalah…Alkitab dipercayai bukan berdasar apa yang kita miliki sebab orang miskin sanggup menelaah sementara di pihak lain tak satu professorpun dapat merumuskan komplesitas Alkitab…. semuanya hanya perkara hubungan pribadi dengan TUHAN, bukan pengetahuan ke-Allah-an

Oh gitu. Hem… kayaknya kok beda dengan komen terdahulu ya? Tapi mungkin juga saya yang salah tangkap. Atau Anda salah ketik di komen terdahulu?

P:
????, tuduh menuduh tidak bagus itu ahhhh

Hihihi… kesannya memang begitu kok. Saya baca bagian orang miskin di komen Anda terdahulu tapi kesannya kok berbeda dengan yang Anda jelaskan sekarang. Kayaknya saya sedang korslet kali ya?

P:
maaf mas Dewo, Alkitab yang Anda baca KJV atau terjemahan yang mana? saya sedang tidak menafsir, cobalah cek sekali lagi H5162, mas jelasnggak sudah menjelaskan sedikit.[...]

Saya sih baca terjemahan baru LAI. Tidak punya KJV. Lagipula kalau tidak salah LAI tidak menerjemahkan dari KJV. Jadi terjemahan baru LAI salah ya? Apakah saya tidak layak mengacu kepada Alkitab Terjemahan Baru LAI?

P:
Contohnya coba Anda cari kata KELINCI, jika Anda paham maksud saya, maka Anda akan mengerti perbedaan MENYESAL sesuai H5162 dengan MENYESAL pengertian umum. Ibarat ALLAH di umum tidak sama dengan ALLA jika kita berbicara Kekristenan….

Ada apa dengan KELINCI?
Jadi kesimpulannya MENYESAL versi Allah berbeda dengan versi manusia ya?

P:
cek KJV, KJV menggunakan kata “bertobat” ketimbang “menyesal”, lebih “repent” ketimbang “regret”… sekali lagi cek H5162

Apakah selalu dari kata nacham?

P:
mari membiasakan diri mengecek beberapa terjemahan, itupun semisal kita tidak paham bahasa Ibrani

Lha berarti harus mengerti bahasa lain saat membaca Alkitab ya? Apakah Alkitab Terjemahan Baru LAI tidak layak untuk dipercaya isinya sehingga harus membaca terjemahan lain?

P:
sekali lagi cek H5162

Sayangnya 3 masalah yang saya ajukan tidak dijawab tuntas. Malah menimbulkan pertanyaan ke-4, yaitu: “Apakah Alkitab Terjemahan Baru LAI tidak layak untuk dipercaya isinya 100% sehingga harus membaca terjemahan lain?”

P:
dengan demikian Andapun seharusnya tidak meragukan kekristenan saya…

Saya tidak pernah meragukan kekristenan Anda kok. Hihihi…

GBU

mas Dewo

saya tidak mengatakan LAI tidak akurat
keterbatasan kosakata, dan lain hal bisa membuat penerjemah menarik makna lain yang tidak umum digunakan….

sekali lagi mohon jangan menarik kesimpulan sendiri….
sudah saya kasih contoh tentang KELINCI…
karena memang HARE bagi orang Indonesia disebut kelinci, karena kita tidak mengenal HARE…bentuknya agak kecil berkuping panjang dinamakan kelinci. tetapi ada bahasa yang lebih kompleks dari Indonesia, salah satunya INGGRIS, maka dengan menggunakan terjemahan INGGRIS kita bisa mengetahui KELINCI yang dimaksud…

contoh lain,
banyak bahasa daerah yang kalau kita kaji tidak ada terjemahan literalnya di bahasa indonesia, maka kita bisa memaksa kosakata daerah ke bahasa indonesia atau menggunakan padanan saja…
INI MEDAN BUNG, bahasa bataknya AI MEDAN DOON LAE…
kita temukan LAE jelas tidak sama dengan BUNG, tetapi bisa sepadan…

@Mas Parhobass,

Hihihi…

P:
coba dicek lagi kata2 saya di atas banget, saya ulangi, sebab beberapa ayat kutipan mas Dewo secara konteks jutru lebih ke menyesali walau kata menyesal digunakan….
LAI menggunakan MENYESAL, yang mana di Hebrewnya ada beberapa kata, yaitu נחם, nāḥam, שׁוּב, shūbh, cek lagi Root Word (Etymology) dari strong yang saya kasih mas…jgn langsung ke definisinya..

Wah berarti LAI tidak akurat ya? Secara definisi dan pemilihan katanya tidak akurat ya? Dan ketidakakuratan ini membuat pemahaman kita berbeda?

P:
tidak, di link yang Anda kasih dijelaskan beberapa ayat yang menggunakan nacham, yang beberapa diantaranya Anda kutip

Berarti terjemahan MENYESAL tidak selalu dari nacham ya? Sedangkan terjemahan nacham sebagai MENYESAL tidaklah tepat ya?

P:
TIDAK, lihat keterangan saya di atas… cuman di LAI lebih banyak dianggap sama, MENYESAL

Menurut Mas Parhobass, nacham sebaiknya diterjemahkan sebagai apa? Sedangkan kata “MENYESAL” yang timbul di Alkitab LAI itu terjemahan dari kata apa saja selain nacham?

P:
cek etimologynya.. jangan langsung ke defenisi ..

Hem… Etymolog utk nacham adalah “A primitive root”. Apa sih artinya?

P:
Anda sedang menjelaskan secara psikology.. yang mana ada 3 point untuk menjelaskan itu: [..]

Sebenarnya tidak juga. Saya hanya mencoba membuat suatu analogi.

P:
saya menemukan pembauran di diskusi kita, yang mana membuat tidak seger…

Emang tidak seger contohnya.

P:
di sinilah letak masalahnya, MENYESALdi dalam bahasa indonesia adalah tindakan yang menjadikan ada rasa tidak bahagia atau tidak senang karena melakukan kesalahan atau dosa.. nah saya katakan apakah TUHAN berdosa? tentu tidak…lalu apa arti MENYESAL di Alkitab? saya katakan BERBALIK ARAH atau BERUBAH PIKIRAN…sebab banyak kata yang digunakan tetapi bukan berari sama dengan apa yang umum digunakan….

Hem… ya, kita memahaminya sebagai hal yang berbeda. Saya sudah katakan bahwa suatu tindakan yang membuat menyesal itu tidak berarti mendatangkan dosa. Saya sudah tuliskan di atas bahwa suatu tindakan bisa tidak sesuai dengan harapan, namun bukan berarti selalu dosa hasilnya.

Jadi apa yang kemudian disesali Allah itu bukan karena perbuatan-Nya yang berdosa, tetapi Allah memandang apa yang sudah dilakukan-Nya tidaklah sesuai dengan harapan atau mungkin dipandang tidak baik atau mungkin Allah punya cara lain yang bisa jadi lebih baik hasilnya. Jadi jangan langsung dikaitkan dengan dosa ya? Karena menyesal tidak selalu dalam konteks dosa.

Kalau yang Anda bicarakan adalah “BERTOBAT”, maka benarlah bahwa bertobat berkaitan dengan dosa. Tapi menyesal tidak selalu berkaitan dengan dosa.

D: Apakah MENYESAL selalu merupakan terjemahan dari NACHAM?
P: sepertinya YA.. Anda mungkin bisa cek sendiri dari semua kutipan Anda…yang di dalamnya ada NACHAM…

Apakah ada kata selain nacham yang diterjemahkan sebagai menyesal? Menurut Anda, kata mana yang paling tepat diterjemahkan sebagai MENYESAL? Dan masih menurut Anda, kata nacham sebaiknya diterjemahkan sebagai apa?

P:
yah Anda kan bisa langsung bertanya daripada langsung menuduh… tidak sehat itu

Anda benar, langsung menuduh itu tidak benar. Sayangnya saya punya anggapan begitu. Jadi maafkan jika anggapan saya salah.

P:
saya tidak menyalahkan LAI, saya sedang menekankan makna yang diucapkan secara tersembunyi oleh penerjemah LAI… benar LAI tidak ada sangkut pautnya dengan KJV, karena LAI langsung menerjemahkan dari IBRANI dan YUNANI

Nah itulah dia, saya lebih senang membaca Alkitab TB LAI dari pada KJV. Bukankah KJV sendiri ada beberapa ketidaksesuaian dengan versi IBRANI & YUNANI?

P:
hehehe saya simpulkan Anda tidak mengerti, coba cek mas antara Rabbit dan Hare, yang mana kedua2nya diterjemahkan KELINCI

Bener banget, saya memang tidak ngerti. Ternyata Alkitab TB LAI memang tidak akurat ya?

P:
karena ada kendala bahasa, maka kita harus membandingkan beberapa terjemahan…. bukan masalah layak atau tidak layak…

Hem… tetap saja kita harus menilainya sebagai layak atau tidak. Karena jika pemahaman yang dihasilkan oleh 2 kitab itu berbeda, maka keduanya adalah berbeda. Jika demikian, maka kita harus memilih mana yang paling layak untuk dipercaya?

P:
karena masalah ini jugalah yang saya sebut perihal miskin dan rofesor di atas… begitu sederhanya Alkitab sampai begitu mudah dipahami oleh orang sederhana yang umumnya orang miskin, tetapi begitu kompleksnya sampai seorang profesor-pun tidak dapat merumuskan kekompleksan Alkitab.. dimana kita berdua sedang terjerambab di dalamnya, otomatis kita harus mengcek beberapa terjemahan…untuk mendapatkan arti yang lebih luas

Sejatinya saya lebih suka menyebutkan diri saya sendiri sebagai seorang yang miskin dan sederhana. Oleh sebab itulah saya belajar dan terus belajar banyak hal dari Alkitab. Namun ketika Alkitab yang saya baca tersebut diragukan, maka saya pun bertanya, dengan Alkitab yang mana yang harus saya baca yang sekiranya akurat sehingga saya tidak salah jalan?

Salam.

Mas Dewo,

Tuhan itu Maha Suci, tidak bolah ada dosa dihadapanNya. Jika dosa timbul, dosa itu akan dibinasanakan. Dosa sudah timbul, ketentuan itu akan terlaksana.

Karena manusia jatuh dalam dosa, maka manusia akan dibinasakan juga bersama dengan dosa itu.

Adalah sama bila Tuhan membinasakan manusia semasa hidupnya dengan membinasakan manusia itu pada saat membinasakan dosa itu kelak.

itulah menurut pendapat saya

salam

Mas hh,

hh:
Tuhan itu Maha Suci, tidak bolah ada dosa dihadapanNya. Jika dosa timbul, dosa itu akan dibinasanakan. Dosa sudah timbul, ketentuan itu akan terlaksana.

Sayangnya saya kurang sepaham.
Akibat dari dosa adalah maut. Namun Allah berkenan MENYELAMATKAN manusia. Jadi Allah masih bertoleransi terhadap dosa dan bersedia mengampuni dosa jika manusia menyesal & bertobat.

hh:
Karena manusia jatuh dalam dosa, maka manusia akan dibinasakan juga bersama dengan dosa itu.

Manusia memang sudah jatuh ke dalam dosa & oleh karenanya akan mati. Namun Allah berkenan menyelamatkan manusia dari dosa untuk beroleh kehidupan yang ke-2. Dan Yesus adalah yang sulung di antara semuanya.

hh:
Adalah sama bila Tuhan membinasakan manusia semasa hidupnya dengan membinasakan manusia itu pada saat membinasakan dosa itu kelak.

itulah menurut pendapat saya

Sayangnya untuk pendapat Anda yang ini saya setuju.

Yang saya bingung itu kemarin2 ada kesan aku ini rada lebay sehingga banyak menyarankan agar aku berhenti protes, mengenai masalah ini. paling cuma salah paham dsb . Tapi yang antik, kalian yang kemarin menengahi kenapa juga sekarang ikutan ngedumel juga. Hi Hi Hi Hi

Saya rasa pertanyaan yang bisa ditanyakan gini :

Apakah Allah berhak “menghukum” manusia bahkan yang belum bersalah , karena Allah tahu manusia itu bakal bersalah ???

Karena Allah Maha Tahu Allah berhak melakukan itu, atau mestinya nggak melakukan itu sebelum manusia bersalah.

Jika kamu belum nyolong ayam, bolehkah kamu dihukum karena kamu dianggap pasti kelak nyolong ayam ???

Atau yang pertanyaan yang lebih ringan dari itu : Sebelum masa pengadilan tiba, bolehkah ada pengadilan di dunia ini ?

Boleh dengan asumsi Allah tahu bahwa manusia tersebut nggak akan bertobat, berbuat kerusakan terus, dsb. Maka Allah menghukum dsb.

Lha ada juga asumsi karena Allah Maha Baik maka Allah pasti akan memberi kesempatan . Jika memang tahu bakal membuat kerusakan ya mendingan nggak usah diciptakan jika logikanya seperti di atas. :) Justru karena diciptakan maka diberi kesempatan.

Tetapi umumnya jawabannya memang boleh. :) Hi hi Hi :)

Jawaban klasiknya ya seperti tanah liat kemarin : Adakah tanah liat bisa menilai pekerjaan tukang periuk :)

@ For All

Marilah kita tetap memberi hormat yg sangat tulus kpd Allah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa.
Dalam artian walau kita tetap mengasihi dan menyembahNya tetapi kita tetap harus tetap memiliki rasa takut didalam namaNya.
.
Defenisi apapun yg kita rasakan dan kita ketahui ttg Allah yg Maha Kuasa kiranya itu bukan pendapat pribadi kita semuanya. Biarlah Roh Kudus mengajarkan SIAPA yg dapat menerangkan ttg Allah itu.
.
Kita belajar dari perdebatan antara Ayub dan teman-temannya, yg mencoba mendefenisikan Allah dgn segala tindakanNya. Jikalau kita baca pendapat para teman2 Ayub yg mencoba membela Allah dgn segala tindakanNya dan keMahakuasaanNya maka mungkin jadi kitapun sama spt mereka. Padahal kita tahu Allah malah murka dan menghukum mereka krn kekeliruan pendapat mereka sendiri.
.
Jadi saya hanya setuju bhw Roh Kuduslah yg memberitahukan itu melalui pergumulan pribadi kita ttg Allah dan KeMAHAKUASAANNYA. Jgn kita mencoba2 menakar dan membatasi Allah yg hanya berasal dari perkataan dan pembacaan tulisan ttg Allah. Mari kita langsung datang dan berhubungan intim dan hangat kpd Bapa dan AnakNYa Yesus Kristus. Sehingga pengetahuan kita yg lahir adalah berdasarkan pengetahuan kita krn memang mengenal Allah yg hidup dalam diri kita.
.
Haleluya amen

@Dear Mas RAS,

Anda sangat bijaksana. Anda benar sekali. Saya tidak menyangkalnya sama sekali.

Maafkan saya karena telah mengkritisi para pemikir yang seolah-olah sangat memahami keterbatasan Allah. Saya hanyalah seorang sederhana yang menggelitik logika berpikir teman-teman. Sebenarnya tujuan saya hanya satu: membuka mata hati kita semua bahwa pengetahuan kita akan Allah sebenarnya sangat sedikit, karena Allah itu tidak terselami.

Dan saya setuju bahwa Roh Kuduslah yang membimbing kita semua. Berbahagialah kita yang telah menerima-Nya.

Tuhan memberkati.

@RAS : kamu berbakat jadi penengah. kayak Pak JK… :)

@mas Dewo,

Bilangan 23:19 Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

menyesal di sini menurut Anda menyesal seperti yang saya utarakan atau menyesal seperti yang Anda harapkan?

@Mas Parhobass,

P:
menyesal di sini menurut Anda menyesal seperti yang saya utarakan atau menyesal seperti yang Anda harapkan?

Jujur saja, saya tidak paham arti ayat tersebut, terutama di frase: “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.[...]“

Dalam frase ini ada 2 hal yang bertolak belakang, yaitu: “Allah bukanlah manusia” yang kemudian bertabrakan dengan “Ia berdusta bukan anak manusia”.

Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, perkenankanlah Anda menjelaskan arti dari ayat tersebut. Oh iya, saya juga sudah bertanya sama Mas LP di sini (klik) mengenai arti ayat tersebut. Namun belum dibalas oleh Mas LP.

Salam.

menyesal di sini menjelaskan tentang rasa yang diakibatkan oleh perbuatan berdosa…

manusia bisa berbuat, yang salah satunya bisa dosa, dan kalau ia menyadarinya, ia bisa bertobat,… rasa bersalah bisa timbul dari keadaan telah berbuat dosa tadi, itu disebut menyesal, yang mana TUHAN tidak berdosa….

TUHAN berbicara/berfirman pasti terjadi, artinya IA ALLAH yang BERINTEGRITAS… ketika IA berkata ada hukuman kepada dosa, maka hukuman itu benar2 ada bagi yang melanggar….

TUHAN membunuh manusia, apakah dosa?, dalam arti jika sudah dilakukan pembunuhan apakah TUHAN menyesal? TIDAK, sebab TUHAN tidak melakukan dosa.

Koq bisa?
sebab FirmanNYA harus terjadi, manusia yang berdosa maka Firman HUKUMAN adalah upah dosa itu…

Karena hukuman yang berat yang telah diucapkan itulah maka TUHAN menyayangkan, TUHAN menyesal…

Apakah Adil TUHAN menghukum?
TUHAN pertama memberkati dulu, tetapi TUHAN mengharapkan manusia berintegritas seperti DIA adalah BERINTEGRITAS,… sayangnya manusia memiliki kecenderungan untuk melawan image ALLAH yang diberikan kepadanya….kecenderungan inilah yang menjadikan TUHAN berbalik arah, dari Yang mengasihi menjadi Yang menghukum…

Ketika kita menyadari keadaan dosa kita, maka kita memohon TUHAN berbalik arah dari hukuman yang seharusnya dan layak ditimpakan kepada kita kepada WajahNYA yang penuh pengasihan

pertobatan oleh manusia dapat diterima ALLAH, dengan cara membalikkan arah HUKUMAN menjadi SUKACITA…
karena manusia tidak sanggup membalikkan arah TUHAN, maka TUHAN hadir di dalam YESUS….Hukuman yang seharusnya kita terima, TUHAN ubahkan arahnya menjadi KASIH KARUNIA di dalam tebusan KRISTUS, tentu bagi yang mempercayaiNya…

apakah semua percaya? TIDAK
maka yang TIDAK percaya hukuman sudah sedari awal ADA, kematian, keterpisahan dari ALLAH, yang mana sangat disayangkan oleh TUHAN jika objeknya adalah manusia, manusia yang menjadi mitra ALLAH di bumi ini untuk menunjukkan kemulianNYA…

Apakah TUHAN menyesal bahwa YESUS hadir, yang mana tidak semua percaya, artinya masih ada yang tidak percaya? TIDAK, sebab TUHAN tidak berdosa… IA BERINTEGRITAS, IA TAHU APA YANG IA LAKUKAN… tidak seperti manusia…

dari ayat kutipan ini, kita bisa mereset diskusi kita yang puannjang di atas…

gimana?

@Mas Dewo : Yang itu belum tak bales yah…Tak kirai tanyamu kemarin asal nyamber, ternyata serius memang tanya ya ?? :)

Kalo menurutku sih :

Kalimat itu kalo menurutku sih terdiri dua frase :

1> “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta
2> bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal

Lha penjelasannya bisa dilihat pada berikutnya : Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

—> Jadi substansinya saya rasa gampang banget itu :)

Allah tidak mungkin berdusta karena yang bisa berdusta manusia
Allah juga tidak mungkin menyesal karena yang bisa menyesal manusia .

Penafsiran ini saya rasa diperjelas atau sangat sesuai konteks dengan kalimat sesudahnya : Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

—> Intinya Allah selalu menepati janjiNya. Allah tidak bisa berdusta, Allah juga tidak bisa menyesal. :)

Saya rasa gitu.

Lha masalah kamu menemukan ayat yang bicara soal Allah menyesal dsb, ya silahkan kamu lihat dulu konteksnya. Hi Hi Hi

Smile up men

SALAM Mas Dewo…

@Mas Lovepassword,

Hallo Mas LP. Senang mengetahui bahwa sebenarnya Anda memantau diskusi di sini.

LP:
@Mas Dewo : Yang itu belum tak bales yah…Tak kirai tanyamu kemarin asal nyamber, ternyata serius memang tanya ya ?? :)

Hihihi… jelas serius (sekaligus menjebak). Hihihi…

Bilangan 23:19
Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

LP:
Kalimat itu kalo menurutku sih terdiri dua frase :

1> “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta
2> bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal

Hem… berarti ada kurang tanda baca seperti koma atau titik-koma untuk memisahkan kedua frase tersebut ya? Tapi kayaknya Mas Parhobass tidak menjelaskannya seperti Anda.

Jujur saja, saya pernah menafsirkan 2 frase seperti Anda, namun ternyata itu bertentangan dengan hati nurani dan logika saya (ceileee). Dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak memecahkannya dalam 2 frase dan tetap masih bertanya-tanya artinya sampai sekarang.

LP:
Jadi substansinya saya rasa gampang banget itu :)

Substansinya gampang banget ya? Namun ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Anda berkenaan dengan hal ini. Bentar lagi…

LP:
Intinya Allah selalu menepati janjiNya. Allah tidak bisa berdusta, Allah juga tidak bisa menyesal. :)

Hihihi… Anda menafikan beberapa ayat di Alkitab tentang Allah MENYESAL ya?

LP:
Lha masalah kamu menemukan ayat yang bicara soal Allah menyesal dsb, ya silahkan kamu lihat dulu konteksnya. Hi Hi Hi

Wah… padahal saya sudah membuktikan bahwa Allah pun bisa menyesal loh. Lengkap dengan ayatnya. Konteksnya pun jelas penyesalan Allah. Di diskusi saya dengan Mas Parhobas, beliau lebih suka menafsirkannya sebagai BERBALIK ARAH. Ini malah mendukung pendapat saya bahwa Allah bisa berlawanan dengan sifat-Nya.

LP:
Smile up men

Nah, tibalah saatnya saya bertanya beberapa hal.

1. Ketika saya menunjukkan kepada Anda tentang ayat “Allah MENYESAL”, bagaimana tanggapan Anda mengenai hal ini? Apakah Anda tetap beranggapan bahwa Allah TIDAK BISA menyesal?

2. Sama seperti Mas Parhobass yang membahas INTEGRITAS Allah, Anda beranggapan bahwa Allah selalu menepati janji-Nya, bahwa apa yang telah difirmankan pasti terjadi. Di satu sisi saya sependapat, namun saya ada pertanyaan:

a) Bagaimana Anda menjelaskan kisah Yunus? Bukankah Allah telah berfirman & menetapkan hukuman namun kemudian tidak jadi dilaksanakan?

b) Bagaimana Anda menjelaskan larangan memakan buah dari POHON KEHIDUPAN namun kemudian Allah memberikannya kepada manusia?

c) Bagaimana Anda menjelaskan kisah pengorbanan Ishak yang digantikan dengan domba?

d) Bagaimana Anda menjelaskan binatang-binatang haram yang kemudian tidak diharamkan di PB?

e) Bagaimana Anda menjelaskan sunat yang kemudian tidak perlu dilakukan lagi di PB?

Sebenarnya masih ada beberapa lagi pertanyaan yang butuh penjelasan dari Anda yang tetap bersikeras pada pendapat Anda. Termasuk ayat-ayat dari Mas Ikutan itu loh. Masih inget kan?

Namun untuk sementara, segini dulu cukuplah. Nanti kalau dirasa masih kurang rame, pasti akan saya tambahin pertanyaannya.

Supaya saya tidak lupa, saya catatkan keyword pertanyaan yg lain, tapi ini tidak perlu dibahas karena cuma catatan bagi saya saja: paskah, kurban bakaran, bangsa pilihan, imamat, dll.

Salam

@Mas Dewo : Senengnya kok menjebak jebak gitu lho. Hi Hi Hi

Padahal saya kalo ada jebakan kadang sengaja nyemplung lho…:)

Hem… berarti ada kurang tanda baca seperti koma atau titik-koma untuk memisahkan kedua frase tersebut ya? Tapi kayaknya Mas Parhobass tidak menjelaskannya seperti Anda. ===> Ya kalo itu mah suka suka Parhobasslah. Pendapatku ya pendapatku pendapat Parhobass ya Parhobass. Aku bisa sependapat maupun tidak sependapat dengan siapa saja kan.. ?

============================================
Wah… padahal saya sudah membuktikan bahwa Allah pun bisa menyesal loh. Lengkap dengan ayatnya. Konteksnya pun jelas penyesalan Allah. Di diskusi saya dengan Mas Parhobas, beliau lebih suka menafsirkannya sebagai BERBALIK ARAH. Ini malah mendukung pendapat saya bahwa Allah bisa berlawanan dengan sifat-Nya.

==> Di dalam istilah Jawa, kata yang tepat untuk menggambarkan itu adalah gelo. :)

O le le tole kamu itu dikasih saran yang baik kok ya menolak terus…

Nah, tibalah saatnya saya bertanya beberapa hal. ===> Lha ini muai gaswat ini. Hi Hi Hi. Kalo tanya jangan yang sulit2 yah… :)

1. Ketika saya menunjukkan kepada Anda tentang ayat “Allah MENYESAL”, bagaimana tanggapan Anda mengenai hal ini? Apakah Anda tetap beranggapan bahwa Allah TIDAK BISA menyesal?

Bagaimana kalo kalimatnya kamu balik sedikit, saya telah menunjukkan ayat yang menyatakan bahwa Allah Tidak bisa menyesal , apakah kamu masih berpikir Allah bisa menyesal ? Gimana coba jawabannya??? hi hi hi

Solusinya gampang : Agar kamu nggak terlalu pusing yah kamu artikan saja dua kata itu dengan arti yang berbeda :) Satu kata artinya beberapa macam kan masih mungkin :)

=============================================

2. Sama seperti Mas Parhobass yang membahas INTEGRITAS Allah, Anda beranggapan bahwa Allah selalu menepati janji-Nya, bahwa apa yang telah difirmankan pasti terjadi. Di satu sisi saya sependapat, namun saya ada pertanyaan:

a) Bagaimana Anda menjelaskan kisah Yunus? Bukankah Allah telah berfirman & menetapkan hukuman namun kemudian tidak jadi dilaksanakan?

b) Bagaimana Anda menjelaskan larangan memakan buah dari POHON KEHIDUPAN namun kemudian Allah memberikannya kepada manusia?

c) Bagaimana Anda menjelaskan kisah pengorbanan Ishak yang digantikan dengan domba?

d) Bagaimana Anda menjelaskan binatang-binatang haram yang kemudian tidak diharamkan di PB?

e) Bagaimana Anda menjelaskan sunat yang kemudian tidak perlu dilakukan lagi di PB?

