Jelasnggak

Statement.

Posted on: May 18, 2009

Dalam berfikir kritis,  sebuah kalimat dapat dibagi menjadi 2:

  1. Kalimat yang tidak memiliki nilai Benar atau nilai salah
  2. Kalimat yang memiliki nilai benar atau nilai salah.

Contoh dari kalimat yang tidak memiliki nilai kebenaran/kesalahan:

  • Kalimat Perintah, contoh : Lakukan saja!
  • Kalimat Seruan, contoh Jauh disana.
  • Kalimat tanya, contoh : Mengapa tidak?

Kalimat yang memiliki nilai kebenaran/kesalahan disebut sebagai Pernyataan/Klaim/Statement.

Dalam berfikir kritis, kita tidak perlu tahu apakah suatu kalimat adalah kalimat yang memiliki nilai kebenaran atau tidak. Yang perlu Kita ketahui adalah bahwa  suatu kalimat itu BISA memiliki nilai kebenaran (atau kesalahan).

Contoh Kalimat-kalimat berikut ini BISA memiliki nilai kebenaran (atau nilai kesalahan):

1. “Sebelum elvis meninggal, elvis sempat berfikir untuk menjadi vegetarian” ,
2. “Alam semesta ini adalah lebih muda dari galaksi yang paling tua”.

Perhatikan contoh-contoh kalimat di atas.
Kedua kalimat tersebut sama-sama memiliki kemungkinan untuk menjadi kalimat yang bernilai benar atau kalimat yang bernilai salah. Dan kita tidak perlu tahu kebenarannya apakah elvis pernah berfikir menjadi seorang vegetarian sebelum dia meninggal atau tidak. Demikian juga dengan contoh kalimat nomor 2, kita tak perlu mengetahui apakah alam semesta ini memang benar lebih muda dari galaksi yang paling tua atau tidak. Yang pokok adalah, bahwa kedua kalimat dari contoh di atas adalah bisa memiliki kemungkinan untuk menjadi kalimat yang benar (atau menjadi kalimat yang salah)
Karena kedua kalimat di atas sama-sama memiliki kemungkinan untuk menjadi kalimat yang bernilai benar (atau salah),  maka kedua kalimat itu layak disebut sebagai sebuah PERNYATAAN/KLAIM.

Untuk kegunaan pembahasan, kita hanya akan menggunakan istilah KLAIM (biar ngga bingung)

Selanjutnya, kita dapat mengkategorikan KLAIM dalam 3 kategori:

1. Klaim spesifik dan Klaim non-spesifik.
2. Klaim Verifikatif, Klaim evaluatif, dan Klaim pendukung.
3. Klaim yang berlaku sebagai sebuah Konklusi, sebagai sebuah Premis atau sebagai sebuah Support dalam suatu argument.

Dalam seksi ini, kita akan memfokuskan kepada point pertama dan kedua.

———————————————————————–

 Klaim Spesifik dan Klaim non-spesifik

Klaim Spesifik adalah pernyataan yang berisi/mengandung suatu bilangan yang sifatnya spesifik.
Contoh dari klaim jenis ini:

– 45% hasil survey mendukung reformasi
– Sepertiga dari investment telah hilang.
– Inilah Pertama kalinya Indonesia sukses mengorbitkan satelitnya.

Dalam Klaim diatas, 45%, sepertiga, pertama kali, adalah menggambarkan informasi yang SPESIFIK dan TEPAT.

Klaim yang mengandung kata-kata bilangan seperti contoh di atas adalah klaim yang kuat dan bersifat persuasif. Akan tetapi klaim seperti itu juga sangat mudah untuk di serang,  sebab  jika lawan bicara menemukan data yang terbaik/terbaru yang berkata sebaliknya, maka data tersebut akan bisa digunakan untuk menyanggah klaim tsb.

Kadangkala kita menemukan Klaim spesifik yang lebih bersifat universal. Yaitu yang melibatkan bilangan seperti contohnya : 100%, 0 %, kata : “selalu”, “Tidak pernah”, “none”, “semua orang”, “tidak ada seorangpun”, dsb. Lebih lanjut mengenai hal ini dapat di lihat di Universal Statement.

Klaim Non-Spesifik adalah klaim yang tidak mengandung data yang bersifat spesifik. Kata-kata yang sering digunakan dalam pernyataan seperti ini adalah “Sekitar”, “lebih dari”, dsb. Pernyataan jenis ini kurang meyakinkan. Akan tetapi pernyataaan seperti ini juga tidaklah mudah untuk diserang.

Contoh:
– SEKITAR 49% pemilih, memilih presiden SBY.
– LEBIH DARI 49 % memilih Presiden SBY
– KURANG DARI setengah, memilih amin rais.

—————————————————-

 Pernyataan Verifikatif, pernyataan evaluatif, dan pernyataan Advokatif.

Sebelum masuk pada bahasan utama, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu mengenai Fakta dan pendapat.

Fakta dan pendapat dapat digunakan untuk mendukung suatu argument.
Di dalam Pemikiran Kritis, perbedaan antara fakta dan opini adalah sangat kecil sekali.
Kadang kala, opini dari seorang yang benar-benar ahli, dapat mengalahkan fakta yang lemah atau fakta yang inkonsisten.

Contoh, apa yang kita ketahui mengenai ilmu fisika adalah didasarkan hanya kepada hipotesa. Hipotesa adalah sebuah opini yang tidak bisa dikonfirmasikan kebenarannya.

Klaim Verifikasi dan Klaim Evaluatif.

Disini, Klaim verifikasi adalah klaim yang dapat dikonfirmasikan dengan cara observasi atau dengan dengan referensi (misalnya buku).

Sedangkan Klaim Evaluatif adalah Klaim mengenai rasa dan pengartian (interpretation).

Suatu opini kadang kala dapat dinyatakan sebagai Klaim Verifikasi, dan kadang kala juga sebagai Klaim evaluatif.

Contoh Klaim berikut ini:

– “Gatot berpikir tirai itu berwarna biru”
– “Gatot berfikir tirai itu adalah tirai yang bagus dan berwarna biru”
– ” Itu adalah Tirai yang berwarna biru”
– ” Itu adalah Tirai yang bagus yang berwarna biru”

Dua Klaim pertama di atas adalah klaim opini,tetapi mereka dinyatakan sebagai klaim verifikasi, sebab pokok pembicaraan adalah apa yang dipikirkan Gatot, bukan apa warnanya.

Klaim ketiga adalah juga klaim verifikasi, sebab, (untuk kebanyakan orang), warna biru adalah dapat diketahui melalui hasil dari observasi.

Pernyataan keempat adalah pernyataan evaluatif, sebab apa yang bagus adalah masalah RASA. Dan, tidak akan menjadi suatu masalah apakah klaim itu benar atau salah.

Keempat klaim bisa saja salah, Gatot mungkin berfikir sebaliknya pada dua kalimat pertama di atas, dan mungkin saja warnanya adalah merah (lihat  pada kedua contoh terakhir), meskipun demikian, kesemuanya adalah pernyataan verifiakasi . (terkecuali contoh keempat, yang adalah pernyataan Evaluatif  yang keempat)

Klaim Advokatori sedikit berbeda dengan pernyataan verifiable dan evaluatif.

Klaim Advokatori adalah klaim yang didalamnya mengandung kata-kata seperti: “Seharusnya”, “setidaknya”.

Contoh:

– Gatot adalah Manusia bebas — ini adalah pernyataan Verifikasi
– Gatot adalah manusia Baik — ini adalah pernyataan evaluatif
– Gatot adalah seharusnya manusia baik — ini adalah pernyataan Advocatory.

———————

Point penting dalam pengkategorisasian Klaim antara spesifik/qualified di satu sisi dengan veriable/evaluatif/ advocatory di sisi lainnya, adalah untuk memahami dengan benar Argument yang dibentuk dari klaim-klaimnya.

Mengenali type pernyataan  dengan benar akan membantu kita untuk dapat menentukan apa yang harus dilakukan untuk menyerang argument dari lawan bicara kita.
Kita sudah lihat bahwa Klaim specifik adalah yang paling bersifat persuasif tapi juga paling mudah untuk dibantah.  Sebaliknya, mengenali type klaim dengan benar akan membantu kita untuk dapat membentuk argument yang baik.

Selanjutnya, mengetahui apakah suatu pernyataan termasuk dalam pernyataan verifikatif, pernyataan evaluatif, atau pernyataan advocatif,akan dapat membantu kita dalam memastikan konsistensi dari argument yang kita buat.

Jika Konklusinya adalah pernyataan Verifikatif, maka argument haruslah di dukung oleh paling tidak 1 premise yang bersifat Verikatif.

Demikian juga halnya jika konklusinya adalah pernyataan evaluatif dan advocatif.

 

Bersambung…

 

Sumber : Internet saja cukup…ngga usah sekolah luar negri.. he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang nggak Seneng Poligami :

  • 198,551 orang
%d bloggers like this: