Jelasnggak

Archive for the ‘Berpikir Kritis’ Category

Mengapa saya harus percaya kepada perkataan Muhammad ?
Mengapa saya harus percaya bahwa Muhammad adalah benar-benar nabi ?

Ketika Muhammad mendeklarasikan dirinya telah bertemu jibril, tidak ada saksi-saksi yang melihat.

Ketika umat yahudi menentukan nabi berdasarkan pilihan, muhammad mengangkat dirinya sendiri sebagai nabi.

Ketika Quraisy meminta tanda kenabian lewat mukzizat, muhammad tidak mampu menjawab.

Ketika seorang Nabi diharapkan selalu memberikan suri tauladan yang baik kepada pengikutnya, muhammad toh tidak bisa memberikannya.

Ketika Owoh berkata setiap manusia harus kawin maksimal 4, Muhammad pun melanggarnya.
Read the rest of this entry »

Semua ajaran yang datangnya dari TuH@n, tidak akan pernah mengakibatkan KEBATHILAN dan kerugian bagi umat manusia, baik diri sendiri maupun orang lain.

Kalau ada ajaran yang mengakibatkan kebathilan, maka ajaran itu tentu saja BUKAN berasal dari TuH@n.

Lalu, Apakah yang dimaksud dengan ajaran itu..?

Dalam suatu agama, ajaran bisa di samakan dengan PERINTAH. 

Kalau seseorang menjalankan perintah “Jangan Berbohong”, maka orang itu tidak akan membathil-i atau merugikan orang lain.

Kalau seseorang menjalankan perintah “Jangan Mencuri”, maka orang tersebut tidak akan membathil-i atau merugikan orang lain.

Kalau saya menjalankan perintah “Jangan Berbohong”, kepada SEMUA ORANG, tanpa pandang bulu, TIDAK ADA satupun atau sekelompok orang yang akan dirugikan oleh tindakan saya.

Kalau saya menjalankan perintah “Jangan Mencuri”, kepada SEMUA ORANG, maka TIDAK ADA satupun atau sekelompok orang yang akan dirugikan oleh tindakan saya itu.

Jika X menjalankan perintah Y kepada Z, dan Z tidak ada yang dirugikan, maka perintah Y berasal dari Tuh@n.

 Sebaliknya.

Kalau saya menjalankan perintah “Jangan Berbohong”, kepada SEMUA ORANG, lalu ada satu, atau sebagian orang yang dirugikan, maka itu berarti, ajaran “Jangan Berbohong” bukanlah ajaran dari Tuh@n.

Kalau saya menjalankan perintah “Jangan Mencuri”, kepada SEMUA ORANG, lalu ada sebagian orang yang dirugikan dengan tindakan saya, maka itu berarti, ajaran “Jangan mencuri” bukanlah ajaran dari Tuh@n.

Kenapa? Karena ada satu, atau sekelompok orang, yang dirugikan oleh tindakan saya tersebut.

 Saya tidak pernah mencuri, tapi ada oran yang dirugikan. itu tak masuk di akal.

Kalau saya bawa hal ini ke masalah poligami.

Ajaran pembolehan untuk poligami, jelas terlihat di sini sebagai ajaran BUKAN dari Tuh@n. Sebab, ADA satu atau sekelompok orang yang merasa dirugikan (sakit hatinya) dan menolak ajaran pembolehan poligami ini. Mereka adalah kaum wanita.

Karena ada SATU atau sekelompok orang yang menolak ajaran pembolehan poligami ini, maka, ajaran ini jelas bukan dari TUH@n.

Kenapa ? Balik lagi ke atas : Karena SEMUA ajaran yang datangnya dari TuH@n, tidak akan pernah mengakibatkan KEBATHILAN dan kerugian bagi umat manusia, baik diri sendiri maupun orang lain.

Lalu, bagaimana dengan kisah di dalam injil ketika Yesus mengobrak-abrik para pedagang yang berjualan di dalam Bait Suci ?

Jawabnya adalah gampang. Kisah Yesus yang mengobrak-abrik pedagang, adalah BUKAN suatu ajaran.

Apakah Yesus di dalam kisah itu, menyuruh pengikutnya untuk MELAKUKAN obrak-abrik terhadap pedagang di bait suci ? Tidak.

Apakah Yesus di dalam kisah itu, memerintahkan pengikutnya untuk meniru kelakuanNya itu ? Tidak.

Adakah di dalam alkitab tertulis ajaran yang mengatakan bahwa pengikutnya harus melakukan seperti Yesus, yaitu mengobrak-abrik pedagang yang berjualan di bait suci..? Tidak ada.

Salam

Pengakuan yang jujur

 

Paling tidak, sekarang, sudah ada dari seorang muslim yang benar-benar mengunakan pikirannya dengan betul.

Poligami itu MENYAKITI HATI istri terdahulu.

Jujur saja terhadap diri sendiri!

Menyakiti hati orang lain dalah suatu perbuatan yang TIDAK BAIK (BATHIL).

Ajaran agama yang membolehkan pengikutnya untuk melakukan perbuatan BATHIL, adalah agama yang berasal dari SYAITON IROJIM.

Agama islam membolehkan pengikutnya melakukan perbuatan BATHIL (Berpoligami ria – menyakiti hati istri terdahulu).

Jadi agama Islam itu adalaah agama yang berasal dari SYAITUONN iRojim.. naujubilahiminazaitonirojimm…

logikanya kan di situ.

Saya telah menemukan SATU (cukup satu saja) ayat setan itu.

Dan itu cukup.

Terima kasih.

Sekarang, saya serahkan kepada muslim sekalian. Terserah mau ikut ajaran syaitonuloh atau ajaran yang bukan dari syaitonulloh.

Terserah pilihan kalian.

Bebas kok.

Agaknya tugas saya agak sedikit ringan.

Thanks to Fietri yang sudah mau mengakui hal ini.

Itu adalah suatu permulaan bagi kamu.

Banyak sekali pernyataan yang sering keluar dari teman-teman saya yang mengatakan bahwa saya memiliki pemandangan sempit tentang agama. Karena saya menganggap hanya kristenlah agama paling benar di muka bumi ini. Mereka mengatakan bahwa tukang kecap itu selalu mengatakan bahwa kecapnyalah yang paling benar. Begitu kata mereka. Bahkan beberapa dari mereka mengatakan saya adalah seorang bigot (fanatik – kira kira begitu).

Jika teman muslim tidak percaya bahwa islam adalah benar, maka saya percaya teman muslim Read the rest of this entry »

Pertanyaan ini sebenarnya sama dengan pertanyaan :

 Apakah TuH@n bisa menciptakan batu yang begitu besar, sehingga Dia tidak mampu untuk mengangkatnya

Kedua pertanyaan ini memiliki problem yang sama, yaitu, keduanya pada dasarnya mempertanyakan lebih dari satu pertanyaan secara sekaligus (baca:serentak) Yaitu :

1. Berapa besarkah batu yang dapat DICIPTAKAN oleh Tuh@n.
2. Berapa besarkah batu yang dapat DIANGKAT oleh Tuh@n.

Yang satu bertanya tentang KEMAMPUAN untuk MENCIPTA Yang satu lagi bertanya tentang KEMAMPUAN untuk MENGANGKAT.

Lebih daripada itu, keduanya bertanya mengenai KEMAMPUAN, bukan, KETIDAK MAMPUAN.  Dan meskipun kita merubah (restate) kedua pertanyaan itu menjadi :

1. Berapa besarkah batu yang TIDAK dapat DICIPTAKAN oleh Tuh@n.
2. Berapa besarkah batu yang TIDAK dapat DIANGKAT oleh Tuh@n,

tetaplah pada intinya kita membicarakan KEMAMPUAN.

Dari sini saja kita sudah bisa menyimpulkan bahwa KEMAHAKUASAAN itu membicarakan tentang KEMAMPUAN, bukannya KETIDAKMAMPUAN.

Kembali ke laptop.  Kalau kita jawab dua-duanya secara terpisah, maka jawaban untuk keduannya adalah TIDAK ADA BATASAN.  Tuh@n bisa menciptakan batu seberapapun besarnya. Dan Tuh@n pun bisa mengangkat batu seberapapun besarnya. 

Jadi, kalau kita gunakan hasil uraian di atas, maka kita akan dapat menjawab pertanyaan utama (pertanyaan di judul tulisan) kita dengan mudah:

1. Tuh@n TIDAK DAPAT menciptakan batu yang begitu besar sehingga Dia sendiri tidak mampu untuk mengangkatnya. Sebab, Tuh@n bisa MENGANGKAT batu sebesar apapun.

2. TuH@n DAPAT menciptakan batu yang begitu besar sehingga Dia sendiri tidak mampu untuk mengangkatnya. Sebab, Tuh@n bisa MEMBUAT batu sebesar apa saja.

Tapi harap di perhatikan. Jawaban ini tidak berarti bahwa Tuh@n memiliki keterbatasan dalam hal membuat batu. Bukan pula jawaban ini berarti bahwa Tuh@n hanya bisa membuat batu sebesar X saja dan ngga bisa lebih dari X. Tetapi,  kemampuanNya dalam hal mencipta dan hal mengangkat batulah yang menjadi pokok pembicaraan. KemampuanNYA adalah sama dalam kedua hal itu (membuat dan mengangkat). Di satu sisi Dia bisa membuat batu sebesar apapun, dan di sisi lain Dia juga bisa mengangkat batu sebesar apapun. Kedua hal inilah yang sebenarnya malahan mendukung sifat kemahakuasaanNYA.

Kesimpulannya, kalau ada orang yang bertanya seperti pertanyaan di judul tulisan ini, itu sama saja orang tersebut bertanya begini:

Apakah mungkin kita menjadi begitu cerdas, sehingga kita bisa menjadi lebih cerdas dari diri kita sendiri.

Apakah mungkin, jika kita menambah terus duit kita di bank, maka balance kita akan menjadi negatif.

Jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah  TIDAK MUNGKIN  alias Tidak masuk akal.

Jadi jawaban atas pertanyaan pada judul tulisan ini adalah tidak ada, karena pertanyaan itu sendiri adalah pertanyaan yang tidak masuk akal. Ilogik. Alias diluar dari kumpulan logis.

Saya tertarik dengan penyataan yang keluar dari kubu Boediono (dalam hal ini pak Andi Malarangkeng) atas tuduhan kwik kian Gie bahwa Boediono adalah seorang pro neolib.
(Baca kompas.com disini)

Kwik Kian Gie mengklaim :  “Boediono itu pro neolib”

Kubu Boediono menjawab (dengan ad hominem Tu Quoque) :

“Sebenarnya Pak Kwik lupa bahwa beliau juga menjadi bagian dari pemerintahan ketika privatisasi itu terjadi”.

 
Ad hominem Tu Quoque terjadi apabila seseorang menjawab tuduhan/klaim lawan bicaranya dengan menyerang orangnya (bukan argumentnya).

Dengan demikian, proses pembuktian dari klaim lawan bicara menjadi kabur/tak terjawab sama sekali/dibelokkan. Tujuan utama seseorang mengeluarkan argument yang mengandung ad hominem tu quoque adalah untuk mengaburkan persoalan, membelokkan hal utama.

Ad Hominem Tu Quoque memiliki bentuk seperti ini:

1. Si A membuat klaim X
2. Si B (lawan bicara si A), menyatakan bahwa kelakuan si A pada masa lalu, Keputusan yang dibuatnya, adalah bertentangan dengan klaim yang dibuat oleh si A.
3. Kesimpulannya, klaim X yang dibuat oleh si A adalah salah.

Kubu Boediono dalam hal ini telah melakukan Ad Hominem Tu Quoque kepada Kwik Kian gie.
Kubu Boediono tidak menyanggah tuduhan kwiek dengan argument balik, tetapi malahan mengatakan sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan klaim pak Kwik (Yaitu pak kwik dulu juga ikut andil di dalam privatisasi itu)

 
Contoh Lain dari ad hominem Tu Queque.

1. Ujang berkata : “merokok itu ngga sehat”
   Geraldo menyanggah dengan (ad hominem tu Quoque) : ” Yailah Jang.. elu sendiri ngerokok”

Lihat. Apakah Ujang merokok atau tidak, adalah sama sekali tidak berhubungan dengan pernyataan ujang.

2. Kristiani berkata : “Quran, yang katanya adalah kitab dari Tuh@n, ternyata mengajarkan Pembunuhan”

Muslim berkata (ad Hominem Tu Quoque) : “Yailah.. ngaca dong Jel.. di alkitab loe sendiri kan ada tertulis yang begituan..”

Tuduhan kristiani terhadap Quran, tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang tertulis di kitab suci kristiani itu sendiri.

Itu adalah dua hal yang berbeda.

(kalau dilanjutin, Jelasnggak akan berkata begini : ” Okehhh.. Memang di alkitab ada tertulis seperti itu… kalau dengan adanya pembunuhan di suatu kitab suci, akan menjadikan kitab suci itu bukan berasal dari Tuh@n, berarti alkitab dan Quran bukan kitab dari TuH@n dong…sama dong kiteeee….he he he.)

Ada Yang mau protes..?

Ya silahkeennnn…

Bebaasss kok.. internet..

Sumber : Internet ajaaaaa…. ngapain sekolah jauh-jauh… .tinggi-tinggi….buang waktu.. buang duit,…. buang tenaga… hhhh..

Pernyataan dapat diklasifikasikan  menjadi 4 Patern (pola)

  • Semua A adalah B
  • Bukan A adalah B
  • Beberapa A adalah B
  • Beberapa A adalah Bukan B

Tidak dapat dipungkiri, bahasa yang digunakan dalam suatu argument, akan dapat menyulitkan kita dalam mengkategorikan  masuk tipe yang mana dari ke empat patern di atas, pernyataan yang membentuk suatu argument. Oleh karena itu, tugas kita sebagi pemikir yang kritis (yang masih belajar he he), adalah mengubah/mengkonversikan pernyataan/klaim dalam suatu argument agar dapat di klopkan dengan salah satu dari keempat patern di atas.

Jadi ingat. Kalau kita melihat suatu argument, lihatlah pernyataannya/klaimnya, lalu, berusahalah untuk selalu mengidentifikasikan pernyataan itu masuk ke klasifikasi yang mana.
Jika pernyataan terlalu sulit untuk dimengerti, maka tugas kita adalah terlebih dahulu mengkonversikan pernyataan itu ke dalam bentuk yang sesuai di antara 4 tipe pernyataan di atas.

Pecahkan suatu pernyataan menjadi : mana yang bertindak Subjek (Ide utama dari suatu pernyataan) dan mana yang bertindak sebagai Pelengkap. Pengkonversian suatu pernyataan seperti ini, dapat mengurangi kompleksitas dari pernyataan itu, sehingga kita dengan mudah akan dapat memasukkannya kedalam salah satu dari 4 patern di atas.

Rubahlah kata kerja bentuk aktif menjadi kata kerja pasif. (rubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif)

Lihat Contoh pernyataan/klaim berikut ini :

“saya suka makanan enak”.

Apakah pernyataan itu bermaksud “Semua yang saya sukai adalah Makanan Enak”  atau pernyataan itu bermaksud “Semua makanan enak adalah sesuatu yang saya suka”…?

Pengubahan yang benar adalah yang terakhir, Yaitu : “semua makanan yang enak adalah sesuatu yang saya suka”

Kalau kita lihat, pernyataan yang baru saja kita ubah (konversikan) itu, memiliki bentuk :

Semua A adalah B.  Dimana,
A = Makanan Enak
B = sesuatu yang saya sukai.

Kesalahan yang sering terjadi adalah, kadang kala kita, dalam usaha pengkonversian, merubah “Saya suka” sebagai A, dan “Makanan Enak” sebagai B. Yang pada akhirnya akan menghasilkan “Semua yang saya suka adalah Makanan enak”
Yang adalah merupakan pengkonversian yang salah.

Dua dari 4 tipe patern di atas, lebih lanjut, dapat dirubah ordernya tanpa merubah hasil implikasi logiknya.

2 valid konversion adalah :

  • Bukan A adalah B, adalah sama dengan Bukan B adalah A.
  • Beberapa A adalah B, adalah sama dengan, Beberapa B adalah A.

Contoh.
Tidak ada Pohon yang bisa berganti daun adalah Pohon yang selalu Hijau.

Tidak ada A adalah B

A = Pohon yang bisa berganti daun
B = Pohon yang selalu berdaun hijau

Kalau di balik hasilnya akan sama :

Tidak ada pohon yang berdaun selalu hijau yang adalah pohon yang berganti daun.

Tidak ada B adalah A

Perhatikan pola pengkonversiannya.

Bukan A adalah B, telah dikonversikan menjadi : bukan B adalah A.

Catatan.
Kalau pembaca tidak tahu, yang dimaksudkan dengan “pohon yang bisa berganti daun” adalah sejenis pohon yang selalu berganti warna daunnya mengikuti perubahan musim. Pohon jenis ini biasa tumbuh di daerah yang memiliki 4 musim (pohon maple negara eropa misalnya). sedangkan yang dimaksud dengan “pohon yang selalu hijau daunnya” adalah sejenis pohon yang selalu hijau dan tidak terpengaruh oleh pergantian musim. Contoh pohon ini adalah pohon cemara. (yang sering dipakai untuk pohon natal pada tanggal 25 desember – canggih emang nih pohon..he he he)

Perhatikan lagi contoh berikut ini :

“Beberapa apel adalah merah”, Bisa dikonversikan menjadi, “beberapa hal yang merah adalah apel”
Sekian.
Pembetulan atau kritik diterima di lapangan dada.

sumber : Internet aja cukup kok. Ngga perlu sekolah sampai S2. Yey internet!!


Yang nggak Seneng Poligami :

  • 209,433 orang