===> Beberapa point saya tidak sependapat, masalah sunat di PB segala macam, binatang halal dsb itu tentu saja perlu dilihat konteksnya : Paulus memilih mengakomodasi hal2 yang menurut Paulus tidak sesignifikan menjadikan orang lain seiman dengan dia. Saya tidak menyalahkan Paulus, tetapi menurut saya , Paulus bersikap aduhai fleksibel dan rada cenderung pragmatis. Tapi itu lain perkara. Tidak perlu diperdebatkan di sini.

Tapi subtansi dari contoh abcde itu saya nangkep, kayaknya sih.
Intinya mengapa ada perubahan? Kamu tanya ini kan. Mengapa suatu waktu Allah menyuruh A, di lain waktu B misalnya … Inti pertanyaanmu gitu kan ?

Jawabannya ya bisa macem2 :

Pertama : Karena proses. Manusia kan berkembang. Pelajaran untuk anak TK tentu lain dengan SMA. Subtansinya sama tetapi yang diajarkan ya nggak 100 persen sama, ada perkembangan.

Kedua : Karena sikon. Allah kok ngurusi sikon? Ya jelas dong. Misalnya jika kondisi masyarakat manusianya cenderung A, ya yang dibahas A. Ini juga erat kaitannya dengan yang ketiga

Ketiga : Untuk saling menyeimbangkan . Menyeimbangkan dengan apa? Ya dengan sikon.

Nggak mudeng? Gini gambarannya :

Jika tiang miring ke kanan pada hari Jumat Kliwon, maka puncak tiang harus kamu dorong ke kiri biar lurus lagi, tegak supaya keren

Lha gimana jika Pada Malam Selasa Wage tiangnya miring ke Utara ? Ya didorong ke Selatan supaya lurus lagi ke atas.

Lha gimana jika pada Minggu Pon tiangnya miring ke kiri ? Ya didorong ke kanan mestinya supaya tegak lurus lagi.

Lha yang kamu lihat hanyalah : Hari ini dorong kanan, besok dorong kiri. Cuma itu saja intinya. Lha salahmu sendiri mengapa ya kamu lihat cuma dorong dombretnya… :)

Contoh kasus : Yesus datang itu kapan sih? Gimana kondisi masyarakat pada jaman Yesus ? Kondisi masyarakat waktu itu adalah masyarakat yang dibebani oleh lebay bawang bombay dari segala macam karangan aturan pemuka2 agama Yahudi. Bener iya ? Marilah yang berbeban berat dst bisa dibaca sendiri ayatnya.

Lha karena substansinya adalah penolakan atau gampangannya penyeimbang terhadap hukum agama yang diselewengkan sehingga lebay bawang bombay buat capjay maka Yesus terkesan menekankan kepada kehidupan pribadi ketimbang ngurusi segala macam aturan yang ndakik ndakik pada waktu itu. Yesus terkesan menganggap bahwa manusia lebih penting dari system. Tapi Yesus sendiri menyatakan dia tidak menolak peraturan, tetapi perilakunya kadang2 sengaja menabrak norma2 yang berlaku pada jaman itu. Bener iya.

Lha tentu kita tidak cuma melihat Yesus belok kanan terus semua belok kanan, tetapi mengapa Yesus belok kanan? Gicu lho. Misalnya karena mobil sak penumpangnya keluar jalur ke kiri sehingga Yesus perlu belok kanan. Yang perlu dilihat bukan cuma beloknya tetapi mengapanya perlu dilihat juga…Terlepas memang bisa saja ada perbedaan dalam menganalisa mengapanya itu tadi.

b) Bagaimana Anda menjelaskan larangan memakan buah dari POHON KEHIDUPAN namun kemudian Allah memberikannya kepada manusia? ===> Saya ngobrol sama ImanKristen soal ini sampe sama2 mules. Lha sekarang malah kau tanyakan ke aku pula ?? :) Jangan2 aku kuwalat sama dia. .. :)

Termasuk ayat-ayat dari Mas Ikutan itu loh. Masih inget kan? ==> Nggak inget..:) Kalo masalah Sifat2 Allah itu sudah tak bahas ya…:) Ayo dibaca lagi Mas…

SALAM

@Mas Lovepassword,

Wakakaka…

LP:
@Mas Dewo : Senengnya kok menjebak jebak gitu lho. Hi Hi Hi

Padahal saya kalo ada jebakan kadang sengaja nyemplung lho…:)

Mari kita masuk ke jebakan2 yang lain.

LP:
Ya kalo itu mah suka suka Parhobasslah. Pendapatku ya pendapatku pendapat Parhobass ya Parhobass. Aku bisa sependapat maupun tidak sependapat dengan siapa saja kan.. ?

Nah ini dia… Maksud saya adalah bahwa Mas Parhobass itu jagoan Alkitab loh! Namun dia tidak menafsirkannya seperti Anda. Tapi Anda benar, pendapat Anda bisa beda. Seperti juga pendapat saya yang beda dengan yang ada di sini.

LP:
Di dalam istilah Jawa, kata yang tepat untuk menggambarkan itu adalah gelo. :)

O le le tole kamu itu dikasih saran yang baik kok ya menolak terus…

Kalau tdk salah gelo itu sama dengan gethun ya? Hihihi…

Nah… Seperti pendapat Anda, bahwa kita bisa punya pendapat yang berbeda, demikian pula dengan saya. Ya tho? Boleh dong saya punya pendapat beda? Asal bukan karena ingin tampil beda aja, tapi saya punya dasar-dasarnya. Iya tho?

LP:
Bagaimana kalo kalimatnya kamu balik sedikit, saya telah menunjukkan ayat yang menyatakan bahwa Allah Tidak bisa menyesal , apakah kamu masih berpikir Allah bisa menyesal ? Gimana coba jawabannya??? hi hi hi

Hihihi juga… Justru karena itulah saya ingin menunjukkan sebaliknya. Bukankah anggapan umum berkata bahwa Allah itu tidak bisa menyesal? Namun saya menunjukkan sebaliknya.

Seperti ketika Anda bilang bahwa Allah itu tidak bisa melawan sifat-Nya, namun saya menunjukkan sebaliknya.

Ketika Mas Parhobass bicara tentang integritas Allah, saya pun menunjukkan banyak hal yang patut dipertimbangkan berkenaan dengan integritas. Betul?

LP:
Solusinya gampang : Agar kamu nggak terlalu pusing yah kamu artikan saja dua kata itu dengan arti yang berbeda :) Satu kata artinya beberapa macam kan masih mungkin :)

Sejatinya bukan saya yang pusing, tapi justru saya yang sedang membuat pusing semuanya. Hihihi… Saya sedang mendobrak keyakinan Anda semua. Iya tho? Menariknya adalah karena kini Anda justru membela Kristen.

LP:
Tapi subtansi dari contoh abcde itu saya nangkep, kayaknya sih.
Intinya mengapa ada perubahan? Kamu tanya ini kan. Mengapa suatu waktu Allah menyuruh A, di lain waktu B misalnya … Inti pertanyaanmu gitu kan ?

You’ve got the point Bro. Sebentar lagi saya akan mengobrak-abriknya lagi.

LP:
Pertama: Karena proses [...]
Kedua: Karena sikon. [...]
Ketiga: Untuk saling menyeimbangkan. [...]

Hihihi… Anda masuk lubang jebakan. Justru inilah yang ingin saya tunjukkan kepada Anda karena akan menyelaraskan pola pikir kita dulu.

LP:
Nggak mudeng? Gini gambarannya : [...]

Mudheng banget Mas. Justru Andalah yang menguatkan pendapat saya. Sebentar lagi akan saya jelaskan.

LP:
[...] Tapi Yesus sendiri menyatakan dia tidak menolak peraturan, tetapi perilakunya kadang2 sengaja menabrak norma2 yang berlaku pada jaman itu. Bener iya.

Saya pun sedang berupaya mendobrak pemikiran kita semua yang sudah mapan selama ini. Mari kita bahas bersama-sama. Namun sebelumnya, perkenankanlah saya menyebutkan ke-3 jawaban Anda itu sebagai “Tiga Alasan Allah versi LP.” Setuju? Setuju.

1. Ke-”Tiga Alasan Allah versi LP” ini sudah menjelaskan bahwa Allah pun BISA BERUBAH. Pada beberapa contoh mungkin kasusnya dianggap ringan. Namun pada beberapa kasus bisa saja disebut kasus berat. Namun pada intinya adalah bahwa Allah BISA BERUBAH. Apa yang ditetapkan dahulu bisa berubah di kemudian hari. Apa yang difirmankan BISA BERUBAH. Penjelasan atas pertanyaan “mengapa” bisa dibaca di “Tiga Alasan Allah versi LP.”

2. Perubahan ini sejatinya bukan dari sisi manusia saja, tapi juga dari sisi Allah. Bukan hanya adanya proses, sikon dan keseimbangan di sisi manusia, tapi juga Allah bisa berubah. Ini menjelaskan argumen Mas Parhobass bahwa ALLAH BERBALIK ARAH. Dalam diskusi di atas saya berupaya menjelaskan bahwa Allah berbalik arah karena menyesal. Namun kata “MENYESAL” yang saya tonjolkan ditolak mentah-mentah karena dianggap terjemahannya tidak tepat. Kasihan kau LAI. Hiks…

3. Apakah perubahan Allah ini dinilai buruk? Tentu kita semua sepakat: TIDAK. Dan kita semua setuju apa yang dilakukan Allah SELALU BAIK dan SAH. Namun kita tidak bisa memungkiri bahwa ALLAH BISA BERUBAH. Kata BISA BERUBAH ini menjelaskan banyak hal, termasuk ALLAH BISA BERUBAH sifat-Nya atau BERUBAH ketetapan-Nya. Mas Parhobas telah dengan fasih menjelaskan “ALLAH BERBALIK ARAH.” Mengapa “BISA BERUBAH” ini tidak bisa dikenakan kepada sifat-Nya yang lain? Bagaimana dengan Maha Pengasih dibandingkan dengan YANG MENGHUKUM?

Kalau Mas LP lupa ayat yang dikutip Mas Ikutan, perkenankanlah saya mengingatkan Mas LP.

Ikutan:
padahal pembelaannya gigihnya ini agak unik jika kita melihat pada Asma-Ul-Husna, bagaimana allah dikatakan juga sebagai ;

- Al Afuww العفو Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf VS Al Muntaqim المنتقم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa
- As Salaam السلام Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan VS Ad Dhaar الضار Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita
- Al Mu`izz المعز Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya) VS Al Mudzil المذل Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya)

Hayo… sudah ingat kan?

Ehm… kok Anda belum komen tentang POHON KEHIDUPAN? Hihihi… kayaknya bakal menarik untuk dibahas lain waktu.

Salam.

@Mas Dewo : Nah ini dia… Maksud saya adalah bahwa Mas Parhobass itu jagoan Alkitab loh! Namun dia tidak menafsirkannya seperti Anda. Tapi Anda benar, pendapat Anda bisa beda. Seperti juga pendapat saya yang beda dengan yang ada di sini.
===> Iya dia itu emang jagoan :) Saya rasa kamu ngasih silverqueen ke aku, karena akibat keusilanku kalian bisa berdiskusi sedemikian romantis.. :)

Kalau tdk salah gelo itu sama dengan gethun ya? Hihihi…==> Iya , asal bukan gethuk saja.

Nah… Seperti pendapat Anda, bahwa kita bisa punya pendapat yang berbeda, demikian pula dengan saya. Ya tho? Boleh dong saya punya pendapat beda? Asal bukan karena ingin tampil beda aja, tapi saya punya dasar-dasarnya. Iya tho? ===> Kamu punya argumentasi yang bagus. :) Silahkan diteruskan MAs..:)

Sejatinya bukan saya yang pusing, tapi justru saya yang sedang membuat pusing semuanya. Hihihi… Saya sedang mendobrak keyakinan Anda semua. Iya tho? Menariknya adalah karena kini Anda justru membela Kristen. ===> Jadi Kristen merasa sedang saya bela ya….? Hi Hi hi Baguslah …. Kalo ada yang merasa kubela…

Tapi ada satu hal yang bagus juga. Kalian kan hobinya nyamber Islam kadang2. Lha sejak beberapa hari yang lalu kalian sudah tidak melakukan itu karena kalian memilih intens berdiskusi mengenai hal yang memang lebih penting ketimbang selalu mengomeli agama lain , selalu menyalahkan , mencari kambing hitam, dsb. Itu memang jauh lebih bagus buat kalian. Sehingga masing2 jadi lebih kritis . Kalian makin hari tampak makin pinter2 lho…..Hi Hi Hi.

RAS memang benar, dia baik hati yah… ?:) :)
Tapi kalo kritis beraninya cuma kritis sama agama lain, ya itu anak TKkan ? Dalam hal ini kamu tidak terlalu TK Mas Dewo… :) :)

You’ve got the point Bro. Sebentar lagi saya akan mengobrak-abriknya lagi. ==> Setelah mengobrak-abrik jangan lupa dibereskan lagi lho.

Hihihi… Anda masuk lubang jebakan. Justru inilah yang ingin saya tunjukkan kepada Anda karena akan menyelaraskan pola pikir kita dulu. ===> Lha wong aku sudah bilang emang pengin masuk kok.

==========================================
Saya pun sedang berupaya mendobrak pemikiran kita semua yang sudah mapan selama ini. Mari kita bahas bersama-sama. Namun sebelumnya, perkenankanlah saya menyebutkan ke-3 jawaban Anda itu sebagai “Tiga Alasan Allah versi LP.” Setuju? Setuju.

1. Ke-”Tiga Alasan Allah versi LP” ini sudah menjelaskan bahwa Allah pun BISA BERUBAH. Pada beberapa contoh mungkin kasusnya dianggap ringan. Namun pada beberapa kasus bisa saja disebut kasus berat. Namun pada intinya adalah bahwa Allah BISA BERUBAH. Apa yang ditetapkan dahulu bisa berubah di kemudian hari. Apa yang difirmankan BISA BERUBAH. Penjelasan atas pertanyaan “mengapa” bisa dibaca di “Tiga Alasan Allah versi LP.”

2. Perubahan ini sejatinya bukan dari sisi manusia saja, tapi juga dari sisi Allah. Bukan hanya adanya proses, sikon dan keseimbangan di sisi manusia, tapi juga Allah bisa berubah. Ini menjelaskan argumen Mas Parhobass bahwa ALLAH BERBALIK ARAH. Dalam diskusi di atas saya berupaya menjelaskan bahwa Allah berbalik arah karena menyesal. Namun kata “MENYESAL” yang saya tonjolkan ditolak mentah-mentah karena dianggap terjemahannya tidak tepat. Kasihan kau LAI. Hiks…

3. Apakah perubahan Allah ini dinilai buruk? Tentu kita semua sepakat: TIDAK. Dan kita semua setuju apa yang dilakukan Allah SELALU BAIK dan SAH. Namun kita tidak bisa memungkiri bahwa ALLAH BISA BERUBAH. Kata BISA BERUBAH ini menjelaskan banyak hal, termasuk ALLAH BISA BERUBAH sifat-Nya atau BERUBAH ketetapan-Nya. Mas Parhobas telah dengan fasih menjelaskan “ALLAH BERBALIK ARAH.” Mengapa “BISA BERUBAH” ini tidak bisa dikenakan kepada sifat-Nya yang lain? Bagaimana dengan Maha Pengasih dibandingkan dengan YANG MENGHUKUM?

==> Substansi dari 3 alasanku itu bukan gitu.

Ada mobil mau ke Jakarta misalnya. Tujuan awalnya ya Jakarta tidak berubah.

Lha masalah untuk ke Jakarta orang perlu menginjak gas, perlu ngerem, perlu lurus, perlu belok kanan dan belok kiri . Itu tidak bisa kita artikan bahwa belok kanan berlawanan dengan belok kiri , semata-mata dari sisi itu.

Begitu juga dalam beragama. Konsep agama secara umum kalo dalam bahasa dangdut : Yang sedang2 saja …dalam arti Jalan Tengah gitu yah.

Memang ada aturan main, tetapi konsepnya bukan untuk membebani. Itu konsep yang ada dalam banyak agama, entah itu Islam, Kristen bahkan Buddha pun juga demikian kan. Ibadah itu tidak pernah dimaksudkan untuk membebani.

Misalnya ada: SIKON pada suatu jaman yang terlalu lebay menekankan pada peraturan bahkan aturan dibuat jadi jauh lebih sulit, sehingga agama malah jadi tekanan ketimbang rahmat, ya itu diperingatkan : Jangan lebay, jangan melampaui batas. Jangan mendewakan aturan, DSB

Sekarang misalnya SIKONnya lain, masyarakat nggak perduli aturan yang baik, ya diperingatkan : Taatilah aturan.

Apakah itu berlawanan? Ya lihatlah substansinya : Jalan Tengah itu.

Ada proses yang mesti dilihat, ada keseimbangan manusia yang perlu dilihat. Bukan cuma sekedar belok kirinya saja yang dilihat terus dibenturkan dengan belok kanan. Tetapi subtansi baik belok kiri maupun belok kanan maupun jalan lurus, bahkan ngerem itu apa? Ya perlu dilihat sebagai satu kesatuan untuk mewujudkan tujuan.

Allah tidak berubah dalam arti Allah ingin manusia menjadi A, atau gampangannya Allah ingin kamu ke Jakarta misalnya – tetapi ada proses demi proses menuju manusia jadi A itu atau dalam proses supaya manusia sampe ke Jakarta. Manusia perlu diarahkan kadang untuk belok kanan, kadang untuk belok kiri, ngerem dsb. Jangan dilihatnya Allah menyarankan yang bertentangan hari ini nyuruh belok kanan kemarin nyuruh belok kiri.

Kalau Mas LP lupa ayat yang dikutip Mas Ikutan, perkenankanlah saya mengingatkan Mas LP.

Ikutan:
padahal pembelaannya gigihnya ini agak unik jika kita melihat pada Asma-Ul-Husna, bagaimana allah dikatakan juga sebagai ;

– Al Afuww العفو Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf VS Al Muntaqim المنتقم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa
– As Salaam السلام Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan VS Ad Dhaar الضار Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita
– Al Mu`izz المعز Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya) VS Al Mudzil المذل Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya)

Hayo… sudah ingat kan?

===> Ini sudah tak jawab. Substansinya ya sama. Kapan Allah menghinakan dan kapan memuliakan.
Yang dihinakan siapa? Yang dimuliakan siapa? Bukan cuma kata menghinakannya yang kamu benturkan dengan kata memuliakan. tetapi subtansinya apa..gicu kan.

Yang dihinakan kan ya yang tidak benar, yang dimuliakan yang benar. Jadi substansinya bukannya bertentangan kan.. ?

@Mas Lovepassword,

Lho?

LP:
Substansi dari 3 alasanku itu bukan gitu.

Bukan begitu tho?

LP:
Ada mobil mau ke Jakarta misalnya. Tujuan awalnya ya Jakarta tidak berubah.

Oh kayaknya berubah konteks ya?
Tapi komennya bagus banget, saya pernah baca analogi seperti ini. Justru itulah konsep Alkitab secara keseluruhan, yaitu keselamatan manusia sepanjang masa.

Namun itu jika kita memahaminya secara keseluruhan, yaitu sepanjang hidup manusia di dunia ini. Kenyataannya ada begitu banyak time-frame yang tidak sinkron dengan tujuan semula. Seperti contoh saya sebelumnya, misalnya pada masa Abraham, bukankah Allah berubah dari mengorbankan Ishak menjadi domba? Kristiani sendiri percaya bahwa ini adalah simbol penebusan Kristus. Namun pada masa itu belum dikenal penebusan. Persepsi kita (jika hidup di zaman itu) tentu agak masygul juga ketika Allah memerintahkan Abraham utk mengorbankan Ishak.

Seperti juga pada jaman Yunus. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada manusia dengan membatalkan hukumannya. Sampai-sampai Yunus pun sewot karena pembatalan ini.

Di sisi lain Anda benar bahwa Allah tidak berubah. Kalau Anda bilang Allah tidak berubah dalam arti Allah ingin manusia menjadi A, maka saya berkata bahwa Allah tidak berubah dalam hal kasih-Nya kepada manusia.

Namun pada beberapa time-frame, saya menunjukkan kepada Anda bahwa Allah juga pernah berubah. Allah juga pernah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sifat-Nya. Bahkan Allah juga bisa kejam.

Di sinilah yang ingin saya tekankan sejak awal, yaitu Allah pernah melakukan pemusnahan manusia, dll. Bukan berarti saya sedang tidak percaya kepada Allah, tapi saya ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa Allah memang pernah melakukan & merasakan semua itu.

Di komen Anda, jelas Anda lebih senang memandangnya secara keseluruhan dan mengabaikan beberapa masa yang buruk. Dan bersyukurlah kita karena kita dapat menikmati Alkitab yang telah lengkap (paripurna). Namun kita tidak boleh mengabaikan masa-masa yang tidak mengenakkan itu. Ya tho?

Kalau Anda ingin mempelajari Allah, maka ya harus mempelajari pula mengapa Allah pada masa-masa tertentu bisa berbuat & merasakan seperti itu.

@Mas Dewo : Time Frame yang tidak sinkron dengan tujuan… Saya rasa ya mestinya sinkron. :) Mengapa dianggap tidak sinkron ya karena melihatnya parsial.

Kalo bicara keseluruhan atau tidak keseluruhan ya setiap jaman memang punya time frame masing2. Tetapi juga selalu harus dilihat ada juga sisi yang lebih universal atau tidak terikat time frame. Lha lihat saja itu, mobil ini tujuannya membawa ke Jakarta, bukan justru dilihat sopirnya gendeng, tadi belok kanan eh sekarang belok kiri. Dasar sopir nggak konsisten.
Konsisten atau dalam bahasamu integritas ya mestinya juga dilihat dari sisi tersebut. Bukan sekedar karena tadi belok kanan sekarang belok kiri berarti berlawanan , kehilangan integritas, dsb .

SALAM

@Mas Lovepassword,

Nah ini dia…

LP:
@Mas Dewo : Time Frame yang tidak sinkron dengan tujuan… Saya rasa ya mestinya sinkron. :) Mengapa dianggap tidak sinkron ya karena melihatnya parsial.

Justru inilah, karena kita melihatnya parsial. Dan sayangnya PARSIAL di sini bisa berarti suatu masa, bahkan dalam ukuran abad. Ingatkan Anda bahwa Allah telah meninggalkan & menyerahkan bangsa Israel selama 400+ tahun? Itu 4 abad loh!

Kecuali kalau usia orang itu 10 abad, barulah dia bisa melihatnya secara menyeluruh. Itu pun tentu setelah di akhir usianya, barulah dia bisa melihatnya secara menyeluruh.

LP:
Kalo bicara keseluruhan atau tidak keseluruhan ya setiap jaman memang punya time frame masing2. Tetapi juga selalu harus dilihat ada juga sisi yang lebih universal atau tidak terikat time frame.

Nah ini dia… Saya justru mengajak kita semua menyelami & memahami suatu time frame di mana Tuhan pun pernah berlawanan dengan nature-Nya. Karena manusia pada saat time-frame tersebut ya tentu menilainya demikian.

Kalau kita bisa sedikit melihatnya secara menyeluruh & universal, itu karena kita telah mendapatkan Alkitab yang paripurna.

LP:
Lha lihat saja itu, mobil ini tujuannya membawa ke Jakarta, bukan justru dilihat sopirnya gendeng, tadi belok kanan eh sekarang belok kiri. Dasar sopir nggak konsisten.

Cobalah Anda memahaminya begini: mobil ini tujuannya membawa kita semua ke Jakarta. Namun karena saking jauhnya, maka perjalanan ini membutuhkan beberapa abad. Otomatis sopirnya pun sudah regenerasi. Misalkan saja sopirnya butuh 10 generasi.

Lha penilaian sopir di generasi 1 dengan yang generasi 2 tentu berbeda. Demikian pula dengan generasi sopir berikutnya.

Lha kita ini penumpan di generasi terakhir yang sudah hampir sampai di Jakarta. Ibaratnya sudah masuk tol Cikampek. Ya tentu jalannya mulus-mulus saja. Dan kita bisa becanda-becanda sambil membaca pengalaman dari sopir-sopir & penumpang-penumpang di generasi sebelumnya.

LP:
Konsisten atau dalam bahasamu integritas ya mestinya juga dilihat dari sisi tersebut. Bukan sekedar karena tadi belok kanan sekarang belok kiri berarti berlawanan , kehilangan integritas, dsb .

BTW, konsisten beda dengan integritas loh. Hihihi…

Lalu bagaimana Anda bisa menjelaskan kisah pengorbanan Ishak? Bukankah Allah telah berfirman dan kemudian membatalkannya?

GBU.

@Mas Lovepassword,

Kemajuan…

LP:
Ini sudah tak jawab. Substansinya ya sama. Kapan Allah menghinakan dan kapan memuliakan.
Yang dihinakan siapa? Yang dimuliakan siapa? Bukan cuma kata menghinakannya yang kamu benturkan dengan kata memuliakan. tetapi subtansinya apa..gicu kan.

Paling tidak, Anda sudah mengakui bahwa Allah pun punya perasaan negatif (lihat penggaris tak terhingga). Ya tho?

LP:
Yang dihinakan kan ya yang tidak benar, yang dimuliakan yang benar. Jadi substansinya bukannya bertentangan kan.. ?

Paling tidak, Anda sudah mengakui bahwa Allah pun pernah bertindak yang negatif (lihat penggaris tak terhingga). Ya tho?

Salam.

@Mas Dewo : Kamu itu pinter juga ya…padahal bener dugaanku..Omonganmu cepat atau lambat pasti bakal diprotes kanan kiri. Tapi biarpun banyak yang protes , gigih juga kamu bertahan. Hi Hi Hi

Ingat ya mas, setelah dirobohkan jangan lupa dibangun lagi. Agama memang jangan sampai jadi fosil bangunan usang. Tetapi perlu juga dilihat sih : Merobohkan itu gampang, lha untuk membangun itu yang rada sulit. :) Kalo kamu berniat merobohkan pikiran2 yang memfosil, baguslah itu. )
=============================================

Paling tidak, Anda sudah mengakui bahwa Allah pun punya perasaan negatif (lihat penggaris tak terhingga). Ya tho?

Paling tidak, Anda sudah mengakui bahwa Allah pun pernah bertindak yang negatif (lihat penggaris tak terhingga). Ya tho?

==> Hush , kapan juga aku pernah mengaku. Hi Hi hi.
Perasaan kemarin2 aku memberikan analogi : Adakah tanah liat protes kepada pembuatnya . Ini menandakan apa ? Ya manusia tidak layak menilai Allah secara negatif. Konteks ayat yang kuberikan kan seperti itu. Bener nggak ? Jangan ngomong soal segala macam animasi, komik lagii lho yah…Hi Hi Hi

Salam Mas Dewo
GBU

@Mas Lovepassword,

Hallo mas LP.

LP:
Ingat ya mas, setelah dirobohkan jangan lupa dibangun lagi. Agama memang jangan sampai jadi fosil bangunan usang. Tetapi perlu juga dilihat sih : Merobohkan itu gampang, lha untuk membangun itu yang rada sulit. :) Kalo kamu berniat merobohkan pikiran2 yang memfosil, baguslah itu. )

Hihihi… saya tidak sedang merobohkan loh. Hem… saya cuma mendobrak. Dan sedikit menggelitik. Hihihi…

LP:
Hush , kapan juga aku pernah mengaku. Hi Hi hi.

Hihihi… Mosok lupa sih. Tuh ke atas dikit, tentang menghinakan & memuliakan. Di atasnya lagi ada juga kok. Itu mengindikasikan bahwa Allah pernah berbuat menghinakan.

Lalu bagaimana dengan penjelasan tentang memusnahkan, membunuh, berbohong, dll? Itu kan terjadi pada suatu time-frame yang pada saat itu tentunya manusia menilainya berbeda dengan jika kita memaknainya sekarang saat Alkitab itu sudah paripurna.

LP:
Perasaan kemarin2 aku memberikan analogi : Adakah tanah liat protes kepada pembuatnya . Ini menandakan apa ? Ya manusia tidak layak menilai Allah secara negatif. Konteks ayat yang kuberikan kan seperti itu. Bener nggak ? Jangan ngomong soal segala macam animasi, komik lagii lho yah…Hi Hi Hi

Lho? Manusia itu ya biasalah kalau suka menilai. Terutama apa yang dirasakannya. Nah, apalagi apa yang dirasakan itu terjadi dalam suatu masa di sepanjang hidupnya. Jadi penilaiannya yang di sepanjang hidupnya itu.

GBU

@Mas Parhobass,

Hem…

P:
menyesal di sini menjelaskan tentang rasa yang diakibatkan oleh perbuatan berdosa…

manusia bisa berbuat, yang salah satunya bisa dosa, dan kalau ia menyadarinya, ia bisa bertobat,… rasa bersalah bisa timbul dari keadaan telah berbuat dosa tadi, itu disebut menyesal, yang mana TUHAN tidak berdosa….

Saya sudah katakan bahwa menyesal itu TIDAK SELALU dalam konteks berdosa. Bahkan belum bertindak pun kita bisa menyesal. Silakan baca Yunus dan dari terjemahan kata apa kata “MENYESAL” di kisah Yunus? Apakah NACHAM? Atau yang lain?

Atau Anda bisa memaknai MENYESAL di situ dengan kata yang berbeda?

P:
TUHAN berbicara/berfirman pasti terjadi, artinya IA ALLAH yang BERINTEGRITAS… ketika IA berkata ada hukuman kepada dosa, maka hukuman itu benar2 ada bagi yang melanggar….

Bagaimana dengan kasus Yunus? Bukankah Allah berfirman namun kemudian tidak dilakukannya?

P:
Karena hukuman yang berat yang telah diucapkan itulah maka TUHAN menyayangkan, TUHAN menyesal…

P:
Apakah Adil TUHAN menghukum?
TUHAN pertama memberkati dulu, tetapi TUHAN mengharapkan manusia berintegritas seperti DIA adalah BERINTEGRITAS,… sayangnya manusia memiliki kecenderungan untuk melawan image ALLAH yang diberikan kepadanya….kecenderungan inilah yang menjadikan TUHAN berbalik arah, dari Yang mengasihi menjadi Yang menghukum…

Inilah yang menarik…
Anda sendiri menyatakan bahwa Allah berbalik arah, dari Yang Mengasihi menjadi Yang Menghukum. Mungkinkah Anda setuju dengan pendapat saya ketika saya berdiskusi dengan Mas LP tentang Allah bisa berlawanan dengan sifat-Nya?

P:
[...] Apakah TUHAN menyesal bahwa YESUS hadir, yang mana tidak semua percaya, artinya masih ada yang tidak percaya? TIDAK, sebab TUHAN tidak berdosa… IA BERINTEGRITAS, IA TAHU APA YANG IA LAKUKAN… tidak seperti manusia…

Lho? Saya tidak bilang kalau Tuhan menyesal bahwa Yesus hadir loh!

P:
dari ayat kutipan ini, kita bisa mereset diskusi kita yang puannjang di atas…

Dari semua penjelasan Anda, sejatinya Anda telah membuktikan bahwa pendapat saya dalam berdiskusi dengan Mas LP adalah benar, yaitu bahwa Allah bisa bertentangan dengan sifat-Nya. Bukankah berbalik arah itu sudah menunjukkannya?

Dan alur pendapat saya (yg tetap konsisten) adalah menyatakan bahwa Allah dapat bertentangan (saya lebih suka menyebutkannya dengan kata MELAMPAUI karena ada tujuan yang lebih besar di baliknya) dengan sifat-Nya. Versi Anda menuliskan bahwa Allah itu Maha Pengasih kemudian berbalik menjadi Yang Menghukum.

Dari semua pendapat saya tentang berlawanan dengan sifat-Nya ini kemudian saya tunjukkan bahwa Allah pun pernah menyesal atas semua malapetaka yang pernah ditimpakan kepada manusia. Tidak hanya yang sudah ditimpakan, tapi juga yang sudah dirancang namun belum terjadi. Bahwa Allah telah merancangkan hukuman, namun karena manusia bertobat, maka karena belas kasih-Nya, Allah menyesal telah merancang hukuman itu.

Dalam tafsiran Anda bahwa MENYESAL di sini ditafsirkan sebagai BERBALIK ARAH, sejatinya saya tidak terlalu mempermasalahkan, karena sejatinya yang ingin saya tunjukkan adalah bahwa Allah dapat dan pernah berlawanan dengan sifat-Nya. Bahkan secara tidak sadar Anda telah mendukung pendapat saya?

~~~

Mengenai INTEGRITAS, saya rasa kita harus memahaminya dengan melihat konteksnya. Ketika Anda secara kaku memaknai bahwa apa yang sudah difirmankan harus terjadi, sebenarnya ini bertentangan dengan kisah Yunus.

Saya melihatnya begini: bahwa apa yang sudah direncanakan & difirmankan, bisa saja berubah jika ada sesuatu yang mempengaruhinya. Lihat kasus Yunus, di situ jelas ditampakkan bahwa Allah membatalkan hukuman kepada Niniwe karena seluruh bangsa bertobat. Allah yang Maha Pengasih itu lebih memilih membatalkan rencana-Nya.

Contoh yang lain adalah pengorbanan Ishak sebagai korban bakaran. Bukankah Allah telah berfirman & menetapkannya? Bukankah kemudian korban Ishak digantikan oleh domba?

Bagaimana Anda menilai INTEGRITAS Allah di sini?

Syaloom.

@Mas Parhobass,

Eh, kayaknya komen saya di atas itu salah komen ya? Kayaknya komen Mas Parhobass itu sedang menjelaskan ayat Bilangan 23:19 ya?

Bilangan 23:19
Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

Maaf kalau salah sambung, karena penjelasannya rada jauh dari Bilangan 23:19. Jadi saya pikir masih menjelaskan konteks MENYESAL secara umum.

Tapi kalau komen saya di atas ditanggapi juga boleh kok. Hihihi…

@mas Dewo;
sekali lagi saya paste di sini dari KBBI;

me·nye·sal (kata kerja)
merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)

perhatikan defenisi yang diberikan KBBI…yang saya bold.

kurang baik itu diidentikkan dengan dosa atau kesalahan…

pertanyaannya apakah TUHAN BERDOSA?
inilah yang dijelaskan di BILANGAN kutipan saya, BAHWA TUHAN tidak BERDOSA,..

nah jelas ALKITAB berbahasa INDONESIA menuliskan TUHAN menyesal,…

1. TUHAN tidak berdosa/tidak menyesal
2. TUHAN menyesal

kalau kita bandingkan “menyesal” di point 2 terhadap point 1, maka ada kontradiksi…

timbul pertanyaan..
apakah Alkitab (LAI) kontradiksi? TIDAK

caranya?

dengan cara mengerti makna di balik MENYESAL…
bagaimana caranya mencari makna dibaliknya?

dengan membandingkan berbagai terjemahan, karena LAI sepertinya tidak mengikut sertakan kamus Alkitab berbhs indonesia bagi umum seperti halnya terjemahan2 lainnya….

disitulah point utama saya…

P:
Apakah Adil TUHAN menghukum?
TUHAN pertama memberkati dulu, tetapi TUHAN mengharapkan manusia berintegritas seperti DIA adalah BERINTEGRITAS,… sayangnya manusia memiliki kecenderungan untuk melawan image ALLAH yang diberikan kepadanya….kecenderungan inilah yang menjadikan TUHAN berbalik arah, dari Yang mengasihi menjadi Yang menghukum…

Inilah yang menarik…
Anda sendiri menyatakan bahwa Allah berbalik arah, dari Yang Mengasihi menjadi Yang Menghukum. Mungkinkah Anda setuju dengan pendapat saya ketika saya berdiskusi dengan Mas LP tentang Allah bisa berlawanan dengan sifat-Nya?

Diskusi ini memang memakan waktu yang panjang,
tetapi coba Anda cari kata WAJAH di bahasa Ibrani, dan arti SISA YANG Sedikit perihal AKHIR ZAMAN…

@Mas Parhobass,

Kayaknya ada yg salah nih…

P:
sekali lagi saya paste di sini dari KBBI;

me·nye·sal (kata kerja)
merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)

Nampak bahwa Anda mengimani KBBI. Namun Anda salah besar. Perhatikan dulu bagian yang saya tebalkan. Nanti akan saya jelaskan kemudian.

P:
kurang baik itu diidentikkan dengan dosa atau kesalahan…

Di sinilah letak kesalahan Anda, yaitu mengidentikkan “kurang baik” dengan “dosa atau kesalahan.” Namun Anda melupakan “dsb”-nya. Hihihi… di sini saya cuman menggelitik logika Anda.

Yang saya pahami adalah bahwa “sesuatu yang kurang baik” itu memang bisa BERUPA dosa, kesalahan, dsb. Namun BUKAN BERARTI “sesuatu yang kurang baik” itu adalah DOSA. Buktinya apa? Ya tolong perhatikan kata “dsb” di situ. Hihihi…

Jadi makna kata2 dalam tanda kurung itu menjelaskan contoh dari “sesuatu yang kurang baik”, namun TIDAK SELALU, karena bisa saja iya atau bisa saja tidak. Tuh ada kata “dsb”-nya.

Karena “kurang baik” itu relatif. Sedangkan DOSA pastilah TIDAK BAIK. Sedangkan KESALAHAN bisa saja masuk kategori “kurang baik” karena belum tentu kesalahan itu menjadi TIDAK BAIK.

Contohnya begini, apakah Anda yakin bahwa KESALAHAN itu SELALU DOSA? Tentu Anda menjawabnya TIDAK, karena kesalahan yang tidak disengaja, atau kesalahan kecil saja, banyak yang tidak masuk kategori DOSA. Dari sini saja sudah jelas bahwa KESALAHAN tidak serta merta DOSA. Jadi KESALAHAN pun TIDAK IDENTIK DENGAN DOSA. Lalu apa dasarnya Anda mengidentikkan “sesuatu yang kuran baik” dengan “DOSA”?

Argumen Anda tentu lemah sekali.

P:
pertanyaannya apakah TUHAN BERDOSA?
inilah yang dijelaskan di BILANGAN kutipan saya, BAHWA TUHAN tidak BERDOSA,..

Di sini tidak ada yang mengatakan & bertanya kalau TUHAN BERDOSA loh!

P:
dengan membandingkan berbagai terjemahan, karena LAI sepertinya tidak mengikut sertakan kamus Alkitab berbhs indonesia bagi umum seperti halnya terjemahan2 lainnya….

disitulah point utama saya…

Saya rasa di terjemahan lain pun banyak yang menggunakan kata “MENYESAL” dan tidak selalu terjemahan dari NACHAM. Ya tho?

Dari ke-2 poin tersebut, nampaknya supaya poin 1, yaitu Allah TIDAK BERDOSA/TIDAK MENYESAL adalah benar, maka Anda lebih memilih melemahkan arti/makna poin ke-2. Nampaknya ke-2 poin ini memang kontradiksi. Namun saya bilang: TIDAK. Sejatinya kalau Anda melihat komen Mas LP, di situ nampak penjelasan detailnya, yaitu bahwa kadang dalam perjalanan itu perlu belak-belok & tidak selalu lurus dan mulus.

Karena ketika Allah mendampingi manusia, maka Allah pun harus bekerja di dalam sistem kehidupan, yaitu memasuki dimensi ruang & waktu kita. Tentu dalam perjalanan ruang & waktu ini pun terjadi banyak hal, seperti yang tertulis di Alkitab.

Mengenai berbagai terjemahan Alkitab, saya rasa upaya membandingkan berbagai terjemahan Alkitab bukanlah kapasitas setiap umat Kristen.

P:
Diskusi ini memang memakan waktu yang panjang,
tetapi coba Anda cari kata WAJAH di bahasa Ibrani, dan arti SISA YANG Sedikit perihal AKHIR ZAMAN…

Hihihi… iya, memang diskusi yg panjang banget. BTW, ada apa dengan WAJAH? Maaf, saya tidak bisa bahasa Ibrani. Silakan dijelaskan kepada saya.

Terima kasih.

@Mas Dewo,
sepertinya koq semakin rancu yah…

KBBI mencatat bahwa kata “menyesal” itu identik dengan berbuat kesalahan atau dosa….

jadi bukan saya…. paham ngga sampai di sini?

nah kalau kita gunakan pemahaman KBBI ini, maka

dengan mengambil kalimat “TUHAN MENYESAL” itu identik dengan “TUHAN BERDOSA”

paham sampai di sini?

@Mas Parhobass,

Hihihi… pasti Anda terjebak saat saya bilang “mengimani KBBI”.

P:
sepertinya koq semakin rancu yah…

KBBI mencatat bahwa kata “menyesal” itu identik dengan berbuat kesalahan atau dosa….

jadi bukan saya…. paham ngga sampai di sini?

Jadi bukannya saya ngga mudheng & rancu. Cuma definisi yang Anda ambil dari KBBI itu justru dipahami oleh Anda secara membabi buta. Sehingga saya pun bilang Anda “mengimani”. Hihihi…

P:
nah kalau kita gunakan pemahaman KBBI ini, maka

dengan mengambil kalimat “TUHAN MENYESAL” itu identik dengan “TUHAN BERDOSA”

paham sampai di sini?

Justru di sinilah saya menggelitik Anda. Karena Anda menyakini KBBI 100% secara tekstual, padahal yang dalam tanda kurung itu tidak serta merta IDENTIK dengan kata “sesuatu kurang baik.”

Penjelasan mengenai sanggahan saya kepada komen IDENTIK Anda sudah saya sampaikan di atas. Justru saya yang perlu bertanya kepada Anda: “mudheng nggak maksud saya?” Hihihi…

Oh iya, saya tunggu penjelasan Anda tentang WAJAH ya?

@Dewo,
Hihihi… pasti Anda terjebak saat saya bilang “mengimani KBBI”.
yah Anda ahli dalam hal jebak menjebak…yang mana saya tidak terjebak

Jadi bukannya saya ngga mudheng & rancu. Cuma definisi yang Anda ambil dari KBBI itu justru dipahami oleh Anda secara membabi buta. Sehingga saya pun bilang Anda “mengimani”. Hihihi…

me·nye·sal v
merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb): jangan – kelak kalau engkau tidak lulus ujian tahun ini;

sesuatu yang kurang baik itu diberikan penekanan berupa dosa, kesalahan dsb

sebagai ahli menjebak, menurut apakah orang bisa terjebak didefenisi ALLAH berdosa, jika melihat KBBI?

Justru di sinilah saya menggelitik Anda. Karena Anda menyakini KBBI 100% secara tekstual, padahal yang dalam tanda kurung itu tidak serta merta IDENTIK dengan kata “sesuatu kurang baik.”
???

Penjelasan mengenai sanggahan saya kepada komen IDENTIK Anda sudah saya sampaikan di atas. Justru saya yang perlu bertanya kepada Anda: “mudheng nggak maksud saya?” Hihihi…

dari awal saya berkata, kesimpulan akhir Anda selalu benar dan saya setujui, masih ingatkan?…. tetapi ketika Anda membuat kesimpulan Anda kembali berstatement: “Allah juga menyesal”
yang mana selalu tidak nyambung dengan kesimpulan….

Jadi saya menjelaskan kata MENYESAL jika subjeknya adalah TUHAN…
MENYESAL=berbalik arah/mengubah pikiran
dengan mengambil contoh apa2 yang dilakukan manusia juga, seperti bertobat dan lain lain

kalau saya perhatikan itu tidak lain karena Anda ingin mempertahankan pemahaman bahwa ALLAH bisa melawan naturNYA…
jika dugaan saya ini tepat, selanjutnya kita diskusi mengenai itu… yaitu JIKA TUHAN MAHA BAIK, dapatkah IA MELAKUKAN YANG TIDAK BAIK… gimana?

Oh iya, saya tunggu penjelasan Anda tentang WAJAH ya?
di bahasa Ibrani, WAJAH lebih tepat diterjemahkan WAJAH-WAJAH, plural. identik dengan ELOHIM… Tetapi karena TUHAN adalah ESA lebih tepat diterjemahkan WAJAH…
WAJAH TUHAN adalah atribut2NYA, ADIL, KASIH, KUASA, AGUNG, BESAR d.l.l….
Jadi kemana TUHAN bergerak WAJAHNYA juga bergerak….

Ketika TUHAN melihat umatNYA berdosa, maka TUHAN bergerak… TUHAN akan memperlihatkan wajahNYA Yang KUDUS, artinya tidak boleh ada suatu kesalahan apapun…IA tidak senang dengan ketidakkudusan…. TETAPI WAJAH KASIH-NYA yang adalah ESA dengan KUDUS-NYA juga bekerja, IA memilih orang, bahkan IA mau menjadi manusia. TUHAN membuat WAJAHNYA “tidak berefek” untuk sementara, alkitab berkata “mengosongkan diriNYA”, IA menjadi sama seperti kita, di dalam hal berdaging.

Nah interaksi antara TUHAN YANG MAHA dengan manusia yang tidak maha tentu hanya TUHAN yang sanggup melakukan prosesnya, proses ini bisa disebut TUHAN MENGUBAH ARAH…
JIKA TUHAN tidak mengubah arah WAJAHNYA YANG KUDUS, maka taksatupun manusia yang selamat…mengubah di sini artinya adalah MEMUTAR ARAH KUDUS sehingga kita melihat WAJAH KASIH-NYA….
Ketika Daud kesesakan, ia berkata “Berapa lama lagi Engkau menyembunyikan WajahMU TUHAN”…
di sini jelas Daud mengharapkan TUHAN menjukkan WAJAH KASIH-NYA, sebab DAUD sedang diperhadapkan dengan WAJAH KUDUS/ADIL….

@Mas Parhobass,

Mari kita lanjutkan diskusi kita.

P:
me·nye·sal v
merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb): jangan – kelak kalau engkau tidak lulus ujian tahun ini;

Sengaja saya kutipkan lagi supaya kita tetap mengingatnya.

P:
sesuatu yang kurang baik itu diberikan penekanan berupa dosa, kesalahan dsb

sebagai ahli menjebak, menurut apakah orang bisa terjebak didefenisi ALLAH berdosa, jika melihat KBBI?

Menurut saya sih jelas, bahwa definisi KBBI tersebut BELUM TENTU bisa digunakan untuk menyatakan Allah berdosa. Nanti akan saya jelaskan lebih lanjut setelah mengomentari beberapa hal di bawah ini.

P:
dari awal saya berkata, kesimpulan akhir Anda selalu benar dan saya setujui, masih ingatkan?…. tetapi ketika Anda membuat kesimpulan Anda kembali berstatement: “Allah juga menyesal”
yang mana selalu tidak nyambung dengan kesimpulan….

Hihihi… karena ada 2 hal berikut yang masih menjadi ganjalan Anda, yaitu:

1. Anda menolak Penggunaan kata “MENYESAL” kepada Allah.
2. Anggapan Anda bahwa “MENYESAL” selalu berhubungan dengan dosa.

Pada poin 1 jelas sekali disebutkan di Alkitab LAI bahwa Allah itu menyesal. Dalam penggunaan kata “MENYESAL” pada Allah itu pun tidak selalu dari terjemahan kata “nacham.”

Pada poin 2, perkenankanlah saya menjelaskan (sekali lagi) kepada Anda, bahwa definisi KBBI tersebut tidak selalu MEMBAWA makna MENYESAL kepada DOSA. Mari kita bahas.

KBBI:
me·nye·sal v
merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) krn (telah melakukan) sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb): jangan – kelak kalau engkau tidak lulus ujian tahun ini;

1. Sebelumnya tolong perhatikan kata yang saya tebalkan dan miringkan. Di situ nampak bahwa kata-kata di dalam tanda kurung adalah contoh dari frase sebelumnya. Kata “susah”, “kecewa”, “dst” jelas bukanlah definisi langsung & tepat dari “merasa tidak senang” atau “tidak bahagia.” Kata “susah”, “kecewa”, “dst” jelas merupakan keterangan atau contoh dari keadaan tidak senang atau tidak bahagia tersebut.

Pada kenyataannya, kata “tidak senang” tidak bisa didefinisikan sebagai “kecewa”. Demikian juga kata “tidak bahagia” tidak serta merta bisa didefinisikan sebagai “kecewa”.

Hal yang sama bisa kita tujukan pada frase “sesuatu yang kurang baik” dengan kata “dosa”, “kesalahan”, “dsb”.

Saya pun berargumen bahwa “sesuatu yang kurang baik” belum tentu merupakan “dosa”. Dan “sesuatu yang kurang baik” juga belum tentu “kesalahan.”

Sampai di sini mudheng Mas?

Jika Anda sudah mudheng, maka frase “sesuatu yang kurang baik” tersebut TIDAK SERTA MERTA diartikan sebagai DOSA. Walau pun DOSA memang “sesuatu yang kurang baik.” Mudheng?

Jadi kata “MENYESAL” dari Allah tidak serta membawa Allah ke dalam DOSA. Karena MENYESAL belum tentu dalam konteks DOSA. DOSA hanyalah salah satu contoh dari “SESUATU YANG KURANG BAIK” yang dapat mengakibatkan rasa “MENYESAL”.

2. Perhatikan juga frase “(telah melakukan)” yang secara nyata dituliskan dalam TANDA KURUNG. Artinya apa? Ya artinya adalah bahwa YANG menyesal belum tentu MELAKUKANNYA. Ini sejalan dengan kedua konsep menyesal yang telah saya utarakan sebelumnya. Yang 1 menyesal karena telah berbuat sesuatu yang kurang baik, dan yg 1 lagi adalah karena mengamati sesuatu yang kurang baik kemudian menyesalinya.

Dalam hal ini definisi MENYESAL versi KBBI pun membuat frase “telah melakukan” dalam tanda kurung yang berarti yang menyesal TIDAK HARUS si pelaku.

Sampai sini mudheng mas?

3. Coba perhatikan pula kata “dsb” yang muncul di beberapa bagian. Nampak bahwa “dsb” bukanlah definisi. Ini menjelaskan kalau beberapa kata di dalam tanda kurung bukanlah definisi, tetapi hanya keterangan atas frase sebelumnya. Jadi Anda tidak bisa langsung mengkaitkan “susah”, “kecewa”, “dosa”, “kesalahan” sebagai definisi MENYESAL. Namun harus melihat konteksnya.

Sampai di sini nangkep Mas?

4. Dari sini Anda harus memahami bahwa Allah itu bisa MENYESAL, namun Allah TETAP TIDAK BERDOSA. Dari definisi KBBI pun tidak serta-merta mengharuskan seseorang yang menyesal itu adalah si pelaku, juga tidak serta-merta mengartikan “sesuatu yang kurang baik” sebagai dosa.

Sampai di sini sudah mudheng Mas?

Namun jika Anda masih ngotot juga, mungkin Anda perlu protes kepada LAI supaya mengganti kata MENYESAL (dari Allah) tersebut dari Alkitab TB LAI.

P:
dari awal saya berkata, kesimpulan akhir Anda selalu benar dan saya setujui, masih ingatkan?…. tetapi ketika Anda membuat kesimpulan Anda kembali berstatement: “Allah juga menyesal”
yang mana selalu tidak nyambung dengan kesimpulan….

Sudah saya jelaskan di atas bahwa Allah MENYESAL tidak serta-merta karena ALLAH BERDOSA. Juga arti MENYESAL bukan berarti bahwa ALLAH menyesal karena melakukan sesuatu yang kurang baik, namun bisa saja karena melihat manusia berdosa. Sampai di sini mudheng Mas? Bahkan Mas Parhobas di awal diskusi malah lebih senang pada konteks ke-2, yaitu “MENYESALI”.

Pendapat saya konsisten kok. Bukan kontradiksi yang tidak nyambung kan?

P:
Jadi saya menjelaskan kata MENYESAL jika subjeknya adalah TUHAN…
MENYESAL=berbalik arah/mengubah pikiran
dengan mengambil contoh apa2 yang dilakukan manusia juga, seperti bertobat dan lain lain

Kayaknya Anda harus usul ke KBBI untuk membuat definisi baru kata MENYESAL yang terdiri dari 2 versi, yaitu versi manusia & versi Allah.

Atau bisa saja Anda usul ke LAI untuk mengganti kata MENYESAL (dari Allah) dengan kata “berbalik arah” atau malah nacham saja?

P:
kalau saya perhatikan itu tidak lain karena Anda ingin mempertahankan pemahaman bahwa ALLAH bisa melawan naturNYA…
jika dugaan saya ini tepat, selanjutnya kita diskusi mengenai itu… yaitu JIKA TUHAN MAHA BAIK, dapatkah IA MELAKUKAN YANG TIDAK BAIK… gimana?

Jangan terbalik memahaminya Mas. Bukankah sejak awal diskusi saya dgn Mas LP adalah tentang Allah bisa melawan nature-Nya? Kalau sekarang kita sampai ke diskusi CEMBURU & MENYESAL, itu karena di tengah jalan Anda mempertanyakan pengertian saya tentang kata CEMBURU & MENYESAL yang saya bawa ketika mendiskusikan Allah bisa melawan nature-Nya. Dan bukankah jawaban saya tidak asal? Melainkan selalu punya dasar?

Di bagian lain Anda malah mendukung pendapat saya ketika saya sedang berdiskusi dengan Mas LP, yaitu ketika Anda menyatakan bahwa Allah itu BERBALIK ARAH. Ya tho?

Yang jelas adalah, bahwa saya tetap konsisten kok. Tentu saja kecuali jika pendapat saya dapat dipatahkan, mungkin saya bisa menerima hal itu. Namun sampai sekarang belum terpatahkan kan?

~~~

Mengenai “wajah”, kayaknya saya bahas yang penting saja.

P:
di bahasa Ibrani, WAJAH lebih tepat diterjemahkan WAJAH-WAJAH, plural. identik dengan ELOHIM… Tetapi karena TUHAN adalah ESA lebih tepat diterjemahkan WAJAH…

Sekali lagi LAI tidak akurat ya?
Penjelasan Anda selanjut tidak perlu saya bahas karena konteksnya bisa diterima, tetapi yang lebih penting adalah bahwa penerjemahan kata WAJAH itu sudah tidak tepat dilakukan oleh LAI ya?

Salam.

@Mas Dewo,

1. Anda menolak Penggunaan kata “MENYESAL” kepada Allah.
2. Anggapan Anda bahwa “MENYESAL” selalu berhubungan dengan dosa.

yang membuat rancu adalah Anda terlalu sering menyimpulkan sendiri kepada opini yang saya utarakan di diskusi ini:
begini,

saya tidak menolak kalimat “TUHAN menyesal”, yang saya sarankan adalah… ketika kita membaca kata menyesal dengan subject TUHAN, maka artinya itu bukan kecewa atau bukan karena melakukan sesuatu yang salah satunya adalah dosa, karena makna dasarnya adalah “berbalik arah/berubah pikiran”…

kenapa saya tekankan dosa/perbuatan salah? karena KBBI menjelaskan kata “menyesal” sebagai salah satu bagian utama adalah dosa, yang mana saya katakan bisa membuat terjebak….

4. Dari sini Anda harus memahami bahwa Allah itu bisa MENYESAL, namun Allah TETAP TIDAK BERDOSA. Dari definisi KBBI pun tidak serta-merta mengharuskan seseorang yang menyesal itu adalah si pelaku, juga tidak serta-merta mengartikan “sesuatu yang kurang baik” sebagai dosa.

Sampai di sini sudah mudheng Mas?

Namun jika Anda masih ngotot juga, mungkin Anda perlu protes kepada LAI supaya mengganti kata MENYESAL (dari Allah) tersebut dari Alkitab TB LAI.
dari awal kita sepakat, jadi ngga usah ditanya mudheng opo ora hehehe, dan sekali lagi saya sedang tidak ada masalah dengan LAI, Anda yang terlalu sering malakukan tuduhan2 yang membuat tidak sehat, CMIIW

Kayaknya Anda harus usul ke KBBI untuk membuat definisi baru kata MENYESAL yang terdiri dari 2 versi, yaitu versi manusia & versi Allah.

Atau bisa saja Anda usul ke LAI untuk mengganti kata MENYESAL (dari Allah) dengan kata “berbalik arah” atau malah nacham saja?
????

P:
….. selanjutnya kita diskusi mengenai itu… yaitu JIKA TUHAN MAHA BAIK, dapatkah IA MELAKUKAN YANG TIDAK BAIK…
gimana?

Mengenai “wajah”, kayaknya saya bahas yang penting saja.

P:
di bahasa Ibrani, WAJAH lebih tepat diterjemahkan WAJAH-WAJAH, plural. identik dengan ELOHIM… Tetapi karena TUHAN adalah ESA ebih tepat diterjemahkan WAJAH…

Sekali lagi LAI tidak akurat ya?
Penjelasan Anda selanjut tidak perlu saya bahas karena konteksnya bisa diterima, tetapi yang lebih penting adalah bahwa penerjemahan kata WAJAH itu sudah tidak tepat dilakukan oleh LAI ya?
perhatikan yang saya bold itu, menurut mas Dewo gimana?,

jebakan ya ?hehehe

@Mas Parhobass,

Mari kita bahas,

P:
saya tidak menolak kalimat “TUHAN menyesal”, yang saya sarankan adalah… ketika kita membaca kata menyesal dengan subject TUHAN, maka artinya itu bukan kecewa atau bukan karena melakukan sesuatu yang salah satunya adalah dosa, karena makna dasarnya adalah “berbalik arah/berubah pikiran”…

Bukankah ini sama saja menolak memaknainya sebagai MENYESAL? Jika memang benar bahwa artinya “berbalik arah/berubah pikiran”, mengapa tidak dituliskan begitu di Alkitab?

Jadi walau pun secara tertulis Anda menyatakan kalau tidak menolak, namun Anda menolak memaknai MENYESAL secara harafiah.

P:
kenapa saya tekankan dosa/perbuatan salah? karena KBBI menjelaskan kata “menyesal” sebagai salah satu bagian utama adalah dosa, yang mana saya katakan bisa membuat terjebak….

Justru KBBI tidak serta merta memaknainya begitu. Coba baca lagi ulasan saya sebelumnya. Silakan dibaca lagi lebih hati-hati.

P:
dari awal kita sepakat, jadi ngga usah ditanya mudheng opo ora hehehe, dan sekali lagi saya sedang tidak ada masalah dengan LAI, Anda yang terlalu sering malakukan tuduhan2 yang membuat tidak sehat, CMIIW

Hihihi… sepakat untuk tidak sepakat ya? Buktinya Anda memaknai kata MENYESAL dengan cara yang berbeda. Malahan menunjukkan “nacham” yang bisa bukan berarti MENYESAL.

P:
????

Hihihi… speechless ya?

P:
P:
….. selanjutnya kita diskusi mengenai itu… yaitu JIKA TUHAN MAHA BAIK, dapatkah IA MELAKUKAN YANG TIDAK BAIK…
gimana?

Boleh juga sih kalau kita mau mundur lagi. Sejatinya saya sudah berdiskusi panjang x lebar x tinggi dengan Mas LP. Tapi kalau mau diulang lagi boleh juga kok. Siapa tahu Mas LP mau nimbrung lagi. Hehehe…

P:
perhatikan yang saya bold itu, menurut mas Dewo gimana?,

jebakan ya ?hehehe

Bukan jebakan. Saya sudah tahu bahwa arahan terjemahannya adalah menyesuaikan kata esa. Padahal salah kaprah kan? Hihihi…

Sekali lagi pertanyaan saya: LAI tidak akurat ya?

@Mas Parhobass,

Bukankah ini sama saja menolak memaknainya sebagai MENYESAL? Jika memang benar bahwa artinya “berbalik arah/berubah pikiran”, mengapa tidak dituliskan begitu di Alkitab?

Jadi walau pun secara tertulis Anda menyatakan kalau tidak menolak, namun Anda menolak memaknai MENYESAL secara harafiah.
menduga2 lagi…
saran anda itu bkan yang tepat, “mengapa tidak ditulis demikian”,…
contohnya gini:
Kenapa tidak ditulis Bumi mengelilingi porosnya sekitar 180 derajat untuk menjelaskan siang alias matahari di atas?

atau
kenapa tidak defenisi dari kamus yang dimasukkan ke Alkitab untuk menjelaskan semua kata?

menurut Anda tepat ngga pertanyaan itu?

Justru KBBI tidak serta merta memaknainya begitu. Coba baca lagi ulasan saya sebelumnya. Silakan dibaca lagi lebih hati-hati.
lihat dalag kurunnya mas ya,… dosa, kesalahan, d.l.l
pertanyaan saya dari awal, bisa ngga terperangkap oleh defenisi ini?
saya katakan sejak awal, sangat BISA….dan ini harus kita hindarkan, ini tugas kita…

Hihihi… sepakat untuk tidak sepakat ya? Buktinya Anda memaknai kata MENYESAL dengan cara yang berbeda. Malahan menunjukkan “nacham” yang bisa bukan berarti MENYESAL.
welehh…..NACHAM diterjemahkan menyesal, tetapi tidak semua berarti yang sama, contohnya di kutipan Bilangan dengan Yeremia…
Anda sudah jelaskan MENYESAL tidak selalu dosa ada juga yang lain, saya sepakat di situ, dan bukti sudah saya serahkan ke Anda… Bilangan dan Yeremia…

saya sarankan ke Anda dari awal untuk mencari makna dasar atau literal NACHAM, kalau Anda sudah mencari maka diskusi ini akan segera selesai…
Nacham makna dasarnya adalah “mendesah”, “menarik napas panjang”.
cari cari cari heheheh


P:
????

Hihihi… speechless ya?


yah saya bingung dengan kalimat2 Anda yang saya tidak mengerti sampai begitu…

Kayaknya Anda harus usul ke KBBI untuk membuat definisi baru kata MENYESAL yang terdiri dari 2 versi, yaitu versi manusia & versi Allah.

Atau bisa saja Anda usul ke LAI untuk mengganti kata MENYESAL (dari Allah) dengan kata “berbalik arah” atau malah nacham saja?

sebab sejak kapan saya membuat defenisi kata versi Allah? buktinya saya membawa KBBI dan KJV Hebreew Strong…

dan usul ke LAI?… ckckck saya jadi terheran2…

PR Anda dari awal adalah… mencari arti dasar NACHAM…kalau sudah maka selaraskan dengan cara menerjemahkan RABBIT dan HARE ke KELINCI…

Mas Dewo, beda Alkitab, jelas beda teknik penejemahan. Saya yakin sebagai Katolik Anda tidak akan sembarangan memilih terjemahan kan? nah kenapa demikian? karena setiap penerjemahan bisa menekankan makna tertentu….penerjemahan LAI TB jelas berbeda dengan Penerjemahan LAI IBIS… inilah yang saya lihat tidak Anda pikirkan…

Boleh juga sih kalau kita mau mundur lagi. Sejatinya saya sudah berdiskusi panjang x lebar x tinggi dengan Mas LP. Tapi kalau mau diulang lagi boleh juga kok. Siapa tahu Mas LP mau nimbrung lagi. Hehehe…
TUHAN MAHA BAIK, menurut mas Dewo, bisa ngga TUHAN tidak BAIK?

Bukan jebakan. Saya sudah tahu bahwa arahan terjemahannya adalah menyesuaikan kata esa. Padahal salah kaprah kan? Hihihi…

Sekali lagi pertanyaan saya: LAI tidak akurat ya?
pertanyaan Anda itu ngawur,… tidak ada orang yang bilang LAI tidak akurat…pertanyaan yang tepat adalah bagaimana teknik penerjemahan LAI…
sama seperti orang yang mempertahankan KJV akan menuduh NIV tidak akurat dan sebaliknya dan seterusnya… padahal keduanya akurat, sebab teknik penerjemahannya berbeda-beda…

@Mas Parhobass,

Hihihi… nampaknya Anda sudah mulai frustasi.

P:
menduga2 lagi…
saran anda itu bkan yang tepat, “mengapa tidak ditulis demikian”,…
contohnya gini:
Kenapa tidak ditulis Bumi mengelilingi porosnya sekitar 180 derajat untuk menjelaskan siang alias matahari di atas?

Saya tidak menduga kok. Dari semua penjelasan Anda di atas, jelas-jelas Anda enggan memaknai kata “MENYESAL” sebagai “menyesal” (versi KBBI). Anda malah memaknainya sebagai hal yang sangat jauh berbeda, yaitu “berbalik arah.”

P:
kenapa tidak defenisi dari kamus yang dimasukkan ke Alkitab untuk menjelaskan semua kata?

menurut Anda tepat ngga pertanyaan itu?

Jelas-jelas saya tidak mem-propose pertanyaan seperti itu. Kayaknya Anda belum mudheng atas semua penjelasan saya. Silakan baca lagi penjelasan saya di atas dan yang di atasnya lagi.

Begini ya Mas, kalau memang benar bahwa perasaan Allah saat itu adalah KECEWA, maka bukankah lebih tepat dituliskan sebagai KECEWA? Namun kenyataannya kan dituliskan sebagai MENYESAL.

Demikian juga dengan tafsiran Anda yang menyatakan bahwa Allah itu BERBALIK ARAH, maka saya menanyakan, kenapa tidak ditulis saja sebagai “BERBALIK ARAH”? Karena BERBALIK ARAH itu TIDAK SAMA dengan MENYESAL.

Mudheng ngga sih Mas?

P:
lihat dalag kurunnya mas ya,… dosa, kesalahan, d.l.l
pertanyaan saya dari awal, bisa ngga terperangkap oleh defenisi ini?
saya katakan sejak awal, sangat BISA….dan ini harus kita hindarkan, ini tugas kita…

Yaelaa Mas-mas.
Kayaknya Anda belum mudheng penjelasan saya di atas & yg di atasnya lagi. Jelas-jelas saya menjelaskan perihal tanda kurung ini. Sudah dibaca belum sih Mas? Saya sudah panjang lebar loh menjelaskannya kepada Anda. Memang sih, tulisan saya cenderung panjang, tapi maksudnya adalah supaya Anda jelas. Tapi ternyata ngga mudheng juga.

P:
welehh…..NACHAM diterjemahkan menyesal, tetapi tidak semua berarti yang sama, contohnya di kutipan Bilangan dengan Yeremia…
Anda sudah jelaskan MENYESAL tidak selalu dosa ada juga yang lain, saya sepakat di situ, dan bukti sudah saya serahkan ke Anda… Bilangan dan Yeremia…

Nah ini dia…
Berarti Allah memang benar-benar MENYESAL ya?

P:
yah saya bingung dengan kalimat2 Anda yang saya tidak mengerti sampai begitu…

Hihihi… sejatinya saya meresponse Anda kok.

P:
sebab sejak kapan saya membuat defenisi kata versi Allah? buktinya saya membawa KBBI dan KJV Hebreew Strong…

Lha kenapa Anda menerjemahkan MENYESAL sebagai BERBALIK ARAH? Jelas-jelas definisi Anda berbeda dengan KBBI. Hihihi… kok Anda bingung sendiri tho? Bukankah saya sedang merespons pernyataan Anda yang memaknai MENYESAL dengan arti yang berbeda?

P:
dan usul ke LAI?… ckckck saya jadi terheran2…

Hihihi… bukankah Anda memaknai MENYESAL dengan versi yang berbeda dari KBBI? Inget dong, saya kan meresponse pendapat Anda. Kalau memang Anda bersikeras memaknainya berbeda, ya Anda perlu usul ke LAI supaya jangan menerjemahkannya sebagai MENYESAL, tapi “BERBALIK ARAH” atau apa gitu.

P:
PR Anda dari awal adalah… mencari arti dasar NACHAM…kalau sudah maka selaraskan dengan cara menerjemahkan RABBIT dan HARE ke KELINCI…

Untuk sementara saya kesampingkan dulu. Ntar malah melebar kemana-mana. Bukankah saya selama ini fokus di MENYESAL? Kata-kata yang Anda usulkan justru membuat saya (dan semua pembaca di sini) beranggapan bahwa Alkitab TB LAI itu tidak akurat. Dan inilah yang saya selalu tanyakan kepada Anda: Apakah LAI tidak akurat?

P:
Mas Dewo, beda Alkitab, jelas beda teknik penejemahan. Saya yakin sebagai Katolik Anda tidak akan sembarangan memilih terjemahan kan? nah kenapa demikian? karena setiap penerjemahan bisa menekankan makna tertentu….penerjemahan LAI TB jelas berbeda dengan Penerjemahan LAI IBIS… inilah yang saya lihat tidak Anda pikirkan…

Loh? Alkitab itu berbeda-beda tho? Berarti Alkitab yang berbeda-beda itu bisa salah ya? Lalu Alkitab mana yang harus kita acu sebagai kebenaran? Tentu supaya kita tidak salah jalan?

*hem… saya kok malah jadi kayak agama lain yg sedang mempertanyakan keakuratan & kebenaran Alkitab ya? Tapi saya meresponse komentar Anda loh! Hehehe…*

Kalau saya tidak boleh sembarangan memilih terjemahan, maka terjemahan mana yang bisa saya pakai sebagai acuan?

P:
TUHAN MAHA BAIK, menurut mas Dewo, bisa ngga TUHAN tidak BAIK?

Dalam suatu waktu, Allah pernah melakukannya. Dan karenanyalah Allah MENYESAL. Ini sudah jelas saya utarakan saat berdiskusi dengan Mas LP. Bahkan Mas LP di kesempatan lain mendukung pendapat saya dengan “TIGA ALASAN ALLAH versi LP.”

Sedangkan Anda mendukung (walau pun tidak disadari) pendapat saya dengan pernyataan Allah BERBALIK ARAH, dari Yang Adil menjadi Yang Menghukum. Inget kan? Saya aja inget loh!

P:
pertanyaan Anda itu ngawur,… tidak ada orang yang bilang LAI tidak akurat…pertanyaan yang tepat adalah bagaimana teknik penerjemahan LAI…
sama seperti orang yang mempertahankan KJV akan menuduh NIV tidak akurat dan sebaliknya dan seterusnya… padahal keduanya akurat, sebab teknik penerjemahannya berbeda-beda…

Weh-weh… pertanyaan saya kok malah dibilang ngawur tho? Padahal itu murni meresponse jawaban Anda loh? Lagi pula saya yang bertanya loh! Bukan Anda sendiri yg bertanya kepada diri Anda sendiri. Jadi saya tetap menanyakan hal itu.

Dari semua jawaban Anda tentang MENYESAL (nacham), RABBIT, HARE, WAJAH, dll, justru memberikan kesan kalau LAI itu tidak akurat dalam menerjemahkan. Bahkan dalam tingkat extrem bisa dibilang SALAH. Coba saja lihat penjelasan Anda tentang “MENDESAH” dan “MENARIK NAFAS PANJANG” yang jelas-jelas berbeda dengan MENYESAL.

Jadi kalau ada 2 orang yang melihat seekor binatang yang sama kemudian datang kepada saya dan yang satu bilang telah melihat “BUAYA” dan yang satu lagi bilang telah melihat “KUDA NIL”, ya tentu saja saya mempertanyakan orang mana yang akurat & benar. Wajar tho?

Masihkah pertanyaan saya dibilang ngawur? Jangan-jangan Anda saja yang ngga mudheng atas komentar saya. Pertanyaan saya logis kan?

Salam.

@mas Dewo,

Hihihi… nampaknya Anda sudah mulai frustasi.
menduga2 lagi?

Saya tidak menduga kok. Dari semua penjelasan Anda di atas, jelas-jelas Anda enggan memaknai kata “MENYESAL” sebagai “menyesal” (versi KBBI). Anda malah memaknainya sebagai hal yang sangat jauh berbeda, yaitu “berbalik arah.”
yang membawa KBBI Anda apa saya di awal?, koq semakin tidak sehat diskusinya yah? hehehe

Jelas-jelas saya tidak mem-propose pertanyaan seperti itu. Kayaknya Anda belum mudheng atas semua penjelasan saya. Silakan baca lagi penjelasan saya di atas dan yang di atasnya lagi.

Begini ya Mas, kalau memang benar bahwa perasaan Allah saat itu adalah KECEWA, maka bukankah lebih tepat dituliskan sebagai KECEWA? Namun kenyataannya kan dituliskan sebagai MENYESAL.

Demikian juga dengan tafsiran Anda yang menyatakan bahwa Allah itu BERBALIK ARAH, maka saya menanyakan, kenapa tidak ditulis saja sebagai “BERBALIK ARAH”? Karena BERBALIK ARAH itu TIDAK SAMA dengan MENYESAL.

Mudheng ngga sih Mas?
coba pertanyaan saya dijawab diikiiiit ajah hehehe..

kenapa tidak defenisi dari kamus yang dimasukkan ke Alkitab untuk menjelaskan semua kata?

menurut Anda tepat ngga pertanyaan itu?

Yaelaa Mas-mas.
Kayaknya Anda belum mudheng penjelasan saya di atas & yg di atasnya lagi. Jelas-jelas saya menjelaskan perihal tanda kurung ini. Sudah dibaca belum sih Mas? Saya sudah panjang lebar loh menjelaskannya kepada Anda. Memang sih, tulisan saya cenderung panjang, tapi maksudnya adalah supaya Anda jelas. Tapi ternyata ngga mudheng juga.
gini mas,…. di dalam kurung adalah beberapa keadaan untuk menjelaskan yang sebelumnya… sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)… nah ada 2 contoh, dimana yang paling utama diletakkan adalah DOSA… pertanyaan saya belum Anda jawab. BISA ngga orang terjebak sehingga memaknai MENYESAL=Hanya mempunyai arti MELAKUKAN DOSA?,

saya katakan BISA…menurut Anda, jelas BISA, terbukti dari penjelasan itu…
dan saya kira sampai di sini selesai…

Nah ini dia…
Berarti Allah memang benar-benar MENYESAL ya?
cari dulu arti literal NACHAM… please buatlah diskusi ini sehat… sudah dicari belum?

Hihihi… sejatinya saya meresponse Anda kok.
ya diskusi tidak sehat semakin kelihatan , sebab begitu banyaknya Anda menduga2…

Lha kenapa Anda menerjemahkan MENYESAL sebagai BERBALIK ARAH? Jelas-jelas definisi Anda berbeda dengan KBBI. Hihihi… kok Anda bingung sendiri tho? Bukankah saya sedang merespons pernyataan Anda yang memaknai MENYESAL dengan arti yang berbeda?
waddduhhh mas DEwo…
cepat cari makna NACHAM, dan satu lagi Anda sepertinya belum mencari ISBE (International Standard Bible Encyclopedia)… please, kalau itu di dapat diskusi ini akan segera kemabali sehat, dan segera selesai….

Hihihi… bukankah Anda memaknai MENYESAL dengan versi yang berbeda dari KBBI? Inget dong, saya kan meresponse pendapat Anda. Kalau memang Anda bersikeras memaknainya berbeda, ya Anda perlu usul ke LAI supaya jangan menerjemahkannya sebagai MENYESAL, tapi “BERBALIK ARAH” atau apa gitu.
sekali lagi ??????

Parhobas:
PR Anda dari awal adalah… mencari arti dasar NACHAM…kalau sudah maka selaraskan dengan cara menerjemahkan RABBIT dan HARE ke KELINCI…

Untuk sementara saya kesampingkan dulu. Ntar malah melebar kemana-mana. Bukankah saya selama ini fokus di MENYESAL? Kata-kata yang Anda usulkan justru membuat saya (dan semua pembaca di sini) beranggapan bahwa Alkitab TB LAI itu tidak akurat. Dan inilah yang saya selalu tanyakan kepada Anda: Apakah LAI tidak akurat?

karena tugas Anda inilah diskusi ini semakin panjang, lebar dan semakin tidak sehat…
CMIIW…

Loh? Alkitab itu berbeda-beda tho? Berarti Alkitab yang berbeda-beda itu bisa salah ya? Lalu Alkitab mana yang harus kita acu sebagai kebenaran? Tentu supaya kita tidak salah jalan?

Oh GOD…. gimana neh?
saya jamin, oleh karena hal ini jugalah diskusi kita sangat2 alot dan tidak sehat…
Coba Anda bandingkan antara KJV (King James Version) dan NWT (New World Translation) ayat Yohanes 1:1….
bandingkan juga KJ
V dengan NIV, bagaimana pola penerjemahannya…

Jika kita sebagai orang yang mencari arti “terjemahan” kita harus belajar mencari makna dari berbagai terjemahan, ini nasehat saya dari awal….

saya kasih tau mas yah… untuk orang yang terbiasa dengan apologet, maka jika ia memakai versi terjemahan tertentu, itu bisa menjelaskan bagaimana ia memaknai Alkitab… perhatikan kalimat saya sekali lagi VERSI TERJEMAHAN

ada paling tidak 3 jenis penerjemahan ALKITAB, yaitu:
1. Formal Equivalence atau word-for-word)<— KJV
2. Dynamic equivalence atau thought-for-thought <— NIV, TB
3. Paraphrase <–NWT, yang bisa digunakan Saksi Yehova

*hem… saya kok malah jadi kayak agama lain yg sedang mempertanyakan keakuratan & kebenaran Alkitab ya? Tapi saya meresponse komentar Anda loh! Hehehe…*
menduga2 lagi….

Kalau saya tidak boleh sembarangan memilih terjemahan, maka terjemahan mana yang bisa saya pakai sebagai acuan?
saya katakan dari awal, semua terjemahan akurat, hanya tekniknya berbeda, lihat di atas…

P:
TUHAN MAHA BAIK, menurut mas Dewo, bisa ngga TUHAN tidak BAIK?

Dalam suatu waktu, Allah pernah melakukannya. Dan karenanyalah Allah MENYESAL. Ini sudah jelas saya utarakan saat berdiskusi dengan Mas LP. Bahkan Mas LP di kesempatan lain mendukung pendapat saya dengan “TIGA ALASAN ALLAH versi LP.”

Sedangkan Anda mendukung (walau pun tidak disadari) pendapat saya dengan pernyataan Allah BERBALIK ARAH, dari Yang Adil menjadi Yang Menghukum. Inget kan? Saya aja inget loh!
coba mas baca penjelasan WAJAH

Weh-weh… pertanyaan saya kok malah dibilang ngawur tho? Padahal itu murni meresponse jawaban Anda loh? Lagi pula saya yang bertanya loh! Bukan Anda sendiri yg bertanya kepada diri Anda sendiri. Jadi saya tetap menanyakan hal itu.
kenapa ngawur, gini mas
Anda sudah berkata tidak meragukan kekristenan saya toh?, nah sebagai Kristen masak saya berani bertanya LAI tidak akurat? itu ngawur, terbukti dari kutipan BILANGAN itu saya kutip dari LAI TB…
karena saya percaya LAI. jadi kalau ada pertanyaan LAI akurat tidak? itu ngawur…
makanya pertanyaan yang tepat adalah.. bagaimana LAI menerjemahkan, saya yakin Anda belum tahu… CMIIW…

Dari semua jawaban Anda tentang MENYESAL (nacham), RABBIT, HARE, WAJAH, dll, justru memberikan kesan kalau LAI itu tidak akurat dalam menerjemahkan. Bahkan dalam tingkat extrem bisa dibilang SALAH. Coba saja lihat penjelasan Anda tentang “MENDESAH” dan “MENARIK NAFAS PANJANG” yang jelas-jelas berbeda dengan MENYESAL.
ada perbedaan informasi yang kita punyai, itu membuat jurang yang dalam…

Jadi kalau ada 2 orang yang melihat seekor binatang yang sama kemudian datang kepada saya dan yang satu bilang telah melihat “BUAYA” dan yang satu lagi bilang telah melihat “KUDA NIL”, ya tentu saja saya mempertanyakan orang mana yang akurat & benar. Wajar tho?
contoh yang ngawur hehehehe
HARE dan RABBIT memiliki ciri yang 80 persen sama… HARE hanya hidup di wilayah tertentu, salah satunya tidak hidup di INDONESIA… maka ketika INDONESIA melihat HARE mereka akan berkata itu KELINCI, karena keterbatasan… nah orang bisa keliru dalam hal ini, maka harus dijelaskan…

itu identik dengan MENYESAL…

Masihkah pertanyaan saya dibilang ngawur? Jangan-jangan Anda saja yang ngga mudheng atas komentar saya. Pertanyaan saya logis kan?

Salam.
Anda HEBAT

Contohnya begini, apakah Anda yakin bahwa KESALAHAN itu SELALU DOSA? Tentu Anda menjawabnya TIDAK, karena kesalahan yang tidak disengaja, atau kesalahan kecil saja, banyak yang tidak masuk kategori DOSA. Dari sini saja sudah jelas bahwa KESALAHAN tidak serta merta DOSA

===> Maksudmu seperti kesalahan Adam yang cuma makan buah saja itu Mas…?

Menurutmu itu kesalahan kecil atau besar, berdasarkan standardmu…Hi Hi hi

@Mas Lovepassword,

Hem…

LP:
Maksudmu seperti kesalahan Adam yang cuma makan buah saja itu Mas…?

Menurutmu itu kesalahan kecil atau besar, berdasarkan standardmu…Hi Hi hi

Tentu contohnya tidak begitu. Memakan buah dari pohon pengetahuan itu jelas telah melanggar perintah Allah. Itu termasuk dosa.

Tapi berhubung Anda belum mudheng, ya kubuatkan contoh deh, misalnya:

Saat mengambil buku, secara tidak sengaja Anda menyenggol gelas dan akhirnya jatuh dan pecah.

Itu dosa ngga sih Mas?
Eh, setelah saya baca komen Anda yang lain, ternyata Anda malah sudah memberikan contoh PENYESALAN ya? Dan Anda malah bilang bahwa itu bukan dosa karena membeli permen cecak.

BTW, permen cecak masih ada ya? Hihihi…

@Mas Parhobass,

Lho?

P:
menduga2 lagi?

Saya tidak menduga kok.

P:
yang membawa KBBI Anda apa saya di awal?, koq semakin tidak sehat diskusinya yah? hehehe

Tuh kan, Anda juga menduga-duga?

BTW, Andalah yang membawa KBBI. Semoga pertanyaan Anda ini bukan karena Anda tidak ingat. Lagian arah pertanyaan Anda ini kemana sih?

P:
coba pertanyaan saya dijawab diikiiiit ajah hehehe..

kenapa tidak defenisi dari kamus yang dimasukkan ke Alkitab untuk menjelaskan semua kata?

Bukankah sudah? Kata MENYESAL yang di KBBI itulah yang dipakai Alkitab TB LAI. Sudah saya jawab ya? Karena saya konsisten memaknai MENYESAL yang sesuai dengan KBBI.

P:
menurut Anda tepat ngga pertanyaan itu?

Lho? Anda bertanya sendiri kok mempertanyakan pertanyaan Anda sendiri?

Sebagai tambahan, jika kita sedang berbicara dalam bahasa Indonesia, ya kita mengacu kepada kamus Indonesia. Jadi ketika saya membahas MENYESAL (bhs Indonesia) ya saya mengacu definisinya dari KBBI. Eh, bukankah Anda sendiri yg membawanya kemari?

P:
gini mas,…. di dalam kurung adalah beberapa keadaan untuk menjelaskan yang sebelumnya… sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)… nah ada 2 contoh, dimana yang paling utama diletakkan adalah DOSA… pertanyaan saya belum Anda jawab. BISA ngga orang terjebak sehingga memaknai MENYESAL=Hanya mempunyai arti MELAKUKAN DOSA?,

Wah Anda menduga-duga bahwa karena “dosa” diletakkan sebelum “kesalahan” maka dianggap yang paling utama diletakkan adalah “DOSA”? Inilah yang saya tuliskan bahwa Anda memahami definisi KBBI ini sebagai tekstual.

Perlu saya perjelas sekali lagi bahwa kata-kata yang ada dalam kurung itu bukanlah definisi atas “sesuatu yg kurang baik”. Oleh karenanya tidak bisa menggantikan kata “sesuatu yg kurang baik” secara langsung.

Argumen saya adalah bahwa “sesuatu yg kurang baik” belum tentu “DOSA.” Demikian juga “sesuatu yg kurang baik” belum tentu “kesalahan.” Bahwa “dosa” dan “kesalahan” dituliskan dalam tanda kurung adalah 2 buah contoh dari “sesuatu yg kurang baik.”

Demikian juga dengan “dsb”, apakah “dsb” selalu “sesuatu yg kurang baik”? JelasNggak?

P:
[..] nah ada 2 contoh, dimana yang paling utama diletakkan adalah DOSA… pertanyaan saya belum Anda jawab. BISA ngga orang terjebak sehingga memaknai MENYESAL=Hanya mempunyai arti MELAKUKAN DOSA?,

Perasaan sudah saya jawab deh. Nih, saya kutipkan sekali lagi jawaban saya:

Dewo (klik):
Menurut saya sih jelas, bahwa definisi KBBI tersebut BELUM TENTU bisa digunakan untuk menyatakan Allah berdosa. Nanti akan saya jelaskan lebih lanjut setelah mengomentari beberapa hal di bawah ini.

Nah, coba pahami lagi komen saya tersebut. Bukankah saya sudah menjawab pertanyaan Anda? Ini komen kalau nggak salah sudah 3 atau 4 komen saya yang lalu. Tapi supaya Anda puas, saya akan menyatakannya sekali lagi: bahwa definisi KBBI tersebut BELUM TENTU bisa digunakan untuk menyatakan Allah berdosa.

Penjelasan detailnya sudah saya tuliskan di SINI (KLIK). Saya menjelaskannya panjang lebar loh! Sayang dong saya sudah nulis panjang-panjang tapi tidak dibaca & dipahami. Artinya diskusi kita tidak dipahami secara menyeluruh.

P:
cari dulu arti literal NACHAM… please buatlah diskusi ini sehat… sudah dicari belum?

Hem… bukankah sudah saya lakukan. Inget diskusi kita sebelumnya tentang H5162 di SINI (klik)? Bukankah saya sudah sertakan link tentang H5162 (klik)?

Ini sudah lama kita bahas & sudah saya jawab. Dan saya masih ingat betul saat Anda menyatakan bahwa Anda berguru ke H5162.

P:
ya diskusi tidak sehat semakin kelihatan , sebab begitu banyaknya Anda menduga2…

Lho? Menduga-duga lagi ya? Diskusi ini masih sehat. Toh saya meresponse Anda kan? Saya tidak menduga-duga, tapi komentar Anda memang saya tangkap seperti itu.

P:
waddduhhh mas DEwo…
cepat cari makna NACHAM, dan satu lagi Anda sepertinya belum mencari ISBE (International Standard Bible Encyclopedia)… please, kalau itu di dapat diskusi ini akan segera kemabali sehat, dan segera selesai….

Loh? Jadi saya tidak boleh mengacu KBBI untuk memaknai MENYESAL ya? Bukankah Anda yg mengutip KBBI duluan? Sekarang saya malah disuruh mencari di ISBE? Atau biar gampang, mengapa tidak Anda saja yang mengutipkan ISBE di sini?

P:
sekali lagi ??????

Loh? Saya tidak menduga-duga loh. Saya menyimpulkan dari semua pernyataan Anda bahwa MENYESAL (Allah) itu memiliki arti yang berbeda dengan MENYESAL (manusia, KBBI). Atau saya salah menyimpulkan? Ah, enggak kok…

Malah saya mengusulkan supaya Anda usul ke KBBI supaya membuat definisi MENYESAL versi Allah dan versi manusia. Ya tho?

P:
PR Anda dari awal adalah… mencari arti dasar NACHAM…kalau sudah maka selaraskan dengan cara menerjemahkan RABBIT dan HARE ke KELINCI…

Kayaknya nacham sudah saya jawab beberapa sesi yg lalu. Lihatlah jawaban saya tentang H5162. Bukankah itu malah membuat saya bertanya kepada Anda: “Apakah LAI tidak akurat dalam menerjemahkan?” Anda malah bilang saya ngawur ketika saya menanyakan hal logis itu. Jadi yang tidak sehat itu siapa tho?

P:
karena tugas Anda inilah diskusi ini semakin panjang, lebar dan semakin tidak sehat…
CMIIW…

Lho?

P:
Oh GOD…. gimana neh?
saya jamin, oleh karena hal ini jugalah diskusi kita sangat2 alot dan tidak sehat…
Coba Anda bandingkan antara KJV (King James Version) dan NWT (New World Translation) ayat Yohanes 1:1….
bandingkan juga KJV dengan NIV, bagaimana pola penerjemahannya…

Hehehe… jangan lupa minum obatnya Mas, supaya sehat lagi.

Yang saya tahu selama ini, juga berdasarkan jawaban2 Anda sebelumnya, kita memiliki masalah dengan perbedaan versi Alkitab. Terbukti bahwa Anda pun menyarankan saya untuk membaca terjemahan yang lain. Namun ketika saya tanya versi mana yang layak untuk diacu, Anda malah menjawab “Oh GOD…”

Lha terus kita mau pakai terjemahan yang mana supaya kita bisa sepemahaman?

P:
Jika kita sebagai orang yang mencari arti “terjemahan” kita harus belajar mencari makna dari berbagai terjemahan, ini nasehat saya dari awal….

Nah, ketika saya mengutip ayat dan kemudian Anda mempertanyakan arti sebuah kata, maka kita berada di protokol yang berbeda saat Anda membawanya ke terjemahan yang berbeda. Ibaratnya saya ngomong bahasa Indonesia, Anda ngomong bahasa Ibrani.

P:
saya kasih tau mas yah… untuk orang yang terbiasa dengan apologet, maka jika ia memakai versi terjemahan tertentu, itu bisa menjelaskan bagaimana ia memaknai Alkitab… perhatikan kalimat saya sekali lagi VERSI TERJEMAHAN

Terima kasih pemberitahuannya Mas. Nampaknya saya harus belajar apologet dari Anda.

P:
ada paling tidak 3 jenis penerjemahan ALKITAB, yaitu:
1. Formal Equivalence atau word-for-word)<— KJV
2. Dynamic equivalence atau thought-for-thought <— NIV, TB
3. Paraphrase <–NWT, yang bisa digunakan Saksi Yehova

Menurut Anda, dalam konteks diskusi kita ini, sebaiknya kita menggunakan yang mana? Pertanyaan saya ini logis loh ya? Maksudnya adalah bahwa kita punya protokol yg sama dalam berdiskusi. Tentu supaya tidak berpanjang lebar diskusinya. Ya tho?

Jangan bilang saya ngawur lagi loh! Saya sudah selalu bersikap netral supaya kita punya titik temu.

P:

*hem… saya kok malah jadi kayak agama lain yg sedang mempertanyakan keakuratan & kebenaran Alkitab ya? Tapi saya meresponse komentar Anda loh! Hehehe…*

menduga2 lagi….

Hehehe… saya sedang menduga-duga apa tho? Dengan komentar pendek Anda itu, dan Anda lebih memilih menghakimi seperti itu, sebenarnya Andalah yang tidak sehat. Iya tho? Minum obat dulu sana.

P:
saya katakan dari awal, semua terjemahan akurat, hanya tekniknya berbeda, lihat di atas…

Oke, saya pegang kata-kata Anda bahwa “semua terjemahan akurat”. Lalu kemudian saya bertanya:

1. Mengapa Anda keberatan dengan ayat “ALLAH MENYESAL” dan Anda lebih suka memaknai MENYESAL sebagai arti yang berbeda?

2. Jika semua terjemahan akurat, mengapa Anda menyuruh saya mempelajari terjemahan yang lain? Bukankah Anda membuktikan bahwa terjemahan LAI berbeda dengan KJV? Apakah TB LAI tidak cukup? Bukankah sudah Anda nyatakan bahwa semua terjemahan (termasuk TB LAI) itu akurat?

3. Lalu untuk apa Anda menunjukkan beberapa kata yang membuktikan bahwa TB LAI melakukan pemilihan kata yang tidak tepat dalam penerjemahannya? Bahkan kalau boleh dibilang: KELIRU?

P:
coba mas baca penjelasan WAJAH

What’s the point, Bro? Anda setuju jawaban saya? Bukankah penjelasan WAJAH dari Anda itu malah mendukung pernyataan saya?

Jawaban Anda yang pendek2 seperti itu tidak sehat Mas. Anda tidak mengiyakan tapi tidak menyanggahnya. Padahal persepsi saya adalah bahwa penjelasan Anda yang lalu itu justru mendukung pernyataan saya?

Diskusinya yang sehat ya Mas? Kalau belum sehat, silakan minum obat dulu.

P:
kenapa ngawur, gini mas
Anda sudah berkata tidak meragukan kekristenan saya toh?, nah sebagai Kristen masak saya berani bertanya LAI tidak akurat? itu ngawur, terbukti dari kutipan BILANGAN itu saya kutip dari LAI TB…
karena saya percaya LAI. jadi kalau ada pertanyaan LAI akurat tidak? itu ngawur…
makanya pertanyaan yang tepat adalah.. bagaimana LAI menerjemahkan, saya yakin Anda belum tahu… CMIIW…

Lho?
Bukankah Anda yang telah berusaha meyakinkan saya bahwa terjemahan LAI itu BERBEDA dengan terjemahan lain? Bukankah Anda sudah menunjukkan bahwa terjemahan LAI itu membawa makna yang berbeda dengan Alkitab versi lain?

Bukankah Anda sudah menunjukkan kepada saya bahwa ayat yang saya kutip ternyata punya makna berbeda di Alkitab versi lain? Bukankah Anda yang menunjukkan bahwa ada banyak ayat yang terjemahannya berbeda?

Kok malah jadi saya yang dingawur-ngawurin sih?

Wajar dong saya bertanya keakuratan TB LAI kepada Anda? Bukankah Anda ahlinya apologet & Alkitab? Mosok saya bertanya tapi dingawur-ngawurin? Yang bener saja Mas. Yang sehat dong diskusinya!

BTW, saya tidak keberatan kok seandainya saya belajar dari Anda tentang apologet, bagaimana cara LAI menerjemahkan, dll. Tapi dalam diskusi, sebaiknya Anda mengutarakan maksud Anda dengan jelas.

P:
ada perbedaan informasi yang kita punyai, itu membuat jurang yang dalam…

Tidak hanya perbedaan informasi, tapi juga perbedaan pemahaman. Tapi yang perlu saya tekankan kepada Anda: bahwa saya konsisten dalam membuat pernyataan. Sejak diskusi dengan Mas LP, Mas JN dan sekarang sama Anda, pernyataan saya tetap konsisten.

P:
contoh yang ngawur hehehehe
HARE dan RABBIT memiliki ciri yang 80 persen sama… HARE hanya hidup di wilayah tertentu, salah satunya tidak hidup di INDONESIA… maka ketika INDONESIA melihat HARE mereka akan berkata itu KELINCI, karena keterbatasan… nah orang bisa keliru dalam hal ini, maka harus dijelaskan…

Lho kok ngawur?
Bagaimana jika kita adalah masyarakat GUNUNG yang karena keterbatasan tidak mampu membedakan BUAYA dan KUDA NIL? Bukankah kedua binatang ini memiliki persentase cukup tinggi dalam hal kesamaan? Bahkan kedua binatang ini hidup berdampingan di Afrika.

Okelah kalau Anda bilang saya ngawur. Tapi yang ingin saya utarakan adalah bahwa ada 2 orang yang menggambarkan sesuatu yang sama tetapi dengan pemilihan kata yang berbeda yang ternyata salah.

Anda tahu apa yang sedang saya bicarakan kan?

P:
itu identik dengan MENYESAL…

Lho? Jadi MENYESAL (KBBI) dan MENYESAL (BERBALIK ARAH) itu sama enggak sih? Anda kok membuat bingung siapa saja yang membaca sekelumit komentar Anda itu? Ketika saya berusaha menyimpulkan malah dibilang ngawur dan menduga-duga? Jangan-jangan Anda memang ngga niat diskusi nih?

P:
Anda HEBAT

Kok saya nangkepnya bukan pujian ya?

~~~

NB: Ada beberapa pertanyaan yang belum Anda jawab. Salah satunya adalah komen saya tentang INTEGRITAS Allah di SINI (klik). Mungkin Anda lupa menjawabnya. Untuk itulah saya mengingatkan. Namun jika Anda tidak ingin menjawabnya, silakan dinyatakan. Sepanjang saya diskusi, saya selalu berupaya sehat dengan menyatakan: “saya kesampingkan”, “tidak saya jawab”, dan kalimat-kalimat lain yang senada yang mengungkapkan bahwa saya tidak akan menjawabnya.

Maksud saya adalah bahwa diskusi kita tidak menggantung atau ada sesuatu yang miss di tengah-tengah yang mengakibatkan kesalahan persepsi di kemudian. Terbukti bahwa saya selalu berupaya SEHAT dalam berdiskusi.

GBU

@Mas JelasNggak,

Mas tolongin komenku di atas. Ada blocquote yang tidak tertutup di paragraf ke-5.

Terima kasih.

@Mas Dewo yang hebat,

saya agak susah untuk merespon setiap paragraf per paragraf,

saya mau coba reset ke awal,…

Ketika Mas Dewo berkata: “Allah menyesal”, dan kalau saya perhatikan ada sedikit kesulitan, maka yang perlu diperjelas…

ketika saya tanya kutipan dari Bilangan, dari LAI Terjemahan Baru, jelas mas Dewo tidak bisa menjelaskan… maka di sini saya jelaskan….

Kutipan itu adalah dari LAI , dimana teknik penerjemahannya adalah bukan literal, LAI TB menerjemahkan secara theologis, kengototan untuk mempertahankan itu sebagai literal adalah salah, maka untuk mencari makna lebih literalnya kita ambil terjemahan KJV (dimana teknik penerjemahannya word per word), nah karena dua teknik ini, dan karena saya respon paragraf per paragraf seolah saya menolak LAI dan di pihak lain KJV dan sebaliknya dan seterusnya…padahal saya sedang menjelaskan terpecah-pecah antara mendekati literal dan theologis….

nah untuk menjembatani dua teknik penerjemahan itu saya bawa KBBI,…di sana kata MENYESAL didefinisikan, yang mana salah satu contoh utama adalah berdosa, berbuat kesalahan…kita memang tidak tahu apa maksud d.l.l di contoh itu, tetapi jelas dua contoh ini menjadi point utama di defenisi KBBI, yang mana saya katakan bisa menjebak….

Saya katakan Anda hebat, karena penjelasan anda dari kata MENYESAL dari KBBI begitu dasyat, tetapi kutipan BILANGAN anda koq ngga bisa menjelaskan? nah ini yang saya katakan dari awal Anda tidak nyambung… kenapa ada kesimpulan yang bagus dari Anda, sementara data dari KUTIPAN KITAB BILANGAN tidak mengerti? saya heran….
ternyata letak masalahnya adalah, CMIIW, Anda tidak bisa membedakan penjelasan theologis dan mendekati literal… sehingga ketika saya jelaskan secara theologis (kutipan LAI, TB) Anda mengejar dari mendekati literal (KJV, Strong Hebrew), sebaliknya ketika saya jelaskan mendekati Literal (KJV, Strong Hebrew) Anda mengejar saya makna Theologis ( TB, LAI)

semakin jelas terlihat di contoh BUAYA dan KUDA NIL…
BUAYA memang ada di Indonesia, KUDA NIL tidak (sekarang2 saja diimport heheh)…
tetapi kalau ada orang Indonesia yang tidak pernah melihat KUDA NIL, dan karena ia sudah mengenal buaya, maka ia tidak akan mengatakan KUDA NIL itu BUAYA….beda halnya antara RABBIT dengan HARE…
fisik, penampilan luar, semuanya mirip… dan karena HARE tidak dikenal indonesia, maka disebut juga KELINCI…

Setelah kata per kata selesai mari ke defenisi…yang saya ambil dari parafrase:
Integritas ALLAH,…
a. ALLAH tidak berubah dari dulu dan sekarang.. sebagai Kristen Anda harus percaya…hehehe

b. Nah ketika TUHAN Yang MAHA KUASA mencipta, IA ciptakan manusia itu baik. Anda juga seharusnya sepakat, hehehe

c. Tetapi…. tetapi manusia itu berontak.. manusia itu menjadi tidak baik. Dari baik menjadi tidak baik… sepakat? saya yakin Ya…

d. nah manusia sudah tidak baik, tetapi apakah ALLAH menjadi tidak baik? jelas tidak, sebab IA adalah TETAP….kalau IA menjadi tidak baik, maka tak ubahnya ALLAH hanyalah seperti manusia yang bisa berubah-ubah dan jelas bertentangan dengan statement a di atas…

e. Tetapi jelas kita melihat ALLAH membunuh.pertanyaan apakah Allah tetap baik, wong nyata2 IA membunuh…. penilaian relatif manusia itu berkata tidak baik, yang Anda bisa katakan MENYESAL…atau Anda katakan melawan naturNya atau melampaui NaturNYA…ada masalah ngga? jelas ada…. Disinilah makna WAJAH ALLAH YANG ESA, dan juga makna TUHAN YANG ESA, yaitu… Ketika manusia berontak maka WAJAH ALLAH Yang adalah KUDUS diperlihatkan kepada manusia, IA TIDAK senang dengan ketidakkudusan,… APAKAH KUDUS tidak baik? Anda katakan sebagai melawan naturNYA, apakah KUDUS melawan NATUR ALLAH? TIDAK sebab ALLAH ESA, kita bukan mengenal allah-allah, tetapi SATU ALLAH…..
Jadi mas jelasnggak sudah memilah, bahwa mas DEWO mencampurbaurkan pandanan relatif terhadaf sesuatu yang seharusnya ABSOLUTE… TUHAN tidak bisa dipandang RELATIF karena statement a berkata ALLAH adalah TETAP, tidak berubah….

saya menunggu respon yang sehat dari Anda…
Salam di dalam Nama Yang Mulia, YESUS, TUHAN Yang ajaib.

@Mas Parhobass,

Terima kasih atas penjelasannya yang baik & sehat. Sejatinya saya berdiskusi di sini bukan berarti saya meragukan kekristenan Anda dan bahkan kekristenan saya sendiri. Seperti saya sudah nyatakan sebelumnya, saya ingin mendiskusikan sesuatu dari sudut pandang yang lain dan dari masa yang berbeda.

Saat ini kita tentu saja bisa memahami integritas & Kebaikan Allah. Karena kita hidup di jaman dimana Alkitab sudah paripurna. Namun bagaimana dengan manusia jaman dulu yang mengalami penderitaan karena Allah?

Secara keseluruhan saya setuju dengan semua yang tertuang dalam komentar Anda. Bukankah sebenarnya saya masih Kristen? Tentu saya mengimani itu semua.

Sedari awal diskusi saya dengan Mas LP adalah bahwa saya ingin menunjukkan bahwa Allah pun pernah melakukan sesuatu yang tidak baik, walau pun secara keseluruhan adalah baik adanya. Bukankah saya pun mengimani bahwa Tuhan itu Mahabaik?

Jadi saya pun mengajak Mas LP untuk meninjau di suatu time-frame di mana manusia saat itu bisa memiliki penilaian terhadap Allah yang tentu saja berbeda dengan penilaian kita di jaman sekarang.

Untuk menunjang pendapat saya, maka saya pun mengutip ayat MENYESAL yang membuktikan bahwa pada saat itu Allah pun menyesal telah berbuat sesuatu yang kurang baik.

Kalau kita yang hidup di jaman sekarang tentu menilai bahwa Allah itu Mahabaik. Waktu itu Allah memusnahkan manusia karena pada saat itu manusia berdosa, dst… Kemudian saya pun membuktikan bahwa pada saat itu pun Allah menyesal telah memusnahkan manusia.

Kemudian Anda mempertanyakan kata MENYESAL yang saya kutip dari ayat Alkitab. Anda memaknainya sebagai BERBALIK ARAH.

Secara kontekstual & teologis Anda benar, karena Anda menilainya di jaman ini. Lalu bagaimana jika Anda hidup di masa itu yang mengalami peristiwa tersebut secara langsung?

Bukankah kata MENYESAL itu benar-benar MENYESAL (KBBI)?

Anda menduga saya menerjemahkannya secara literal dan kemudian teologis. Sejatinya saya hanya ingin menunjukkan bagaimana sih perasaan Allah yang sebenarnya saat memusnahkan manusia saat itu? Benarkah MENYESAL atau BERBALIK ARAH?

Saya sudah berterus terang kalau saya tidak bisa memahami kutipan BILANGAN. Saya sudah bertanya kepada Anda. Bahkan sebelumnya saya sudah pernah bertanya kepada Mas LP. Dan Mas LP memberi penjelasan yang berbeda dari penjelasan Anda.

Kemudian Anda menjelaskan secara teologis. Terus terang saya tidak nyambung dengan penjelasan Anda yang sudah panjang lebar itu. Bukan karena penjelasan Anda salah. Bukan! Penjelasan Anda benar dan saya pun mengimaninya. Tapi saya malah tidak bisa menyambungkannya dengan ayat tersebut.

Ya, mungkin saya terlalu bodoh, atau malah terlalu sederhana dalam berpikir. Namun saya tetap ingin menyelaminya dalam kesederhanaan.

Misalnya Anda hidup di jaman saat ayat Bilangan itu dituliskan. Apakah Anda mudheng? Anda bisa menjelaskan ayat Bilangan itu dengan baik sekarang dimana Anda bisa mengkaitkannya dan memperoleh dukungan dari ayat-ayat yang lain. Tapi saya tidak yakin Anda dapat melakukannya jika Anda hidup di jaman itu.

Bukankah Alkitab juga harus dipahami secara konteksnya? Kita juga harus memahami jaman di saat ayat tersebut dituliskan. Kita juga harus memahami sosiologi masyarakat jaman itu. Bahkan geografis juga. Tidak ketinggalan astronomi.

Jadi Anda tidak usah heran kalau saya MEMPERTANYAKANNYA. Bukannya saya ngga mudheng atas penjelasan Anda, namun penjelasan Anda tidak masuk dalam logika saya. Bukan karena saya menolak penjelasan Anda (yang sejatinya saya imani juga), tetapi saya menilai kok tidak tepat.

~~~

Mengenai contoh BUAYA dan KUDA NIL, hihihi, sejatinya saya ingin memberikan contoh BUAYA dan BIAWAK. Tapi kemudian saya ganti supaya kelihatan sekali kontrasnya.

Tetapi esensinya adalah: jika ada 2 orang berbicara berbeda atas 1 hal yang sama, maka saya harus percaya kepada yang mana?

~~~

Jadi, poin a, b, c, d, e yang Anda jelaskan, itu bukanlah esensi diskusi kita. Karena saya setuju dan MENGIMANI a, b, c, d, e yang Anda tuliskan. Bahkan ada beberapa poin yang saya ingin tambahkan, misalnya: Kehendak & Rencana Allah, Keselamatan Manusia, yang semuanya juga mempengaruhi INTEGRITAS Allah.

Bukankah sebelumnya saya sudah bilang bahwa saya TIDAK MERAGUKAN INTEGRITAS ALLAH? Namun bagaimana kita menjelaskan beberapa hal yang bisa kita nilai mempengaruhi integritas Allah? Terutama jika kita memahaminya sesuai konteks kehidupan jaman itu?

Contohnya: Allah yang meminta pengorbanan Ishak namun kemudian diganti domba. Dan masih ada beberapa contoh yg lain. Justru di sinilah diskusinya. Sebagai orang Katolik, tentu saja saya tidak meragukan INTEGRITAS ALLAH. Namun selalu ada penjelasan dimana Allah pun pernah berbuat sesuatu yang kita nilai kurang baik. Terutama jika kita memandangnya dari time-frame saat itu.

~~~

Sebenarnya diskusi saya dengan Mas LP itu sehat walafiat. Menjadi kurang sehat karena Anda mempertanyakan makna CEMBURU dan MENYESAL kepada saya. Kalau Anda mempertanyakan arti kata tersebut secara teologis, ya bisa saja Anda bertubrukan dengan KBBI.

Justru saya ingin menjelaskan kepada Anda bahwa definisi dalam KBBI-lah yang dipakai di TB LAI. Bukankah itu sama2 bahasa Indonesia? Kalau ada kata dalam bahasa Indonesia yang saya tidak mengerti, ya saya tanya ke KBBI. Bukankah begitu?

Namun ketika Anda ngotot memaknainya secara teologis, yang sejatinya Anda tidak salah, lalu Anda akan menjumpai kesulitan secara KBBI & TB LAI. Pendekatan teologis itu multitafsir. Ketika kita membawanya ke ranah teologis, maka 1 + 1 = 1. Padahal secara matematis kita mengenal bahwa 1 + 1 = 2. Ya tho?

Sejatinya dalam diskusi kita ini saya ingin menyatukannya, bahwa kata MENYESAL yang TB LAI itu benar-benar yang didefinisikan di KBBI. Demikian juga kata CEMBURU. Ya, saya harus ulangi sekali lagi bahwa Andalah yang membawa KBBI dalam diskusi kita.

Saya tekankan bahwa Alkitab itu catatan yang PALING JUJUR dari semua catatan. Karena kejujuran itulah saya mengimaninya. Kejujuran ini terbukti di setiap jaman saat setiap peristiwa yang dicatatkan itu terjadi. Ya, saya mengacunya dari situ.

Ketika pada suatu masa Allah berfirman A, maka Alkitab pun mencatatnya A. Ketika pada masa berikutnya Allah berfirman B, maka Alkitab pun mencatatnya B. Dari kejujuran Alkitab inilah saya berpegang teguh.

~~~

Diskusi ini jadi panjang karena saya memposisikan diri sebagai orang sederhana yang mempercayai bahwa Alkitab (TB LAI) yang saya baca sudah cukup untuk saya imani. Namun Anda kemudian membawa KJV dan pendekatan teologis. Anda malah menunjukkan bahwa TB LAI menerjemahkannya sehingga menjadikannya berbeda di banyak hal. Saat ini saja kita baru membahas kata rabbit, hare, menyesal, cemburu dan belum ke kata-kata yang lain.

Lalu ketika saya bertanya, sebaiknya saya membaca & belajar Alkitab yang mana yang akurat terjemahannya, Anda malah menjawab semua layak & akurat. Lha saya jadi bingung kan? Di satu sisi Anda menunjukkan perbedaan terjemahan dan di sisi lain Anda menjawabnya sebagai AKURAT?

Kalau kemudian Anda menuntut supaya saya memahaminya secara teologis, ya tolong tunjukkan kepada saya Alkitab yang mana yang harus saya baca? Karena ketika kita dituntut memahaminya secara teologis, ini berarti masuk ke multitafsir.

Begini ya Mas, kita ini ngobrol dalam protokol yang sama. Itu bisa nyambung. Namun kalau Anda berganti-ganti protokol, ya jadi ngga nyambung. Ketika saya tanya, sebaiknya kita pakai protokol yang mana, Anda menjawab semua protokol akurat. Hem… ya berarti kita harus memahami semua protokol ya?

Bukan hal yang buruk saya pikir, namun apakah ini bisa diterima oleh orang2 sederhana? Orang-orang sederhana seperti saya tentu bingung, wah harus belajar protokol lain nih? Apakah tidak cukup protokol yang sudah kita kuasai sekarang? Lalu terjebaklah kita muter-muter membahas protokol.

~~~

P:
Jadi mas jelasnggak sudah memilah, bahwa mas DEWO mencampurbaurkan pandanan relatif terhadaf sesuatu yang seharusnya ABSOLUTE… TUHAN tidak bisa dipandang RELATIF karena statement a berkata ALLAH adalah TETAP, tidak berubah….

Sekali lagi, saya tidak menyanggahnya. Bukan maksud saya menolak padangan absolute. Karena itu di ranah iman. Dan saya pun mengimaninya.

Namun saya mengajak kita semua masuk ke sebuah time-machine menuju ke suatu jaman saat peristiwa pemusnahan itu terjadi. Apa yang Anda pikirkan di tempat itu di masa itu?

Tentu akan berbeda dengan persepsi kita di jaman sekarang tho? Inilah yang selalu ingin saya sampaikan. Bukan karena saya menjatuhkan iman Kristen. Bukan karena saya meragukan kekristenan Mas Parhobas. Bukankah saya sudah bilang sebelumnya bahwa saya tidak meragukannya? Bahkan saya pun tidak meragukan kekristenan saya sendiri?

P:
saya menunggu respon yang sehat dari Anda…
Salam di dalam Nama Yang Mulia, YESUS, TUHAN Yang ajaib.

Sudah sehat belum, Mas?

Salam & GBU.

@Mas Dewo
saya kira yang perlu dikaji ulang adalah pernyataan :

Tentu akan berbeda dengan persepsi kita di jaman sekarang tho? Inilah yang selalu ingin saya sampaikan.

anda memilah set per set waktu, waktu dulu berbeda dengan waktu sekarang, CMIIW, dan tentu itu bertentangan dengan kutipan LAI, sebab LAI menerjemahkan berdasar theologis, konteks, karena itu berntentangan maka memaksa saya menyarankan Anda memakai KJV….karena KJV lebih menjelaskan set per set seperti yang Anda harapkan

Ketika Anda menjelaskan konteks, sangat tepat menggunakan LAI TB,… tetapi ketika kita mau terapkan untuk menjelaskan literalnya, LAI TB bukan tempat yang tepat karena LAI TB tidak menerjemahkan secara literal, semoga Anda maklum penjelasan saya ini…

Ketika kita tidak tahu jenis penerjemahan itu, maka memang bisa terjebak dan rancu..

contoh ayat yang membedakan jenis penerjemahan antara KJV dan LAI TB (dan semoga kita diberkati oleh ayat ini, dan bukan terjebak)

2 Samuel 17:25 Absalom telah mengangkat Amasa menggantikan Yoab untuk mengepalai tentara. Amasa adalah anak seorang yang bernama Yitra, seorang Ismael yang telah memperisteri Abigal binti Nahas, saudara perempuan Zeruya ibu Yoab.

2 Samuel 17:25 And Absalom made Amasa captain of the host instead of Joab: which Amasa was a man’s son, whose name was Ithra an Israelite, that went in to Abigail the daughter of Nahash, sister to Zeruiah Joab’s mother.

kalau kita ngotot mempertahankan LAI sebagai literal, maka mampus bisa kita dapat,…

hehehe…

oh yah,

kata Anda:
Benarkah MENYESAL atau BERBALIK ARAH?
sekali lagi, maknanya sama, yang satu literal, yang satu lagi theologis…
jika theologis, maka kita tidak bisa memecah kata-perkata, kita harus melihat subject, dan konteks,..dan lain sebagainya…

salam;
TUHAN YANG BAIK, tidak bisa Tidak BAIK…
karena TUHAN TETAP,…

@Mas Parhobass,

Lho?

P:
menduga2 lagi?

Saya tidak menduga kok.

P:
yang membawa KBBI Anda apa saya di awal?, koq semakin tidak sehat diskusinya yah? hehehe

Tuh kan, Anda juga menduga-duga?

BTW, Andalah yang membawa KBBI. Semoga pertanyaan Anda ini bukan karena Anda tidak ingat. Lagian arah pertanyaan Anda ini kemana sih?

P:
coba pertanyaan saya dijawab diikiiiit ajah hehehe..

kenapa tidak defenisi dari kamus yang dimasukkan ke Alkitab untuk menjelaskan semua kata?

Bukankah sudah? Kata MENYESAL yang di KBBI itulah yang dipakai Alkitab TB LAI. Sudah saya jawab ya? Karena saya konsisten memaknai MENYESAL yang sesuai dengan KBBI.

P:
menurut Anda tepat ngga pertanyaan itu?

Lho? Anda bertanya sendiri kok mempertanyakan pertanyaan Anda sendiri?

Sebagai tambahan, jika kita sedang berbicara dalam bahasa Indonesia, ya kita mengacu kepada kamus Indonesia. Jadi ketika saya membahas MENYESAL (bhs Indonesia) ya saya mengacu definisinya dari KBBI. Eh, bukankah Anda sendiri yg membawanya kemari?

P:
gini mas,…. di dalam kurung adalah beberapa keadaan untuk menjelaskan yang sebelumnya… sesuatu yg kurang baik (dosa, kesalahan, dsb)… nah ada 2 contoh, dimana yang paling utama diletakkan adalah DOSA… pertanyaan saya belum Anda jawab. BISA ngga orang terjebak sehingga memaknai MENYESAL=Hanya mempunyai arti MELAKUKAN DOSA?,

Wah Anda menduga-duga bahwa karena “dosa” diletakkan sebelum “kesalahan” maka dianggap yang paling utama diletakkan adalah “DOSA”? Inilah yang saya tuliskan bahwa Anda memahami definisi KBBI ini sebagai tekstual.

Perlu saya perjelas sekali lagi bahwa kata-kata yang ada dalam kurung itu bukanlah definisi atas “sesuatu yg kurang baik”. Oleh karenanya tidak bisa menggantikan kata “sesuatu yg kurang baik” secara langsung.

Argumen saya adalah bahwa “sesuatu yg kurang baik” belum tentu “DOSA.” Demikian juga “sesuatu yg kurang baik” belum tentu “kesalahan.” Bahwa “dosa” dan “kesalahan” dituliskan dalam tanda kurung adalah 2 buah contoh dari “sesuatu yg kurang baik.”

Demikian juga dengan “dsb”, apakah “dsb” selalu “sesuatu yg kurang baik”? JelasNggak?

P:
[..] nah ada 2 contoh, dimana yang paling utama diletakkan adalah DOSA… pertanyaan saya belum Anda jawab. BISA ngga orang terjebak sehingga memaknai MENYESAL=Hanya mempunyai arti MELAKUKAN DOSA?,

Perasaan sudah saya jawab deh. Nih, saya kutipkan sekali lagi jawaban saya:

Dewo (klik):
Menurut saya sih jelas, bahwa definisi KBBI tersebut BELUM TENTU bisa digunakan untuk menyatakan Allah berdosa. Nanti akan saya jelaskan lebih lanjut setelah mengomentari beberapa hal di bawah ini.

Nah, coba pahami lagi komen saya tersebut. Bukankah saya sudah menjawab pertanyaan Anda? Ini komen kalau nggak salah sudah 3 atau 4 komen saya yang lalu. Tapi supaya Anda puas, saya akan menyatakannya sekali lagi: bahwa definisi KBBI tersebut BELUM TENTU bisa digunakan untuk menyatakan Allah berdosa.

Penjelasan detailnya sudah saya tuliskan di SINI (KLIK). Saya menjelaskannya panjang lebar loh! Sayang dong saya sudah nulis panjang-panjang tapi tidak dibaca & dipahami. Artinya diskusi kita tidak dipahami secara menyeluruh.

P:
cari dulu arti literal NACHAM… please buatlah diskusi ini sehat… sudah dicari belum?

Hem… bukankah sudah saya lakukan. Inget diskusi kita sebelumnya tentang H5162 di SINI (klik)? Bukankah saya sudah sertakan link tentang H5162 (klik)?

Ini sudah lama kita bahas & sudah saya jawab. Dan saya masih ingat betul saat Anda menyatakan bahwa Anda berguru ke H5162.

P:
ya diskusi tidak sehat semakin kelihatan , sebab begitu banyaknya Anda menduga2…

Lho? Menduga-duga lagi ya? Diskusi ini masih sehat. Toh saya meresponse Anda kan? Saya tidak menduga-duga, tapi komentar Anda memang saya tangkap seperti itu.

P:
waddduhhh mas DEwo…
cepat cari makna NACHAM, dan satu lagi Anda sepertinya belum mencari ISBE (International Standard Bible Encyclopedia)… please, kalau itu di dapat diskusi ini akan segera kemabali sehat, dan segera selesai….

Loh? Jadi saya tidak boleh mengacu KBBI untuk memaknai MENYESAL ya? Bukankah Anda yg mengutip KBBI duluan? Sekarang saya malah disuruh mencari di ISBE? Atau biar gampang, mengapa tidak Anda saja yang mengutipkan ISBE di sini?

P:
sekali lagi ??????

Loh? Saya tidak menduga-duga loh. Saya menyimpulkan dari semua pernyataan Anda bahwa MENYESAL (Allah) itu memiliki arti yang berbeda dengan MENYESAL (manusia, KBBI). Atau saya salah menyimpulkan? Ah, enggak kok…

Malah saya mengusulkan supaya Anda usul ke KBBI supaya membuat definisi MENYESAL versi Allah dan versi manusia. Ya tho?

P:
PR Anda dari awal adalah… mencari arti dasar NACHAM…kalau sudah maka selaraskan dengan cara menerjemahkan RABBIT dan HARE ke KELINCI…

Kayaknya nacham sudah saya jawab beberapa sesi yg lalu. Lihatlah jawaban saya tentang H5162. Bukankah itu malah membuat saya bertanya kepada Anda: “Apakah LAI tidak akurat dalam menerjemahkan?” Anda malah bilang saya ngawur ketika saya menanyakan hal logis itu. Jadi yang tidak sehat itu siapa tho?

P:
karena tugas Anda inilah diskusi ini semakin panjang, lebar dan semakin tidak sehat…
CMIIW…

Lho?

P:
Oh GOD…. gimana neh?
saya jamin, oleh karena hal ini jugalah diskusi kita sangat2 alot dan tidak sehat…
Coba Anda bandingkan antara KJV (King James Version) dan NWT (New World Translation) ayat Yohanes 1:1….
bandingkan juga KJV dengan NIV, bagaimana pola penerjemahannya…

Hehehe… jangan lupa minum obatnya Mas, supaya sehat lagi.

Yang saya tahu selama ini, juga berdasarkan jawaban2 Anda sebelumnya, kita memiliki masalah dengan perbedaan versi Alkitab. Terbukti bahwa Anda pun menyarankan saya untuk membaca terjemahan yang lain. Namun ketika saya tanya versi mana yang layak untuk diacu, Anda malah menjawab “Oh GOD…”

Lha terus kita mau pakai terjemahan yang mana supaya kita bisa sepemahaman?

P:
Jika kita sebagai orang yang mencari arti “terjemahan” kita harus belajar mencari makna dari berbagai terjemahan, ini nasehat saya dari awal….

Nah, ketika saya mengutip ayat dan kemudian Anda mempertanyakan arti sebuah kata, maka kita berada di protokol yang berbeda saat Anda membawanya ke terjemahan yang berbeda. Ibaratnya saya ngomong bahasa Indonesia, Anda ngomong bahasa Ibrani.

P:
saya kasih tau mas yah… untuk orang yang terbiasa dengan apologet, maka jika ia memakai versi terjemahan tertentu, itu bisa menjelaskan bagaimana ia memaknai Alkitab… perhatikan kalimat saya sekali lagi VERSI TERJEMAHAN

Terima kasih pemberitahuannya Mas. Nampaknya saya harus belajar apologet dari Anda.

P:
ada paling tidak 3 jenis penerjemahan ALKITAB, yaitu:
1. Formal Equivalence atau word-for-word)<— KJV
2. Dynamic equivalence atau thought-for-thought <— NIV, TB
3. Paraphrase <–NWT, yang bisa digunakan Saksi Yehova

Menurut Anda, dalam konteks diskusi kita ini, sebaiknya kita menggunakan yang mana? Pertanyaan saya ini logis loh ya? Maksudnya adalah bahwa kita punya protokol yg sama dalam berdiskusi. Tentu supaya tidak berpanjang lebar diskusinya. Ya tho?

Jangan bilang saya ngawur lagi loh! Saya sudah selalu bersikap netral supaya kita punya titik temu.

P:

*hem… saya kok malah jadi kayak agama lain yg sedang mempertanyakan keakuratan & kebenaran Alkitab ya? Tapi saya meresponse komentar Anda loh! Hehehe…*

menduga2 lagi….

Hehehe… saya sedang menduga-duga apa tho? Dengan komentar pendek Anda itu, dan Anda lebih memilih menghakimi seperti itu, sebenarnya Andalah yang tidak sehat. Iya tho? Minum obat dulu sana.

P:
saya katakan dari awal, semua terjemahan akurat, hanya tekniknya berbeda, lihat di atas…

Oke, saya pegang kata-kata Anda bahwa “semua terjemahan akurat”. Lalu kemudian saya bertanya:

1. Mengapa Anda keberatan dengan ayat “ALLAH MENYESAL” dan Anda lebih suka memaknai MENYESAL sebagai arti yang berbeda?

2. Jika semua terjemahan akurat, mengapa Anda menyuruh saya mempelajari terjemahan yang lain? Bukankah Anda membuktikan bahwa terjemahan LAI berbeda dengan KJV? Apakah TB LAI tidak cukup? Bukankah sudah Anda nyatakan bahwa semua terjemahan (termasuk TB LAI) itu akurat?

3. Lalu untuk apa Anda menunjukkan beberapa kata yang membuktikan bahwa TB LAI melakukan pemilihan kata yang tidak tepat dalam penerjemahannya? Bahkan kalau boleh dibilang: KELIRU?

P:
coba mas baca penjelasan WAJAH

What’s the point, Bro? Anda setuju jawaban saya? Bukankah penjelasan WAJAH dari Anda itu malah mendukung pernyataan saya?

Jawaban Anda yang pendek2 seperti itu tidak sehat Mas. Anda tidak mengiyakan tapi tidak menyanggahnya. Padahal persepsi saya adalah bahwa penjelasan Anda yang lalu itu justru mendukung pernyataan saya?

Diskusinya yang sehat ya Mas? Kalau belum sehat, silakan minum obat dulu.

P:
kenapa ngawur, gini mas
Anda sudah berkata tidak meragukan kekristenan saya toh?, nah sebagai Kristen masak saya berani bertanya LAI tidak akurat? itu ngawur, terbukti dari kutipan BILANGAN itu saya kutip dari LAI TB…
karena saya percaya LAI. jadi kalau ada pertanyaan LAI akurat tidak? itu ngawur…
makanya pertanyaan yang tepat adalah.. bagaimana LAI menerjemahkan, saya yakin Anda belum tahu… CMIIW…

Lho?
Bukankah Anda yang telah berusaha meyakinkan saya bahwa terjemahan LAI itu BERBEDA dengan terjemahan lain? Bukankah Anda sudah menunjukkan bahwa terjemahan LAI itu membawa makna yang berbeda dengan Alkitab versi lain?

Bukankah Anda sudah menunjukkan kepada saya bahwa ayat yang saya kutip ternyata punya makna berbeda di Alkitab versi lain? Bukankah Anda yang menunjukkan bahwa ada banyak ayat yang terjemahannya berbeda?

Kok malah jadi saya yang dingawur-ngawurin sih?

Wajar dong saya bertanya keakuratan TB LAI kepada Anda? Bukankah Anda ahlinya apologet & Alkitab? Mosok saya bertanya tapi dingawur-ngawurin? Yang bener saja Mas. Yang sehat dong diskusinya!

BTW, saya tidak keberatan kok seandainya saya belajar dari Anda tentang apologet, bagaimana cara LAI menerjemahkan, dll. Tapi dalam diskusi, sebaiknya Anda mengutarakan maksud Anda dengan jelas.

P:
ada perbedaan informasi yang kita punyai, itu membuat jurang yang dalam…

Tidak hanya perbedaan informasi, tapi juga perbedaan pemahaman. Tapi yang perlu saya tekankan kepada Anda: bahwa saya konsisten dalam membuat pernyataan. Sejak diskusi dengan Mas LP, Mas JN dan sekarang sama Anda, pernyataan saya tetap konsisten.

P:
contoh yang ngawur hehehehe
HARE dan RABBIT memiliki ciri yang 80 persen sama… HARE hanya hidup di wilayah tertentu, salah satunya tidak hidup di INDONESIA… maka ketika INDONESIA melihat HARE mereka akan berkata itu KELINCI, karena keterbatasan… nah orang bisa keliru dalam hal ini, maka harus dijelaskan…

Lho kok ngawur?
Bagaimana jika kita adalah masyarakat GUNUNG yang karena keterbatasan tidak mampu membedakan BUAYA dan KUDA NIL? Bukankah kedua binatang ini memiliki persentase cukup tinggi dalam hal kesamaan? Bahkan kedua binatang ini hidup berdampingan di Afrika.

Okelah kalau Anda bilang saya ngawur. Tapi yang ingin saya utarakan adalah bahwa ada 2 orang yang menggambarkan sesuatu yang sama tetapi dengan pemilihan kata yang berbeda yang ternyata salah.

Anda tahu apa yang sedang saya bicarakan kan?

P:
itu identik dengan MENYESAL…

Lho? Jadi MENYESAL (KBBI) dan MENYESAL (BERBALIK ARAH) itu sama enggak sih? Anda kok membuat bingung siapa saja yang membaca sekelumit komentar Anda itu? Ketika saya berusaha menyimpulkan malah dibilang ngawur dan menduga-duga? Jangan-jangan Anda memang ngga niat diskusi nih?

P:
Anda HEBAT

Kok saya nangkepnya bukan pujian ya?

~~~

NB: Ada beberapa pertanyaan yang belum Anda jawab. Salah satunya adalah komen saya tentang INTEGRITAS Allah di SINI (klik). Mungkin Anda lupa menjawabnya. Untuk itulah saya mengingatkan. Namun jika Anda tidak ingin menjawabnya, silakan dinyatakan. Sepanjang saya diskusi, saya selalu berupaya sehat dengan menyatakan: “saya kesampingkan”, “tidak saya jawab”, dan kalimat-kalimat lain yang senada yang mengungkapkan bahwa saya tidak akan menjawabnya.

Maksud saya adalah bahwa diskusi kita tidak menggantung atau ada sesuatu yang miss di tengah-tengah yang mengakibatkan kesalahan persepsi di kemudian. Terbukti bahwa saya selalu berupaya SEHAT dalam berdiskusi.

GBU

@Mas Parhobass,

Nah, ini dia:

P:
anda memilah set per set waktu, waktu dulu berbeda dengan waktu sekarang, CMIIW, dan tentu itu bertentangan dengan kutipan LAI, sebab LAI menerjemahkan berdasar theologis, konteks, karena itu berntentangan maka memaksa saya menyarankan Anda memakai KJV….karena KJV lebih menjelaskan set per set seperti yang Anda harapkan

Loh? Bukankah Alkitab juga merupakan catatan sejarah? Bukankah Alkitab mencatatkan peristiwa keselamatan oleh Allah? Bukankah itu tertuang dari masa ke masa? Bukankah LAI pun mencatatkannya secara runut?

Apa maksud Anda ketika bilang “[..] sebab LAI menerjemahkan berdasar theologis, konteks, karena itu berntentangan maka memaksa saya menyarankan Anda memakai KJV….karena KJV lebih menjelaskan set per set seperti yang Anda harapkan [..]“? Bukankah kata-kata Anda ini sama saja menjelaskan bahwa kedua Alkitab ini bertentangan? Apakah saya dapat menyimpulkan bahwa Anda menjawab kalau LAI tidak akurat dalam mencatat sejarah karena menerjemahkan berdasarkan teologis?

Bukankah sejarah itu harus ditulis apa adanya dan tidak dipengaruhi oleh teologia? Bukankah bisa jadi bias maknanya?

P:
[..] tetapi ketika kita mau terapkan untuk menjelaskan literalnya, LAI TB bukan tempat yang tepat [..]

[..] kalau kita ngotot mempertahankan LAI sebagai literal, maka mampus bisa kita dapat,… [..]

Secara nyata Anda menyatakan bahwa LAI tidak dapat digunakan secara literal. Soalnya kalau menggunakannya sebagai literal, maka kita bisa mampus.

Tahukah konsekuensi yang Anda tuliskan itu? Bukankah ini yang selalu saya tanyakan? Layakkah saya mengacu kepada LAI? Ternyata dalam konteks literal, Anda menyatakannya kita bisa mampus.

Apakah itu berarti saya tidak layak mempercayai TB LAI untuk mempelajari sejarah manusia & Allah?

Maafkan jika pertanyaan saya ini ngawur dan bodoh. Saya hanya berusaha menyimpulkan jawaban yang Anda sampaikan dengan kesederhanaan saya.

P:
[..] Ketika kita tidak tahu jenis penerjemahan itu, maka memang bisa terjebak dan rancu.. [..]

Bagaimana dengan orang-orang sederhana semacam saya ini dalam mempelajari Alkitab? Apakah Alkitab TB LAI dengan jelas menyatakan dirinya bahwa TB LAI itu menerjemahkan secara teologis dan bukan berdasarkan literal? Bagaimana saya bisa tahu apakah Alkitab yang saya pegang ini teologis atau literal?

Sedangkan contoh yang Anda berikan malah memperlebar jurang pemisah antara pemahaman Anda yang menguasai Alkitab dengan saya yang sederhana ini?

Anda sendiri telah menyatakan bahwa saya sedang terjebak & rancu dalam memahami TB LAI & yang kemudian melibatkan KBBI.

P:
sekali lagi, maknanya sama, yang satu literal, yang satu lagi theologis…
jika theologis, maka kita tidak bisa memecah kata-perkata, kita harus melihat subject, dan konteks,..dan lain sebagainya…

Bagaimana Anda bisa memaknainya sama sedangkan Anda menyangkal pendapat saya? Bukankah diskusi ini jadi panjang karena Anda menolak arti MENYESAL yang saya pahami?

Sungguh, Anda sendiri banyak melakukan kontradiksi dalam memberikan pendapat. Saya tidak menduga-duga loh, saya sudah utarakan semuanya kepada Anda.

Jika Anda baik dan ingin diskusi ini sehat, tolong jawab pertanyaan saya yang sederhana ini. Bukankah saya sudah bertanya & meminta penjelasan dengan rendah hati sesuai dengan kesederhanaan pikiran saya?

P:
TUHAN YANG BAIK, tidak bisa Tidak BAIK…
karena TUHAN TETAP,…

Secara doktrin, iya.
Secara sejarah, inilah yang sedang saya utarakan namun ternyata Alkitab yang saya jadikan acuan ternyata dinyatakan tidak tepat untuk membahas secara literal, frame-by-frame. Jadi saya tidak akan meresponse lebih lanjut sebelum masalah terjemahan ini clear.

@Mas Dewo,

mohon Anda kiranya menjelaskan dua ayat kutipan saya berikut:

2 Samuel 17:25 Absalom telah mengangkat Amasa menggantikan Yoab untuk mengepalai tentara. Amasa adalah anak seorang yang bernama Yitra, seorang Ismael yang telah memperisteri Abigal binti Nahas, saudara perempuan Zeruya ibu Yoab.

2 Samuel 17:25 And Absalom made Amasa captain of the host instead of Joab: which Amasa was a man’s son, whose name was Ithra an Israelite, that went in to Abigail the daughter of Nahash, sister to Zeruiah Joab’s mother.

kalau Anda bisa menjelaskan dua ayat ini, maka segera kita akan nyambung lagi, hehehe…

maaf saya bertanya,
di Gereja waktu liturgi, terjemahan mana yang Anda pakai,… pernah ngga disarankan suatu terjemahan tertentu di gereja Anda…

note:
ketika kita terjerambab di dalam apologet, maka mengetahui jenis terjemahan adalah senjata yang membuat kita kaya….

@Parhobass :

2 Samuel 17:25 Absalom telah mengangkat Amasa menggantikan Yoab untuk mengepalai tentara. Amasa adalah anak seorang yang bernama Yitra, seorang Ismael yang telah memperisteri Abigal binti Nahas, saudara perempuan Zeruya ibu Yoab.

2 Samuel 17:25 And Absalom made Amasa captain of the host instead of Joab: which Amasa was a man’s son, whose name was Ithra an Israelite, that went in to Abigail the daughter of Nahash, sister to Zeruiah Joab’s mother.

===> Mengapa juga tidak kamu jelaskan sendiri :) ?

@Mas Parhobass,

Hihihi…

P:
mohon Anda kiranya menjelaskan dua ayat kutipan saya berikut:[..]

.

Mengapa Anda memohon saya untuk menjelaskannya ya? Sudah tahu sayanya orang sederhana yang cuma modal TB LAI, lha kok ditanyain KJV tho?

P:
kalau Anda bisa menjelaskan dua ayat ini, maka segera kita akan nyambung lagi, hehehe…

Hihihi… kenapa diskusi kita harus bersyarat ya?

P:
maaf saya bertanya,
di Gereja waktu liturgi, terjemahan mana yang Anda pakai,… pernah ngga disarankan suatu terjemahan tertentu di gereja Anda…

Ga tahu tuh. Kayaknya tidak mesti TB LAI juga. Tapi umat Katolik kalau bawa Alkitab ya TB LAI itu. Bahkan sebenarnya tidak usah membawa Alkitab, soalnya sudah dicetakkan bacaannya di lembaran Misa.

Dan kayaknya tidak ada anjuran resmi harus pakai Alkitab yang mana. Atau saya yang kuper sehingga tidak tahu anjuran ini ya?

P:
ketika kita terjerambab di dalam apologet, maka mengetahui jenis terjemahan adalah senjata yang membuat kita kaya….

Asal tidak membuat tambah bingung saja, Mas. Maklum, saya kan orang sederhana yang ngga kuat kalau harus mikir terlalu berat.

@Mas JelasNggak,

Tolong komen di atas ini dihapus saja karena salah blockquote. Saya sudah submit lagi di bawahnya.

Terima kasih.

@Mas Dewo,

P:
mohon Anda kiranya menjelaskan dua ayat kutipan saya berikut:[..]</blockquote.

d: Mengapa Anda memohon saya untuk menjelaskannya ya? Sudah tahu sayanya orang sederhana yang cuma modal TB LAI, lha kok ditanyain KJV tho?

p: syarat itu perlu karena Anda selalu berargument tentang sesuatu yang literal, yang mana LAI TB bukan sumber yang tepat…, kalau modal cuman TB LAI, kiranya cukupkanlah diri Anda dengan hal itu, sebab saya sering melihat Anda berapologet, maka mengetahui beberapa terjemahan akan sangat membantu.. Jika modal juga hanya LAI TB, maka ada baiknya juga saudara mengetahui tipe penerjemahan LAI TB…, semoga diskusi topik ini selesai di sini…

P: maaf saya bertanya,
di Gereja waktu liturgi, terjemahan mana yang Anda pakai,… pernah ngga disarankan suatu terjemahan tertentu di gereja Anda…

d: Ga tahu tuh. Kayaknya tidak mesti TB LAI juga. Tapi umat Katolik kalau bawa Alkitab ya TB LAI itu. Bahkan sebenarnya tidak usah membawa Alkitab, soalnya sudah dicetakkan bacaannya di lembaran Misa.

p: baiklah, maaf saya harus bertanya demikian, karena ada orang/institusi tertentu mengharuskan memakai terjemahan tertentu, yang saya ketahui sejak awal Katolik menyarankan untuk tidak sembarangan membaca terjemahan-terjemahan, dan Anda bukan contoh yang tepat, karena Anda tidak pernah mendengarnya. Tapi saya memiliki terbitan LAI, lupa namanya, warna merah, ada gambar, yang disebut dipengantarnya, untuk umat Katolik…

Dan kayaknya tidak ada anjuran resmi harus pakai Alkitab yang mana. Atau saya yang kuper sehingga tidak tahu anjuran ini ya?
sepertinya ya, HAHAHAHAHA, Protestan lebih ke , maaf kalau ada informasi yang keliru di atas mengenai KJV,…awalnya
KJV lebih diasosiasikan ke Protestant, sementara Alkitab versi Douay- Rheims ke Katolik…tetapi dengan majunya jaman, saya kira Katolik sudah bereformasi dalam hal ini, sama seperti Anda hehehehe

P: ketika kita terjerambab di dalam apologet, maka mengetahui jenis terjemahan adalah senjata yang membuat kita kaya….

d: Asal tidak membuat tambah bingung saja, Mas. Maklum, saya kan orang sederhana yang ngga kuat kalau harus mikir terlalu berat.

P: maaf kemungkinan Anda sedang merendah, CMIIW, tetapi saya menemukan Anda sering berapologet, maka saya sarankan untuk mengetahui beberapa terjemahan…. itulah yang saya sebut di awal…. si sederhanapun akan sangat mudah menjelasakan Alkitab, tetapi akan menjadi sangat komplek jika kita berusaha menggali lebih dalam… yang ujungnynja memang bisa membuat GILA, hehe
sebuah kutipan:

Roma 11:33, TB, LAI
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

Guru agama manapun memang punya ayat2 favorit yang bisa bantuin dia ngeles kalo nggak bisa menjawab muridnya. Saya maklumlah itu :)

Roma 11:33, TB, LAI
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

Kalo murid bertanya dan guru tidak bisa menjawab kemudian endingnya sang guru memberikan senjata pamungkas: Allah itu tak terselami. Semua tepuk tangan. kalo muridnya saya sih paling saya tersenyum mesra saja.

Jika tak terselidiki keputusanNya dan tak terselami jalanNya, lalu darimana kamu bisa meyakinkan saya bahwa pendapat anda guru adalah pendapat yang benar ? :)Lha anda kan juga nggak bisa menyelami Allah kan ?

Mas Dewo sudah menanyakan itu dengan baik. Mestinya selain menjawab setengah ngeles, mendingan kamu jawab saja dengan serius gicu lho. Bahwa Allah tak terselami itu benar, tapi subtansinya kan apa pendapatmu dalam mengcounter argumentasi seseorang.

Mengapa agama nggak maju maju , isinya berantem melulu ya salah satunya ya karena pola pikir yang aduhai konservatif itu.

Karena makan buah, kamu berdosa selamanya.
jika kamu mencoba menyelami agama, kamu bisa gila.

Kalo bukan agama yang diselami terus apa? Kitab primbonkah, kitab bubok ala Kwee Ceng, sabdopalon noyogenggong? Menyelami agama saja nggak berani. Gimana agama bisa maju coba kalo pola pikirknya takut salah terus, takut gila, serba takut.

Membedah agama lain semuanya hebat bener, tapi membedah agama sendiri takut gila…? Hi Hi hi. Kalo saya mringis terharu kayaknya masih pantes.

Nggak usah takut bos, kalopun gila, mungkin saja masih bisa masuk surga. :)

@lovepassword,

apa arah penjelasannmu?

Alkitab itu bukan buku panduan atau penjelasan mengenai agama… sebab kalau melulu masalah agama atau manual berkehidupan sehari2-hari, maka akan sangat mudah diingat dan dipelajari…

kalau melakukan ini, dapat pahala dikali 5
kalau bergereja di gereja Besar anu itu, berpahala 5
kalau menolong orang miskin dapat kenaikan derajat di akhirat…
BUKAN,

ALKITAB mengajarkan, supaya kita mempunyai hubungan langsung dengan TUHAN, sebagai sumber segala KARUNIA,
dan karena langsung berhubungan dengan TUHAN dan karena TUHAN adalah MAHA, maka tidak dapat terselami… masak tinggi cuman 1 meter mau berdiri di tengah lautan?… paham kan yah maksud saya?….

Tidak dapat terselami bukan berarti kita tidak dapat masuk di dalamnya…sebab undangan TUHAN di Alkitab sudah jelas, “Datanglah kepadaKU yang letih lesu”, kita semua diundang untuk menjeburkan diri kepada LAUTAN ANUGERAH yang MAHA… sayangnya tidak semua mau. Tidak mau karena mengenal allah lain…. kan gitu (gaya mas jelasnggak neh)

@Parhobass :

Alkitab itu bukan buku panduan atau penjelasan mengenai agama…? Maksudmu Alkitab itu buku panduan cara berenang iya…? :)

Kita semua diundang menceburkan diri ? Perasaan kemarin kamu deh yang bilang bahwa yang mencoba menyelami bisa gila. Hi Hi Hi. Sekarang kamu ngomongnya lain lagi ihhh….Manusia diundang menceburkan diri. Maksudmu manusia disuruh nyebur tapi nggak boleh menyelam bolehnya kompal kampul mengambang gitu ya….

Hi Hi Hi

Salam Parhobass
GBU

Setahuku menyelam itu nggak ada hubungannya sama tinggi badan deh…

@Mas Parhobass,

P:
p: syarat itu perlu karena Anda selalu berargument tentang sesuatu yang literal, yang mana LAI TB bukan sumber yang tepat…, kalau modal cuman TB LAI, kiranya cukupkanlah diri Anda dengan hal itu, sebab saya sering melihat Anda berapologet, maka mengetahui beberapa terjemahan akan sangat membantu.. Jika modal juga hanya LAI TB, maka ada baiknya juga saudara mengetahui tipe penerjemahan LAI TB…,

Hem… sedikit saja saya tambahkan, justru saya sejak semula itu kebanyakan literal loh. Di situlah aplogianya. Hihihi… Makanya saya banyak diprotes, termasuk diprotes Anda & Mas JelasNggak. Namun seperti yang Anda bilang, rupanya TB LAI (yg teologis) bisa membuat mampus orang seperti saya. Hihihi…

P:
semoga diskusi topik ini selesai di sini…

Lho? Beneran nih selesai?

P:
p: baiklah, maaf saya harus bertanya demikian, karena ada orang/institusi tertentu mengharuskan memakai terjemahan tertentu, yang saya ketahui sejak awal Katolik menyarankan untuk tidak sembarangan membaca terjemahan-terjemahan, dan Anda bukan contoh yang tepat, karena Anda tidak pernah mendengarnya. Tapi saya memiliki terbitan LAI, lupa namanya, warna merah, ada gambar, yang disebut dipengantarnya, untuk umat Katolik…

Itulah dia. Sepengetahuan saya, Katolik itu pakai TB LAI.

P:
sepertinya ya, HAHAHAHAHA, Protestan lebih ke , maaf kalau ada informasi yang keliru di atas mengenai KJV,…awalnya
KJV lebih diasosiasikan ke Protestant, sementara Alkitab versi Douay- Rheims ke Katolik…tetapi dengan majunya jaman, saya kira Katolik sudah bereformasi dalam hal ini, sama seperti Anda hehehehe

Hihihi… jadi wajar dong kalau saya mengacunya ke TB LAI?

P:
P: maaf kemungkinan Anda sedang merendah, CMIIW, tetapi saya menemukan Anda sering berapologet, maka saya sarankan untuk mengetahui beberapa terjemahan….

Hihihi… emang saya rendah kok. BTW, apologia saya seharusnya bisa dijelaskan kan?

P:
Roma 11:33, TB, LAI
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

Keren… Berarti semua yang kita diskusikan di sini belum tentu ada yg benar ya? Karena sebenarnya keputusan2 dan jalan2-Nya sungguh tak terselami? Sekarang kita memahaminya begitu, tapi mungkin belum tentu pemahaman kita benar ya?

@Mas dewo

p: syarat itu perlu karena Anda selalu berargument tentang sesuatu yang literal, yang mana LAI TB bukan sumber yang tepat…, kalau modal cuman TB LAI, kiranya cukupkanlah diri Anda dengan hal itu, sebab saya sering melihat Anda berapologet, maka mengetahui beberapa terjemahan akan sangat membantu.. Jika modal juga hanya LAI TB, maka ada baiknya juga saudara mengetahui tipe penerjemahan LAI TB…,

d: Hem… sedikit saja saya tambahkan, justru saya sejak semula itu kebanyakan literal loh. Di situlah aplogianya. Hihihi… Makanya saya banyak diprotes, termasuk diprotes Anda & Mas JelasNggak. Namun seperti yang Anda bilang, rupanya TB LAI (yg teologis) bisa membuat mampus orang seperti saya. Hihihi…

P : semoga diskusi topik ini selesai di sini…

d: Lho? Beneran nih selesai?

harapan saya begitu… sebab diskusi ini akan kembali semakin ruwet hehehe..
mari perhatikan diskusi di atas, lihat sekali lagi….

kalau bisa saya simpulkan begini,…

sedari awal Anda diskusi literal, tetapi menggunakan LAI, TB… ok

saya kata, karena sejak awal Anda literal dan membawa2 LAI TB, itu menjadi tidak nyambung…. karena LAI TB tidak harus dimaknai LITERAL, sebab terjemaannya liturgis, theologis, thought per thought…

semoga tidak di lanjut lagi… semoga selesai.. please hehehe…karena bisa membuat mampus HAHAHAHA

p: baiklah, maaf saya harus bertanya demikian, karena ada orang/institusi tertentu mengharuskan memakai terjemahan tertentu, yang saya ketahui sejak awal Katolik menyarankan untuk tidak sembarangan membaca terjemahan-terjemahan, dan Anda bukan contoh yang tepat, karena Anda tidak pernah mendengarnya. Tapi saya memiliki terbitan LAI, lupa namanya, warna merah, ada gambar, yang disebut dipengantarnya, untuk umat Katolik…

d: Itulah dia. Sepengetahuan saya, Katolik itu pakai TB LAI.
P: yah dunia sudah semakin terbuka, terpujilah TUHAN untuk itu semua…coba Anda baca artikel di sabda berikut, itu menarik ..
kitab_suci_diagungkan

saya kutip satu paragraf terakhir:

Kitab Suci itu memang sebaiknya selalu dijunjung tinggi. Namun jangan sampai umat Kristen terlalu mengagungkan satu terjemahan Alkitab tertentu! Jangan sampai mereka tidak mau menerjemahkan kembali Sabda Allah ke dalam bahasa yang mereka pakai sehari-hari. Jangan sampai mereka tidak mau menggantikan terjemahan lama dengan terjemahan baru yang lebih tepat dan lebih mudah dipahami.

P: sepertinya ya, HAHAHAHAHA, Protestan lebih ke , maaf kalau ada informasi yang keliru di atas mengenai KJV,…awalnya
KJV lebih diasosiasikan ke Protestant, sementara Alkitab versi Douay- Rheims ke Katolik…tetapi dengan majunya jaman, saya kira Katolik sudah bereformasi dalam hal ini, sama seperti Anda hehehehe

d: Hihihi… jadi wajar dong kalau saya mengacunya ke TB LAI?
heheh, memilih terjemahan mah masalah iman, yang saya tekankan adalah justru TB LAI itu mengikuti sumber seperti KJV, yang awalnya diperuntukkan untuk Protestant, CMIIW. Sumber TB dan KJV sama, cara penerjemahannya yang berbeda, tetapi semakin banyaknya manuscript yang ditemukan, semakin umat KRisten diperkaya dan diajak untuk merendahkan diri di hadapan TUHAN…

P: maaf kemungkinan Anda sedang merendah, CMIIW, tetapi saya menemukan Anda sering berapologet, maka saya sarankan untuk mengetahui beberapa terjemahan….

d: Hihihi… emang saya rendah kok. BTW, apologia saya seharusnya bisa dijelaskan kan?
hihihi jugalah

Alkitab: Roma 11:33, TB, LAI
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

d: Keren… Berarti semua yang kita diskusikan di sini belum tentu ada yg benar ya? Karena sebenarnya keputusan2 dan jalan2-Nya sungguh tak terselami? Sekarang kita memahaminya begitu, tapi mungkin belum tentu pemahaman kita benar ya?
p: jangan terlalu jauh begitu, ntar-ntar Anda juga bisa menerima kebenaran Saksi Yehova…. tak terselami bukan berarti kita tidak bisa menjebur di dalamnya,… masalah kedalaman nya itu adalah masalah hubungan pribadi kita dengan TUHAN, saya kira ini sudah terlalu sering diutarakan oleh ALKITAB. Banyak defenisi yang tidak dapat kita katakan tetapi sanggup kita jabarkan di hadapan percakapan kita dengan TUHAN, di dalam doa-doa kita..

@Mas Parhobass,

Karena diskusi diselesaikan, maka saya tidak berkomentar lagi. Kalau terus berkomentar nanti nggak jadi selesai. Hihihi…

Tuhan memberkati.

gag mudheng……

Teman2 Kristiani, mohon kembali memakai akal…kan artikel Jell dikhususkan utk diskusi Kristen vs Islam, koq jadi Kristen vs Kristen.

Jangan gituh donk.

Memalukan.

Sebaiknya perbedaan opini sesama Kristen dibincangkan lewat sarana lain cth mail.

Syalom.

itulah yg bikin aku gag mudheng

Karena kalian satu pun ngga ada yang bisa jawab pertanyaan di sini sih… jadi kita pada asik diskusi sendiri.. he he he..

oh ya om jel….
di blognya om tentang dimana Quran yang asli dah ada tanggapan tu…….
cek TKP plisss…

hehehhehehehe

@cosmicboy : Menurutmu diskusi Kristen dengan Kristen itu menandakan kalo keduanya tidak berakal yah ?

Ya Nasip..ya nasip…malang nian kalian teman-teman. Hi Hi Hi

Salam semuanya.

Bener serius lho..Kalian memang tampak lebih pinter kalo diskusi masalah ginian. Kalian kelihatan kalo menguasai topik gitu lho. Kelihatan pakar semua deh. Hi Hi Hi . Diskusi ini baik bagi kalian serta pasti juga mencerahkan umat yang membaca diskusi kalian. Master2 debat agama, master teologia semua lho :) Keren kan ? Keren dong pasti… :D

Lagian semakin lama ngobrol juga keduanya pasti sama-sama terasah, jadi yah berterimakasihlah padaku, karena kalian yang tadinya sok malu-malu kucing , beraninya cuma ngomong amin amin sama orang yang dianggap pakar, sekarang jadi lebih dipakai nalarnya kan…Berani tampil beda, berani mengemukakan pendapat bahkan yang tidak umum sekalipun. Kalo kalian rada kritis kalian jadi nggak mudah diapusi. Teruskan saja usaha kalian. :) Apa yang perlu ditakuti dari sebuah perbedaan pendapat kan.. ? Restuku menyertai kalian. :)

SALAM
GBU

@Raden Mas Dewo dan Tumenggung Parhobass : Perasaan kalian itu kan manusia Indonesia, bahasa Indonesia juga diajarkan sejak SD bahkan TK juga pake bahasa Indonesia. Mengartikan kata “menyesal” saja nggak selesai-selesai. Bahkan sampai buka aneka kamus, masih belum selesai juga…Hi Hi Hi

Jangan-jangan waktu guru bahasa ngajar kalian malah tidur atau asik pacaran sama anak sebelah :)

Saya jalan-jalan ke Alfamart, duit di kantong tinggal lima ribu. Terus ada cewek cakep namarin permen cecak. Permennya enak Mas..seribu tiga seribu tiga. Karena ngefans sama senyumnya Ya sudah kubeli saja. Kemudian di rumah aku menyesal : Mendingan tadi kubelikan onde-onde saja lebih kenyang.

Apakah saya berdosa karena sudah membeli permen cecak…? Hi Hi hi

Menyesal itu kalo pake i lebih cenderung ke diri sendiri. Paijo menyesali segala perbuatannya.

Menyesal kalo pake kan lebih cenderung ke orang lain. Paijo menyesalkan sikap Paimin yang menolak ajakan nikah dari Mpok Minah.

Lha kalo menyesal ya bisa kemana-mana.

Saya menyesal minjamin duit ke dia
Saya menyesal sudah menyakiti hatinya
dll

SALAM

@Mas Lovepassword,

Setuju Mas.
Justru itulah yang ingin saya sampaikan dari dulu kepada Mas Parhobass.

Terima kasih.

@Mas Dewo ” Maksudmu setuju itu setuju point yang mana ya Mas Dewo?

Setuju bahwa saat guru bahasa ngajar kamu dan parhobass malah asik nggodain cewek bangku sebelah ??? :) Hi Hi Hi.

Ternyata waktu kecil, kalian ini anak-anak nakal yah… ????

=============================================

Diskusi kalian cepet banget selesai. Selesainya juga maksa yah….- Terus apa sudah ditarik kesimpulannya. Aslinya yang bisa disimpulkan dari diskusi antara Dewo dan Parhobass itu apa sih ???

Kalo menurutku sih : Biarpun kamu jelas ngawur Mas Dewo, kamu telah berdiskusi dengan cukup baik. Hi HI Hi…
Dari sisi substansi kamu ngawur , menurutku. Tentu saja ngawur menurutku, lha wong aku dan kamu kan berbeda pendapat sejak sebelum semua makhluk hidup di sini paham substansi pendapatmu. Bagiku kamu masih ngawur… :)
Tetapi dari sisi teknik mengemukakan argumentasi, kamu sangat baik. Hi hi hi…

Lha malangnya adalah : Parhobass, jelasnggak, dsb itu nggak mudeng2 kalo kamu ngawur. Mudengnya juga baru sekarang. Itupun aku harus memberitahu mereka dengan beragam cara. Pake kurayu dengan gaya tukang bakso nawarain bakwan.

Padahal aku kan sudah bilang itu sejak dulu. Kamu sudah ngomong sejak dulu dan Aku sudah memprotes kamu sejak dulu. Eh mereka nggak nyadar juga, malah ngedumelnya ke aku…… Entah siapa juga yang 56 Kbps…Hi hi hi…

Tapi yang pasti kamu konsisten, kamu sejak dulu ngedumel soal itu dan aku juga kan sejak dulu sudah ngomelin kamu. Hi Hi hi…

Lha makhluk hidup yang rada-rada nggak mudengan itulah
yang perlu memahami pernyataan orang lain lebih baik. Nggak harus langsung setuju , atau langsung tidak setuju tetapi substansinya harus paham dulu dong. Gimana nggak pusing membacanya : kalimatnya ngomeli aku tetapi substansi argumentasinya ternyata setuju dengan pendapatku. Kalimatnya membela kamu tetapi argumentasinya malah menolak argumentasimu. Bisa mringis terharu kan aku….Kamu pasti ikut mringis juga ya Mas…???

Saranku sih , untuk manusia2 antik yang keren-keren : Jangan asal membela jangan asal menentang tapi nggak mudeng A maksudnya ngomong apa, B ngomong apa. Hi Hi hi.
Pokoknya karena dewo pinter berarti pasti bener.

Kamu seneng nggak Mas, kalo dianggap pinter hanya gara2 orang lain nggak ngerti kamu? Hi hi hi….

Bahwa kamu pinter itu bener Mas, memang pinter. Tetapi saya rasa sebaiknya semuanya melihat : Bahwa standar sebuah kepinteran itu tidak diukur dari sejauh mana pernyataan orang tersebut tidak disetujui oleh orang lain.

Jika A tidak setuju denganmu, terus karena dia nganggap kamu pinter terus mikir Mas Dewo pasti bener karena pinter. Yah itu minder namanya. Hi Hi hi . Masalahnya adalah karena belum tentu kamu benar juga. :) ( dan juga belum tentu salah sih…cuma dari anggapanku sih salah)

Kamu itu ternyata berwibawa juga ya Mas Dewo, saking berwibawanya mereka nggak nyadar juga kalo sejak awal mereka berbeda pendapat dengan kamu. :)
Kalo mereka nggak kukasih bakwan, ya sampe setahun ngobrol tetap nggak bakal sadar tuh.

Malah ada yang ngomong gini : lovepassword, mas dewo itu pinter, jangankan kamu, lha wong kami saja nggak terlalu paham. :)

Whaduh…..

Kalo ada sidang pengadilan, saya rasa memang kesalahanmu belum bisa dibuktikan sampe sekarang. Meskipun sudah jelas-jelas kamu salah. Hi hi hi. Ya tentu salah menurutku sih.

Secara substansial kamu kuanggap salah, tetapi secara normatif selama belum bisa kubuktikan salah ya kamu masih boleh dianggap benar… :) Hi hi hi

===========================================
Masalah Time Frame…, dalam satu time frame pun , masalah tafsir mestinya ditarik ke hal-hal yang lebih substansial. Lha itu justru masih sangat membumi, karena manusia waktu itu melihat lewat konteks jaman itu.

Manusia pada jamannya melihat dari sisi manusia tersebut. Yang namanya tafsir manapun memang perlu melihat ini. Perlu belajar sosiologis historis, latar belakang ayat dsb.

Oh iya cuma saran yah : Yang kemarin2 berdebat sampe mules denganku merasa sok gagah berkata Alkitab nggak butuh tafsir karena bimbingan Roh Kudus, mendingan belajar lagi. Ini saran serius…..Saya rasa Roh manapun juga pasti males membimbing manusia yang males belajar :)

Dalam hal suatu ayat mesti dilihat melalui kacamata manusia pada jamannya, kamu ada benarnya. Meskipun tidak seluruhnya benar, karena selalu ada kisah bahwa manusia baru tahu setelah semuany terjadi. Serta pada sisi lain, juga benar bahwa suatu ayat bisa dijelaskan lebih komprehensip dengan melihat ayat2 yang lain. Kalo dianggap ada fragmen gambar maka semakin banyak fragmen maka diharapkan gambar besarnya kelihatan.

Tetapi dalam satu time frame pun tetap ada sisi yang bisa dilihat sesuai konteks jamannya.

Dalam kasus Allah menghukum atau menghinakan misalnya : Sudut pandangnya saya rasa bahkan dalam satu time frame masih sederhana : Ada dua hal yang selalu kuulang2 : Pertama ada sisi reward and punishment tetapi juga ada sisi kebebasan Allah dalam memilih. Lha dari sisi manusia yang perlu dilihat ya dua hal itu : Berusahalah baik atau intinya menjalankan perintahNya menjauhi laranganNya karena ada konsep jika A maka B. Tetapi ada juga sisi hak prerogatif Allah. Itulah mengapa saya berkali-kali mengutip “ala film kartun” :

Adakah tanah liat menilai tukang periuk….

Manusia perlu berusaha, berdoa, bekerja, dsb , lha dalam usahanya tersebut manusia berserah diri kepada Allah. Dalam usahanya manusia juga menyatakan bahwa bukan manusia tetapi Allahlah yang menentukan.

Konteks agama bahkan dalam satu time frame ya isinya dua hal itu.

Lha bahwa suatu tafsir atau gampangannya suatu ayat bisa dinalar secara lebih baik dengan melihat ayat2 yang lain, memang benar. Tetapi dalam satu konteks peristiwa yang sedang terjadipun tetap ada sisi yang bisa dilihat. Saya rasa gicu…

Kamu pernah mendengar dongeng ini Mas Dewo :

Time Frame 01 : Ada seseorang anggap saja namanya Dewo nemu kuda gagah. Lha dia bawa pulang tuh kuda. dalam perspektif Dewo pada time frame01, dewo merasa beruntung

Time Frame 02 : Kudanya dibawa pulang, eh beberapa hari kemudian kok ilang. Dalam perspektif Dewo, dia merasa tidak beruntung. Mungkin dewo membatin ternyata kuda itu nggak ada untungnya buat saya lha wong ilang lagi

Time Frame 03 : Kudanya ternyata naksir sama kebaikan dewo, eh beberapa hari kemudian kudanya pulang kandang , bawa betinanya lagi. Dewo kaget lalu merasa senang lagi. Dia menganggap beruntung lagi

Time Frame 04 : Anak tunggal kesayangan Dewo mencoba belajar naik kuda. Kudanya melawan nggak mau, dia jatuh Eh sudah jatuh dia disepak sama kuda betina sampai mengap-mengap perlu dibawa ke rumah sakit, bahkan kakinya patah karena jatuh. Dari perspektif Dewo , dia sial lagi

Time Frame 05 : Ada perang, semua pemuda harus ikut perang, lha karena kaki anaknya dewo ada masalah, maka pemuda itu dibebaskan dari kewajiban perang. Dari perspektif Dewo , dia merasa ternyata ada untungnya.

Dari cerita klasik ini kita bisa melihat bahwa time frame memang membuat batasan. Karena itulah mengapa menafsirkan Kitab Suci juga memperhatikan aspek lain, harus melihat secara lebih utuh, meskipun memang perlu juga dilihat menurut konteks jamannya.

Jika Dewo ada pada satu jaman, ada peristiwa tertentu, maka dalam penggalan peristiwa itu Dewo bisa menganggap itu baik atau buruk. Lha apakah secara substansial memang baik atau buruk beneran. Itu kadang manusia dalam satu ruang dan waktu tidak bisa memastikan itu. Karena itulah juga perlu dilihat secara lebih menyeluruh dan substansial.

Melihat per fragmen itu membantu dalam memahami detail. Lha melihat secara menyeluruh, membantu kamu melihat gambar besarnya. Tanpa detail tidak ada gambar besar. Tetapi kalo detail , kamu dekati sedemikian dekat bahkan kamu lihat pake mikroskop ya kamu nggak tahu , bentuk bangunannya menara pisa atau candi borobudur.

SALAM

@Mas Lovepassword,

Hihihi… senangnya bisa diskusi dengan Mas LP. Soalnya lucu, bikin ketawa-ketiwi sendiri.

Maksud saya setuju dengan penjelasan Anda adalah karena saya memaknai MENYESAL seperti yang telah Anda jelaskan. Demikian juga ketika Mas Parhobass mengkutip KBBI, saya pun sependapat dengan KBBI, bahwa arti MENYESAL itu ya seperti yang didefinisikan oleh KBBI.

Kesimpulan diskusi adalah bahwa kalau saya membaca Alkitab secara literal, ya jangan menggunakan TB LAI. Kata Mas Parhobass bisa bikin saya MAMPUS. Karena memang saya memaknai MENYESAL secara literal (bukankah memang tertulis sebagai MENYESAL di TB LAI?) Sedangkan Mas Parhobas bersikeras bahwa MENYESAL di TB LAI adalah teologis.

Sedangkan kalau mau membaca secara literal, maka lebih baik pakai KJV yang notabene dulu dianggap KS-nya Kristen Protestan. Sedangkan KS-nya Katolik adalah TB LAI. Hem… ya jelas saja saya mengacunya ke TB LAI tho?

Saya sendiri sih ada beberapa sanggahan, terutama soal TB LAI dalam konteks sebagai catatan sejarah. Namun saya pikir tidak menjadi soal karena selama Mas Parhobass tidak memperkenankan saya mengacu TB LAI secara literal, ya saya hormati pendapatnya. Ini berarti protokolnya sudah berbeda. Kalau dipaksakan ya jelas ngga nyambung. Kecuali jika kami sepakat menggunakan protokol yang sama, misalnya dengan TB LAI.

~~~

Mengenai time-frame, contoh klasik yg Anda bawa adalah benar, namun kurang tepat. Yang Anda contohkan kebetulan adalah pengalaman hidup seseorang yang anggap saja namanya Dewo yang mungkin hanya dialami oleh Dewo & persepsi hanya berlaku untuk Dewo.

Sedangkan dalam konteks diskusi kita, time-frame yang saya maksud adalah dalam kurun waktu yang lama & dialami oleh orang satu bangsa. Jadi persepsi yang diterima bukanlah dari 1 orang, melainkan 1 bangsa.

Bahkan time-frame-nya bisa saja dalam 1 generasi. Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa dalam satu peristiwa, yaitu saat Allah meninggalkan Israel & menyerahkan ke musuhnya, itu meliputi waktu 400+ tahun. Bayangkan saja time frame selama itu. Bisa berapa generasi ya?

Jadi masyarakat 1 bangsa di situ bisa saja mengalami persepsi yang sama, bahkan mungkin beberapa generasi memiliki persepsi & penilaian yang sama. Ya tho?

Salam.

@Mas Dewo : Kesimpulan diskusi yang asli aneh. Tapi diskusi ini ada bagusnya . Setidaknya para makhluk2 hidup imut2 yang kemarin2 menganggap Alkitab tidak butuh tafsir dengan dalih bimbingan Roh Kudus, ya mestinya sekarang terbuka pikirannya. Kalo nggak terbuka juga, ya nasip ya nasip… :) Pikiran2 keblinger itu nggak usah dipelihara, apalagi sudah salah, nyamber pula agama lain. Salahnya dobel itu , hi hi hi.

Lha kalo kalian yang notabene senior dalam debat agama bia berbeda pendapat dalam mengartikan kalimat yang sedemikian sederhana ya mungkin saja Roh Kudusnya sedang iseng sehingga membuat kalian berbeda pendapat. Atau jangan2 kamu yang dibimbing Roh Kudus, Mas Dewo sementara Parhobass tidak, atau malah sebaliknya kamu dibimbing roh buto ijo sementara Parhobass dibimbing yang lain. :) Entahlah…. ??? :)

Sekarang mendingan masuk ke diskusi kita :

Mengenai time-frame, contoh klasik yg Anda bawa adalah benar, namun kurang tepat. Yang Anda contohkan kebetulan adalah pengalaman hidup seseorang yang anggap saja namanya Dewo yang mungkin hanya dialami oleh Dewo & persepsi hanya berlaku untuk Dewo. ===> Dewo itu sekedar contoh, yang namanya time frame tentu bisa ada untuk siapa saja , bisa individu , bisa orang banyak, bisa juga bangsa. Begitu juga waktunya bisa pendek bisa lama. Tapi intinya bahwa manusia dalam melihat sesuatu memang dibatasi oleh time frame.

Kamu kecemplung sumur, nggak bisa keluar nggak ada yang nolong. Merasa apes kan..?
Lha mendadak kamu nemu emas peninggalan dinasti hayam wuruk di sumur itu, lupa apesnya …lebih lupa apes lagi kalo sesaat kemudian ada yang denger suaramu minta tolong terus kamu ditolong.

Lha pada saat itu mungkin kamu memandang bahwa kamu kecemplung sumur itu berkah yang tersembunyi. Lha sebelumnya saat kaki kamu keseleo sedikit terbentur2 plus teriak nggak ada yang dateng ya nggak ada yang mikirin berkah. Yang ada ya apes dah gw.

Itu time frame.

kasus yang lain yang lebih luas. Dalam kasus tsunami di Aceh , lingkupnya lebih besar lagi. Pada saat tsunami terjadi dan setelahnya tentu banyak yang mikir apa salahku, dsb. Itu manusiawi. bahkan bagi sebagian orang masih berpikir seperti itu. Tetapi bagi yang lain, tsunami pada saat ini mungkin dilihat ada berkah atau stidaknya hikmah yang tersembunyi. Misalnya pembangunan sangat pesat dan tertata, Indonesia lebih memperhatikan Aceh, konflik tahunan RI-Gam berhasil diselesaikan, dsb.

Jadi kalo bicara time frame batasannya luas, siapanya juga luas, berapa lamanya juga bisa luas, bisa sebentar tergantung melihatnya dari sisi mana kan. Tapi substansinya adalah Kalo kamu bicara soal time frame, yang namanya time frame itu membatasi sudut pandang.

Kamu memandang pemandangan danau toba dari jendela kamar mandi . Lha luas pandanganmu ya segitu itu, sedikit banyak dipengaruhi luas jendela. Sifat frame-frame termasuk time frame kan gitu.
Lha kalo kamu sadar bahwa ada time frame, ya selain melihat dari sisi time frame kamu harus membandingkan dengan time frame-time frame yang lain sehingga lebih komprehensip.

============================================
Jadi masyarakat 1 bangsa di situ bisa saja mengalami persepsi yang sama, bahkan mungkin beberapa generasi memiliki persepsi & penilaian yang sama. Ya tho?

Lho kalo masalah sama atau beda, kan selalu saya katakan ada sisi yang sama dan pasti ada yang berbeda. Misalnya kamu sama aku, sama kerennya. tapi jambulku lebih keren, lha kamu senyummu lebih keren. Masyarakat satu bangsa memiliki persepsi yang sama? Ya tentu bisa sama bisa beda. Lha pencatatan dokumen sejarah tentu tidak selalu bisa menggambarkan aneka perbedaan yang terjadi. kadang2 kelihatan tetapi kadang2 sejarah cuma menggambarkan pendapat mainstream saja.

SALAM

Tolong ya.

Diskusi/debat di tempat lain, tidak lah relevant di sini.

Jangan di bawa-bawa.

iya jelasnggak cucuku tercinta. nyebut namamu saja nggak. eh kamu malah membuat pengakuan dosa…:)

hi hi hi

mringis lagi ah

salam jell

@Mas Lovepassword,

Di situlah yang ingin saya tekankan, bahwa apa yang tertulis di Alkitab itu ya berdasarkan konteks saat itu, dalam time-frame saat itu. Jadi kalau dituliskan bahwa Allah MENYESAL, ya pada saat itu Allah memang menyesal.

Kalau dalam suatu masa Allah memusnahkan manusia, ya persepsi orang tentu beda-beda. Jikalau pun kita hidup pada masa itu, tentu kita akan mempertanyakan: Mengapa Allah memusnahkan orang sebanyak itu? Bukankah tidak semua orang yang dimusnahkan itu salah?

Anda sendiri mencontohkan bencana Aceh. Mungkin pada saat itu banyak sekali orang yang mempertanyakan kebaikan Allah.

Anda tentu masih ingat sebuah rekaman seorang gadis dari lantai 2 yang merekam bencana itu. Anda masih ingat komentarnya kan? Belakangan komentar gadis perekam itu diredam oleh stasiun TV. Namun karena sebelumnya sering diputar, kebanyakan dari masyarakat sudah tahu komentarnya.

Nampak bahwa persepsi gadis perekam itu jelas-jelas mempertanyakan Allah.

Sedangkan yang sudah kita bahas adalah bahwa persepsi masyarakat saat itu juga tertuang di Alkitab yang mana tidak mungkin kita pertanyakan kebenarannya. Kecuali kalau kita tidak mengimaninya. Ya tho?

Salam.

@Mas Dewo : Kalo yang kamu bicarakan adalah persepsi manusia dalam sebuah peristiwa, yah tentu memang ada berbagai macam persepsi manusia seperti dalam kasus tsunami di Aceh atau kejadian lain.

Kalo kamu ingin mengatakan bahwa dalam satu kurun waktu atau dalam satu ruang waktu tertentu , ada kejadian yang dipahami secara terbatas karena keterbatasan sudut pandang manusia, jawabannya Iya..persepsi manuisia seperti itu memang ada. Faktanya ada dan itu bahkan bisa kita lihat sampai sekarang. Setiap ada kejadian kan orang berasumsi dengan sudut pandangnya masing2. Misalnya : Ada gempa di suatu daerah : Ada Kristen tertentu ngomong, gempanya di daerah membangun gereja sulit, itu hukuman Tuhan, yang Islam tertentu ngomong daerah itu banyak maksiatnya, yang ateis ngomong terbukti tidak ada korelasi antara percaya Tuhan atau nggak dengan keselamatan , kejawen ngomong : Ini masanya SabdoPalon mau datang kembali memerintah Majapahit. Yang lain ngomong : Saya percaya ada hikmah, saya percaya ada rahmat tersembunyi, dsb. Intinya : Yah itulah yang namanya persepsi.

Kalo kamu mau berkata : Bahwa persepsi penulis Alkitab yang kamu kutip dalam suatu rentang ruang waktu tertentu seperti apa yang tertulis , bisa saja kamu benar bahwa ada persepsi manusia seperti itu , tetapi apakah memang persepsinya ya memang itu , yang bisa kita lakukan kan cuma menduga. Bisa saja benar bisa saja tidak.

Itu jika yang kita bicarakan persepsi manusia.

Tetapi secara lebih substansial, jika kita melihat secara lebih komprehnsip , saya rasa : Allah Maha Baik itu artinya Allah tidak akan merencanakan yang tidak baik, Allah Maha Benar ya berarti Allah tidak akan merencanakan yang tidak benar. Lha masalah ada persepsi manusia dalam satu ruang dan waktu , itu berbeda urusannya.

SALAM Mas Dewo

@lovepassword

segala sesuatu yang sederhana dapat diteriman dengan gampang dan mudah, tetapi ketika kita terjebur di dalamnya, kita semakin menemukan kekomplesan yang luar biasa…
itulah ALKITAB, mudah bagi orang seherhana, tetapi satupun profesor tidak dapat dengan mudah menjelaskannya…

saya dan mas dewo sibuk bukan perkara MENYESAL biasa, tetapi perkara MENYESAL yang ruuuaarrr biasa…

Wah hebat…
Benar-benar jawaban yg diplomatis…

@Mas Dewo : Lha kehebatan Raden mas Parhobass iti ya memang di situ. Ngomong pendek tetapi sarat makna. Satu kalimat bisa diartiken berbagai macam. Dalam bahasa gaul gitoh …: Parhobass itu kagak ade matinye…Hi Hi Hi.

Kalo nggak mantan tukang ramal , dia itu pasti mantan diplomat. Jawabannya diplomatis melulu sehingga disalahkan juga pasti nggak bakal bisa, lha wong benar salahnya jadi nggak tegas. :)

Mringis dulu ah..( senyumku ternyata memang masih manis.. )

============================================

@Raden Parhobass : saya dan mas dewo sibuk bukan perkara MENYESAL biasa, tetapi perkara MENYESAL yang ruuuaarrr biasa…

===> Masalahnya itu bukan perkara biasa atau spesialis pake telor, tapi substansinya apa gichu lho…

Lha kalo diskusi sama Mas Dewo , dia sendirian lha kalian banyak saja nggak berhasil menyelesaikan diskusi ini. Lha gimana sih kalian itu ? Mas Dewo itu emang salah ( menurutku sih hi hi hi ) tapi kalian menunjukkan salahnya dimana nggak bisa-bisa. Gimana aku nggak meringis coba…? :)

SALAM Deh

@LP.

Kalau tak pikir2. Lagakmu it mirip nenek temanku.

suka-nya mrangas mringis sendiri.. senyam senyum sendiri..

yah..

musti periksa dokter tuh…. jangan-jangan alzheimer. bwauakkakaka@#$%

.
.
.

sori becanda.

@jelasnggak cucuku tercinta :

elo memang sigap kalo bagian nyamber… :)

@jelasnggak : kamu juga mau nyerah, nggak berani diskusi sama Mas Dewo ?

Masak gak berani sih? Tahu gitu nggak tak angkat jadi murid TKku jell jell….

Kamu saksikan saja ya… Aku mau ngobrol ngegosip sama Mas Dewo. :)

@Lovepassword;
masalahnya sudah selesai, tinggal baca2 di bagian akhir….. OK.

@Lovepassword

@Parhobass :

2 Samuel 17:25 Absalom telah mengangkat Amasa menggantikan Yoab untuk mengepalai tentara. Amasa adalah anak seorang yang bernama Yitra, seorang Ismael yang telah memperisteri Abigal binti Nahas, saudara perempuan Zeruya ibu Yoab.

2 Samuel 17:25 And Absalom made Amasa captain of the host instead of Joab: which Amasa was a man’s son, whose name was Ithra an Israelite, that went in to Abigail the daughter of Nahash, sister to Zeruiah Joab’s mother.

===> Mengapa juga tidak kamu jelaskan sendiri

inilah yang saya katakan bisa membuat mampus,… apologet moslem juga sering mampus di dua ayat ini…

TB LAI berkata Yitra orang Ismael,
sementara KJV berkata Yitra orang Israel…
bagi yang mampus berkata ini sebuah kesalahan, KITAB TUHAN koq salah… artinya ini bukan KITAB TUHAN…..inilah kemampusan itu..

Kisah Raja-Raja oleh Samuel ditulis ulang kembali sekitar 400 tahun setelahnya, kemungkinan oleh Ezra… nah cerita di atas ditemukan di:

(1Chr 2:17 [ITB])
Abigail melahirkan Amasa dan ayah Amasa ialah Yeter, orang Ismael itu.

1Ch 2:17 KJV
And Abigail bare Amasa: and the father of Amasa was Jether the Ishmeelite.

Penjelasan:
Isai mempunyai 7 anak laki-laki, salah satunya Daud, dan 2 perempuan, salah satunya Abigail.
Abigail menikah dengan Yitra (Yeter) keturunan Ismael.
Yitra ini bergabung dengan Raja Daud, jadi secara perkawinan dan “tempat kerja” Yitra disebut orang Israel, dan secara darah orang Ismael…yang mana kedua-duanya benar.

jadi jelas, KJV menerjemahkan secara word per word, dan LAI TB menerjemahkan secara thought per thought… terbukti kitab kisah Raja-Raja oleh Samuel LAI TB sebut Yitra orang Ismael….yang mana disumbernya, yang Ibrani, disebut orang Israel..seperti yang diikuti KJV….

@Parhobass : Pendapatmu boleh juga…:) Tapi kalo menurutku sih secara umum, aku nggak terlalu seneng kalo penerjemah itu terlalu lebay dalam memasukkan tafsir pribadinya ke dalam terjemahan. bahkan andaikata dia itu pakar tafsir. Karena ada potensi serius membingungkan itu. :)

kalo mau nulis tafsir ya tafsir, tetapi kalo menerjemahkan ya nggak usah aneh2, kalimatnya apa ya diterjemahkan sedekat mungkin dengan arti kalimat aslinya.

Bahwa yang namanya menerjemahkan pasti ada unsur menafsirkan , memang benar. Tetapi tentu lain artinya jika seorang penerjemah atas dasar pendapat pribadi kemudian membuat terjemahan itu menjadi sebuah tafsir. Tentu saja itu bukan semata2 masalah terjemahan Alkitab, tetapi substansinya ya menurutku gitu.

Karena kamu pakar, atau setidaknya kelihatan pakar, ya bisa kamu lacak saja kalimat aslinya itu mengarah ke mana.

Gambarannya gini :

Kamu punya istri namanya Rohana. Kamu punya kucing namanya Sinchan.

Lha ada tulisan gini : Parhobass makan roti sebakul
Lha tulisan itu diterjemahkan jadi gini : Pemilik kucing bernama Sinchan makan roti sebakul.

Biarpun substansinya mungkin tidak dianggap salah : karena Sinchan itu memang nama kucingmu, tetapi itu bisa dianggap pencampur adukkan antara sebuah penafsiran dengan menerjemahkan. Lha menerjemahkan yang baik, kalo menurutku sih secara pribadi ya, ya yang sedekat mungkin maknanya.

masalah saya tahu parhobass itu punya istri Rohana atau punya kucing Sinchan ya itu urusan lain.

Lha dalam kasusmu itu , ya dijelaskan saja makna asalnya apa.

Kalo dilihat dari kalimat aslinya , bahasa aslinya, menurutmu lebih tepat ITB atau KJV ??? :)

@Mas Dewo : Tak kasih tambahan bekal buat idemu :)

Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini: ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya

Segitiga bersisi empat itu hukumnya mustahil kerana ianya merupakan dua perkara yg berlawanan.Mustahil dpt berhimpun dua perkara yg berlawanan.Tuhan tidak akan berbuat jika Dia tidak berkehendak dan Dia tidak akan berkehendak jika Dia mengetahui dgn ilmuNya bahawa perkara itu mustahil.Ini kerana perkara mustahil berada di dalam takluk ilmu Tuhan bukan di dalam takluk kuasa Tuhan.Kesimpulannya Tuhan berbuat dengan kuasaNya tetapi berdasarkan ilmuNya.

bisa saja, tapi dimensinya mungkin bukan di dunia ini. wong 1 + 1 bisa sama dengan 10 koq…. (dalam sistem biner).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang nggak Seneng Poligami :

  • 160,782 orang
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: