Jelasnggak

Menghujat tapi Merasa Dihujat?

Posted on: July 1, 2009

Oleh Nomind (Faithfreedom)

Muslim selalu merasa dihujat bila ada yang memberikan sudut pandang berbeda terhadap Al Quran, Muhammad, Allah dan Islam. Mereka yang memberikan kritikan baik dari kalangan Muslim sendiri atau dari kalangan Non-Muslim terhadap KEPRCAYAAN dan KEYAKINAN Muslim selalu di cap sebagai menghujat Islam, Nabi, dan Allah, dan wajib di FATWA MATI.

Padahal kalo kita meneliti lebih jauh dalam Al Quran, banyak sekali terdapat ayat2 yang secara terang-terangan yang bukan hanya mengkritik KEPERCYAAN dan KEYAKINAN umat lain terutama YAHUDI dan KRISTEN tetapi lebih condong ke arah MENGHUJAT.

Ketika seorang Non-Muslim yang KEPERCYAAN dan KEYAKINANNYA dihujat secara ILAHI dengan ayat2 Al Quran dan Hadist mempertanyakan hujatan tsb, maka dia akan langsung di cap sebagai menghujat. Padahal hujatan2 terhadap dia secara resmi terdapat dalam ayat2 Al Quran yang katanya KITAB SUCI.

Berikut ayat2 Al Quran yang bisa digolongkan sebagai PENGHUJATAN terhadap kepercayaan dan keyakinan umat Yahudi dan Nasrani (versi hujatan untuk umat Kristiani) jika kita menggunakan ukuran Muslim dalam menentukan batas hujat menghujat.

Quran 5:18
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).

Quran 10:68
Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Quran 2:111
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

Quran 9:30
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?

Quran 5:14
Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”,ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.

Quran 3:61
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Quran 6:146
Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. 

 Dalam hal menghina umat lain, tidak ada yang bisa melebihi apa yang tertulis dalam sebuah buku yang katanya kitab suci. Karikatur yang dimuat di media Denmark tidak ada apa2nya bila dibandingkan dengan buku ini.

Orang2 yang diberi Al Kitab (maksudnya orang Yahudi dan Nasrani) adalah termasuk orang2 kafir.

Quran 3:100
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Mereka yang kafir itu dianggap sebagai BINATANG, bukan manusia.

Quran 8:55
Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.

Selain sebagai BINATANG, mereka juga dianggap kawan2 syaitan.

Quran 4:76
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Dan juga dicap najis.

Quran 9:28
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Selain secara spesifik menghina dan merendahkan cipataannya sendiri, Allah juga menteror mereka dan terus menerus memerintahkan pengikutnya untuk memerangi mereka.

Quran 8:12
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Quran 9:123
123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.

Coba bandingkan penghinaan terhadap orang2 yang dicap KAFIR secara sepihak yang tertulis dalam sebuah buku yang diyakini sebagai kitab suci yang disebarkan keseluruh penjuru dunia secara terang-terangan dan kadangkala secara paksa dengan apa yang dipublikasikan oleh sebuah media kecil di Denamrk. Lebih dasyhat mana?

Tulisan ini diambil dari :

http://mengenal-islam.t35.com/Meghujat_tapi_merasa_Dihujat.htm

 

Komentar jelasnggak:

SubhanahYesus.  Lha kok ya sesuai dengan kenyataan….!

salam

13 Responses to "Menghujat tapi Merasa Dihujat?"

Numpang promosi lagi,😆

http://fietria.wordpress.com/2009/06/25/perbedaan-ahli-kitab-dan-kaum-musyrikin/

Indahnya Isa.

WHooey…

Promosi mulu nih…?

bayar dong..!

ngubah arti bos

Bagi anda itu hujatan bagi kami tdk.

Semuanya adalah wahyu Allah.

IYa..

makanya kami kumplen….

kenapa ayat quran menghujat agama non islam

dan ketika kami mengkumplen…

kamu bilang kami yang menghujat quran..

gitu intinya…

.
..
..
ngerti..?

CPD

Intinya AQ tdk pernah menghujat agama lain coba baca lagi postingan lo

AQ hanya mengatakan ‘orang2 kafir’

Perlu anda ketahui di islam sendiri banyak yg kafir.

Apa anda tau defenisi kafir?

Seruan dlm AQ tdk perna begini:
‘hai orang2 islam… Namun sebaliknya: ‘hai orang2 yg beriman…dst’

Anda tau apa maksudnya begitu?

Karena yg beriman sudah jelas islam.

Yg jelas dlm islam tdk ada ajaran nabi menghujat agama lain.

Postingan diatas adalah seruan bagi kaum yg beriman!

Coba anda cari dlm ayat AQ klu ada ayat2 yg menghujat.

Jgn pandai copy paste aja.

@ muslimer,

Coba anda cari dlm ayat AQ klu ada ayat2 yg menghujat.

Sebelumnya.

Bagi anda itu hujatan bagi kami tdk.

Semuanya adalah wahyu Allah.

Coba kalian jujur pada diri.

Bisa ngga jangan muter2.

Udahlah, bilang aja Allah punya hak untuk meghujat.

Begitu aje kok repot!

.:jempol:. likes.. ^^..makasih atas infonya.. hmm.. tapi saya rasa tdk semua muslim berpikir demikian..^^

Lakukan saja percobaan.

(tapi siap-siap lari…he he he)

Tanya ke seorang muslim yang paling baik yang kamu kenal.

Tentang ayat mengawini anak mantu sendiri,..
kalau dia masih sabar, tanya lagi tentang ayat poligami…
kalian debat saja terus..

paling akhir2nya kamu disangka penghujat..

yah..selamat mencoba deh..

Kalu saya terus terang masih sayang leher…. he he he he

(sori ya muslimer…. kenyataan..)

salam

hehe.. thanks for the tricks.. ^^.. but i think i won’t do that.. I’m too afraid.. i’m a coward..^^

TUHAN SIAPAKAH SESUNGGUHNYA ENGKAU?
Oleh : Suprayitno
Beberapa pertanyaan di bawah ini sering menggoda manakala kita sedang mendekap erat dogma agama yang telah begitu dalam merasuk di relung keyakinan kita (tulang sumsum kita). Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebagai berikut :
Kita sering memberikan “pernyataan” bahwa Tuhan itu “ADA”, apakah
yang dimaksud dengan ADA?
 Apakah Tuhan suatu kenyataan atau bukan kenyataan?
 Jika Tuhan sebagai kenyataan, bagaimana cara menyatakan-Nya?
 Jika Tuhan “bukan sebagai kenyataan”, mengapa kita bisa
membuat pernyataan? Atas dasar apakah pernyataan yang kita buat?
Agama telah memberikan pernyataan tentang sifat-sifat Tuhan, seperti Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Pencipta, atau hal-hal yang dilarang-Nya,dan yang diperintahkan-Nya. Apakah pernyataan-pernyataan itu dibuat berdasarkan pengetahuan atau hanya sekadar keyakinan (wahyu)? Jika pernyataan dibuat hanya berdasar keyakinan, bukankah keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan adalah penyesatan yang nyata? Bagaimana cara menyatakan (bukti empirik) kalau tuhan itu maha tahu?
 Sesungguhnya yang disebut nyata itu seperti apa? Adakah kebenaran diluar yang nyata? Apa yang dimaksud BENAR?
 Agama sering mengaku “benar” tetapi tahukah kita bahwa kebenaran tidak butuh pengakuan dari siapa pun?
Sebab, “Kebenaran” itu akan berbicara pada dirinya sendiri melalui kejelasan, kepastian dan kenyataan atau fakta. Bukan melalui pengakuan agama atau orang per orang. Kesalahan sering menimpa orang-orang yang tidak bisa membedakan antara fakta dengan opini. Antara yang sesungguhnya dengan asumsi (keimanan agama), antara kasunyataan dengan pangangen-angen. Contoh : kita pasti telah membuat kesalahan yang fatal, jika kita “memberi pernyataan” yang bersumber pada keyakinan bahwa tokoh proklamator kemerdekaan RI adalah Gus Dur. Mengapa salah? Karena pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan/fakta. Faktanya, tokoh proklamator kemerdekaan RI adalah Soekarno-Hatta yang di proklamasikan pada tgl. 17 Agustus 1945. Berkeyakinan pada obyek yang nyata saja sering kali salah, apalagi berkeyakinan tentang obyek yang tidak nyata (ghaib), apakah peluang salahnya tidak jauh lebih besar? Pengetahuan yang nyata itulah yang membimbing kita pada jalan kebenaran, sedangkan keyakinan (iman) hanyalah menggiring kita pada kawasan yang penuh dengan fatamorgana atau lamunan.
Agama sering membuat analogi tentang hubungan dengan Tuhan, sebagaimana kita berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya nyata (riil). Contoh, tentang konsep “perantara” yakni bahwa tidak semua orang bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Alasannya, sama seperti orang biasa yang akan berhubungan dengan sang Presidennya, maka tidak mungkin orang tersebut bisa langsung menemui Presiden, pasti harus melalui “perantara” entah melalui sekretaris, staff pribadi atau satpam. Demikian juga tatacara berhubungan dengan Tuhan, pastilah harus melalui perantara (nabi) baru bisa ketemu/nyambung. Sebab nabi adalah utusan Tuhan, yakni orang yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu-wahyu-Nya.
Mereka (para nabi, ahli agama atau para ahli surga/penikmat agama), berangan-angan bahwa Tuhan seperti seorang presiden atau seorang raja yang memiliki istana dan dikelilingi oleh para asisten (pembantu). Bedanya, di kerajaan surga tersebut, Tuhan tak didampingi permaisuri atau selir-selir. Manusia “kebingungan” dalam menggambarkan wajah tuhan, apakah sosok lelaki atau perempuan. Akhirnya, disepakati bahwa tuhan itu bukan lelaki, juga bukan perempuan (tapi ada agama yang lebih suka memanggil dengan sapaan Tuhan Bapa). Manusia juga bingung dalam menelusuri akar sejarah lahirnya tuhan, sehingga oleh agama-agama disepakati bahwa “tuhan tidak berawal dan tidak berakhir”. Para staff atau pembantu tuhan sering dinamai macam-macam ada yang menyebut para malaikat, ada yang menyebut para dewa. Bagaimana mungkin semua itu dianggap sebagai “kebenaran” absolut? Dan bagaimana seharusnya manusia memperlakukan agama dan tuhannya, apakah harus diterima begitu saja atau harus dikritisi. Bagaian mana yang harus dikritisi dan bagian mana yang harus diterima apa adanya? Mengapa harus demikian? Terserahlah, agama dari sejak paham paganis (Yunani kuno) sampai dengan monotheis memang gudangnya para pengkhayal.
Jika benar tuhan maha perkasa, berdiri sendiri, maha sempurna, tanpa ketergantungan dari siapa pun maka seharusnya Dia tak butuh sesuatu apa pun. Manusia tidak perlu berkorban untuk tuhannya, manusia juga tidak perlu menyembah-Nya. Buat apa tuhan disembah? Selama tuhan masih memerlukan sesuatu berarti dalam diri tuhan masih memiliki celah kekurangan. Dalam kenyataannya, umat beragama diwajibkan menyembah tuhan, sehingga banyak yang secara psikologis merasa sangat berdosa jika tidak melakukan persembahan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Bahkan menyembah tuhan dijadikan sebagai pilar utama tegaknya sebuah agama (keimanan).
Di sini tampak sekali bahwa angan-angan atau tafsir manusia terhadap Tuhannya sungguh sangat menggelikan karena bila kita komparasikan ternyata banyak hal yang kontradiktif antara pernyataan satu dengan pernyataan lainnya. Contoh, jika tuhan maha tahu pasti tuhan tidak pernah menguji, sebab ujian bersifat penggalian potensi. Padahal, sifat maha tahu dari tuhan berarti tak perlu menggali karena apa pun hasilnya, lulus atau tidak, gagal atau berhasil, maka Tuhan sudah mengetahui sebelumnya. Nah buat apa “pengetahuan tak terbatas milik tuhan” harus dibatasi dengan penyelenggaraan ujian bagi ciptaan-Nya sendiri? Aneh kan khayalan ini, katanya pengetahuan tuhan meliputi rahasia dalam batin dan yang diungkapkan melalui kata-kata/sikap, pengetahuan tuhan juga meliputi masa lalu, sekarang dan yang akan datang, apa tujuan tuhan main coba-coba? Mestinya tuhan sendiri yang menjawab pertanyaan ini.
Tahukah kita, bahwa jika kita mengumpamakan keberadaan tuhan dengan sesuatu yang bersifat nyata atau riil sebenarnya sangat menyesatkan? Sebab Tuhan adalah abstrak atau ghaib yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun dan siapa pun. Jika kita bisa membandingkan-Nya, berarti kita pernah tahu tuhan, sebab bagaimana mungkin kita membandingkan sesuatu yang kita tidak pernah memiliki pengetahuan tentang obyek yang dimaksud? Ingat bahwa tak ada yang bisa kita persamakan dengan Tuhan, sebab Tuhan tan keno kinoyo ngapa (tidak bisa kita bayangkan seperti apa tuhan itu), Menungso sak jagat raya ora ana sing WERUH GUSTI (tahu), yang ada hanyalah orang-orang yang BERKEYAKINAN (beragama). Bagaimana mungkin kita “bandingkan” sifat tuhan dengan manusia? Misal, manusia sering mengadakan ujian untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan seseorang, maka mana bisa kita membandingkan bahwa tuhan juga seperti manusia yang sering memberi ujian atau cobaan? Dari mana manusia memperoleh pengetahuan tentang tuhan, sehingga manusia bisa mengadakan perbandingan? Sekali lagi wahyu itulah sebenarnya biang keladi terjadinya kerancuan antara fakta dengan ilusi.
Pantaskah kita atau agama mengobral keyakinan/keimanan sebagai pengetahuan (kebenaran)? Kalau kita tidak pernah “tahu” tentang Tuhan, sebaiknya jangan sekali-kali kita memberi “tahu” tentang Tuhan kepada orang lain. Podo-podo ora weruh kok arep nuntun wong liya? Nanti pasti akan terjadi penyesatan yaitu apa yang selama ini disangkanya sebagai kebenaran, jebul mung pangangen-angen. Kalau hanya sekadar pangangen-angen, semua orang boleh menafsirkan. Mengaku mendapat wahyu juga boleh, mengaku nabi utusan tuhan juga tidak dilarang, ada seorang perempuan mengaku dihamili Tuhan dan anak yang dikandung dan dilahirkan adalah anak tuhan juga boleh, sebab dalam hal “berketuhanan” tidak ada orang yang paling benar dan paling pintar. Orang lain mau percaya atau tidak, terserah saja. Agama memang kawasan yang sangat nikmat untuk berkhayal dan bermalas-malasan, sehingga ukuran benar dalam bertuhan, sangatlah subyektif.
Yang tidak boleh dikerjakan oleh sesama manusia adalah “pemaksaan pangangen-angen”, biar saja agama untuk konsumsi pribadi (menjadi ranah privat), sampai degleng (mabok) juga tak apa, asal jangan dibawa ke ranah publik. Membawa agama pada ranah publik hanya akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Misal benturan dengan agama/kepercayaan lain atau terjadi persetubuhan yang intens antara penguasa agama dengan penguasa politik. Akhirnya agama masuk ke dalam urusan Negara, sehingga para pemimpin agama bisa mengatasnamakan tuhan untuk setiap bentuk tindakan/kebijakannya. Setiap warga Negara diwajibkan memeluk salah satu agama yang telah diakui oleh Negara. Jika seorang warga Negara menyatakan tidak memeluk salah satu agama atau menyatakan tidak beragama, konsekuensi politis maupun sosialnya akan sangat berat. Bisa jadi orang tersebut dituduh sebagai komunis yang harus diasingkan dan tidak akan pernah bisa menjadi pegawai pemerintah/negeri apa lagi sampai menduduki jabatan publik (apa pun). Dengan kelakuannya ini, agama tidak pernah merasa bersalah bahkan dianggapnya sebagai kewajiban untuk mengagamakan manusia, sebab orang yang tidak beragama dianggap sesat.
Sepanjang sejarah umat manusia, posisi Tuhan dalam kehidupan sebenarnya hanyalah sebagai kesempurnaan “yang diimpikan” bukan realitas “yang sesungguhnya terjadi”. Sebab, yang sesungguhnya terjadi adalah manusia telah terhipnotik oleh konstruksi khayalan-khayalannya sendiri. Manusia akan “merasa puas” ketika dia bisa menjunjung tinggi Tuhannya melebihi kekuatan/ketinggian apa pun. Manusia juga akan puas ketika dia bisa “menyembah-Nya” dengan sepenuh perasaan hati dan kepasrahan sambil bertangis-tangisan bila perlu.
Sifat egoisme manusia sangat nyata ketika manusia “boleh tidur”, tetapi “tuhan tak boleh tidur sedetik pun”. Tuhan harus selalu melek/terjaga karena tuhan yang mengatur perputaran jagad dan seluruh kehidupan. Ingat kata-kata Jawa yang sering meluncur ketika orang tersebut sedang menghadapi ketidakadilan maka ucapaan yang sering keluar adalah “Gusti ora sare”. Padahal, mestinya sambil “merem”pun tuhan bisa mengatur segala sesuatu yang Dia kehendaki sebab bukankah tuhan maha kuasa?
Kesimpulan : Sesungguhnya, agama tak pernah mempertemukan kita dengan Tuhan, tapi justru mengikat tangan dan kaki kita supaya tidak bisa lari menggapai kebebasan berpikir. Agama menempatkan “keimanan” di atas segala-galanya, barangsiapa tidak mau beriman — tidak mau menuruti kehendak agama — maka orang tersebut akan dicap sebagai kafir. Dan orang kafir adalah musuh agama yang harus diperangi.
Agama tidak menempatkan kebodohan, ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan dan diktatorisme sebagai musuh utama yang harus diperangi. Makanya, banyak orang beragama tetapi tetap bodoh, miskin, bertindak tidak adil, pro kekerasan dan tidak demokratis (otoriter). Inilah anomaly atau penyimpangan agama yang benar-benar ada dihadapan kita. Agama lebih asyik masuk pada dunia ghaib sedang realitas kehidupan yang penuh dengan berbagai rintangan dan kekerasan sering hanya dihadapi dengan sikap pasrah, dianggap sebagai takdir atau cobaan/ujian dari tuhannya.
Agama telah lupa — atau jangan-jangan memang sengaja melupakannya demi tujuan duniawi — bahwa Tuhan sebenarnya sangat simple/sederhana karena Dia tergantung pada bagaimana kita memikirkan-Nya. Di tangan agama, Tuhan telah dijadikan “barang” yang sangat menyeramkan sekaligus mengagumkan. Agama begitu licik “mempermainkan” Tuhan dengan kedok wahyu. Akhirnya, dengan mengaku mendapat wahyu dari tuhan itulah, agama telah tumbuh menjadi kekuatan sosial dan politik yang sangat menakutkan. Banyak pengikut agama yang bersedia menjadi “tentara tuhan” dengan menghunus pedang atau meledakkan bom untuk memerangi kaum kafir atau mereka yang dianggap menentangnya. Tetapi jarang sekali kita lihat rombongan “tentara atau pasukan kasih sayang tuhan” yang menebar pencerahan berpikir, kebijaksanaan hidup dan memberikan keadilan, kesejahteraan serta kemakmuran bagi seluruh umat, baik yang kafir maupun yang beragama apa saja.
 Anda beriman? Mohon tanggapannya. Dari suprayitno
Suprayitno
Sekretaris FPSP
Jln.Tlogomukti Timur I/878
Semarang

http://tomyarjunanto.wordpress.com/2009/01/12/sosialisme-kerajaan-allah/

hah semuanya pada payah/..

orang beriman = orang yang percaya akan allah dan rasulnya. artinya sebelum islam disampaikan oleh muhammad ada islam sebelumnya. islam = damai, berserah diri, didalamnya terdapat agama yang disampaikan oleh Ibrahim(Abraham)…., Musa, Almasih, dan Muhammad.
5:18 saudara tidak menulis secara lengkap terjemahannya (copy paste kalee)
10:68 dan 2:111, 9:30 saudara tidak memahami asal agama yahudi, nasrani dan islam.
5:14 merupakan ancaman, karena mereka mengambil sebagian isi kitab dan meninggalkan sebagian yang lain bahkan menambah dengan yang baru.
3:61: menunjukkan keyakinan yang dapat diuji kebenarannya, bahkan jika perlu bersumpah atas nama tuhan agar kutukan didatangkan segera untuk menguji kebenarannya, bukan menghujat.
6:146: alasan karena telah melanggar larangan tuhan, berkaitan dengan surat 2, dan kini telah dilanggar.
3:100 kafir artinya: ingkar dengan apa yang telah diimani sebelumnya, nasrani dan yahudi telah merubah kitabNya, berarti telah ingkar.
8:55: menjawab adanya teori manusia adalah hewan yang berakal. Nilai orang yang ingkar lebih buruk dari binatang adalah hal yang wajar.
4:76: orang yang merubah-rubah kitabNya wajar diperangi karena memperturutkan hawa nafsu setan maka = kawan setan
9:28: najis=kotor, orang yang yang mempersekutukan tuhan setelah datang kebenaran berada dalam kekotoran jiwa.
8:12 dan 9:123: diperlukan untuk kaum yang memerangi islam. Muhammad hidup rukun di madinah dengan non muslim. bertindak tegas dengan yang mencoba memeranginya.
Saya sangat heran mengapa orang nasrani sekarang tidak membenci orang yahudi yang telah terang-terangan menghakimi Almasih sebagai anak haram, orang islam menempatkan Almasih sebagai utusan Allah yang mulia. Ingat orang nasrani (katolik dan kristen) sampai sekarang sebenarnya masih berperang. mengapa orang yahudi dan Nasrani tidak mendukung syariat agamanya buktinya tidak ada negara nasrani didunia ini.
Masalah perkawinan dengan mantu perlu diluruskan. putra nabi muhammad tidak ada yang sampai menikah, semua meninggal sewaktu kanak2. Nabi memiliki anak pungut yang tetap memakai nama belakang ayah kandungnya (bin fulan) bukan nama nabi(bin muhammad). Anak pungut tersebut kemudian meninggal dalam keadaan sudah beristri. Istri anak pungut tersebut dikawini karena beliau mencontohkan hal tersebut boleh dalam islam. islam tidak membolehkan menikah dengan orang yang sepersusuan, menantu anak biologisnya, anak adiknya, anak kakaknya, bibi, paman, dan lain2nya. Poligami boleh dalam islam sepanjang suami dapat berbuat adil, dan kita tahu yang bisa merasakan keadilan itu adalah istrinya yang dimadu. Jadi sangat jelas mana yang boleh dan mana yang tidak. Dalam islam semua sudah terdefinisi dengan jelas mana yang boleh mana yang tidak boleh. mana yang bisa diajak berdampingan secara damai dan mana yang harus diperangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang nggak Seneng Poligami :

  • 198,551 orang
%d bloggers like this: